Jump to ratings and reviews
Rate this book

Utang dan Sampah Sesudah Pesta

Rate this book
Hidup Tona berubah drastis ketika di sebuah pesta, serangkaian kata menusuk telinganya, "Untuk apa punya anak, kalau kelak dia hanya menjadi budak?" Pertanyaan itu memicu kegelisahan dan pertanyaan lain dalam benaknya, yang kemudian mengganggu keharmonisan rumah tangganya.

Hingga suatu hari, Tona memutuskan untuk berjalan kaki selama tiga hari dua malam, bertekad mencari jawaban demi menyelamatkan kedua anaknya dari perbudakan. Namun, perjalanan itu tidak membuahkan hasil seperti yang ia harapkan, bahkan sang istri memutuskan untuk meninggalkannya. Tantangan mencari jawaban semakin berat ketika desa mereka kedatangan tiga orang asing yang menawarkan konsep kebahagiaan baru.

200 pages, Paperback

Published June 18, 2025

1 person is currently reading
12 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (12%)
4 stars
11 (68%)
3 stars
3 (18%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Henzi.
231 reviews23 followers
August 1, 2025
Di suatu malam menjelang tahun baru, ketika lagi bersantai di lapo, Tona tertohok oleh satu rangkaian kata yang keluar dari mulut orang asing dengan bunyi sebagai berikut:
“Untuk apa punya anak, kalau kelak dia hanya menjadi budak.”


Tona hanyalah seorang bapak-bapak Batak biasa yang menjalankan hidup selayaknya warga lain di desa Sibisuk. Bangun pagi, berangkat kerja, pulang ke rumah tahunya urusan rumah tangga sudah beres, malamnya lanjut “pesta” ke lapo bila ada duitnya—tepatnya jika ada yang mensponsori.

Yang lucunya, begitu kalimat itu masuk ke telinga Tona, ia langsung tersadarkan—seperti kena petir di siang bolong. Ia mengingat dua anak di rumahnya, Pio dan Tio. Apabila hidupnya hanya begini-begini terus, mau jadi apa keluarganya?

Sekembalinya dari lapo, Tona banyak merenung. Sampai-sampai Koyai, istrinya, mengira ia kerasukan sesuatu. Banyak kontemplasi dalam kepalanya, memikirkan bagaimana caranya untuk keluar dari jeratan kemiskinan yang melandanya; apalagi ia baru saja di-PHK dari pekerjaannya sebagai satpam.

Suatu hari terlintas di kepalanya untuk pindah ke luar saja. Ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau pindah ke suatu tempat dari Sulawesi atau Kalimantan juga oke. Koyai berang mendengarnya. Nyari pekerjaan di kampung sendiri aja tak beres, bagaimana menyambung hidup di daerah yang biayanya lebih besar?

Tak mendengar saran Koyai, Tona berangkat ke Medan untuk melihat-lihat kesempatan. Meski tak sesuai dengan keinginan awal, tapi Medan yang terdekat dari kampungnya saat ini. Setelah berhari-hari tenggelam di kota, ia pulang dan ribut besar dengan istrinya. Koyai minggat dari rumah membawa serta kedua anak mereka ke tempat mertuanya.

Untungnya, Tona punya orang dekat yang bernama Gokma. Sahabatnya yang satu ini dipandang sebelah mata oleh warga sekampung desa, karena hanya duduk-duduk di lapak baca yang ia gelar setiap hari. Tujuan Gokma memang ingin memajukan literasi anak-anak di sekitarannya. Ia juga pandai berbicara dan menasihati Tona.

”Kau sedih atau senang dalam menjalani hidup, suatu saat kau akan mati!”


Kalimat-kalimat yang masuk ke kepalanya kian banyak. Dari yang sebelumnya cuma mikirin anak, terus menjalar ke kerjaan, uang, hingga kemudian soal utang dan sampah sesudah pesta. Tona ingat bagaimana ia meminjam duit ke keluarga sampai ke teman-teman terdekat hanya untuk memberi makan (egonya) orang-orang dalam jangka waktu 1 hari saja. Ia menyesali dan mulai men-challenge kenapa “adat” ini mesti ada. Apa tujuan dari semua ini bila yang ditanggung kemudian hari hanya kemelaratan. Mending uang pestanya ditabung buat beli rumah atau pendidikan anak-anak.

Setelah berdamai kembali, tak henti-hentinya Tona tetap berdebat dengan istrinya akan semua ini. Koyai berpikir suaminya aneh, isi pembicaraannya terlalu jauh, duit dan masa depan mulu yang dibahas. Yang buruknya lagi sekarang malah meragukan pesta adat yang sudah turun-temurun diwariskan. Di sisi lain Tona merasa ini mesti dipikirkan kembali, bila perlu dihentikan.

