Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sisi Tergelap Surga

Rate this book
Jakarta kerap menjadi pelabuhan bagi mereka yang datang membawa sekoper harapan. Mereka yang siap bertaruh dengan nasibnya sendiri-sendiri. Namun, kota ini selalu mampu melumat habis harapan dan menukarnya dengan keputusasaan.

Pemulung, pengamen, pramuria yang menjajakan tubuh agar anaknya bisa makan, pemimpin-pemimpin kecil yang culas, lelaki tua di balik kostum badut ayam, pencuri motor yang ingin membeli obat untuk ibunya, remaja yang melumuri tubuh dengan cat perak, hingga mereka yang bergelut di terminal setelah terpaksa merelakan impiannya habis digerus kejinya ibu kota.

Di Jakarta, semua orang dipaksa bergelut dan bertempur demi bisa hidup dari hari ke hari. Dan di kampung inilah semua itu dimulai. Sebuah cerita tentang kehidupan orang-orang yang hidup di sisi tergelap surga kota bernama Jakarta...

304 pages, Paperback

First published November 29, 2023

381 people are currently reading
3253 people want to read

About the author

Brian Khrisna

11 books386 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1,368 (50%)
4 stars
904 (33%)
3 stars
325 (11%)
2 stars
88 (3%)
1 star
34 (1%)
Displaying 1 - 30 of 724 reviews
Profile Image for Al-Al Malagoar.
Author 1 book51 followers
September 22, 2024
Dnf di hal 180an. Sejujurnya saya gk tahu, dari 180an halaman itu apa tujuan Penulis dengan Sisi Tergelap Surga. Narasi penderitaan diceritakan berulang walaupun dengan tokoh yang berbeda. Sama sekali tidak memiliki pembaruan yang membuat saya jenuh sekali. Tanpa novel ini, Jakarta memang memiliki paradoks kelas sosial di dalamnya dan tanpa itu justru terlihat lucu yang membuatnya seperti utopia. Saya menunggu2, ke mana sebenarnya muara ini. Tpi repetisi dan repetisi membuat saya pada akhirnya ejakulasi dini. Terlalu banyak tokoh, dan terlalu banyak pengulangan. Pelacur, lc, banci, gk ada pembeda. Semua sama.

Dan gaya bahasanya, duh ,Tuhan. Kasar banget. Sampai saya bertanya2, apakah perempuan jika ditulis oleh laki2 seperti ini hasil akhirnya? Apakah pelacur tidak memiliki satu pun keindahan? Narasi2 yang mereduksi perempuan berceceran di mana2, dan justru semakin memperparah ketimpangan gender itu sendiri dalam masyarakat.

Mungkin buku ini bukan selera saya, dan barangkali satu tahun berikutnya saya bisa merampungkan membaca. Tapi untuk sekarang, saya tidak kuat. Narasi dan repetisinya membuat saya bosan.

2 bintang untuk kavernya.
Profile Image for Anesthasa.
22 reviews2 followers
January 9, 2025
[English Review]

Disclaimer: I DNF this book and stopped at page 60-ish.

This book tells the story of a different side of Jakarta—a side of the city’s slums that people moving there to seek a better life would never have imagined. It’s about the people who struggle to survive in those conditions.

First, this book doesn’t have a main character or a clear objective. There are several characters with their own stories, all tied together by one main thread: the slum and the struggle to survive. Reading this book doesn’t feel like reading typical fiction but more like reading news about phenomena happening around us. As a reader, the narrative feels repetitive and dull. Character x needs money, tries to find it, and eventually gets it by any means. Then comes the backstory of why character x ended up that way. Then the focus shifts to another character with a similar story.

Second, the language used is extremely… violent. I get it, the author wants to portray everyday life realistically, and this is the type of language those people used. But still, it’s exhausting to turn the page only to encounter yet another barrage of words like ‘ko**ol’ or 'lo**e' and references to sexual objects or profanities. Oh, did I mention that almost all the characters here are involved in some sort of sexual business?

Third, I feel like the book overly glorifies the sadness of its characters as the main point. It’s as though the reader is supposed to feel sorrow while reading this. This intent is evident from the very first paragraph. And sure, that’s fine, but it’s not my cup of tea.

I was surprised to find out that this book has such high ratings, but I can see the appeal. If you’re someone who has never encountered poverty in your life, this book can induce guilt-tripping, making you feel bad and grateful that you’ll never have to experience such struggles. Or, if you’re a young person with limited resources, this book might act as fear-mongering, instilling a sense of dread about whether you might end up like this one day.

Cheers.
Profile Image for Henzi.
232 reviews21 followers
July 2, 2024
Siapa yang menyangka bertempat tinggal di kota metropolitan tidak akan otomatis sejahtera?

Di balik gemerlapnya Jakarta seperti yang terlukis dalam Sisi Tergelap Surga, tersembunyi denyut jantung yang menggerakkan setiap sudut kota ini dengan kehidupan, kegembiraan, dan harapan. Berharap Jakarta tetap hidup, megah, dan glamor seperti reputasinya sejak dahulu. Namun, di balik itu semua juga tersimpan kisah kelam seperti orang-orang pinggiran, yang tak dapat menikmati itu semua, malah justru tertekan oleh kejinya kota ini.

Sebagai anak yang lahir dari kota kecil, aku selalu kagum sama kehidupan di kota metropolitan seperti Jakarta. Meskipun hanya bisa menonton dari TV, sudah kebayang betapa elitnya suasana kota dengan kesibukan dan pilihan karier yang mengagumkan. Salah satunya adalah menjadi manajer di perusahaan besar yang memiliki ruangan sendiri. Benakku pada masa itu, kerjaannya hanyalah meeting, mengecek setumpuk dokumen, ngetik-ngetik lucu, dan lain-lain. Kirain bisa duduk bekerja dengan tenang, padahal pressure-nya tinggi.

Kenyataan tidaklah seindah itu, berasa ditampar bolak-balik. Ternyata masih banyak kehidupan yang jauh dari kata nyaman, seperti yang tergambar dari buku Sisi Tergelap Surga ini. Justru sebaliknya di sini menyorot profesi seperti pramuria, cleaning service, tukang nasi goreng pinggir jalan, penjual tahu, preman, hingga pencuri sepeda motor. Ini benar adanya.

