Karra, cewek tomboi yang jago main basket ini emang beda. Rambutnya nggak cepak seperti kebanyakan cewek tomboi. Tampangnya manis. Terus, anaknya nyantai banget. Tapi kalo udah marah, waaah... bisa gawat...
Beruntung banget deh jadi cewek seperti Karra. Selain punya kakak cowok yang sayang banget sama dia-namanya Iraz-teman-teman Iraz juga care banget sama Karra! Terutama Ibel, cowok jago main gitar yang seneng warna biru. Bahkan waktu harus kuliah ke luar negeri, Iraz malah menitipkan Karra pada Ibel.
Selama ini Karra menganggap Ibel sebagai kakak, jadi dia cuek aja waktu Ibel menunjukkan perhatian. Karra malah ditaksir Dira, anak baru di sekolah yang juga jago main basket. Tampang Dira yang sok cool tapi sengak bikin Karra sebel banget sama cowok itu. Tapi katanya batas antara cinta dan benci kan tipis banget. Iya nggak?
Gue membaca buku ini pas masih SMA, rada telat karena waktu itu udah keluar cukup lama.
Tapi kesan pertamanya masih melekat. Jelas.
OVERRATED, MUCH?
Seriously, apa sih yang bikin orang nangis? Cowok yang akhirnya meninggal? Tau-taunya aja sakit, gitu? Please, we've seen that story in countless romance dramas. Japanese mangas. Sinetron. Whatevs.
Seinget gue buku ini dibanjiri klise. Cewek yang tomboy tiba-tiba jatuh cinta. Ha-ha.
Oke, dulu, waktu aku masih kelas 8 smp, aku nangis -memalukan- waktu baca novel ini. Terang saja, waktu itu belum banyak buku yang kubaca, masih jadi kutu-buku pemula.
Tapi sekarang, waktu aku ulang lagi, rasanya aneh banget, terlalu banyak klise dan kebetulan. Kenapa dulu aku nggak menyadarinya? Okelah, ini, kira - kira novel teenlit keempat yang aku baca. Tapi, untuk penulis pemula, novel ini OK. Oke juga buat pembaca yang mengawali karir di dunia baca-membaca.
Teenlit adalah gerbang untuk aku membuka buku - buku yang lebih baik lainnya.
Buku ini adalah salah satu buku yang membuatku hobi membaca. Cerita ini bercerita tentang kisah cinta masa remaja dan ketika masih SMP, aku sangat menyukainya cerita dengan tema ini. Novel ini mungkin tidak sebagus novel-novel yang baru karena terkesan out-of-date. Akan tetapi aku mempunyai kesan tersendiri terhadap buku ini, dan Dyan Nuranindya adalah seorang pengarang yang cukup berbakat. :)
Recommended for TeenLit lovers dan juga penyuka cerita romantis.
okay just want to put another some memorable memories in review page that, Dealova is the third teenlit novel that I've ever read back in the day that brought me to the land of reading back in elementary school! I remembered how i cried for Dira a lot that my little kokoro was hit because how can a teenlit novel can hurt so much. good times.
Karra, si gadis tomboi yang jago basket sekaligus adik dari seorang vokalis band ternama Iraz tidak menyangka harus berurusan dengan Dira-anak baru disekolahnya. Dira digambarkan sebagai cowok jutek dan sinis namun punya keahlian di bidang basket seperti Karra. Ia bergabung di tim basket sekolah dan terpilih menjadi kapten dalam waktu singkat. Setelah bergabung dengan satu tim yang sama dengan Karra, mereka jadi saling bertemu.
Tapi pertemuan mereka tidak pernah berjalan baik. Selalu saja mereka bertengkar karena masalah sepele, biasanya Dira yang selalu memulai pertengkaran itu. Dan waktu seolah terus mendekatkan mereka dalam kondisi yang tidak tepat.
Hingga pada suatu malam, Dira datang ke rumah Karra dan mengajaknya pergi ke bukit bintang. Sebuah tempat yang menjadi tempat favorit Dira untuk merenung dan menyepi dari keramaian kota. Di bawah bintang-bintang, Dira mengakui perasaannya pada Karra dan meminta Karra untuk menjadi kekasihnya. Saat Karra menceritakan perubahan yang terjadi pada Dira kepada Ibel, teman satu band dengan Iraz itu tampak terkejuT. Ia seperti tidak menginginkan Karra bersama dengan Karra. Dibalik diamnya Ibel, ia menyimpan perasaan pada Karra.
