Navin menarik napas panjang. Kedua matanya melotot padaku. Rahangnya tampak mengeras.
Ada yang aneh dalam diri Navin, si anak baru itu. Tania tidak sengaja menemukan dompetnya di tangga sekolah dan melihat di dalamnya ada dua KTP dengan data-data yang sama, hanya berbeda nama. Satunya tertera nama Navin Naftali, satunya lagi tertera nama Budi Sanjaya. Selain itu, ternyata Navin sudah berumur 20 tahun. Apa yang dilakukan seorang pria berumur 20 tahun di SMA? Sebagai seorang murid pula. Tania memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang identitas ganda Navin. Sementara itu, Navin juga penasaran dengan sosok Tania yang kini mengetahui rahasianya. Karena sepertinya gadis itu punya rahasia yang lebih besar darinya.
30/12/2021: Remedy kini sudah bisa diunduh gratis oleh pelanggan Gramedia Digital ^^.
2021: Halo, apakah ada yang masih ingat dengan novel ini? Di tahun 2014 saya menulis naskah berjudul Live Through This yang kemudian saya ikut sertakan pada lomba Young Adult Realistic Novel yang diselenggarakan oleh Ice Cube Publisher. Kebetulan waktu itu saya sudah suka dengan seri Bluestroberi dari penerbit tersebut yang mengangkat kisah remaja yang tidak melulu soal cinta. Tidak disangka ternyata naskah itu bisa menjadi juara 3. Kalau diingat lagi, saya sampai terharu loh, soalnya banyak nama peserta yang saya tahu sudah pernah menerbitkan banyak buku sebelumnya, sementara portofolio saya cuma beberapa cerpen dan 1 artikel di majalah Intisari XD. Setelah melalui proses revisi yang tergolong singkat, terbitlah naskah tersebut dengan judul baru: Remedy.
Menjelang akhir tahun 2021, saya mendapat kejutan berupa surel dari pihak penerbit yang mengabarkan dan meminta persetujuan untuk menerbitkan versi e-book novel ini. Awalnya saya sempat ragu karena alamat surel dipakai sekadar berakhiran '@gmail.com'. Sampai saya bertanya lewat Twitter penerbit untuk memastikan kalau surel yang saya terima itu bukan scam XD. Untunglah memang betul surel itu datang dari anggota penerbit yang sedang WFH dan kesulitan mengakses alamat surel kantornya dari rumah.
Sepuluh hari menjelang pergantian tahun, saya iseng-iseng mengetikkan kata kunci 'YARN' di kotak pencarian Gramedia Digital. Saya mau tahu apakah sudah ada buku-buku lain dari seri ini yang sudah tayang? Ternyata memang sudah ada beberapa judul dan salah satunya adalah Remedy ini.
Buat kamu yang masih mencari novel ini dan mungkin kesulitan untuk mendapatkannya, kamu bisa membacanya lewat Gramedia Digital. Bisa mencari dengan kata kunci 'YARN' atau 'Remedy'. Bisa juga lewat tautan ini. Jangan lupa untuk meninggalkan kesan-kesan kamu setelah membacanya, ya. Terima kasih.
**** My up and coming work ^^. So excited!
28/01: kover finalnya akhirnya keluar ^^. Btw, novel ini keluar bersama dengan juara YARN lainnya yang bisa dilihat di sini
07/02: Remedy dan kedua novel YARN lainnya sudah bisa diperoleh di Gramedia untuk wilayah Jabodetabek ^^
09/02: it's the day! Remedy sudah bisa didapatkan di toko-toko buku. Walau tadi cek di Gramedia Surabaya belum ada sih ._. semoga dalam minggu ini sudah ada.
10/02: seri YARN sudah ada di Gramedia Surabaya. Walau bukunya belum dipajang, masih disimpan di belakang (kalau mau, bisa minta ke penjaganya)... juga bukunya masuk di kategori 'buku anak-anak' di database :v
Anyway, kalau ada yang mereview salah satu buku YARN (termasuk Remedy ini tentunya), bisa coba mention penerbitnya. Siapa tahu kamu menang lomba review yang diadakan ^^
09/03: ada acara #KnitTalk di Twitter pada hari Jumat, 13 Maret 2015. Pantengin Twitter Ice Cube Publisher (@Icecube_Publish) dan saya (@biondyalfian) pada jam 19.00 WIB ya :D p.s: ada hadiah untuk sesi tanya-jawabnya.
25/06: My first ever video interview! Thanks to Maggie. We talked about YARN and Remedy as well. You can watch it here. Please watch and give it a like ^^.
Navin menarik napas panjang. Kedua matanya melotot padaku. Rahangnya tampak mengeras.
Ada yang aneh dalam diri Navin, si anak baru itu. Tania tidak sengaja menemukan dompetnya di tangga sekolah dan melihat di dalamnya ada dua KTP dengan data-data yang sama, hanya berbeda nama. Satunya tertera nama Navin Naftali, satunya lagi tertera nama Budi Sanjaya. Selain itu, ternyata Navin sudah berumur 20 tahun. Apa yang dilakukan seorang pria berumur 20 tahun di SMA? Sebagai seorang murid pula. Tania memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang identitas ganda Navin. Sementara itu, Navin juga penasaran dengan sosok Tania yang kini mengetahui rahasianya. Karena sepertinya gadis itu punya rahasia yang lebih besar darinya.
Can I say, once again, that's the best blurb that I've ever read in my almost-nonexistent entire life? Itu yang dinamakan dengan blurb wahai penerbit-penerbit buku lokal di luar sana. Bukannya narasi cantik yang tidak beresensi yang tidak menarik. Blurb seharusnya menarik pembaca, dan blurb Remedy ini dengan sukses melakukannya.
Pertama-tama saya mengucapkan selamat dulu buat Kak Biondy yang berhasil lolos ke event YARN punyanya Ice Cube. d >_< b YARN ini menurut saya event yang menarik karena menghasilkan genre YA yang lebih realistis, sesuatu yang sedang digemari di luar negeri sana. Bagi para remaja yang lelah dengan buku-buku YA yang hanya mengumbar mimpi saja, YARN ini menawarkan sesuatu yang lebih nyata dan lebih membumi.