Mencari makan hanya untuk bertahan hidup barang kali satu hari saja. Ironinya kehidupan sebagian—kecil atau pun besar—orang yang tak dapat merasakan ketentraman dalam jangka panjang. Belum lagi, ada yang mesti terseok-seok karena harus menghidupi orang lain padahal dirinya juga sudah sekarat. Pencuri sepeda motor yang terpaksa demi duit cepat supaya bisa membeli obat untuk ibunya. Pramuria yang terpaksa merendahkan dirinya supaya bisa membelikan anaknya McD di hari ulang tahunnya. Pria yang bekerja pagi, siang, hingga malam hanya untuk melunasi utang orangtuanya. Dan berbagai pertempuran lainnya.

Tak muluk-muluk memikirkan masa depan, buat besok aja tidak tahu. Apakah memang hidup mesti sekejam itu?

Fenomena ini memang sudah ada dari dulu, yang kemudian diangkat oleh Brian Krishna melalui buku ini, dengan pembahasan yang gamblang & blak-blakan. Vulgar tanpa sensor, sisi tergelap surga Indonesia. Sepertinya ini memang gaya penulisnya supaya lebih menyatu dengan tema ceritanya, orang-orang pinggiran Jakarta. Jadi jangan kaget bila menemukan berbagai kata kasar yang menyangkut perkelaminan disebutkan di sini, berulang kali, tanpa sensor. Hati-hati & bersiaplah untuk menjadi kotor ketika membaca buku yang satu ini.

Sebagai kritik, menurutku banyak profesi yang redundansi, ya sebenernya sama, itu-itu juga cuma dibalut dengan penamaan yang berbeda aja. Contoh ya, sebut saja Rini (pelacur), Juleha (hostess, pramuria), dan Danang (gigolo). Kisah tiap tokoh pun terlihat 'karangan banget', terlalu umum. Mending jumlah tokohnya didikitin saja, biar bisa eksplor lebih dalam terhadap tokoh tertentu. Kalo kayak gini, jadinya ya ngambang saja karena cuma menyentuh permukaan saja. Terkait dengan kegelapan yang ingin ditampilkan, juga gak muluk-muluk didominasi oleh prostitusi. Masih ada banyak hal lain seperti perbudakan, narkotika, judi, dan sebagainya. Profesi 'halal' juga boleh diangkat.

Anyway, novel ini memang bisa jadi perenungan tentang bagaimana denyut jantung Jakarta mengalir seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti, membawa bersama cerita-cerita, harapan-harapan, dan perjuangan-perjuangan dari setiap individu yang membangun dan menghiasi kota ini dengan warna-warni kehidupan.
Profile Image for veyninda.
153 reviews9 followers
August 5, 2024
Maaf tapi buku ini bukan tipe ku 🙏 terlalu ngambang dan terlalu menglorifikasi kemiskinan seolah-olah mereka tidak ada pilihan lain. Profesinya juga terlalu umum, karakternya terlalu banyak dan tidak fokus
Profile Image for Liliyana Halim.
314 reviews253 followers
March 31, 2025
Selesaiiiii! Dan sukaaa! Suka cara berceritanya, ada perasaan nggak nyaman dibagian agak awal, hangat juga manis. Semuanya campur aduk jadi satu. Danang baik banget 🥺 suka yang bagian dia kasih saran ke Esih.
.
Namun, bukankah persahabatan paling awet biasanya lahir dari mereka yang mempunyai penderitaan dan kesepian yang serupa? Mereka bertiga tahu rasanya dibuang dan tak memiliki siapa-siapa. Itu sebabnya mereka selalu saling menjaga. Meski pada akhirnya nanti mereka akan mati sendiri-sendiri, setidaknya mereka tidak hidup sendirian- 117.
.
Memang ada tiga tamu yang selalu datang tanpa membuat perjanjian terlebih dahulu. Mereka adalah Kematian, Takdir, dan Rezeki- 270.
.
Jangan jadi orang yang harus bahagia dulu untuk bisa bersyukur. Atau harus susah dulu untuk ingat Tuhan- 290.
Profile Image for cealiterary☕️.
39 reviews17 followers
June 24, 2025
⚠️ 21+, violence, prostitution, rape, LGBTQ+, physical emotional and sexual abuse, self-harm, suicide attempt, anxiety, abusive relationship

IT’S SUCH A ROLLER COASTER BOOK! Rate : 4.7/5🥹😭😮‍💨💔
Selesai baca ini aku cuma bisa diem dan merenung cukup lama. It’s an emotional journey yang bikin aku mikir keras soal privilege, hidup, dan kemanusiaan. Penggunaan bahasa yang vulgar, eksplisit, dan keras kadang terasa overwhelming, even if I get the point of realism-nya. Jadi, bijaklah dalam menanggapi dan memilah yang ada👌🏻

What hit me the most was how this book challenges our moral compass. Bahwa hidup bukan hanya perihal hitam dan putih, salah dan benar, haram dan halal. Mereka yang hitam karena alasan, salah karena kesedihan, haram karena keputusasaan, and this book reminds you of that. Stop judging, jangan tiru dosanya dan jangan menghakimi, you’re not God!

“Kalau Tuhan itu urusannya vertikal, ke atas. Bagaimana cara kita berlaku sama orang lain itu horizontal"
Profile Image for Naila.
101 reviews47 followers
May 26, 2024
Novel kedua favoritku dari penulis ini, setelah novel This is Why I Need You.
Sukaaaaaa banget. Selesai membaca buku ini, aku merasa semakin bersyukur atas hidup yang kujalani. Di buku ini diceritakan beberapa kisah dari orang-orang yang selama ini sering dipandang sebelah mata, bahkan mungkin kita tidak tahu jika di luar sana, ada orang yang bernasib seperti itu.