Dan cerita semakin seru saat Ibel medapat tanggung jawab dari Iraz selama dia berada di Amerika. Karra yang selalu di buat menangis oleh Dira membuat Ibel semakin tidak menyukai Dirra. Akankah Karra berpaling pada Ibel? Setelah apa yang telah diperbuat Dira kepadanya, masihkah ia terus bertahan? Dealova, buku ini semakin booming setelah di angkat ke layar kaca. Saya sudah membacanya saat pertengahan tahun 2012 lalu. Tapi mengulang membaca buku ini rasanya tidak pernah bosan-kecuali jika anda sudah semakin beanjak tua dan tidak cocok lagi dengan lini buku ini. Tema yang diangkat klise,bermula dari benci menjadi cinta. Tapi bukankah benci dan cinta hanya dipisahkan oleh garis yang tipis?
Buku ini cukup menguras air mata saat pertama kali di baca. Yang selalu jadi bagian favorit saya adalah sepucuk surat yang ditinggalkan Ibel. SANGAT, SANGAT ... MENGURAS KOLAM AIR MATA! Tapi setelah masa-masa sulit berlalu, saya semakin tersentuh dengan usaha Ibel untuk membuat Karra kembali ceria. Entah kenapa harus Bali yang menjadi setting akhir cerita-seperti tidak ada tempat indah lain saja.Maklum saja, saat masa buku ini diluncurkan Bali memang jadi hot tepat wisata masyarakat Indonesia.
Kalau kalian masih merindukan kisah Karra, Ibel dan Darra, bisa menjadikan buku ini untuk di baca ulang. Lumayan bisa bikin termewek-mewek x) hehehey.
Judul Buku : Dealova Jenis Buku : Novel Remaja Pengarang : Dyan Nuranindya Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : 2005 Jumlah Halaman : 303 Halaman
Novel ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Kara. Kara memiliki rambut yang panjang dan dia jago bermain basket disekolahnya. . Di sekolahnya Kara disukai oleh Dira, anak baru di sekolah yang juga jago bermain basket. Kara sempat membenci sifat Dira yang seenaknya sendiri. Namun akhirnya, benci itu berubah menjadi cinta seiring waktu berjalan. Tetapi disaat cinta itu mulai berkembang ternyata Dira harus meninggalkan Kara untuk selamanya. Kara yang sedih dan kesepian mulai merasakan perhatian dari Ibel dan dia pun akhirnya sadar kalau Ibel sangat perhatian kepadanya. Kara pun jatuh cinta pada Ibel.
Buku ini ditulis oleh Dyan Nuranindya dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2005. Buku ini terdiri dari 303 halaman, sehingga cukup ringan untuk dibaca. Resensi buku ini sudah mampu menggambarkan cerita novel secara umum dan telah mampu menggambarkan karakter tokoh utama. Penulis ingin menceritakan kehidupan cinta para gadis remaja. Sayangnya jalan ceritanya bagi saya tidak cocok bagi karakter remaja muslim saat ini. Buku ini membahas hal yang lebih condong ke sisi negatif daripada ke sisi positif. Bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami oleh para pembaca khususnya para remaja. Manfaat buku ini pun tidak digambarkan secara jelas. Buku ini mempunyai sasaran remaja sebagai pembacanya, karena menceritakan kehidupan gadis remaja.