Itu sebabnya mengapa saya menyukai Remedy ini. Saya memutuskan untuk memberinya tiga setengah bintang, tapi saya memutuskan untuk menurunkannya ke bawah karena beberapa alasan.
Remedy menceritakan Tania dan Navin, masing-masing memiliki rahasia mereka masing-masing. Navin adalah seorang murid baru di sekolah Tania. Suatu hari, Tania menemukan dompet Navin, dan ia kaget karena ada dua KTP di sana. Ia lebih kaget lagi setelah mengetahui Navin ternyata sudah berumur dua puluh tahun. Di saat yang bersamaan Navin, yang makin akrab dengan Tania setiap harinya, ternyata mulai mempelajari rahasia Tania yang sangat gelap; membuat rahasia dirinya terlihat seperti kelinci putih di tengah padang salju. #apasih
Remedy ini ditulis dengan dua buah PoV: PoV 1 untuk Tania dan PoV 3 untuk Navin yang ditulis secara bergantian dan konsisten. Saya bukan orang yang suka dengan pencampuran sudut pandang seperti ini, kecuali ada sebab khusus. Memang tidak ada sebab khusus mengapa sudut pandangnya ditulis sedemikian rupa, sepertinya, di buku ini, tetapi saya tidak keberatan karena penulisannya konsisten.
Selain itu, Remedy ini juga ditulis dengan alur yang sangat kencang seakan-akan Kak Biondy tidak ingin membiarkan pembacanya untuk mendapatkan kesempatan bernapas. Tapi saya suka, saya seperti ditembaki dengan peluru kata-kata. Apalagi konflik dan masalahnya cukup menarik.
Jujur saja, saat saya mengetahui rahasia milik Navin, saya sedikit kecewa. "Hah? Cuma itu aja?" Ekspektasi saya yang dilambungkan tinggi-tinggi terpaksa harus terempas ke dalam tanah. Kesannya seperti antiklimaks. Memang yha kalo kata Shakespeare, Expectation is the root of heartache. Untung saja, rahasia Tania ini membuatnya jadi impas.
Rahasia Tania begitu gelap, menarik, dan real:
Bang bang into the room bangetlah pokoknya.
Setelah Navin mengetahui rahasia Tania, ia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukannya, hingga akhirnya ia sendiri harus berhadapan secara langsung dengan ketakutan Tania hingga mungkin Navin sendirilah yang harus mempertaruhkan nyawanya.
Epilog-nya sangat manis, dan saya suka. Chemistry antara Tania dan Navin ini juga oke. Dan nggak ada typo. Saya suka itu, membuktikan bahwa penerbit yang belum besar pun memiliki sumber daya manusia yang baik!
Beberapa hal yang mengganggu saya adalah Kak Biondy tidak menyelipkan elemen dalam kehidupan remaja sehari-hari di sini. Misalnya, saat mendengarkan radio, tidak disebutkan nama penyanyi atau nama lagunya yang sebetulnya bisa membuat cerita ini menjadi lebih realistis. Iya, sih, ada Noah di sini ya wkwk. Hanya saja, bahkan Tania menyebut guru matematikanya dengan sebutan Pak Guru. Kesannya, sih, sepele ya, tapi menurut saya, detail-detail kecil semacam ini yang bikin satu cerita menjadi lebih hidup. Itu yang membuat saya juga protes karena Navin dibandingin sama Samuel Rizal, which is out of date. Era keemasan Samuel Rizal sudah lama berlalu, dan saya nggak yakin apakah remaja masa kini masih mengingat Samuel Rizal, jujur saja.
Beberapa bagian dialog terasa kaku, yang memang menjadi masalah kalau kita menggabungkan antara bahasa baku 'nggak' dengan kata berimbuhan lengkap, seperti nggak melakukan. Di lidah saya sendiri, mengucapkan kata-kata seperti itu terasa sangat aneh.
Jadi, demikianlah. Dengan berakhirnya pembacaan Remedy ini, berakhir pula rangkaian acara dalam membaca buku yang bisa dibilang saya nantikan. Hanya karena blurb saja, buku ini sudah membuat saya tertarik. Ceritanya sendiri juga tidak mengecewakan. Sekali lagi, selamat buat Kak Biondy.
Kalau sudah, tentulah anda sekalian dapat mengerti mengapa novel kover biru ini membuat saya tertarik. Bukan cuma karena kenal pengarang yah. Kenal juga, kalau nggak tertarik, ya nggak tertarik Hohohoho... #kesombonganpembacamode #mintadisilet
Berawal dari sinopsis itu, tentu saja wajar kalau saya menduga permasalahan yang ditawarkan Remedy adalah KTP si Navin. Tetapi nggak. Ternyata nggak semudah itu. Mari kita bahas sedikit saja. (maaf deh, nggak bisa bahas banyak-banyak. Karena lagi nggak mood pretelin novel bagus. wkwkwk)
1. PROLOG Prolog yang ditawarkan Remedy, saya rasa salah satu prolog terbaik yang pernah saya baca. Singkat, padat, pesannya sampai, juga menarik. Banyak kali saya temui cerita yang not worth a prolog at all.
2. POINT OF VIEW Kemudian dari POV. Remedy punya POV1 dan POV3 Omnicient yang berhasil dimix dengan cukup okay. Walaupun memang jatuhnya agak janggal. Nggak jelas alasannya mengapa pakai dua2nya. I mean, mestinya sekalian aja pakai POV1 saja atau POV3 saja. Tapi ambil dari sudut pandang kedua protag. Saya rasa hasilnya bisa lebih asik dari ini.