Aku merekomendasikan buku ini terutama untuk orang yang sedang merasa di titik terendah, untuk orang yang sedang merasa pelik, merasa putus asa, dll. Kamu akan memperoleh secercah harapan setelah membacanya.
Profile Image for kalvid.
22 reviews3 followers
September 12, 2025
Buku ini menjual kemiskinan. Kemiskinan dideskripsikan berulang-ulang secara sangat (seharusnya) dramatis, sehingga membuat saya frustrasi (terhadap penulis) alih-alih sedih (seperti yang banyak saya temukan dirasakan orang-orang di TikTok). Sepuluh lebih karakter dalam buku ini tidak punya kepribadian selain fakta bahwa mereka miskin. “Lihatlah, mereka banting tulang. Lihatlah, mereka disiksa. Lihatlah, mereka mati. Oh, kasihan mereka. Anda harus merasa sedih.” Itulah yang akan Anda baca sepanjang buku, berulang-ulang, terus-menerus. Tidak hanya di awal cerita sebagai pengantar, melainkan di sepanjang buku. Salah satu karakter berdoa: “Tuhan, mengapa hidupku begini? Tuhan, berilah kekuatan,” sepanjang lima paragraf. Karakter lain juga berdoa serupa, tapi tak sepanjang itu. Ada preman, PSK, pengangguran, yang semua sebenarnya adalah ustad, karena mereka suka berceramah panjang lebar tentang: “Hidup pahit, tapi Tuhan itu adil. Janganlah menghakimi manusia. Tetap solat, walau banyak dosa.” Di buku ini, orang-orang mencuri, mel*nte, memukul, karena mereka miskin. “Tapi, lihatlah! Mereka berlapang dada. Anda harus begitu juga!” begitulah isi buku ini.

Saya berupaya sangat keras (dan berhasil) menyelesaikan buku ini (sambil menahan marah), karena ingin memahami kenapa orang-orang sangat menyukainya. Namun, buku ini menceramahi dan mendikte pembacanya, sesuatu yang paling saya tidak suka dari membaca novel. Saya membaca karya fiksi bukan untuk diceramahi dan didikte. Buku non-fiksi, artikel, opini, esai, (dan khotbah pemuka agama) ada untuk itu.
Profile Image for Sheira Sharma.
135 reviews4 followers
July 21, 2024
"namun, begitulah hidup. kumpulan dari rencana-rencana yang gagal."

bercerita tentang pemukiman kumuh di pinggiran kota jakarta, ada seorang pemulung, pengamen, pramuria, dan banyak lagi orang-orang yang mimpinya habis di gerus kejinya ibu kota.

tokohnya banyak, sampai pas baca bagian awal tuh gue kira ini kumpulan cerita yang setiap babnya bakal bedo tokoh. ya ga salah sih, setiap bab emang bahas tokoh yang beda-beda tapi ternyata tetep ada benang merahnya, resolusi keseluruhan cerita pun jadi satu.

benang merahnya ya gang tempat mereka tinggal, tetangga gitu. tapi yang di sorot background masing-masing warga, simplenya misal di kampung durian runtuh terus bab 1 ceritain mail, bab 2 fizi, bab 3 meimei, dan seterusnya. tapi tetap ada benang merah antar tokohnya.

yang gue suka dari cerita ini, pertama gaya berceritanya yang bagus banget. terus background tokoh-tokohnya juga menarik, sampai gue nggak bisa berhenti baca karena penasaran sama background tokoh-tokohnya. banyak juga isu-isu yang di singgung di novel ini, bukan cuma tentang kesenjangan sosial, tapi unsur feminisnya juga kental di beberapa cerita.

pesan moral yang bisa di ambil juga banyak, kalau buat gue pribadi setelah baca ini gua jadi lebih respect sama jamet-jamet tukang cat calling. ya nggak respect juga sih sebenarnya, lebih ke mencoba buat memahami aja (walau sambil kesel dikit) karena semua hal pasti ada alasannya. kayak 3 tokoh di cerita ini, pulung, karyo, jawa, sebelum sampai ke cerita mereka jujur gue kesel banget sama nih para manusiaaaa, karena ya type jamet-jamet seksis yang suka cat calling dan objektifikasi. tapi setelah tau background mereka gue jadi merenung, karena mungkin jamet-jamet yang selama ini gue kutuk diam-diam, karena gue nggak cukup berani buat maki, juga datang dengan background yang sama kayak mereka. bukan berarti membenarkan tindakan mereka ya, kalau ngomongin salah atau benar ya udah pasti salah, tapi di sini gue mencoba untuk nggak langsung menghakimi, tapi memahami kenapa mereka kayak gini. mereka tumbuh di lingkungan yang kayak gimana? apa mereka dapat edukasi soal ini?

untuk kekurangannya, mungkin karena terlalu banyak tokoh kali ya jadi kadang bingung ini gofar yang mana nih? brian yang mana nih? karena semua karakter udah di spill di bab awal (panembrama kehidupan) terus ada beberapa profesi yang hampir sama juga, kayak si rini, leha, sama danang, meski nggak 100% sama tapi tetep aja seputar sex komersil. kayaknya lebih bervariasi kalau di buat beda profesi, apa kek gitu kan banyak ya profesi-profesi unik nan ajaib di ibu kota. terus bagian resolusi di akhir juga kecepatan dan terlalu fictional, sayang aja karena cerita ini kan di bangun dengan sangat dekat sama realitas, eh pas bagian endingnya malah fictional banget. ya ini sih personal opinian ya, jujur gue lebih enjoy di bagian pengenalan background tokoh-tokohnya daripada 5 bab resolusi di akhir.

so far novel ini sangat membekas sekali, banyak pelajaran hidup yang bisa di petik. kehidupan orang-orang di cerita ini juga bisa di jadikan bahan renungan. pas baca, ada kalanya pembaca di bikin naik pitam lalu nangis brutal. sungguh pengalaman membaca yang menyenangkan!

kutipan favorit gue di novel ini:

"kalau kesedihan saja bisa mereka nikmati, entah bagaimana menggambarkan pengalaman berbahagia mereka nanti."
Profile Image for xyz.
27 reviews1 follower
September 20, 2024
jujur aku malu, kehidupanku yg selama ini ku anggap biasa2 aja ternyata sebuah PRIVILEGE yang sangattt2 besar, aku malu banget. akulah si anak manja itu, akulah si anak yang enak2 tidur di kasur empuk itu tanpa takut besok gak bisa makan. jujur aku merasa sangat minim bersyukur dan buku ini bener2 menaikkan kesadaranku akan nikmat yang selama ini ku anggap biasa2 aja.

buku ini cocok buat yang pengen memahami apa itu kemiskinan struktural. sumpah aku kebawa banget gimana perasaan hopeless mereka dengan pilihan2 hidup yang terbatas. selain itu, buku ini emosional banget. pikiranku berasa dibredel, diobrak abrik dgn kondisi warga kampung itu. masalah mereka kompleks bangeeeeettttt, tapi ceritanya gampang diikuti. ga bakal bosen karena fast-paced.

disclaimer buku ini BUANYAK banget kata2 kasar, adegan rape, criminal, abuse, suicide, dll, jadi tidak terlalu direkomendasikan untuk yg punya trauma & sejenisnya.
Profile Image for Ayu Istiyani.
106 reviews6 followers
June 28, 2024
Entah. Capek banget rasanya diajak menilik kehidupan di satu sudut kota yang jauh dari kata nyaman. Susah, pahit, getir demi bertahan hidup. Mengimajinasikan potongan cerita setiap tokoh dengan beragam pekerjaannya terasa cukup menyakitkan. Memberikan pandangan kepada kita bahwa, hidup memang sekeras itu. Sebuah kota yang terkenal dengan hingar bingarnya, sangat kontradiktif dengan perkampungan kumuh yang diceritakan di novel ini.
Dari buku ini diajarkan bahwa jangan mudah menghakimi pekerjaan orang lain, jangan mudah berkomentar atas pilihan orang lain. Kita tidak pernah benar-benar paham alasan dibalik pilihan yang dia ambil sebelum kita ada di posisinya.