Tantangan Tona mengajak orang-orang keluar dari stigma sungguh besar. Belum lagi, ia masih stuck bagaimana cara membesarkan anak-anaknya untuk tidak menjadi budak di kemudian hari. Tak dapat ditampik, aku overthinking bersama pemikiran-pemikiran Tona.

Bukunya bagus, recommended meskipun nggak ada twist yang nyegrak. Buat refleksi diri oke banget!
Profile Image for aynsrtn.
574 reviews22 followers
October 18, 2025
Awalnya Tona adalah seorang suami dan bapak-bapak Batak biasa, yang hidup sebagaimana hidup harus berjalan. Tetapi suatu hari Orang Asing mengatakan sebuah kalimat yang mengubah hidup Tona, “untuk apa punya anak, kalau kelak dia hanya menjadi budak.” Setelah itu, hidup Tona tak lagi sama. Ia bertekad tak ingin anak-anaknya menjadi budak.

Buku ini hanya memiliki 200 halaman, namun begitu padat membahas isu-isu politik, sosial, budaya, dan negara. Rasanya ingin ku tandai semua kalimat di buku ini karena saking thought-provoking dan mind blowing menurutku.

Insight(s):

1. Kalimat dan pemikiran yang mengguncang nalar
Berikut ini adalah kalimat atau paragraf yang aku sukai di buku ini:
Pernikahan hanya topeng untuk menormalisasi perbudakan. (p.7)

Jika ada manusia yang menjadi budak, apakah takdirnya memang demikian? Jika ada manusia yang ditakdirkan jadi budak, apakah berarti Sang Pencipta pilih kasih? Kalau tidak ditakdirkan jadi budak, apa manusia yang memperbudak manusia lain, tempatnya adalah neraka. (p.10)

“Jika menikah, hidup dipenuhi utang dan sampah.” (p.26)

“Lebih baik dikatakan pelit atau tidak tahu diri tapi bisa keluar dari kemiskinan daripada mengikuti semua kemauan orang lain atau kebiasaan orang banyak tapi miskin seumur hidup!” (p.33)

Sudah saatnya tidak mengatakan banyak anak banyak rezeki. Dulu mungkin iya, tapi sekarang, banyak anak banyak pengeluaran. (p.45)

“Kenapa ya, harus merusak lingkungan demi uang? Kalau lingkungan rusak, kan kita nggak bisa hidup juga!” (p.99)

Sependek perjalanan hidup, tidak pernah kudengar pejabat pemerintah dengan serius mendiskusikan masalah yang dihadapi tahun-tahun mendatang. Saat kampanye, mereka berjanji akan menyejahterakan masyarakat, tapi tidak menjelaskan secara detail caranya. Mereka berjanji akan memberantas kemiskinan, ya, karena memang kenyataan orang-orang miskinlah yang dihabisi, dibiarkan mati terkapar karena kemiskinan. Tapi, kalau dipikir-pikir, mereka bisa terus eksis karena sebagian masyarakat kita bisa dikelabui. (p.132)

“Iri hanya lahir di hati orang yang miskin imajinasi.” (p.136)

Banyak? Ya, seperti yang dibilang di atas, kalau bisa semuanya ku tandai. Ini cuma beberapa dari beberapa kata-kata yang aku sukai.

2. Tradisi dan budaya (terutama dalam adat Batak)
Sinamot (mahar yang diberikan mempelai laki-laki kepada keluarga mempelai perempuan) dan segala adat istiadat yang melekat pada Tano membuatnya harus jungkir balik kaki di kepala kepala di kaki. Berutang demi pesta. Bahkan sampai pinjam ke tiga belas orang. Bayangkan tiga belas orang—dengan alasan yang berbeda-beda. Hal itu pun membuat Tano trauma. Saat ia melihat foto prewedding, bagi sebagian orang akan menumbuhkan efek nostalgia, tapi yang Tano ingat malah utangnya demi mewujudkan gengsi atas nama tradisi.
“Adat itu dibuat sesuai kondisi masyarakat saat itu. Makanya kita perlu memikirkan yang mana cocok untuk sekarang, yang mana harus ditinggalkan.”
“Itulah pemikiran yang salah, yang membuat adat jadi kacau.”
“Betul. Harusnya ada satu buku, ditulis adat yang jelas, dan semua ikut itu!”
“Lain daerah, lainnya adatnya! Makan sinamot dan acara adat harus dipikirkan kembali.” (p.54)

Adat yang telah kehilangan esensinya adalah tempat dan momen untuk menghabiskan uang. Terutama bagi yang punya hajatan. (p.69)

3. Waspada Ant Take Ant Take A Sing
Desa Tano diinvasi oleh para orang asing. Tidak tanggung-tanggung langsung tiga orang. Yaitu sang Orang Asing, TS (bukan Taylor Swift), dan Takkal Tabu (Taktab). Ada yang ingin membeli rumah literasi, ada yang menjual sesuatu, dan ada yang menyuruh mereka berjoged untuk mendapatkan uang.