3. KARAKTER Hnah. Ini bagian yang paling saya suka. Membahas karakter Remedy. Saya rasa hampir semua karakter Remedy menjadi favorit saya. Termasuk Tante Ratna. wkwkwk~
Navin, he is really okay. Awalnya saya sempat mengira dia tipikal Garstu teenlit. Ganteng, kaya, pinter, dari kota. Ups. Ternyata bukan cuma bagian pinternya salah. Namun ada kejanggalan dari penggantian identitas yang agak sulit masuk ke akal saya, bila ini adalah YA realistic novel. Agak berbau ilegal gimanaa... Dan juga, nama panggilan. Kendati mengubah nama dimungkinkan, tetapi biasanya keluarga sendiri akan sangat sulit beradaptasi dengan nama barunya. Contoh saya punya seorang teman yang namanya diganti dari masih bayi karena menurut orang pintar, namanya bawa sial. Alhasil, walaupun kami semua memanggilnya dengan nama barunya (sebab itu juga nama resminya) tetapi keluarganya di rumah tetap memanggilnya dengan nama lama hingga sekarang. ------------------ Sisanya lanjut nanti. Urusan banjir. Hiks. ---------------------------------
Edit: Lanjut. Tania. Ini baru karakter cewek teenlit yang nggak biasa. Tapi bukan itu saja, penggalian karakter Tania menurut saya sudah cukup baik. Singkat, padat, jelas, kena. Bahkan saya cukup terkejut dengan faktor kejutan mengenai karakter ini.
Vikki. Awalnya saya kira dia bakal jadi tipikal cewek saingan cinta cewek protag. Cemburu, marah-marah ke cewek protag karena ga berhasil rebut perhatian cowok protag. Drama queen banget lah. Yeah. Saya hampir men-judge dia seenaknya, karena dia dengan agresifnya PDKT ke cowok protag. Untung saya salah. Perannya trully sebagai pembantu protag. Tidak banyak muncul, tetapi karakterisasinya cukup terbaca hanya dari caranya bersikap, termasuk jadi ketua seksi. Yes, dia agresif, tapi tidak suka merendahkan dirinya sendiri. Seems real to me.
4. PLOT
Seperti dibilang di atas, dibuka dengan prolog yang bagus. Jalinan ceritanya juga not bad. Terasa peningkatannya tensinya yang perlahan tapi pasti tanpa tele-tele. Mungkin selera juga, karena saya suka tipikal cerita roman seperti ini. Kalaupun berharap lebih, saya cuma agak terganggu dengan dialog yang canggung. Nampaknya cuma Navin yang hobi pakai "lo-gue", sementara karakter lain nggak -termasuk Dewi-. Penulis beralasan karena Navin orang Jakarta. Well, in that case you should do the same with the Surabayans. Setahu saya, orang Surabaya hariannya bercakap-cakap dengan campur-campur bahasa Jawa. Mohon koreksinya kalau saya sotoy. (>_<)
Terlepas daripada itu semua. Kalau mau jujur, begitu saya menutup halaman terakhir Remedy, saya langsung berpikir,
Empat setengah bintang. Maaf nggak dibuletin lima. Soalnya belum bisa bikin saya fangirling XDD
Congrats buat, Mas Biondy. Buku selanjutnya ditunggu. Saya juga jadi semangat mau nulis lagi. Cheers!
Rasanya campur aduk, bingung mau kasih reviu gimana. Buku ini bukannya jelek atau apa. Hey, cerita YA begini bagus, walaupun kadang efeknya terlalu depresif.
Entah ya, aku malah merasa bersalah sama penulisnya. Topik yang diangkat tuh bagus, sesuai sama nama serinya, ada kata "realistic fiction", tapi eksekusinya malah gagal. Beneran nggak ada rasa simpati ke semua karakternya. Bahkan waktu masa lalu Navin dan rahasia Tania kebongkar juga tetep rasanya flat.
Karakterisasinya nggak konsisten, terutama Tania. Dari narasi Navin, Tania kelihatan nggak maksa buat tau masa lalunya Navin. Tapi bertanya terus. Apa namanya kalau nggak kepo? Kalau dia emang bener2 peduli, ajakan ke kondangan itu harusnya nggak jadi sogokan ya motifnya. Tania ngeiyain karena memang dia mau dan ingin. Nggak ada embel2 memuaskan rasa ingin tahunya soal masa lalu Navin.
Navin pun dibilang percaya sama Tania juga enggak. Yah, cuma di mulut aja, tapi masih parno, takut Tania nyebar rahasia (atau aib?) dia.
Di bagian yang ambigu udah mulai bikin senewen sih, tapi bujan berarti nggak kepengin tau closure-nya. Dan setelah semuanya kebongkar, taraaa! Nggak ada apa2 sih, jatuh lagi lah ekspektasiku. Intinya sih, topiknya bagus, tapi semua (bukan bermaksud ngeremehin perasaan karakter2 di sini) serasa dibuat dan nggak ada yang mengakar sampai bikin kesan "wah".
Bingung sih mau kasih rating berapa. Soalnya ini entah emang bukunya yang nggak cocok di aku atau akunya yang emang udah bosan sama cerita2 begini. Enggak tahu juga.
Tema yg diangkat tuh gelap, sih. Tentang self-harm dan penggambaran di sini juga lumayan graphic. Jadi Trigger Warning buat yang punya masalah iniii.
Cuman, gimana ya? Pernah nggak ngerasa baca buku, dan pas baca kita ngerasa nggak ada simpati di dalam tulisannya? Nah itu sih yang aku rasain waktu baca ini. Ini tuh lumayan graphic, apalagi bagian prolog, cuman ngerasa kayak dibuat-buat dan nggak nyata. Tulisannya dia membuahkan simpati dan terlalu 2 dimensi.
Pendalaman karakter yang juga nanggung semua dan closure yang sama nanggungnya. Aku ngerasa bukunya terlalu kebingungan mau dibawa kemana. Mau dibikin gelap banget, ini lininya remaja, tapi mau dibuat ringan, juga ini temanya gelap banget. Jadi ya gitu serba nanggung.
Waktu diungkap semuanya, duuuh lebih gelap lagi ni cerita, tapi ya ingat ini genrenya remaja, jadi pas keungkap pun semuanya kentang. Awalnya kukira bukunya bakalan fokus sama 'penyembuhan' karakternya, yang sepertinya bakalan lebih cocok juga, cuman ternyta ini lbih kek pengungkapan kenapa si Navin dan..... Yaampun aku lupa nama cweknya, iya dan ceweknya jdi bgtu.