Surprise banget nemu buku ini :D Well, i read this book when i was in elementary school, but the most thing i know that this is first book that make me cry :') Apalagi waktu nonton filmnya, walaupun udah berkali-kali tetap saja ada air mata. Hmmm.., jadi pengen baca buku ini lagi :D Well, waktu itu saya baca buku ini, hanya pinjaman dari perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah kakak saya tepatnya :) Tapi kayaknya buku ini udah nggak ada lagi yah? Dimana yah kira-kira bisa beli, langsung maupun secara online? Kalau ada yang tau tell me please! I realy want this book :(( Kara just make me fall in love to her! She's realy a strong girl. Well, jika saya yang jadi dia, betapa depresinya saya. Apalagi mengingat kisah cintanya yang complicated banget. Kara bingung dengan sikap Dira yang kadang maniiis namun kadang juteknya minta ampun. Ternyata, dibalik sikap Dira itu, tersimpan rahasia yang besar, yang dapat merubah segala sesuatu.. Pokoknya nggak seru yah endingnya kalo udah dibilang :p Tapi mengingat buku ini udah lama banget.., jadi kayaknya hampir semua udah baca kan? Hahaha.. This book was the best lah :)
Selama setahun nyari buku yang sempet hilang dari peredaran-.-Dan sangat puas waktu nemuin buku ini di salah satu Gramedia :) Bukunya top bangeeeeetttt! Bisa bikin orang nangis sejadi-jadinya.. *spoiler*
Gue iri banget-bangetan waktu ngeliat sinopsisnya, bayangin aje punya kakak baik dan ganteng ( susah nih nemu kakak kayak gini ), terus punya temen kakak yang baiik & ganteng~ wihhh keren gak tuh? Apalagi waktu kakaknya Karra mesti pergi keluar negri, Ibel, temen kakaknya, yang jagain dia, suka main kerumahnya, ngajak jalan dsb! ( Tambah bikin iri ) Gue mikir, ini penulis mau ngebuat pembaca punya imajinasi tingkat dewa kali ye. Laluuuu..munculah Dira ( yg sebenernya udh muncul dr awal ) Cuma tiba-tiba dia meninggal, yang membuat gue sangat sedih walaupun ada senangnya jadi dia bisa sama Ibel-.- Orang waras pasti nangis waktu baca surat Dira buat Karra, dan waktu Adeknya Dira nyelipin surat ke layang-layang di Bali-.- Mesti siapin tisu segepok sama baca ditempat yang sepi, kalau mau baca novel ini! Daaan..endingnya sih okelahhh, happy ending banget malah :D
Aku enggak suka DNF buku, jadi aku baca bukunya sampai selesai. Terakhir kali aku baca buku yang alurnya seperti ini itu tiga tahun lalu, sepertinya. Alur yang tertebak, karakter yang kurang 'hidup' dan memberi kesan penokohannya dipaksakan, sebuah twist yang bukan twist sama sekali, dan yang terakhir, pembawaan cerita mulai dari narasi dan dialog yang benar-benar enggak natural.
Kalau aku baca ini bertahun-tahun lalu, mungkin aku bakal suka. Akan tetapi, karena kubaca sekarang, rasanya buku ini tidak ada spesial-spesialnya.
Aku juga ngerasa beberapa karakter, tuh, kayak sebenarnya gak diperlukan.
Beberapa hal yang paling enggak aku suka di sini juga cara beberapa tokohnya bertindak. Bagaimana mungkin ciuman adalah bentuk tanda bukti cinta?
I know bahkan 1st read pun udah too late. Yet, better late than never, right? :D Karna udah nonton movienya di TV pas jaman SMP dulu, jadi engga kepikiran mau baca bukunya sampai dengan dapat buku ini dari teman kantor, lol. 4 stars for both physical and audiobook. They're equally enjoyable!
Setelah 7-8 tahun berlalu, saya yang sekarang membaca ini sungguh cuma bisa geleng-geleng kepala : GUE MIKIR APA SIH DULU????
Buku ini seperti lelucon. Karakter buruk dan toxic semua (apalagi Dira. Hubungan Dira dengan Karra cuma bikin saya pengen nabok Dira dan Karra supaya mereka sadar betapa tidak sehat hubungan yang mereka jalani). Plot? Apa itu plot? Saya gak nemu di buku ini.
Bintang saya berikan hanya untuk nostalgia masa sekolah. Dan kata-kata yang bener-bener kayak lelucon, sampai bikin saya ketawa.
Ini adalah novel pertama yang saya baca pas jaman masih SMA. Dan saya suka (saat itu). Bacaan ini memang lebih pas dibaca remaja yang terbayang2 untuk jadi cewek keren dan disukai cowo ganteng. Kalau mengulang lagi membaca di umur yang sudah kepala 3, sepertinya orang2 seperti Dira malah harus dihindari 😂. Saya pribadi lebih memilih untuk membaca novelnya daripada menonton filmnya.