Di sini Tano ditemani oleh rekan filsufnya yaitu Gokma dan Bang Olop melakukan tindakan revolusioner dengan mengajarkan cara berpikir kritis dan menggiatkan literasi kepada warga desanya. Hats off!

Momen favorit:
Setiap Tona berfafifu wasweswos tentang segala pemikirannya, sang istri yaitu Koyai berkata, “Apalah gunanya pandai berkata-kata. Kata-kata nggak bisa beli beras!” Haha, langsunglah Tona kembali ke realita.

Rekomendasi:
1. Bagi penyuka sastra yang padat karya
2. Tertarik dengan budaya dan adat istiadat suatu suku bangsa—yang dikemas dengan santai agak komedi tapi tetap powerful
3. Terakhir, udah baca aja, buku bagus 👍

⚘️ 4.5 bintang untuk trio filsuf Siborongborong: Tona, Gokma, dan Bang Olop.
Profile Image for Lesh✨.
329 reviews6 followers
October 31, 2025
Menceritakan tentang Tona, seorang bapak-bapak Batak berprofesi tukang becak yang bertemu dengan Orang Asing di Lapo Tuo. Pertemuannya dengan Orang Asing saat malam tahun baru ini mampu mengubah pemikiran Tona mengenai aspek kehidupan serta tradisi adat Batak.

Orang Asing itu berkata, "Untuk apa punya anak, kalau kelak dia hanya menjadi budak.”

Sebagai bapak, Tona tidak ingin Pio dan Tio menjalani hidup seperti bapaknya. Dia mengupayakan untuk menabung dana pendidikan anak dan berhemat perihal pengeluaran kebutuhan. Koyai, istrinya juga bingung mengenai perubahan sikap yang dialami suaminya itu. Perbedaan pendapat terkadang membuat mereka sering cekcok. Cerita rumah tangga keluarga ini dibalut lucu, hangat, dan solid. Bagaimana mereka mau untuk keluar dari garis kemiskinan.

Gokma adalah teman Tona yang selama ini menjadi bahan perbincangan warga desa karena pekerjaannya hanya duduk baca buku. Gokma sendiri memiliki lapak buku tempat di mana orang-orang dapat bertukar pikiran di sana. Hal itulah yang membuat Tona tertarik untuk bergabung dan masuk ke dalam dunia literasi.

Tona dan Gokma saling bertukar pikiran mulai dari ucapan orang asing kala itu, kebijakan pemerintah, cara warga desa berpikir, bagaimana wanita jika tidak menikah, serta pembahasan pesta adat. Bagi mereka, pesta seperti sampah yang dihamburkan.

Bagian mengenai adik ipar Tona yang mau nikah dan minta sumbangan uang juga sangat menohok: (1) pria harus membayar sinamot untuk mempelai wanita dengan nominal besar, (2) kritik soal pesta yang barangkali tidak sesuai dengan harapan warga desa, (3) utang pesta yang menjadi gali lobang tutup lobang.

Buku ini mungkin bisa relate untuk teman-teman bersuku Batak yang memikirkan pesta pernikahan. Dikemas secara padat karena membahas seputar pemikiran Tona, konflik keluarga, dan kebiasaan warga desa.
Profile Image for gq .
130 reviews
April 25, 2026
"untuk apa punya anak, kalau kelak ia hanya jadi budak?"

"kalau kau yakin, lakukan. kalau kau ragu, lupakan. jangan lama-lama terlarut, masih banyak mimpi yang bisa kau wujudkan jadi kenyataan!"

"sebenernya aku lebih suka melihatmu yang sekarang. kita punya sesuatu yang diperjuangkan. nggak seperti sebelumnya, jalan begitu saja. bukan mengalir, tapi itu ketidakpedulian, ketidakmampuan, dan kebodohan!"

"tertinggal atau tidak mau tahu?"

"aku bersyukur atas hidupku, tapi tidak puas atas keadaanku."

"agaknya, pembicaraan di media sosial dan sekitar hanya tentang uang, itu yang membuat orang sulit bahagia jika tidak ada uang."

"masyarakat Batak yang terus menerus miskin dan minim pengetahuan, pada akhirnya akan merusak lingkungan. bisa dengan perbuatan langsung, atau ketidakpedulian terhadap apa yang terjadi di sekitar kita."

"kalau tidak pandai merangkai kata, semua yang kupikirkan hanya tinggal kepala. menumpuk. lalu menjadi sampah. mungkin juga ini menjadi utang bagi kehidupan."

"apa yang kau capai. tergantung pikiranmu!"