Banyak kutipan yang menurut saya cukup 'ngena'
"Hidup me­mang selalu dirasa mudah buat orang-orang yang tak pernah merasakan apa itu susah."
"Kalau dengan beragama lantas bikin kamu merasa lebih suci dan lebih tinggi derajatnya dari orang lain, sosok siapa yang kamu teladani selama ini? Siapa yang kamu sembah selama ini? Egomu?"
"Sederhanalah. Maka sesederhana itu pula caramu merayakan kebahagiaan."
"Mungkin benar, bahwa kesedihan adalah nilai intrinsik dari kebahagiaan. Mereka tak bisa berdiri sendiri-sendiri."
"Memang ada tiga tamu yang selalu datang tanpa membuat perjanjian terlebih dahulu. Mereka adalah Kematian, Takdir, dan Rezeki."
"Di tiap nanti ia bertanya kenapa ia yang harus menerima cobaan ini, mungkin Tuhan hanya akan tertawa sambil menjawab, "Kenapa tidak?""
"Baru diberi beberapa ujian saja sudah berani memojokkan Tuhan? Lihat apa yang bisa Tuhan lakukan untuk hidupmu. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang mau kamu dustakan, Resti?"
"Kita memang tak harus selalu menemukan jawaban. Biar sisa dari segala pertanyaan yang tidak terjawab menjadi cara hidup mengajari manusia untuk merelakan."
Profile Image for Kaisha Alleyda.
14 reviews
January 25, 2025
Karena tidak pintar memberikan ulasan, jadi saya coba buat menggunakan poin poin ya

1) tidak ada perumpamaan yang tepat untuk menggabarkan bahwa alur cerita di buku ini mirip seperti sinetron dengan ratusan episode, pengenalan karakternya pun kaku seperti pemain sinetron

2) saya kurang suka dengan gaya penulisannya yang terkesan ngasal dan asbun (gitu kata gen z zaman sekarang), mungkin gaya, tapi terlalu berlebihan

3) seakan gak ada konflik, saya kesusahan untuk menyelesaikan buku ini, ketika sampai di akhir pun diberikan peristiwa yang membahagiakan, yang mana menurut saya tidak menyelesaikan konflik apapun (karena sebenernya juga gak ada, sudah saya bilang ini sinetron)

4) saya kasih 2 bintang. satu untuk tokoh yang suka ngasih makan kucing, satunya lagi untuk Ujang
Profile Image for Faiz • فائز.
385 reviews3 followers
April 8, 2026
Antara salah satu bentuk keadilan saya dalam menilai sesebuah karya fiksyen (novel dan seumpamanya) adalah dengan tiada memerhatikan (ternyata saya telah terpengaruh dengan istilah bahasa Indonesia kerana dua-tiga minggu kebelakangan ini, saya membaca lebih daripada lima buah buku berbahasa Indonesia sekaligus) atau membaca ulasan pembaca yang lain.

Demikian kerana, karya fiksyen (dalam konteks ini ialah novel secara khusus) agak berbeza dengan karya ilmiah atau akademik, kerana ia mengandungi plot atau jalan penceritaan . Karya ilmiah, kendatipun ada [semacam] alur iaitu tesis awal dan kesimpulan haruslah bertepatan, bahkan ada juga perkembangan (persis novel) yakni bagaimana tesis awal tersebut ditegaskan dan diperincikan, namun, persamaannya hanya pada sifat, bukan hakikat. Malas pula saya perincikan secara panjang lebar; adalah lebih mudah dijelaskan secara lisan.

Dan yang lebih utama ialah karya fiksyen, pada rata-ratanya mampu melahirkan tafsiran yang pelbagai, kendatipun ianya berasal daripada teks yang sama. Bahkan, tafsiran ini juga bebas terbuka dilakukan oleh sesiapa sahaja, kerana karya fiksyen tidak keras dan kaku (ia bukan berbentuk fakta yang kesahihannya terbatas hanya kepada ‘benar’ dan ‘salah’ sahaja), serta kesahihannya berbentuk relatif. Seperti yang saya nyatakan pada perenggan sebelumnya, saya malas perincikan secara panjang lebar.

Kembali semula kepada ulasan novel ini: atas alasan di ataslah, saya tidak membaca ulasan pembaca yang lain sebelum saya sendiri yang menilainya. Hanya setelah saya selesai membaca novel ini, barulah saya membaca ulasan yang lain. Dan, saya agak terkejut melihat ada sebahagian pembaca memberikan penilaian sekadar satu bintang; yang paling teruk dan buruk. Namun, tatkala saya membaca ulasan mereka, pandangan mereka ada benarnya juga.

Antara rangkuman pandangan: pengulangan kalimat yang membosankan perihal kemiskinan, meromantiskan kemiskinan, penulis berusaha menyuntik perasaan bersalah kepada pembaca yang tiada merasai susahnya kehidupan dan lain-lain yang seumpamanya. Ya, tema utama yang diangkat dalam novel ini ialah kemiskinan, dan tema yang sama jugalah dikritik. Atau lebih tepat pengolahan temanya yang dikritik.

Justeru, membaca ulasan yang lain menjadikan saya ragu-ragu pula untuk mengulas novel ini, kerana bahagian yang paling berbekas buat saya pastilah perihal (i) kemiskinan dan (ii) dosa-pahala; hal yang paling banyak dikritik oleh pembaca lain (yang memberikan penilaian satu atau dua bintang; adapun ulasan tiga bintang dan ke atas, saya tidak membacanya).