Tapi pas baca buku ini juga bukan yang bosen banget, sih. Yaaaah masih readable laaah.
Ceritanya cakep. Menceritakannya juga cakep: dua sudut pandang. Bab ini diceritakan dari sudut Navin, bab berikutnya diceritakan dari sudut Tania. Dan seterusnya.
Masing-masing diceritakan punya rahasia. Yang pelan-pelan dikuak, pelan-pelan diselesaikan, pelan-pelan diluruskan. Navin aka Budi Sanjaya berusia 20 tahun? Jangan-jangan detektif polisi yang sedang menyamar mencari pengedar narkoba di sekolah XDD lalu Tania yang suka mengiris diri sendiri...
Kalimat-kalimat Biondy enak dibaca, mengalir seperti biasa cerbul di KasFan. Oiya, ada satu typo di halaman 55, 'kuicing' *typo-nya keperhatiin karena saya suka kucing, kalau kecetak di kata lain sih pasti engga bakalan keperhatiin :p *
Dan satu adegan bikin nyengir:
"Kupikir kamu suka, secara romantis, dengan pengantin wanitanya."
"Nggak," jawab Navin.
"Kalau begitu... kamu suka dengan pengantin prianya?"
"Apa? NGGAK!"
*ketawa guling-guling*
Pendek kata, suka buku ini! #pelukNavin #pelukTania #pelukmbakRatna #pelukViki dan tentu saja #pelukvirtualbangBiondy XD
Novel ini kubeli berkat rekomendasi temanku. Katanya dia penasaran dengan tokoh Navin yang memiliki dua identitas.
Dan akhirnya kuberikan 4 bintang, karena novel ini jadi novel pertama yang selesai kubaca kurang dari sehari.
Dari sejak awal baca, aku sudah dibuat penasaran dengan ‘hobi’ aneh Tania. Cerita ini membuatku sempat berpikir ‘apa aku ini masochist?’karena demen tiap kali ‘hobi’ anehnya muncul. Diksi yang digunakan penulis pun ringan dan mengalir, sehingga pembaca bisa dengan mudah memahami alur tanpa harus mikir keras.
Hanya saja aku bertanya-tanya, kenapa penulis menggunakan dua jenis PoV ya?
PoV pertama untuk Tania, dan PoV ketiga untuk Navin. Aku bisa paham alasan penulis menggunakan PoV ketiga untuk Navin. Apalagi kalau bukan untuk menyembunyikan rahasia dibalik identitas gandanya? Namun, untuk Tania alasannya apa? Alasan Tania memiliki ‘hobi’ aneh itu terungkap berkat pengakuan Tania langsung, jadi aku rasa jika penulis menggunakan PoV tiga sekalipun, tidak akan berpengaruh.
Yang berikutnya, aku merasa karakter Tania berubah-ubah. Aku membayangkan Tania yang introvert dan susah diajak ngobrol. Tapi beberapa kali dia malah nanya-nanya hal yang bersifat pribadi ke Navin. Sebagai gadis introvert dia terlalu cerewet. Hehe…
Selebihnya, aku cukup dibuat shock saat Tania mengungkap alasan dibalik ‘hobi’nya. Justru, si Navin… yang ‘menjual’ rahasianya di blurb malah tidak begitu menarik simpatiku. Meskipun aku paham perasaannya, tapi kasus Tania lebih menarik bagiku.
Secara keseluruhan, novel ini sangat-sangat enak dibaca. Tentang bagaimana seseorang berjuang untuk keluar dari masalahnya dan membangun sebuah hidup yang baru. Totally recommended buat penggemar genre YA. Aku menunggu karya selanjutnya!
Ada perasaan bersalah dengan ngasih buku ini rating kecil, karena makna ceritanya bagus, beneran. Kalau saja kekurangan2 yang saya rasain dihilangkan. Udah ada beberapa reviewer lain yang nyebutin kekurangan2 buku ini yang sayangnya juga saya rasain. To make it short, intinya adalah buku ini kurang greget. Banget. Untuk genre young adult, karakter2nya sangat kurang digali, mengingat mereka punya masa lalu suram yang seharusnya membentuk kepribadian mereka menjadi sedemikian kompleks. Padahal untuk tokoh ceweknya sendiri udah pake POV pertama. Chemistry sama sekali nggak ada bagi saya.
Ekspektasi juga udah terlampau tinggi karena blurbnya, taunya rahasia Navin cuma begitu doang, istilahnya sih rada2 zonk gitu, dan saya jadi sulit memandang Navin sebagai laki-laki. Rahasia Tania lumayan bikin kaget sih. Yah, intinya, cerita yang seharusnya 'dalem' ini malah terkesan dangkal. Semoga karya selanjutnya bakal lebih baik lagi and I'm looking forward to it.
Novel yang sangat realistis. Dengan bahasa yang sangat ringan, Biondy mampu menyajikan kisah yang berat dan kelam, tapi dengan emosi yang pas.
Misteri dan clue tentang masalah Navin dan Tania dibeberkan sedikit demi sedikit, sehingga membuat saya makin penasaran dengan masalah apa yang telah dan sedang mereka hadapi. Kalau masalah Tania, saya sudah dapat menebaknya sejak awal. Tapi masalah Navin, saya tak dapat menebak dengan pasti. Ah, menjelang akhir, saya jadi membayangkan Navin seperti Holder dalam novel Hopeless dan Losing Hope karya Colleen Hoover, yang akan melindungi Tania apa pun yang terjadi. :)
Saya rasa, novel ini bisa lebih tebal lagi. Pada bagian tepat menjelang Porseni, rasanya alurnya terlalu cepat.
Novel ini juga minim typo. Seingat saya, cuma ada tiga.
After all, saya begitu menikmati membaca novel ini. :)
"I like it when you think of me. Think of me more. I always think of you the most."
Whoaa... I like the ending. Pas banget.
Aku dibikin patah hati waktu tahu rahasia Tania. Seandainya pas baca ini nggak lagi di ruang tunggu dokter, mungkin aku bakal nangis. Hiks.