"cukup presiden yang pilih kasih. bangun Jawa. lupakan lainnya!"

"setelah berpesta yang menyisakan utang dan sampah. adakah yang berubah dalam hidup?"

"bekerja untuk bertahan hidup. selebihnya adalah mengekspresikan diri."

"jika miskin, apakah seorang manusia tidak bisa menyadari kemanusiaannya?"

"konsekuensi bergabung dalam suatu gerakan adalah matinya egoisme. setiap orang yang terlibat dalam gerakan harus mengutamakan tujuan gerakan itu."

"bumi diciptakan untuk dijelajahi"

"dalihan na tolu, sebuah falsafah yang dirumuskan leluhur suku Batak, yang mengajarkan tidak ada kedudukan yang final bagi siapapun." "dalihan na tolu menyadarkan seseorang akan kemanusiaannya."

"pemerintah (pura-pura) tidak tahu atau tidak mau tahu, maka mereka mengajak anak muda menjadi petani. jika mafia pupuk dan segala jenis macam mafia yang mengatur harga hasil panen tidak segera diberantas, maka mereka menjerumuskan anak muda ke lembah kemiskinan. atau anak-anak muda yang memutuskan menjadi petani harus mengikuti saran Gokma: memiliki jiwa mafia sedikit saja. tapi bayangkan negeri ini jika dipenuhi mafia. hidup seperti apa yang akan kita jalani? yang tidak mau jadi mafia, mungkin akan hidup sebagai budak."

"romantis hanya untuk orang kaya. memang bisa datang nasi kalau kau buat suasana romantis? orang kayak kita, bisa kau bangun rumah kecil untuk kita. sudah terharu aku tujuh hari tujuh malam!"

"semakin banyak pengetahuan, akan semakin banyak kesedihan."

"seandainya titik perjuangan adalah menjadi orang kaya, maka apa yang diperjuangkan seorang anak yang kaya sejak lahir?"
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book276 followers
February 28, 2026
Tona, seorang bapak dua anak yang berprofesi sebagai tukang becak, tiba-tiba menjadi seorang perenung setelah bertemu dengan Orang Asing di sebuah lapo tempatnya sering berkumpul dengan teman-temannya. Orang Asing ini berkata, "Untuk apa punya anak, kalau kelak dia hanya menjadi budak?" Perkataan ini menusuk benak Tona sehingga dia memikirkan kembali perjalanan hidupnya.

Novel ini secara khusus menyorot tentang budaya di tanah Batak, tentang mewahnya pesta (pernikahan) yang diadakan secara adat. Pesta ini seringkali meninggalkan utang bagi sepasang suami-istri yang baru mau menjalani kehidupan pernikahan. Jika mereka berasal dari golongan tak mampu, maka utang ini akan membebani mereka. Tona yang mengalaminya baru mampu melunasi utang pernikahannya setelah empat tahun berumah tangga. Tona lantas berpikir, apakah budaya seperti ini layak dipertahankan?

Novel ini memang fiksi, tapi isinya seperti membaca buku filsafat. Pemikiran-pemikiran Tona dan Gokma sahabatnya akan membuat pembaca ikut berpikir. Sebenarnya pesta adat yang memakan biaya besar bukan hanya terjadi di tanah Batak. Bahkan pesta rakyat (yang diadakan setiap lima tahun sekali) pun ikut meninggalkan utang dan sampah.

Kalau ada karakter yang saya sukai di dalam novel ini dia adalah Koyai, istri Tona. Seringkali Tona tenggelam dalam pikirannya, dan Koyai yang akan menariknya kembali ke realita. Koyai seorang ibu rumah tangga, namun dengan kepintarannya dia mampu mengimbangi pikiran liar Tona.
Profile Image for Hapudin.
292 reviews7 followers
July 20, 2025
Dengan menggunakan POV seorang suami dan ayah, kita diajak pada perenungan mengenai pesta pernikahan atau perayaan mahal yang dilakukan tapi dari modal hutang. Praktik budaya yang melanggengkan lingkaran kemiskinan. Tona sebagai tokoh utamanya mencoba merubah pola pikir tersebut yang masih berlangsung di lingkungannya. Langkah yang tidak mudah karena justru masyarakat menilainya sebagai orang yang aneh.

Ulasan lengkapnya bisa dibaca di sini: https://www.bukuhapudin.com/2025/07/r...
Profile Image for Ayah & ibu.
54 reviews1 follower
November 16, 2025
membaca buku ini dengan segala masalahnya di suatu desa, peran ayah dan ibu, peran teman..
sesusah susahnya hidup, masih ada harapan...
bisa membangun rumah walau tidak mewah, itu keberhasilan..
punya mimpi tapi masih realistis, itu yang buku ini ceritakan
Displaying 1 - 8 of 8 reviews