Penulis, pada pendapat saya, berjaya membalut kemiskinan yang dihadapi sehari-hari oleh warga kota Jakarta dan mempersembahkannya dalam bentuk yang lebih menyayat hati. Anak yang membesar hasil daripada wang haram ibunya yang bekerja sebagai pelacur? Ayah yang menyarung kostum ayam demi menyara persekolahan anaknya? Kemiskinan yang dipaparkan di dalam novel ini, sejujurnya sederhana sahaja.

Namun, latar belakang yang melahirkan watak yang ditimpa kemiskinan itulah yang powerful. Pembaca bukan sekadar dihadapkan dengan kemiskinan per se, sebaliknya turut diajak menelusuri punca mengapa mereka ditimpa kemiskinan—dan pastilah, ia seharusnya mendatangkan keinsafan kepada kita bahawa, ada jua sebahagian manusia yang telah pun berusaha dengan sebenar-benarnya, namun takdir Allah ﷻ jua yang menentukan bahawa mereka akan bersahabat akrab dengan kemiskinan. Kita akhirnya akan mengakui bahawa, bukan semua usaha menatijahkan hasil yang baik, kerana pemilik hasil itu juga adalah Allah ﷻ; dan atas segala hal ini, kita akan menjadi lebih bertimbang rasa dan tidak begitu mudah menghakimi (terlalu emotional pula ulasan novel ini).

Perihal dosa-pahala pula: seorang wanita yang solehah dan bertudung litup labuh dan berpendidikan agama, namun masih jua terjebak dengan zina (persetubuhan haram sebelum diijabkabul)? Seorang lelaki yang menjadi pondan dan merelakan tubuhnya dijamah lelaki lain, namun arif menjadi imam dan merdu suaranya kala membaca kalamullah? Ah, terlalu banyak lagi. Membaca novel ini benar-benar menginsafkan.

Adakah novel ini “powerful”? Saya akan mengatakan ianya biasa-biasa sahaja. Terlalu sederhana. Membaca novel ini diibaratkan seperti mendengar kisah-kisah orang miskin yang diperdendangkan di rancangan televisyen. Ia mendatangkan keinsafan buat seketika, barangkali sekadar satu jam, kemudian, setelah rancangan tersebut tamat, para penonton akan kembali sibuk mengerjakan hal masing-masing.

Kendatipun begitu, kadangkala, yang diperlukan oleh sebahagian orang hanyalah satu jam tersebut. Hanya dengan satu jam, ia boleh membekas dan mengubah dirinya menjadi lebih bersyukur, lebih insaf, dan lebih cakna perihal orang miskin. Ya, buat sebahagian orang, hanya satu jam yang perlu perlukan untuk mengubah satu tahun kehidupan ke hadapan.

Walaupun terlalu sederhana, adakah novel ini saya cadangkan untuk dibaca. Iya.

Adakah saya akan kembali membaca novel ini? Iya. Bila? Kelak. Tatkala saya mulai hilang rasa untuk bersyukur dalam kehidupan, kerana novel ini mengingatkan saya bahawa begitu ramai lagi di luar sana yang lebih menanggung derita.
Profile Image for Cikal Annisa.
56 reviews
August 11, 2024
NARASI YANG INDAH NAMUN KENYATAAN YANG PAHIT..

dibuka dengan bab awal yang menceritakan sedikit tokoh-tokoh yang nanti punya cerita masing-masing di bab selanjutnya. Suka sekali dengan cara bercerita buku ini. Bahasa sederhana tapi ngena banget. Cerita kehidupan yang sebenarnya ada di sekitar kita kalau aja kita mau "melihat" dengan lebih baik. Buku ini juga mengajarkan bahwa apa yang kita lihat "jahat" belum tentu jahat, ada maling yang rela maling demi ibunya yang sakit keras di rumah. Ada pelacur yang rela melacurkan diri demi anaknya. Terlalu getir kehidupan mereka semua dibuku ini, terlalu sakit.

Cerita yang paling membekas, yaitu tentang bapak badut yang punya 3 anak gadis. Luar biasa kerasnya kehidupan gak membuat mereka menyerah malah membuat mereka lebih kuat. Sakit sih gimana caranya anak perempuan yang kalau sedang haid berusaha untuk tidak membeli pembalut karena dianggap membuang-buang uang yang susah mereka dapatkan😭.

Menuju bab-bab akhir sih luar biasa dahsyat banget bikin saya sesegukan gak kelar-kelar. Pada akhirnya semua kehidupan menuju akhirnya masing-masing, entah menjadi bahagia entah menjadi mati. Baca buku ini, bikin saya makin aware sama keadaan sekitar walau kadang merasa jahat karena belum bisa membantu sebaik mungkin.
Profile Image for Sarah Reza.
241 reviews4 followers
March 10, 2024
Wah gila sih ini. Aku nangis sampe sesegukan gegara baca kisah mereka. Beneran senyesek itu. Buku ini kayak nampar aku seakan bilang: "Ai kamu teh sadar! Banyakin bersyukur! Shalat jangan pernah tinggalin!".
Apa ya, aku gak mikir buku ini bakal se-deep dan se-intense itu. Sebenarnya, buku ini bisa dibilang page turner, cuma aku aja yang butuh waktu karena ngerasain giman intensenya buku ini.

Uniknya lagi, aku ngerasa gak ada satu tokoh sentral di sini. Walau Tomi banyak berkontribusi di dalam cerita ini, tapi tetap aja semuanya punya porsi dan peran yang sangat berpengaruh. Interaksi mereka natural apa adanya. Beneran ngegambarin gimana sisi bobroknya manusia. Karakter Pak Lurah sukses bikin aku emosi sepanjang cerita ini berjalan.

Aku suka endingnya, mereka dengan kebahagiaan mereka masing-masing. Semacam hadiah dari kesabaran mereka selama ini. Walau ceritanya banyak bikin aku nangis, tapi komedi dan jokesnya tetap ada.