Kara, cewek tomboy yang jago maen basket ini memang berbeda. Rambutnya panjang tidak seperti cewek tomboy lainnya yang berambut pendek. Kara sangat beruntung karena mempunyai orang tua dan kakak yang sayang banget sama dia, termasuk teman- teman kakaknya, terutama Ibel, cowok yang jago main gitar dan tidak senang dengan warna biru. Selama ini Kara hanya menganggap Ibel hanya sebatas kakak, jadi Kara tak peduli saat Ibel menunjukkan perhatiannya. Kara malah disukai oleh Dira, anak baru di sekolah yang juga jago main basket. Kara sempat benci dengan sifat Dira yang seenaknya sendiri. Namun akhirnya, benci itu menjadi cinta. Tetapi disaat cinta itu mulai berkembang ternyata Dira harus meninggalkan Kara untuk selamanya. Kara yang sedih dan kesepian mulai merasakan perhatian dari Ibel dan dia pun akhirnya jatuh cinta pada Ibel. Novel ini sangat menyentuh hati.ceritanya mampu menarik pembacanya sehingga larut dalam kisah cinta kara dan dira.Karakter tokohnya juga tidak monoton. Bahasanya bahasa anak muda. Cerita novel ini saling berkaitan dan smea bagus.Tapi untuk menuju kata sempurna saya rasa mash agak jauh karena menurut saya pribadi sudah banyak novel remaja di indonesia yang memiliki cerita seperti novel ini.selain itu masih menggunakan kertas buram. Ceritanya sedih namun happy ending.Dan bahasanya masih tampak kaku.
Kara, cewek tomboy yang jago maen basket ini memang berbeda. Rambutnya panjang tidak seperti cewek tomboy lainnya yang berambut pendek. Kara sangat beruntung karena mempunyai orang tua dan kakak yang sayang banget sama dia, termasuk teman- teman kakaknya, terutama Ibel, cowok yang jago main gitar dan tidak senang dengan warna biru. Selama ini Kara hanya menganggap Ibel hanya sebatas kakak, jadi Kara tak peduli saat Ibel menunjukkan perhatiannya. Kara malah disukai oleh Dira, anak baru di sekolah yang juga jago main basket. Kara sempat benci dengan sifat Dira yang seenaknya sendiri. Namun akhirnya, benci itu menjadi cinta. Tetapi disaat cinta itu mulai berkembang ternyata Dira harus meninggalkan Kara untuk selamanya. Kara yang sedih dan kesepian mulai merasakan perhatian dari Ibel dan dia pun akhirnya jatuh cinta pada Ibel.
Kelebihan : Banyak hal- hal yang menarik dalam cerita novel tersebut. Karakter tokohnya juga tidak monoton. Bahasanya bahasa anak muda. Cerita novel ini saling berkaitan dan smea bagus.
Kelemahan : Masih menggunakan kertas buram. Ceritanya sedih namun happy ending. Namun bahasanya masih tampak kaku.
Okay, so, aku memberikan rating 4 untuk Dealova karena novel ini adalah salah satu novel pertama yang aku 'konsumsi' dan salah satu yang paling berkesan. Aku ingat banget di tahun 2007, waktu aku masih kelas 5 SD aku pinjam buku ini dari tetanggaku yang sudah kelas 2 SMA. Pada saat itu rasanya happy banget karena bisa baca novel remaja di saat temen-temenku yang lain masih membaca Shinchan, Doraemon, Conan dan aneka judul komik hits lainnya (pada zamannya).
Bagiku, Dealova adalah salah satu novel teenlit yang menyenangkan, ringan, sekaligus bikin termehek-mehek. Aku nggak tahu deh kalau aku yang sekarang notabene sudah dewasa, kembali membaca novel ini bakal gimana rasanya. Mungkin awkward, ngerasa geli, ngerasa biasa aja, atau mungkin nggak akan lanjut setelah baca 10 halaman. Tapi, bagiku yang dulu masih anak-anak menuju remaja awal, novel ini benar-benar memberikan pengalaman membaca sekaligus menghayal (ingin menjadi Karra) yang menyenangkan.
