(vol. 1-13)
Karya dari komikus ternama Takehiko Inoue, yang sebelumnya sudah menelurkan komik basket termasyhur di tahun 1990-an, Slam Dunk. Yang ini juga berkisar dunia basket.... tapi kalau Slam Dunk tentang 'pebasket', Real lebih mengisahkan soal 'manusia yang hobi main basket'. Perbedaan yang kedengaran tipis, tapi penting.
Jalur plot Real memang tidak 'selurus' jalur komik sport pada umumnya. Fokus narasinya juga lebih banyak mengupas hal-hal di luar lapangan, dengan tiga protagonis: Togawa (bekas pelari yang beralih ke basket kursi roda), Nomiya (anak drop-out dari SMA yang cinta basket), dan Takahashi (bekas teman setim Nomiya yang kemudian mengalami kejadian tragis). Cerita berpindah-pindah antara ketiga pemuda tersebut, dengan sesekali jalan mereka saling bertemu.
Membaca beberapa volume awal Real berasa seperti ada yang meninju ulu hati saya berkali-kali. Komik ini bukan jenis drama tragis berurai air mata, tapi secara piawai Inoue-sensei mampu menyampaikan efek emosional yang autentik tanpa terkesan melodramatis atau mengada-ada. Ada benang merah di antara ketiga protagonis berupa 'dirampasnya hak untuk melakukan sesuatu yang disukai', dan beban perjuangan mereka untuk memperoleh kembali hak itu sangat terasa. Sangat menarik melihat interaksi mereka bertiga dengan orang-orang terdekat masing-masing, dan bagaimana mereka (khususnya Takahashi) berkembang dari sikap egois, congkak, maupun buta arah tujuan.
Kadang saya ingin pertandingan basketnya lebih panjang dan rinci, tapi saya juga paham fokus komik ini berbeda dibandingkan Slam Dunk yang satu pertandingan saja bisa sampai 7 volume, haha. Bagaimanapun, saya jadi dapat pengetahuan baru soal basket kursi roda dan sistem 'poin pemain' di dalamnya. Jumlah dan durasi pertandingannya relatif sedikit, tapi momen-momen penting tetap tergambar dengan baik; seperti perjuangan para pebasket menggerakkan kursi roda mereka sambil berkomunikasi dengan rekan setim, atau filosofi Nomiya sebagai Point Guard sejati yang ingin menghasilkan 'reaksi kimia di lapangan'.
Bicara tentang si Jason Kidd kecebur kali Nomiya.... anak ini memang berasa obat penawar di tengah semua momen emosional. Terkesan berandalan, tapi sebenarnya lugu dan tulus. Gayanya yang 'salah ngomong melulu' dan jurus andalannya berupa 'oleh-oleh dari Ibu' selalu bikin saya ngakak. Mirip Sakuragi di Slam Dunk, ini jenis tokoh yang enak buat lucu-lucuan, tapi juga mendorong rasa bangga setiap ia (akhirnya) berhasil mencapai sesuatu.
Soal gambar, rasanya tak perlu dipertanyakan lagi. Paneling, anatomi badan, ekspresi, pergerakan.... semua itu sudah jauh di atas level rata-rata. Real mungkin tidak punya momen sensasional sebanyak Slam Dunk (pertandingan epik) atau Vagabond (duel pedang), tapi adegan sehari-harinya pun mampu meninggalkan kesan mendalam. Saya juga suka metafor visual untuk menggambarkan apa yang dirasakan tokoh-tokohnya kepada pembaca yang masih memiliki tubuh sehat (msl. panel kaki Togawa yang terisap ke dalam lumpur saat ia tengah berlari). Terakhir, cukup banyak halaman berwarna yang memanjakan mata pembaca.
Patut disayangkan, komiknya sepertinya agak tersendat di Jepang (*saat review ini ditulis). Ada juga saat-saat di mana fokus narasinya terasa melemah, maupun pilihan alih bahasa untuk edisi Indonesia yang kadang membuat alis terangkat (peluit -> bel, sixth man ->sicks man, center->pemain tengah). Bagaimanapun, dengan mempertimbangkan semua 'ledakan' yang terkandung dalam komik ini, hal-hal tersebut rasanya bisa diabaikan.