Satu lagi, aku suka gimana bang Brian menyisipkan nilai-nilai religius di karakternya. Aku bisa ngerasain gimana putus asanya mereka dengan keadaan yang gak adil untuk mereka. Ya, setiap kita gak ada yang suci. Jadi, belajarlah untuk memahami dan gak menghakimi.
Profile Image for dilla.
36 reviews
July 8, 2024
it’s good, it’s easy to read. some parts of this book did open my eyes about certain things, but there were too many things to unpack in just 300 pages so it all, in the end, felt superficial.

the book also talked too much and it felt sanctimonious at times. the readers weren’t given the option to form their own opinions. it felt like the author was lecturing us. some people might like it, but a book that forces me to think a certain way instead of provokes me to actually think and form my opinions about the issue isn’t really my cup of tea.

this book is a good start to see and acknowledge that there’s a darker side of the city we oftentimes glorify too much. but if you’re already familiar with the aforementioned dark sides, i think this book could feel a bit underwhelming, because it didn’t dissect the issues and bring new things to the table. it simply introduced them.

however, the author was good at building the situations, describing the set, setting the vibes. overall it’s a pretty good book, it’s enjoyable and easy to read. if you want a light read that could tickle your mind and play with your emotions a little bit, this could be a pretty good choice
Profile Image for Shafira Indika.
303 reviews249 followers
April 10, 2024
Bagus banget... ga heran ratingnya setinggi ini... gabisa berkata2. Tanpa ragu aku kasih 5/5⭐️
Profile Image for Septiani Ewiantika.
59 reviews5 followers
April 27, 2024
"Kalau Tuhan itu urusannya vertikal, ke atas. Bagaimana cara kita berlaku sama orang lain itu horizontal"

Me : 🥹
Profile Image for Gia⁷.
40 reviews2 followers
July 26, 2025
DNF di halaman 47.

Pemilihan diksi yang tidak sensitif gender, romantisasi terhadap kemiskinan struktural, I think that's one of the best explanations that I can't continue to finish this book.
Profile Image for Bad Mojo.
1 review
March 15, 2025
Should’ve rate it lower tbh
Ga ngerti bagusnya dimana
Profile Image for Ms.TDA.
273 reviews9 followers
March 14, 2025
Ini novel karya Brian pertama yg kubaca, okee dari segi plot lumayan cepat beralih dari satu ke yang lainnya jadi membuat pembaca enggan berhenti utk tau apa yg akan terjadi next nya. Tapi pov dan karakter2 yg cukup banyak lumayan buat aku bingung menyambungkan skenario satu dan lainnya, walau dari semua skenario karakter memberi pesan ttg kehidupan pertahan hidup di dunia Metropolitan yg kejam, bahkan bermula dari kampung sekitar itu sendiri dan juga tuntutan keluarga serta lingkungan yg tak ada henti nya. 🏙️

Beberapa pernyataan dari Sus Dania atau disapa dg Danang yg ku suka:
“Tidak semua orang mampu menyadari bahwa terkadang, cara terbaik untuk tetap melaju adalah dengan merankak, tak peduli jika kepala lebih rendah dan lebih sering menghirup aroma kotoran dari kaki orang lain. Tak apa, yang penting, tetap berjalan.”

“Kalau yey memang harus menilai seseorang, nilailah dia dari caranya menilai orang lain.”
Profile Image for Sejedacerita.maya.
82 reviews6 followers
June 24, 2025
Aku lega akhirnya bisa menyelesaikan novel ini. Dan aku beruntung bisa dapetin buku ini sebagai kado, selain ini buku pertama kak Brian Khrisna yang aku punya rasanya buku ini jadi salah satu buku favorit di tahun ini. Terima kasih kak untuk hadiahnya dan sudah membantuku mencoret salah satu WL ku tahun ini…
💫
Apakah terwujudnya mimpi dan cita-cita yang setinggi langit hanya untuk orang-orang yang memiliki privilese?
💫
Jakarta adalah surga bagi para, pendatang, pemilik mimpi dan cita-cita, tergantung harapan besar untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka harapkan dan kehidupan yang lebih baik daripada di kampung tempat tinggal mereka. Sayangnya di tempat yang disebut Ibu Kota tak selalu ramah untuk mereka yang memiliki mimpi dan harapan besar. Seperti cerita yang ada di novel ini “Sisi Tergelap Surga”.
💫
Jujur awalnya aku ngerasa bingung saat baca buku ini, aku mencari siapa tokoh utama dalam buku ini. Sempat terhenti sehari sampai akhirnya aku dapat sedikit pencerahan setelah bertanya dan melanjutkan membaca buku ini sampai selesai. Yup novel ini merupakan kumpulan cerita yang diambil dari sudut pandang dari para warga kampung yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Selayaknya perkampungan sempit pada umumnya, disini berbagai pekerjaan pun mereka lakoni demi menyambung hidup mereka dari hari ke hari, tak ada pilihan lain yang bisa mereka pilih. Mereka hanya bisa menjalaninya dan menerima apa yang sudah digariskan Sang Pencipta untuk mereka.
💫
Sepanjang baca novel ini rasanya ikut sedih dan miris dengan apa yang terjadi di dalam kehidupan para tokoh yang ada di buku ini, kehidupan mereka sangat timpang dengan kemegahan dan gemerlap kota Jakarta yang menjanjikan segala hal. Disini mereka nggak paduli apa tanggapan orang-orang sekitar, yang mereka pikirkan hanya bagaimana tiap harinya bisa menyambung hidup di tengah berbagai permasalahan yang mereka hadapi.
💫
Kak Brian sukses membuat para pembacanya merasakan emosi dari setiap bab cerita yang di tulisnya. Tema yang diangkat sangat nyata di kehidupan kota besar seperti Jakarta dan mungkin juga di kota-kota lainnya. Baca ini bikin aku makin sadar bahwa kita nggak bisa menilai seseorang dari apa pekerjaan mereka atau apa yang nampak dari luar. Barangkali justru hati mereka lebih baik daripada kita yang memakai atribut dan menampilkan kemewahan, mereka dengan segala keterbatasannya berusaha dan berjuang untuk mendapatkan setitik kebahagiaan yang patut di hargai.
💫
Di tengah segala kesulitan yang mereka hadapi, mereka memiliki pengingat bahwa mereka masih punya alasan untuk bahagia dan bersyukur. Novel ini bisa banget jadi pengingat diri untuk kita terutama untuk aku pribadi bahwa ada masanya kita berada di posisi terendah dalam hidup, ada kalanya kita merasa terpuruk dengan apa yang terjadi. Namun Tuhan tidak pernah berpangku tangan dan membiarkan umatnya mengalami hal itu, selalu ada jalan untuk kita asal kita mau mencoba dan tetap berusaha menjadi manusia yang lebih baik.
💫
Overall aku suka dengan novel ini banyak sekali pembelajaran dan pengingat untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini, dan novel ini sangat aku rekomendasikan untuk kalian yang mungkin sedang merasa dunia sedang nggak berpihak sama kalian, coba deh baca buku ini dan kalian semoga dengan membaca buku ini kalian akan mendapat sedikit pencerahan tanpa harus di gurui. Sekian ulasan dari aku semoga berkenan.
💫
Profile Image for Qayiem Razali.
897 reviews86 followers
June 14, 2024
38/2024

-Sisi Tergelap Surga
-Brian Krishna

Sama juga seperti tajuk buku Asma Nadia dan Helvy, buku ini juga dibeli atas dasar tajuknya seperti mengundang. Belek belek di Shopee dan terus dibeli tanpa berfikir panjang. Setelah membeli, baru dibaca review berkenaan buku ini. 