Tapi, pas tahu rahasia Navin, aku malah biasa aja. Padahal cerita dia yang memiliki dua identitas itu menarik perhatian banget. Menurutku alasannya terlalu lemah. Kalau aku jadi dia, aku nggak perlu ganti nama segala. Eh tapi nama barunya emang lebih bagus sih jadi nggak papa deh. Hehe... xD
Terus, pengembangan karakternya agak kurang. Mungkin karena alurnya cepat ya jadi kayak tanggung gitu.
Secara keseluruhan, aku suka dengan debut Biondy ini. Walau aku mengharapkan cerita yang kelam (karena tema yang diangkat berat), aku tetap suka dengan cara dia meramu cerita Navin dan Tania.
Hai Kak Biondy, can I tell you that I really like this book? Thank you.
Waktu baca awal, udah niat sekalian riset buat naskah yang lagi digarap, eh tengah ke belakang, lupa dong sama niatnya :)))
Yep, this is a very good book.
Ada cipratan kejutan di sana sini, waktu mikir konfliknya hanya sebatas itu saja, eh, muncul lagi fakta baru yang memperjelas konflik sebelumnya. You did it very well, Kak Bio!
Kalau ada yang kurang kusukai, maka itu adalah tokoh Viki yang... tanggung. Bukan, bukannya nggak suka sama Viki. Tapi ya itu, kehadirannya di cerita ini nanggung. Dibilang dekat, sebenarnya nggak juga. Tapi dibilang jauh, nggak juga. Ah, tapi ini mungkin akibat keseringan baca tokoh pendukung yang kalo baik, baik sekalian dan sebaliknya.
Sebenarnya sudah lama saya punya niat untuk punya dan baca buku yang satu ini, tapi baru kesampaian punya dan baca sekarang. Sekitar sebulan lalu, pas awal-awal terbit, niatnya sudah mau ke toko buku untuk beli buku ini. Lalu, tiba-tiba penulis menjadi juri tamu di kompetisi nulis bulanan yang biasa saya ikuti dan menjanjikan novel ini sebagai hadiah untuk cerita favorit. Karena itu, saat itu saya batal ke toko buku, saya ikut ajang itu saja dulu. Siapa tahu dapat hahaha. Ya, kan, boleh ngarep gratisan. Meskipun, pada akhirnya saya gagal dan harus membeli buku ini di toko buku. Bawa pulang, baca, dan selesai dalam waktu kurang dari lima jam. Oke, cukup curcolannya. Mari kita mulai #UlasanAsal ini saja.
Remedy karya Biondy Alfian ini bercerita tentang dua remaja (oke, salah satu tokohnya memang berumur 20 tahun, tapi mereka masih SMA jadi biar mudah sebut saja mereka mawar remaja), Navin dan Tania. Kedua remaja itu memiliki rahasia yang sama-sama mereka sembunyikan dari dunia. Navin dengan identitas gandanya, Tania dengan luka-luka iris di tubuhnya. Mereka sama-sama berusaha keras menutupi rahasia itu, tapi takdir berkata lain. Tanpa mereka duga, ternyata mereka butuh satu sama lain untuk keluar dari jerat rahasia itu dan menghadapi ketakutan-ketakutan yang menghantui mereka selama ini. Setidaknya, begitulah gambaran umum Remedy.
Oke, tidak perlu berpanjang lebar lagi. Kalau mau tahu cerita lengkapnya semenarik apa, baca dulu ulasan ini, lalu lari ke toko buku terdekat. Bawa pulang Remedy (beli ya, jangan nyuri), dijamin puas hehehe~
Sampul
Seperti biasa, mari kita ulas dulu dari bagian luar buku, alias sampul. Saya termasuk pembaca yang mudah sekali terpikat dengan sampul buku yang menawan. Bahkan, saya rela memberi rating bagus di goodreads.com untuk novel dengan cerita biasa, tapi sampul luar biasa, seperti Spora-nya Alkadri ( review di sini ).
Untuk Remedy, bisa dibilang sampulnya ‘menipu’. Menipu yang saya maksud adalah kalau dilihat dari jauh tampak lembut dan bagus, namun begitu di pandang dari dekat dan lebih teliti, jadinya biasa saja. Ilustrasi sampulnya mentah, seperti ilustrasi pensil biasa, seolah tanpa sentuhan digital. Jujur saja, dari novel-novel YARN yang sudah keluar, Haru no Sora (YARN #2) dan Remedy (YARN #3) adalah yang sampulnya paling tidak menarik. Sorry to say that, but... untuk Remedy, kelemahan sampul itu akan langsung tertutupi oleh bulrb yang keren abis. Rasa-rasanya ini adalah bulrb termenarik yang pernah saya baca sejauh ini.
Ide
Ide ceritanya ngeri-ngeri sedap (apa sih?).
Dulu saya sering berpikir kalau penulis yang biasa menulis cerita fantasi kemudian ‘kepaksa’ menulis cerita non-fantasi karena suatu alasan, ide tulisan mereka pasti tidak akan biasa, karena penulis fantasi selalu memikirkan hal-hal yang tidak lumrah untuk tulisannya. Dan, Biondy tampaknya membuktikan kebenaran pemikiran saya itu. Yah, saya mengasumsikan seperti ini, karena pertama kali saya ‘kenal’ Biondy adalah di Forum Kastil Fantasi. Jadi, tidak terlalu salah lah kalau saya sebut Biondy adalah penulis yang biasa menulis cerita fantasi.
Kembali lagi ke Remedy, idenya tidak biasa untuk ukuran novel remaja. Tentang seorang remaja laki-laki yang menyembunyikan diri dan masa lalunya dengan identitas ganda. Satu ide ini saja tampaknya sudah bisa jadi ide menarik untuk sebuah novel. Tapi, Biondy tampaknya tidak mau ceritanya cuma jadi menarik. Karena itu, dia menambahkan ide yang jauh lebih mencekam, tentang seorang yang suka mengiris diri sendiri biar tetap hidup. Err... saya sempat ngeri sendiri membayangkan self-harm itu. Dua ide itu kemudian digabung dalam satu cerita menarik yang penuh misteri, hangat, dan manis. Two thumbs up deh pokoknya.
