What do you think?
Rate this book


200 pages, Paperback
Published June 18, 2025
“Untuk apa punya anak, kalau kelak dia hanya menjadi budak.”
”Kau sedih atau senang dalam menjalani hidup, suatu saat kau akan mati!”
Pernikahan hanya topeng untuk menormalisasi perbudakan. (p.7)
Jika ada manusia yang menjadi budak, apakah takdirnya memang demikian? Jika ada manusia yang ditakdirkan jadi budak, apakah berarti Sang Pencipta pilih kasih? Kalau tidak ditakdirkan jadi budak, apa manusia yang memperbudak manusia lain, tempatnya adalah neraka. (p.10)
“Jika menikah, hidup dipenuhi utang dan sampah.” (p.26)
“Lebih baik dikatakan pelit atau tidak tahu diri tapi bisa keluar dari kemiskinan daripada mengikuti semua kemauan orang lain atau kebiasaan orang banyak tapi miskin seumur hidup!” (p.33)
Sudah saatnya tidak mengatakan banyak anak banyak rezeki. Dulu mungkin iya, tapi sekarang, banyak anak banyak pengeluaran. (p.45)
“Kenapa ya, harus merusak lingkungan demi uang? Kalau lingkungan rusak, kan kita nggak bisa hidup juga!” (p.99)
Sependek perjalanan hidup, tidak pernah kudengar pejabat pemerintah dengan serius mendiskusikan masalah yang dihadapi tahun-tahun mendatang. Saat kampanye, mereka berjanji akan menyejahterakan masyarakat, tapi tidak menjelaskan secara detail caranya. Mereka berjanji akan memberantas kemiskinan, ya, karena memang kenyataan orang-orang miskinlah yang dihabisi, dibiarkan mati terkapar karena kemiskinan. Tapi, kalau dipikir-pikir, mereka bisa terus eksis karena sebagian masyarakat kita bisa dikelabui. (p.132)
“Iri hanya lahir di hati orang yang miskin imajinasi.” (p.136)
“Adat itu dibuat sesuai kondisi masyarakat saat itu. Makanya kita perlu memikirkan yang mana cocok untuk sekarang, yang mana harus ditinggalkan.”
“Itulah pemikiran yang salah, yang membuat adat jadi kacau.”
“Betul. Harusnya ada satu buku, ditulis adat yang jelas, dan semua ikut itu!”
“Lain daerah, lainnya adatnya! Makan sinamot dan acara adat harus dipikirkan kembali.” (p.54)
Adat yang telah kehilangan esensinya adalah tempat dan momen untuk menghabiskan uang. Terutama bagi yang punya hajatan. (p.69)