Buku telah sampai dan saya pun sudah selesai. Pada halaman terakhir, apa yang boleh saya simpulkan... BERSYUKUR. Kita sering merasakan hidup ini sukar, hidup ini tiada adil walhal perkara perkara yang kita rumitkan itu sekadar hal remeh temeh seperti tidak mendapat membeli tiket konsert, tidak mendapat parking atau tiket meet n greet Teme. Tiba. Haha. Namun, sedarkah kita nun di ceruk kehidupan yang lain, ada insan yang air matanya tidak pernah kering dari memohon doa pada Tuhan, biar bahagia itu datang walau sesaat cuma. Nun.. di hujung sana, ada anak yang akan melakukan apa saja walau terpaksa menjadikan nyawa sebagai taruhan untuk memastikan ibu yang terlantar sakit dapat diberikan rawatan. Biar bisa terus hidup melihat anaknya berjaya. 

Cerita ini berat. Cerita ini cerita jujur. Jujur tentang alur hidup yang kita rasakan tiap detik itu indah tapi sebenarnya Tuhan sulamkan dengan ujian untuk kita sedar... Apa pun dalam hidup ini... Sentiasa basahkan bibir dengan rasa syukur. Ya, masih saya tekankan perkataan BERSYUKUR. Selagi pagimu bisa melihat ibumu tersenyum dan tidurmu bisa mendengar suara ayah bergurau tentang jalan hidup, senantiasalah bersyukur. 

Tapi kita sebagai manusia... Sering alpa... Sering lupa mengungkap syukur hingga badai itu Tuhan jentikkan dalam hidup. 

Teruntuk penulis Brian Krishna, terima kasih untuk naskhah yang indah ini. Terima kasih juga membuatkan saya merindukan arwah bunda. Baru saya sedar, sesukar saya asyik merungut tentang hidup, arwah ibu lagi perih menjalani hari hari membesarkan saya namun tidak pernah dia menjadikan emosi sebagai timbal balas. Aduh, menaip ini pun air hangat berkumpul di tebing mata. 

Untuk kamu..
Untuk aku...
Untuk kita...

Sesukar mana hidup ini, jangan pernah memilih kalah. Teruskan saja hidup dengan damai, pasti saja sisanya Tuhan akan bantu.Tuhan tidak pernah tidur.
Profile Image for Wina S. Albert.
502 reviews4 followers
March 12, 2026
Novel ini sering dipuji sebagai novel yang “membuka mata tentang kehidupan orang kecil di kota besar”. Dan memang benar: buku ini membuka mata—tentu saja setelah saya selesai memesan latte dan duduk nyaman membaca kisah penderitaan orang lain sebagai hiburan literer yang mengharukan.

Masalah pertama yang jarang dibahas adalah romantisasi kemiskinan yang cukup halus tapi konsisten. Orang-orang di jalanan digambarkan sedih, tragis, penuh luka hidup—tetapi tetap dengan cara yang cukup puitis agar tidak terlalu mengganggu selera estetika pembaca. Penderitaan di novel ini terasa seperti foto hitam-putih di Instagram: cukup suram untuk terlihat “dalam”, tapi tetap artistik supaya bisa dikagumi. Realitas kemiskinan yang benar-benar kacau, kotor, brutal, dan membosankan jelas tidak terlalu cocok untuk dramatisasi yang elegan.

Lalu ada soal karakter. Novel ini menampilkan banyak tokoh dari pinggiran kota—yang sekilas terlihat seperti keberagaman perspektif sosial. Sayangnya, banyak dari mereka terasa lebih seperti simbol penderitaan daripada manusia. Mereka datang membawa satu kisah tragis, membuat saya merasa sedih selama beberapa halaman, lalu pergi begitu saja seperti figuran emosional. Karakternya kadang terasa seperti poster kampanye sosial: pesannya jelas, tapi hidupnya tipis.

Yang lebih menarik lagi adalah sudut pandangnya. Novel ini sangat ingin membuat saya berempati kepada orang-orang yang tak terlihat. Ironinya, cara empatinya kadang terasa seperti tur wisata kemiskinan. Saya diajak berjalan-jalan melihat pemulung, pengamen, manusia silver, pekerja seks—seolah-olah kota ini adalah museum penderitaan yang perlu saya kunjungi supaya hati terasa lebih hangat dan manusiawi. Setelah selesai membaca, saya bisa menutup buku sambil berpikir, “wah, hidup mereka berat sekali,” lalu kembali ke rutinitas tanpa ada yang benar-benar berubah selain perasaan haru sesaat.

Dan mungkin kekurangan paling ironis: novel ini banyak memperlihatkan orang-orang yang dihancurkan oleh kota, tetapi jarang benar-benar membongkar sistem yang menghancurkan mereka. Jakarta digambarkan seperti monster besar yang kejam, tapi monster itu hampir tidak pernah punya wajah. Akhirnya yang terlihat hanya tragedi individual—orang jatuh, orang gagal, orang tersisih—sementara mesin sosial yang membuat semua itu terjadi tetap samar. Seolah-olah kemiskinan hanyalah nasib buruk yang puitis, bukan hasil dari struktur yang sangat nyata.

Jadi ya, novel ini memang berhasil menunjukkan sisi gelap kota. Tapi kadang caranya terasa seperti menyalakan lampu sorot ke penderitaan orang lain—cukup terang untuk membuat saya terharu, tapi tidak cukup terang untuk benar-benar membuat saya tidak nyaman.
Profile Image for Rurrareuh.
31 reviews1 follower
March 29, 2024
1. Jangan baca buku ini di tempat umum, karena wajahmu akan jelek
2. Sediakan tisu

Buku yang mengajarkan empati, juga mengajarkan untuk menelaah terlebih dahulu atas setiap tindakan yang diambil, karena kita menjadi A, B, C pun pasti ada alasan di baliknya. Sebab akibat itu nyata.