Alur cerita
Saat menimbang-nimbang buku ini di toko buku, saya sempat ragu pada Remedy karena tebal bukunya yang cukup tipis, cuma 209 halaman. Saya sudah sering kecewa membaca buku-buku dengan jumlah halaman sedikit. Biasanya, kecepatan alur novel-novel tipis selalu tipikal: sedikit terlalu lambat di awal, lalu mendekati paruh akhir, kecepatan alurnya meningkat tajam. Tiba-tiba saja sudah rampung ceritanya dengan berbagai penyelesaian yang terlalu dipermudah. Saat ‘kena tipu’ buku yang seperti itu, di situ kadang saya merasa sedih :(
Untungnya, meski tipis, Remedy tidak seperti itu. Tidak mengecewakan sama sekali. Alur ceritanya memang sudah cepat dari awal, tap...tap...tap... pas sekali dengan jumlah halamannya, tanpa banyak basa-basi. Setiap scene yang tertulis adalah sesuatu yang penting, yang memang perlu ada untuk membangun cerita. Bisa dibilang, Remedy adalah novel tipis yang padat isi.
Itu dari segi kecepatan alur. Dari ceritanya sendiri, rasanya saya suka nyaris semua isi dari buku ini. Terutama, yang paling saya suka adalah bagaimana Biondy membangun hubungan antarkarakternya. Hubungan Navin dan Tania, persahabatan Tania dan Viki (Btw, Viki di sini cewek lho. Saya sempat mengira Viki itu cowok, masalahnya kebanyakan nama Viki/Fiki di lingkunganku dipakai cowok), juga pertemanan Viki dan Navin. Hubungan-hubungan itu terjalin alami. Tidak terlihat kesan dipaksakan sama sekali. Kedekatan mereka beralasan, ada sebab yang membuat mereka memang harus dekat, dan sebabnya pun terkesan wajar. Itu yang saya suka. Yah, saya bersyukur Biondy tidak membangun karakter Viki sebagai karakter cewek populer khas teenlit yang selalu musuhin tokoh utama cewek, walau awalnya saya sempat mengira akan seperti itu, sih. Untungnya tidak.
Satu saja mungkin sedikit kekecewaan terkait alurnya, yaitu rahasia yang Navin simpan. Kok gitu doang? Memang sih, masalah seperti yang Navin alami itu bisa jadi masalah banget. Saya sendiri kalau mengalami hal seperti itu, tidak tahu harus bagaimana. Rangking kelas anjlok lima tingkat saja sudah seperti akhir dunia bagi saya waktu SMA. Yah, masalahnya mungkin cuma di ekspektasi awal saya saja. Saya terlalu berharap sesuatu yang luar biasa. Untungnya, rasa kecewa itu langsung ditonjok naik lagi saat Tania mengungkapkan rahasia yang selama ini disimpannya. Benar-benar tak terduga. Lagi-lagi saya ngeri. Duh, malang nian nasibmu, Tania.
Terakhir, epilognya pas banget. Tidak ada kalimat pasti yang mengatakan bahwa pada akhirnya Navin dan Tania akan bersatu. Hanya sedikit gambaran yang menunjukkan ke mana hubungan mereka akan berlanjut. Pembaca bisa mereka sendiri akhir hubungan Navin dan Tania. Bahkan, epilognya tidak hanya fokus pada Navin-Tania, tapi juga pada Viki. Kehadiran ketiga tokoh itu membuat epilognya benar-benar memuaskan.
Penulisan
Setelah ide ciamik, dan alur yang menawan. Mari kita lihat bagaimana Biondy menuliskan novel ini. Untuk teknik menulisnya sendiri, saya tidak lagi meragukan kemampuan Biondy. Saya sudah sering baca cerpen-cerpennya di ajang Cerbul Kastil Fantasi. Tapi, di novel ini, rasanya Biondy agak kagok mau menggunakan bahasa baku atau gaul remaja pada dialog-dialognya. Dialognya kadang ngalir enak, tapi kadang kaku, karena menggabungkan kata-kata tidak baku macam nggak, aja, dll dengan kata kerja berimbuhan lengkap. Bukan masalah besar, sih, tapi janggal saja rasanya di lidah.
“Nggak. Aku hanya menebak.” (hal.140) “Aku juga nggak menyangka akan secepat ini.” (hal.144) “Apa kamu nggak memikirkan perasaanku?” (hal. 147)
Dialog-dialog semacam itulah. Yah, saya juga punya masalah yang hampir sama saat mencoba menulis cerita remaja #YeahCurcolLagi.
Lalu, typo. Nyaris bersih dari masalah mainstream yang satu ini. Saya cuma ketemu dua typo di novel ini, yaitu “Navin, permisi,” (diakhiri koma, tapi tanpa ada kalimat apa pun lagi, hal.18) dan akhrnya (hal.67). Cuma itu. Salut buat kejelian penulis dan editornya (y).
Dan, satu lagi. Emang gaya Surabaya atau gimana, ya? Kok si Navin manggil tantenya pakai Mbak? Bukannya Mbak itu kakak perempuan? Satu misteri yang tidak terpecahkan hingga akhir :3
Lain-lain
Masalah POV. Beberapa orang mungkin tidak suka dengan POV ganda seperti ini (POV 1 untuk Tania dan POV 3 untuk Navin). Tapi, saya malah suka. Perbedaan POV ini membuat pembaca langsung tahu POV siapa yang sedang dipakai, juga membuat kedua karakter itu kelihatan benar perbedaannya. POV seperti ini lebih bagus daripada POV ganda tapi sama-sama diceritakan dari sudut pandang orang pertama (POV 1), yang kadang bikin bingung dan salah menebak.
Lalu, humor-humor yang diselipkan kena. Seperti di halaman 138.
“Benar? Kupikir kamu suka, secara romantis, dengan pengantin wanitanya.” “Nggak,” jawab Navin. “Kalau begitu... kamu suka dengan pengantin prianya?” “Apa? NGGAK!”
Dan, di halaman 144.