Pokoknya, aku rekomendasikan banget Dealova untuk dibaca anak-anak remaja di luar sana yang masih seru-serunya untuk mengeksplorasi novel teenlit. Selamat menyelami dunia percintaan Karra yang rumit, tapi bikin nagih!
Penasaran juga sama buku teenlit yang sempat heboh banget ini. Tapi kalau menurut saya kurang heboh :(
Dari covernya ketahuan dong ceritanya tentang cinta segitiga? Nah Karra ini ditaksir dua cowok. Yang satu Ibel teman ngeband kakaknya, yang satu lagi Dira anak baru di sekolahnya yang jago main basket.
Ceritanya sendiri kalau menurut saya ketebak banget. Dari si Karra bakal jadian dengan siapa. Bahkan dari awal pengenalan tokoh saja sudah ketahuan sifat karakternya akan seperti apa. Tapi sayang, kalau menurut saya sifat-sifat tokohnya agak maksa. Karakternya Dira sok cool padahal kalau menurut saya sih ga penting banget yah. Karra nya juga dibilang tomboy banget nggak. Sedangkan karakter Ibel sendiri kurang terasah saya bilang. Secara jarang muncul juga sih.. Terus juga banyak dialog! Tapi itu tidak masalah-masalah banget sih :)
Untuk bagian ending, saya benar-benar gak suka. Sepertinya tuh Dira dibikin mati supaya Karra bisa jadi sama dua-duanya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Cerita lucu tentang buku ini.. Pertama gw baca buku ini, gw nggak nangis. Lalu kata temen gw, gw gak punya perasaan karena ini buku sedih banget. Walo gw gak nangis tapi gw suka sama buku ini. Lalu gw penasaran gw baca ke dua kali nggak nangis juga. Tapi baca ke3 dan ke4 kali malah nangis.. aneh khan??? Ini buku rada ajaib..
Memang buku ini 2Good2BTrue tapi gak tau kenapa buku ini menarik,, karena mungkin buku ini terlalu berandai2. Gw demen ajah sama alur ceritanya dan terutama endingnya.. ;)
Aku bacanya waktu masih sma.. Temen2 pada bilang bagus banget, malah ampe ada yang nangis gara2 baca bagian surat perpisahan.. Tapi.. Menurut aku biasa aja.. gak tahu dehh kenapa.. terlalu manis dan nampak terlalu direkayasa, gak real aja selain itu gaya bahasa dari sang penulis gak bagus banget.. kalo aku bilang, penulisnya gak bisa membawa pembaca ke dalam ceritanya..sorry
Nonton filmnya dulu daripada baca novelnya. Hm... Entah karena terdistraksi sama film atau gimana, tapi aku ngerasa alur novelnya lambaaaat banget. Terus banyak hal-hal adisional yang kurang penting. Tapi overall, novel ini cukup menghibur, dan punya nilai-nilai. Seperti novel Dyan Nuranindya yang lainnya.
Aduh aduh aduh.. baru tahun ini bisa baca full novel Dealova ini. Sebelum-sebelumnya hanya baca sebagian, tepatnya jaman sekolah sih. Lebih dari satu dekade yang lalu wkwk.
Siapa sih yang nggak tau Dealova? Kalau nggak tau novelnya ya minimal filmnya lah.
Terutama pada sosok Dira ini. Udah ganteng, cool, keren dan jago main basket pula. Apalagi di film tokoh Dira ini diperankan oleh Ben Joshua yang membuat remaja-remaja pada saat itu - termasuk saya - jadi fans dadakannya di Benjo wkwk. Tengilnya itu loh, gumusshh.
Yup, sama seperti filmnya, novel ini menceritakan tentang Kara, si cewek tomboy yang pintar main basket, cuek dan supel yang tiba-tiba saja ditantang adu basket oleh Dira, si anak baru yang dingin, galak tapi jago main basket. Sejak saat itu mereka berdua tidak pernah akur. Selalu saja berantem ketika bertemu.
Lalu ada sosok Ibel, temen kakaknya Kara yang baik hati, kalem, penyabar dan nggak neko-neko, dia naksir Kara sejak pertama kali bertemu. Dia selalu ada di samping Kara serta menjaga Kara ketika Iraz, kakak Kara kulliah di New York.