Menurutku bukunya bagus, pesan dan pedihnya tersampaikan dengan baik ke pembaca, tetapi ada terlalu banyak penekanan yang diulang-ulang terhadap satu kejadian/keadaan.
Profile Image for Indah Amaliah.
16 reviews
July 12, 2025
Sejujurnya, sejak halaman awal membaca, pemilihan diksi dan katanya menurut saya pribadi sangat berulang dan sangat-mendramatisir seolah mengglorify pendeskripsian sesuatunya secara berlebihan. Ini karya pertama penulis yang saya baca setelah viralnya di platform sebelah.

Saya juga merasa bahwa sebenarnya penulis hanya ingin memamerkan kehidupan sisi gelap surga 'Metropolitan' dengan caranya memberi pandangan lewat banyak sekali tokohnya yang pendeskripsiannya menurut saya agak kasar, vulgar, dan justru kadang dengan banyak sekali pemakluman yang terkesan membenarkan... meski disertai akhir cerita yang agaknya terasa seperti dipaksakan.

Semisal... seolah pemakluman bahwa segala yang dikerjakan Juleha adalah boleh-boleh saja demi membuat Ujang hidup lebih baik, atau pemakluman pekerjaan Danang untuk membiayai adiknya agar bisa sekolah setinggi-tingginya. Entahlah, seolah dengan sisi benar yang kita kerjakan untuk menghidupi orang yang kita cintai, maka tidak apa-apa jika kita mengorbankan kebenaran atas hidup kita.

Tentu, metropolitan selalu punya sisi gelapnya. Tapi novel ini seolah ingin memberikan inspirasi yang justru menurut saya malah berakhir abu-abu dan seolah tidak ada celah untuk berubah saking terlalu banyaknya tokoh yang berusaha untuk diselesaikan dengan akhir paksaan yang baik.

Kalau kamu ada keinginan untuk belajar mengenali agar tidak terjerumus dan lebih dekat dengan sisi gelap itu, saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Tapi jika untuk dijadikan inspirasi bagi banyak orang, sepertinya bintang dua saja sebab akhir ceritanya terlalu dipaksa dan justru semakin membuat gelap mata dengan pemilihan diksinya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for P.
36 reviews2 followers
April 28, 2024
Beuh akhirnya kelar juga nih buku yg bikin gw mengernyit2 heran sekaligus terharu wkwkwkwkkw.

Oke sebenernya secara keseluruhan cerita, buku ini bagus, nyeritain berbagai macam orang yg berusaha buat bertahan dgn berbagai cara, banyak bgt mengorek sisi kemanusiaan dgn alur yg ngalir, tokoh2 yg punya perjuangan masing2, dan "sentilan2" lainnya, intinya beneran ngejelasin kalo ada sisi tergelap dari surga yg bernama Jakarta.

Tapi jujur, gw masih agak shock sama penggambaran adegan yg eksplisit disini. Ada beberapa adegan yg bikin gw ngebatin kek, "ADUHHH KNP SIH HARUS DITULIS SEGAMBLANG INI???GW TAKUT SENDIRI BACANYA WOY??" (This book contain many s3xual thingy yagesyaa jd menurut gw buku ini cocok buat 18+), even gw udah 20+ pun entah knp gw tetep bergidik ngeri sama narasinya...idk man maybe bcs this is my first time reading Brian Krishna's writing, dan gw gak tau apakah di buku lainnya dia nulis segamblang ini juga?? Jadi gw agak shock aja....and thats why I give it 4/5....krn emang belum terbiasa sm penulisan2 yg frontal kek gini😔

Ada beberapa kalimat yg cukup ngena bagi gw,
"Tuhan itu adil kok. Kita mungkin nggak akan selalu dapat hukuman karena kesalahan yang kita lakukan. Tapi kita pasti dihukum oleh penyesalan" (hlm 138)

"Jangan jadi orang yg harus bahagia dulu utk bisa bersyukur. Atau harus susah dulu utk ingat Tuhan" (hlm 290)

Overall ini adalah buku yg bagus buat menutup bulan April, tapi dgn catatan yg baca kudu siap2 mental wkwkwkwk😅
Profile Image for jian.
11 reviews
November 23, 2025
This is truly beyond my expectations.

Mengemas kehidupan yang jauh dari kata cukup, kehidupan yang jauh dari apa-apa yang sering aku hadapi setiap harinya, kehidupan yang seringkali orang cap sebagai suatu hal menjijikan dan penuh dosa.

Dari sekian banyak life lessons yg aku dapati dr buku ini, satu hal yang paling aku highlight adalah betapa pentingnya empati, betapa pentingnya untuk tidak menjudge seseorang hanya dri cerita orang atau dr apa yang dilihat meski dgn mata kepala sendiri, karena itu sama sekali tidak menjelaskan keseluruhan cerita yg menyebabkan seseorang menjadi seperti itu. Tidak selamanya yang kita anggap sebagai suatu hal mudah murah nyaman bisa sama bagi sebagian yang lain.

Perasaan malu, kurang, gaada apa-apanya, dan bersalah benar-benar dirasakan selama membaca ini.

I don't know how many tears had fallen out.

Terima kasih banyak, kak brian! I hope this story will always influence me to expand my knowledge and my principles in this life.
Profile Image for Putu Winda.
314 reviews2 followers
February 3, 2025
Buku ini penuh kesedihan.
Duka dan nestapa manusia yang hidup dalam getirnya dunia.
Hina dan celaka yang sudah seperti karib.
Derita dan petaka yang berdesakan, berebut mengambil jatah dalam hidup

Ketika rasanya kata bahagia dihapus dari susunan bahasa
Lalu muncul kerlip suka cita
Tidak selalu bersinar terang benderang
Tapi cukup membuat gembira

Kumpulan cerita orang-orang terbuang
Dipinggirkan oleh dunia yang kadang kelam

Buku ini membuat saya menangis dan turut serta gembira. Menjadi puitis tiba-tiba.
Profile Image for C.
188 reviews1 follower
January 27, 2024
no words. best read of 2024 so far. mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas apa yang kita punya hari ini, karena belum tentu orang lain di luar sana punya. masih banyak orang di luar sana tidak seberuntung kita yang masih mampu untuk mempunyai kehidupan yang layak. mengingatkan kita untuk perbanyak bersyukur, belajar, dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Displaying 1 - 30 of 724 reviews