“Aku juga nggak menyangka akan secepat ini.” “Eng... sorry kalau gue tanya ini. Maksud lo... lo hamil?” “Apa? Ngaco! Enak aja.”
Sayangnya jumlah humornya bisa dihitung jari. Satu tangan saja kayaknya nggak habis deh buat ngitung. Tapi, kan, ini bukan novel komedi?
Oke, sekian ulasan dari saya. Maaf jika ulasannya terlalu panjang, 4,5 bintang untuk ceritanya dan - 0,5 bintang untuk sampulnya, jadi 4 bintang dari saya.
Mungkin saya akan jadi orang kesekian yang mengatakan bahwa “Remedy” membuat saya ingin membaca karya solo Biondy berikutnya.
Yogyakarta, 29 Maret 2015 Mahfudz Asa
P.S.: di toko buku (Gramedia Soedirman Yogyakarta), saya menemukan buku ini (bersama dua buku YARN yang lain, Hikikomori Chan dan Haru no Sora) masuk ke rak buku Bacaan Anak bareng beberapa judul komik. Sampai sekarang saya masih bingung, bagian mana dari buku ini yang untuk bacaan anak?
- Foreshadowing-nya subtle dan nggak berlebihan (meski hlm. 112-115 bisa ketebak, hwhw)
- I appreciate Viki, yang dibikin punya cita-cita dan nggak pendendam. Biasanya, cewek kayak gini bakal dibikin sebagai tukang bully, ngerebut MC cowok dari MC cewek secara membabi buta tanpa alasan, dan bitchy abis. But no, she's so supportive dan tiga-dimensional banget. I stan her!! ٩(●˙3˙●)۶
Yang nggak aku suka:
- Ada beberapa typo (yeah, well, cerita lama banget ヘ( ̄▽ ̄*)ノ)
- Kalimatnya draggiiiiiiing banget. Despite babnya yang pendek-pendek, somehow aku nggak bisa invested ke ceritanya. Bawaanku berhenti melulu karena pace-nya terlalu lama dan bahasanya kurang gripping.
This might work differently to other readers, but I guess it just doesn't work on me. (。・ω・。)
- Twist-nya. Entah kenapa aku dapet vibe yang sama dari Colleen Hoover. Karena udah baca buku itu, dan ngerasa polanya sama, aku kayak... dapet firasat ending-nya bakal gitu(?). Entah ya, ini obscure banget. Pokoknya aku ngerasa gitu aja dan, yah, gitu. 😂
Kayaknya aku bakal nge-review dengan lebih elaborate di blog, tapi yang di Goodreads segini aja dulu. Tiga bintang. 💫
Buku ini gelap? Iya sih, tapi entah kenapa alasan di sisi Navin ga bikin aku simpati sama dia walau, ya, bahaya juga si apa yang dia lakukan. Mungkin kurang digali or somehow like that.
Alasan Tania juga pada awalnya ga begitu jelas sehingga ga bikin terlalu simpati juga, sampai suatu saat ketika ketahuan, well keterlaluan juga si pelaku. Dan menjadi penyelamat buku ini menurutku.
Aku setuju dengan beberapa ulasan disini yang menyebutkan kalau penulis kurang dalam penggambaran latar (selain kafe dan mal) misalnya masalah musik atau semacamnya.
But hey, buku ini bisa memberi pembelajaran terutama masalah menyakiti diri sendiri. Not bad.
Mengungkap sebuah rahasia yang dimiliki Navin dan Tania.
Navin adalah anak baru di sekolahnya Tania. Dan pertemuan mereka cukup meninggalkan kesan yang tidak baik. Tania yang tanpa sengaja menemukan sebuah dompet yang terjatuh. Ternyata itu adalah dompet Navin, tapi tunggu. Selain kartu identitas diri Navin disana ada juga identitas lain yang hanya memiliki perbedaan di namanya saja. Kenapa? Kenapa Navin memiliki dua kartu identitas yang memiliki perbedaan pada keterangan namanya? Apa yang sedang disembunyikan oleh Navin.
Ternyata selain Navin, Tania pun memiliki sebuah rahasia. Rahasia yang cukup mengerikan. Apa rahasia yang dimiliki oleh Tania? Akankah Navin akhirnya mengetahui rahasia Tania? Bisakah mereka saling menjaga rahasia satu sama lain?
****
Remedy merupakan novel YARN kedua yang ku baca setelah Reva’s Tale. Novel yang cukup menarik untukku. Sebenarnya ketika membaca judulnya aku menilai buku ini terlalu simple, dimana kemungkinan membahas mengenai remedy yang biasa kita lakukan ketika mendapati hasil nilai ujian yang dibawah rata-rata atau mungkin sedikit lebih berbeda, aku pikir bisa juga novel ini membahas tentang kembali ke masa lalu untuk mengulang lagi sebuah kejadian. Tapi pada kenyataannya aku salah ketika membaca sinopsisnya.
Dan saat aku berpaling pada sinopsis di belakang buku, ada sesuatu yang membuatku sedikit mengernyitkan dahi, “Apa ini?” kenapa disinopsis ini hanya fokus pada satu scene yang menurutku kurang cukup menarik perhatian, apalagi dua akhir kalimatnya yang cukup mengganjal hatiku “Sementara itu, Navin juga penasaran dengan sosok Tania yang kini mengetahui rahasianya. Karena sepertinya gadis itu punya rahasia yang lebih besar darinya.” Bagaimana bisa tiba-tiba ada pemmikiran seperti itu hanya karena orang lain menemukan barang dan akhirnya mengetahui sebuah rahasia yang kita sembunyikan selama ini. Mungkin cukup menyatu jika diakhirnya mengatakan “Karena merasa rahasianya telah terbongkar. Navin berusaha untuk membalas dendam dengan mencari sesuatu yang mencurigakan dari Tania yang bisa jadi dia juga memiliki sebuah rahasia juga.” Bagiamana? Apakah itu sudah pas untuk mengakhiri sinopsisnya, agar menambah rasa ketertarikan pembeli untuk membacanya. Eum maksudku, membelinya terlebih dahulu bau membacanya, bukan dengan membuka plastik buku dan membacanya di tempat itu juga. ^^
Diluar itu semua, aku sangat menyukai novel ini dengan kelebihan-kelebihan yang disajikan di dalamnya. Diantara lain:
Alur cerita. Singkat, jelas, to the point. Aku suka dengan jalan ceritanya. Apalagi tidak ada kesan yang terlihat sedikit bertele-tele yang membuat jadi bosan membacanya. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga, membuat cerita ini semakin menarik.