Ya intinya baik jalan cerita maupun penokohanya sama kaya yang difilm. Hanya saja versi novelnya jauh lebih membuat frustasi. Ada banyak banget hal yang ingin saya komentari dari novel ini.
Pertama, jelas tentang gaya penulisannya yang.. ARGHHHH!! Tiba-tiba.. Kemudian... Dan... Sumpah deh, ada berapa banyak 3 titik di novel ini? Belum lagi ditambah diksi yang berantakan. Menggangu bangettt. Jujur, saya nggak cocok sama gaya penulisannya.
Kedua, tentang penokohan. Nggak ada tokoh yang kuat disini. Semuanya engga konsisten. Kecuali Ibel, ya lumayan lah dia. Serius deh, hampir semua tokoh disini memiliki watak yang annoying.
Dira, pemarah, kasar, seenaknya sendiri, nggak jelas, toxic, abusive dan creepy. Gimana nggak creepy kalau dia diam-diam ngambil baju basket Kara? Sumpah, Dira ini annoying banget!! Kenapa harus meromantisasi cowok yang kasar sih? Biar kesanya badboy gitu?
Kara, dia juga suka marah-marah engga jelas. Dan bener-bener engga jelas penyebab kemarahnya. Tiba-tiba nyolot, tiba-tiba emosi. Annoying banget. Cengeng lagi. Katanya tomboy?
Finta, temen Kara yang juga annoying. Dia marah ke Kara hanya karena Dio, gebetanya dibilang suka dengan Kara. Ya namanya juga gebetan, kan Finta yang suka. Dio mah bebas suka sama siapa aja. Lagian Finta bodoh banget. Emang selama ini pernah liat Dio dekat dengan Kara?
Iraz, kakak laki-laki Kara yang... em.. gitu deh. Oke, saya juga punya saudara laki-laki tapi engga seromantis Iraz yang panggil-panggil sayang dan Honey ke adeknya serta cium-cium adek ceweknya yang usianya nggak terpaut jauh. Kalau Kara masih SD mungkin saya biasa aja ya. Lah ini Karanya udah gede. Saya jadi agak gimana gitu. Wkwkw.
Ibel, dia paling normal dibanding yang lain. Tapi tetep aja ada ke-annoyingan ketika dia tiba-tiba datang kerumah Dira cuma buat bilang nggak akan biarin Kara menderita dan habis itu pulang. Udah, selesai, end, gitu doang. T.T
Niki, apaan deh ini cewek. Sama annoying juga. Marah-marah gara ban kempes tapi cengengesan minta tolong? Suka sama orang maksa. Niki suka sama Ibel dan menurut Niki, Ibel juga harus suka sama dia.
Bi Minah, yang entah mengapa digambarkan begitu wow tapi biasa aja.
Ketiga, tentang nama Kara dan Iraz yang walaupun nggak penting-penting amat tapi cukup menjadi pertanyaan besar di otak saya.
Farhika Candida Feryaldi -> Kara Fahrezi Candira Faryaldi -> Iraz
Ini konsep namanya gimana yaaak?
Keempat, alasan Iraz kuliah di NY itu apa? Masa tiba-tiba dia kuliah di LN sih? Bukanya dia lagi kuliah juga di Jakarta? Lanjut S2 kah atau gimana. Soalnya aneh aja, tiba-tiba pergi dengan mudahnya. Emang engga ngurus-ngurus surat dulu gitu?
Kelima, masih berhubungan dengan Iraz. Yaitu tentang orang tuanya. Yakali sekarang dateng ke Indo besoknya balik lagi ke NY cuma buat ngabarin kalau Iraz mau kuliah disana? Emang nggak capek? Engga jetlag? Perjalanan Jakarta ke New York jauhhh pisan loh. Apalagi pas pamitan di bandara, orangtuanya aneh banget engga pamitan sama Kara yang notabene adalah anaknya.
