Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selam mereka selalu melangkah untuk meraihnya.
Love doesn’t conquer all, faith does.
Seperti yang tertulis dalam blurb dibagian belakang novel, buku ini bercerita tentang persahabatan antara dua orang perempuan dan seorang pria. Disini digambarkan dari POV 1 dengan Davina dan Armitha sbgai penceritanya…
Davina, cewek yang selalu berpikiran positif terhadap siapapun. Sangat menyayangi sahabatnya Armitha, meskipun berasal dari keluarga yg tidak baagia, tetapi Davina memiliki sifat yang sangat menyenangkan. Rela berkorban untuk orang yang disayanginya, meskipun harus mengorbankan cinta dan kebahagiaannya bersama sang kekasih…
Armitha, sahabat Davina yang merasa kalau Davina sangat beruntung dan memiliki kehidupan yang sempurna. Armitha yang ambisius merasa apa yang diinginkannya selalu bisa diraih Davina dengan lebih mudah, termasuk tentang cinta. Sampai pada suatu ketika pristiwa yang mengubah mimpi Armitha membuat dia menampakan sisi lainnya kepada Davina dan orang sekitarnya. Tanpa sadar Armitha melukai orang-orang disekitarnya untuk ambisinya.
Awang adalah seorang pria yang perhatian terhadap kekasih dan sahabatnya, namun justru hal ini yang membuat perhatiannya disalah artikan.
Novel ini sangat mengaduk emosi, diawal saya merasa dialog antara Davina-Awang terlalu “tua” untuk dilakukan anak SMA, tapi tetap tidak mengurangi keindahan ceritanya. Sebagai pembaca saya merasa Davina ini merupakan tokoh favorit, dengan sifatnya yang selalu positif dalam memandang suatu masalah, sampai kepada satu sisi yang menyadarkan pembaca bahwa ternyata Davina juga “masih manusia”. Sedangkan untuk Armitha, diawal saya merasa sifat yang digambarkan wajar untuk Armitha tetapi semakin ke belakang, semakin menjengkelkan dan sedikit keterlaluan. Dan Awang dengan sikapnya yang terasa “ambigu” semakin membuat perasaan pembaca ikut teraduk…
Saat membaca novel ini saya menyadari bahwa saya ikut “mengumpat” saat ada adegan yang menjengkelkan, ikut “senyum-senyum” saat adegan bahagia, hingga pada akhir cerita saya memutuskan ini akan menjadi salah satu ovel favorit saya. Konflik, penyelesaian dan kisah cinta yang manis, tidak berlebihan tetapi berkesan. Itulah Fantasy…
Beberapa quotes dalam Fantasy:
“Sesungguhnya kau tidak tahu apa yang membuatku rindu, namun yang pasti aku kesepian jika tidak ada kamu” (hal. 46)
“… It’s just boom and happen. Seperti menemukan senyawa yang tepat untuk membentuk reaksi kimia. Aku tidak tahu alasannya, namun aku sangat nyaman berada disamping kamu.” (hal. 47)
“Kebanyakan cewek selalu menanyakan alas an mengapa cowok menyukainya. Mungkin untuk meyakinkan diri merekan bahwa mereka tidak memilih cowok yang salah.” (hal. 48)
“Bagiku, tahun ini ataupun tahun depan tidak aka nada bedanya. Aku tidak bisa menjamin tahun depan aku akan lebih siap melepasmu.” Kataku akhirnya. “Aku tidak sanggup menahan perasaan seperti ini lagi tahun depan. Kalau kamu pergi sekarang…” Aku terdiam. Air mataku jatuh juga akhirnya “Kalau kamu pergi sekarang, aku akan menjadi kuat tahun depan, atau mungkin minggu depan?” (hal. 114)
Kenapa ia tidak bisa menjadi manusia yang lebih sederhana? If you sad, cry. If you happy, laugh. Bukan malah menutupinya, mencoba menjadi setegar karang meskipun hatinya hancur seperti butiran pasir. (hal. 121)
“Because I love him so much and it hurts” katanya tenang. “Aku akhirnya menyadari bahwa aku harus mundur karena cintaku terlalu dalam. Karena hal itu tidak hanya akan menyakiti diriku sendiri tapi juga akan menjadi beban bagi Awang.” Vina menarik napas dalam-dalam. “Bagiku, mencintai Awang berarti aku juga harus menjadi orang yang layak dicintainya, mendukungnya, berlari mensejajarkan langkahku dengannya, bukan menjadi orang yang menahannya atas nama cinta.” (hal. 126)
“Apakah kamu sanggup memaafkanku jika aku menahanmu dari mimpimu? Aku tidak ingin ketika dia melihatku, yang dia ingat adalah mimpinya yang hancur. Aku tidak ingin menjadi reminder itu dan melihat kebahagiaan hilang dari matanya tiap kali dia melihatku.” (hal. 126)
“Ada satu titik dalam hidupku saat aku merasa sangat takut kehilangan Awang. Rasa takut itu begitu asing bagiku. Tidak hanya memenjarakanku, namun Awang juga. Tapi aku sadar aku harus melawan ketakutan itu. Membiarkan diriku menjadi diriku sendiri dan Awang menjadi dirinya. Saat itulah ketakutan itu hilang dan aku menjadi utuh kembali. Merantai kaki seseorang karena ketakutan itu bukanlah cinta melainkan keegoisan.” (hal. 126)
Aku mencintainya melebihi diriku sendiri, dan begitupun ia. Karena kami ingin menunjukkan satu sama lain betapa kuatnya cinta kami, kami akhirnya terpisah. (hal. 134)
“Jangan tersenyum seperti itu,” katanya tiba-tiba.