Keenam, tentang Ibel yang menjadikan ciuman sebagai bukti cinta. WTF. Dan tentang Dira yang tiba-tiba aja mati. Nggak pamit, nggak ada kesan baik, tiba-tiba karakternya dimatiin gitu aja. Bukanya sedih malah bingung. (Untung udah nonton filmnya duluan~ jadi tau gimana sedihnya Dira mati)
Overall ceritanya ya lumayan lah. Mungkin karena saya bacanya ditahun ini kali ya? 2 dekade sejak penerbitan. Coba kalau saya bacanya di tahun jadul - tahun 2003/2004 an (pas saya SD) - mungkin saya bakalan suka. Terbukti kan sampai diangkat jadi film.
Saya kasih bintang 1 untuk keseluruhan cerita dan bintang 1 lagi untuk nostalgicnya.
Random banget saya baca ini di Gramdig. Gara-garanya sempet ada temen nyebut-nyebut ini di Twitter, mengatakan bahwa dia dulu sangat menyukai Dealova.
Hm, walaupun masa SMP saya dipenuhi anime, bukan berarti saya nggak sadar sekitar. Saya juga melihat betapa novel ini dulu hype banget pada zamannya, teman-teman dan kakak kelas saling memamerkan punya buku bersampul pink ini dan saling bertukar pinjam sampai antrean peminjamannya panjang sekali dan bukunya sold out terus di toko buku. Tapi, waktu itu saya nggak tertarik. Baik pada bukunya, maupun filmnya. Cuma suka pada lagunya yang dinyanyikan Once aja.
Namun, tadi akhirnya saya berhasil menamatkan novelnya .........
Saya cuma bisa bilang, saya KZL BANGET sepanjang membaca buku ini. Ceritanya bertele-tele, banyak dialog dan adegan nggak penting, beberapa hal sangat nggak masuk akal/terlalu cepat/nggak diuraikan secara detail, karakter-karakternya menyebalkan dan tidak bikin simpati sama sekali, chemistry antarpasangannya nggak kerasa, ditambah lagi saya tidak bisa menikmati narasinya. Pokoknya, bawaannya pengin mencak-mencak aja sepanjang baca.
Anehnya.........
Saya berhasil menyelesaikan membacanya.
Bukan karena penasaran--siapa sih yang nggak tahu kalo si tokoh itu bakal mati, thanks to the hype--tapi lebih ke... apa ya... cerita mengesalkan ini, dalam kadar tertentu, engaging.
Capek memang bacanya, tapi tetap bisa bikin lanjut.
Dan saya terheran-heran, sebenarnya sihir apa yang ada dalam novel ini sampai bisa seperti itu?
Usai membaca novel ini, saya jadi tahu bahwa novel ini memang terbit pada zaman yang tepat. Pada tahun pertama terbitnya, novel ini jelas merupakan bacaan yang akan menarik minat remaja untuk membaca, terutama remaja putri--dengan gaya bahasanya yang renyah dan gaul, serta kehidupan SMA yang seperti itu: idaman, lah, intinya. Dan saya cukup respek akan hal itu.
Terima kasih Dealova telah memberi sumbangsih yang besar pada iklim literasi remaja Indonesia, menjadi salah satu pelopor teenlit yang pada akhirnya meningkatkan minat baca remaja--terutama buat remaja-remaja yang tadinya nggak suka baca novel sama sekali.
jadi ceritanya lagi kangen sama masa-masa remaja, trus kemarin menyempatkan nonton ulang dealova karena inget sedih banget pas karra ditinggal dira itu, apalagi pas adegan baca suratnya. kucari-cari, ternyata film itu diangkat dari novel. kemudian mencari novelnya di ipusnas dan ya, membacanya sampai selesai.
aku bukan penggemar teenlit sekarang, tepatnya mungkin sudah terlalu tua untuk itu. dan aku baru tahu ternyata adegan kesedihan yang ketemu di filmnya tidak diceritakan di sini. sebenarnya itu mungkin artinya bagus ya, ada pengembangan visual cerita yang bisa membuat cerita ini menyentuh, tetapi untuk orang yang datang dari film kemudian ke novelnya jadi terasa kurang.
cerita ini rasanya membawa nostalgia sih, masa-masa ekskul, zaman diskman, telepon rumah, sedan. tapi ya memang hanya itu saja. konflik tidak terlalu tajam, karakter tidak terlalu berlapis. bahkan cerita sampingan ibel niki rasanya seperti kerupuk, selingan yang nggak diingat lagi rasanya. tapi ya wajar karena buku ini ditulis ketika penulisnya masih SMA. paling tidak, penggunaan katanya sudah lumayan dan tanda bacanya tidak mengganggu.
baca ini pertama kali pas sd, dan udah lupa sama ceritanya, tapi berharap buku ini menimbulkan perasaan nostalgia gtu deh, eh taunya engga
dimulai dari hubungan dira sama karra, si karra ini kan digambarkan sebagai cewek yang tomboy bgt lah, jadi aku tidak expect dia bakalan nangis karena peselisihannya sama dira, dan aku merasa juga perselisihan mereka nggak sebesar itu sampe harus ditangisin. trus ketika mereka udah pacaran, masih bingung aja kenapa bisa, soalnya dari pov-nya karra kayak nggak ada keliatan dia diem2 suka sama ni cowok. trus pertengkaran mrk itu juga tidak dijelasin kenapa, ya maybe buat nutupin sakitnya dira
trus kemunculan niki, ini menurutku dia ga penting2 amat kemunculan dia. kasusnya dan keluarga beserta pacarnya juga ga membawa efek besar buat jalan ceritanya. mana dia di salah satu adegan nyinisin karra pas ketemuan, kek freak bgt, trus mutusin cowoknya pas lagi susah karena demen sama ibel
trus ada adegan dimana dokter ngasih tau kalo dia gabisa mengidentifikasi penyakitnya si dira, itu lucu sih percakapannya. jatohnya jadi kayak ga profesional, dan terlalu aneh
This entire review has been hidden because of spoilers.
Okay. So, this book marked my reading journey. I remember read this book back when I was in the 6th (2005) grade of elementary school, a friend brought it to school and said it was amazing, so I borrowed it and finished it within a night. I cried of course haha. It was before all the hype of the movie, which I didnt even bother to watch. It was that great back then because I was so young and it was my 1st novel. Thats why this book remains somehow special to me. It was Dealova that made me realize how wonderful reading a book is. Even though if you ask me to read it for once again now, I'd say no. Its way too teeny and cliche for my age now. But again, Dealova is still memorable for me :)
aku ingat dulu pernah baca ini waktu smp dipinjemin sama kakak kelas. seru, bikin baper juga. karakter karra yang di gambarkan tomboy, hard to approach, anti-mainstream pokoknya yang bikin aku suka. intinya sepanjang cerita dibikin betah sama karra ini, sampe muncul male-lead ya si dira ini. aku jatuh cinta sama karakternya walau awal-awal agak ngeselin suka jahilin karra. tapi endingnya bikin nangis, dira and karra deserved to be together. ibel is a good guy but the one who karra feel comfortable the most it dirra.
recommended kok
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel pertama yang kubaca. Baca Dealova pas SMP kelas 2 hasil pinjam dari perpustakaan Kota Tembagapura. Buku ini udah kayak piala begrilir, laris banget dipinjem anak-anak sekota karena katanya bagus banget!!! Untuk ukuran anak kelas 2 SMP saat itu, buku ini emang bagus bangettttt walopun setelah baca ulang sekarang-sekarang ini kesannya udah beda. Hoho, 5 bintang sebagai bentuk terima kasih, karena Dealova, aku jadi suka membaca dan menulis <3 Terima kasih, Kak Dichiel.
Buku ini dibaca waktu saya masih SMA. Nah, padahal saya masih SMA, masih alay dan drama queen abis. Tapi baca buku ini ntah kenapa gak gimanaaaaaa gitu ya. Orang2 seneng bacanya, katanya ceritanya bagus. Tapi ini terlalu berkeju. Enggak terlalu berkesan. Apalagi setelah itu diangkat jadi film layar lebar pemeran-pemerannya gak sesuai sama yg dibayangin makin zonk deh. Ntah mungkin karna saya lagi tergila-gila sama Fairish punyanya Esti Kinasih. Ahah.
I just re-read this novel a couple days ago. It’s bring back my teenager memories. Since I’ve read the whole book many times when I was an elementary student.
Now, I figured out some weakness of the book. First, the story is not too depth, need more explanation especially about Dira’s health disease. Second, the conflict between Stanny and Karra, just not make sense.