Senyum dibibirku langsung lenyap.
“Senyummu membuat jantungku sakit, mengingat beberapa tahun ini aku tidak lagi terlatih menghadap sport jantung.” (hal. 146)
That’s why Folks said, don’t trap yourself in one room with same person for more than 24 hours, unless you are well prepared to see her/his true colours. (hal. 160)
Aku percaya hati manusia bukanlah air susu yang mudah menghitam karena setetes tinta. (hal. 216)
“Mulailah percakapan mendalam dengan dirimu sendiri, apa yang sesungguhnya kamu inginkan dan definisikan ulang makna ketulusan dalam hidupmu.” (hal. 219)
Aku tidak bisa menjanjikan apa pun yang tidak bisa kujamin akan kupenuhi. (hal. 223)
“Sederhana, karena kamu sangat berbakat, dan aku sangat percaya bakatmu jauh lebih besar daripada kekuranganmu. Tuhan memercayakanmu bakat yang begitu besar sehingga Dia tidak akan berhenti mengujimu…” (hal. 260)
“Karena manusia hanya melihat apa yang igin ia lihat. Dia tidak sadar bahwa bukan mata yang menipu, karena mata hanyalah alat, pikiran kita sendirilah yang menipu penglihatan kita. Begitu juga dengan keajaiban, manusia mana yang tak pernah mengharapkan keajaiban? Mereka berpkir bahwa hidup akan semudah sulap, simsalabim mimpi terwujud dihadapan mata kemudian hidup akan berubah drastic. Namun kaki mereka tak pernah mau meangkah untuk mendekati mimpi mereka.”
“Manusia hanya peduli pada tujuan, bukan proses…”
“Tidak semua. Ada beberapa orang yang memilih untuk tidak menginginkan apa pun. Bukan karena dia telah memiliki segalanya, namun karena dia takut jika nanti memilkinya, dia akan terluka saat kehilangan. Saat itulah adalah ketika manusia terjebak pada lingkaran kenyamanan yang ia ciptakan sendiri. Dia tidak ingin melangkah keluar karena takut perisanya akan terkoyak.”
“Ada alasan mengapa orang menyebutnya comfort zone, right? If there is comfort,why would we leave it?” (hal. 270)
“Kamu tahu aku akan melakukannya untukmu, meskipun mulutku mengatakan untuk mitha atau diriku sendiri.” (HAL. 272)
“Seandainya kamu mengerti, Vin. Pengorbanan yang sesungguhnya bukan ketika kamu melepaskan Awang delapan tahun yang lalu, tapi saat Awang berjuang menolak perasaannya terhadapku karena hatinya sedang kamu pegang erat-erat dalam rasa bersalah. Seperti itulah cinta. Kepercayaan total meskipun dia tidak pernah tahu apakahbisa bersamamu lagi. Saat kamu memutuskan pergi, maka yang harus kamu lakukan hanyalah pergi selamanya. Jangan berani-beraninya kamu kembali.”
I may not be able to forget him, but I am able to move on now.
“Bagaimana kalau itu takdir? Gak peduli siapa yang nyetir, in the end you’d still be injured? Why don’t you see the accident as a process to make you stronger, make you know yourself better.”
“Sejak awal hingga detik ini aku ada dihadapanmu, aku masih dan selalu mencintai gadis yang sama.”
Baca novel ini!!!