Tokoh. Semua karakternnya begitu mengesankan. Cukup kuat dan saling mendukung satu sama lain. Meskipun tentunya porsi Tania dan Navin yang lebih banyak, tapi tidak menutup kemungkinan untuk tidak bisa mengenali secara lebih karakter para tokoh pendukungnya. Good.
Penulisan. Tidak ada hambatan sama sekali. Aku merasa nyaman selama membacanya, hanya saja karena ceritanya yang langsung to the point tanpa basa-basi ini terkesan sedikit terpaksa dilakukan, mungkin karena takut melebihi batas aturan ketebalan atau lain halnya. Karena mungkin jika ditambah beberapa halaman akan sedikit membuat lebih santai. Tidak terlihat terburu-buru karena ‘nanggung sebentar lagi selesai ceritanya.’
Cover. ini nih yang di suka. Warnya covernya soft gimana gitu, karena meskipun terlihat kalem tapi sedikit menyimpan mistis (?) yang membuat jadi bertanya-tanya “Ada apa diantara kedua insan yang tidak saling berhadapan namun tangan mereka saling rangul?”
Overall, suka banget sama buku pertama karya bang Biondy ini. Salut deh, meskipun sibuk sama aktivitas mereview dan jadi host blogtour, bang Biondy masih gencarnya menulis sebuah naskah ^^ ditunggu buku-buku selanjutnya ya.
Buat yang suka novel bergenre YARN bakalan nyesel kalau ngak ngelengkapi koleksinya sama buku ini. Ayo buruan dibaca ya, mumpung masih anget. Masih bisa ditemukan di toko-toko buku terdekat kesayangan anda. Selamat membaca ^^
Kali pertama mendengar kata itu pada jaman SMA, ketika eranya masih PIA dan PIS, yang entah kenapa selalu saya bayangkan PIA dari kata bakPIA kalau PIS..., ehm... gak perlu dibahas, ya. Pada suatu waktu, entah bulan ke berapa ya, penulis buku ini sempat mengajukan 3 judul buku di salah satu trit di kasfan. Yang satu selalu kedengaran seperti panas-panas, yang kedua saya lupa, yang ketiga ya Remedy ini. Saya ingat, pilihan judul saya bukan ini (karena bikin saya keingetan ama remidi ulangan kimia. Euh..., dari dulu saya merasa paham Kimia, tapi masa' nilai ulangan selalu di bawah kkn/kkm mulu. Sakit... sakit itu mah.).
Awalnya ketika judul ini yang terpilih, alis saya langsung naik dan bikin saya menebak-nebak. Emang ini buku bercerita tentang apa sik? Antara ragu karena membayangkan isinya tentang dua orang yang mungkin bersaing dalam nilai atau mungkin cerita soal agen yang lagi nyamar di sebuah SMA. *ceritanya saya lagi ketipu blurb di belakang novel gitu*
Nah, sehabis membaca novel atau novela ini, saya sekarang paham, kenapa judul ini yang diambil. Judul ini memang cocok sekali dengan isi cerita dalam novel ini. Kalau yang lain, mungkin kurang terlalu. Btw, sekarang saya juga paham, kenapa Biondy bisa sering menang cerbul kasfan atau seenggaknya ceritanya difavoritin sama jurtam atau warga cerbul, emang gaya nulisnya enak sih di sini :D
Jadi, Remedy ini berkisah tentang apa? Tentang sesuatu yang nggak disangka-sangka, walau arah tujuan akhirnya bisa ketebak. Bisa dibilang cerita Tania dan Navin ini ringan dan segar. Untuk ukuran teenlit, bukan teenlit mainstream walau pake pakem mainstream. Selain itu, kisah cintanya juga nggak manis-manis banget sehingga bikin saya yang nggak doyan kisah cinta remaja abg jadi nggak kena diabetes cerita. Sweet but not too sweet.
Karena ini bukan novel fantasi, ya, jadi minimnya deskripsi latar dalam cerita bisa dimaafkan. (Saya mah, hobi ngebayangin latarnya sendiri). Untuk bagian seperempat awal, saya cukup miris dengan adegan berdarah-darah yang ada. Secara, nyakitin diri itu sakit banget. Dulu pernah, saya kepikiran juga buat coba-coba seperti ini, tapi udah sekali aja. Habis itu kapok karena nggak tahan ama sakitnya. :))
Untuk bagian akhir saya merasakan ceritanya terlalu cepat diselesaikan, alias terlalu terburu-buru. Rasanya..., penyelesaiannya mudah sekali, walau saya termasuk lega dan senang dengan akhir yang seperti itu. Seenggaknya, gak bikin perasaan ngeri atau miris kalau akhirnya benar-benar merana dan bikin nangis darah seperti di dramah-dramah :'(
Sampai sekarang saya heran, apa si Tania gak punya trauma gitu sama kaum lelaki. Kan, secara ya begitulah. Makanya, ketika tahu alasan dia gitu gara-gara anu, saya sempet bengong lama, karena mikirin 'kok bisa dia deket sama Navin?'. Tapi, seperti pakem saya, selama saya menikmati ceritanya, sebodo amat dengan hal-hal itu.
Selamat untuk biondy atas novel debutnya. Semoga makin banyak berkontribusi di dunia perbukuan Indonesia. Btw, kalau ditanya, gimana perasaan kalian kalau kasfan disebut di buku non fantasi, jawab saya mah... gak apa-apa, ngepromosiin fantasi sekalian di luar non fantasi :D
udah, itu aja. Kemarin malem keknya saya mau nulis repiu banyak, tapi ternyata banyak kata-kata yang ingin saya ucapkan sudah terbang berhamburan ditelan monster tidur.
buku seri Yarn ke dua yang gue baca, dan gue gak begitu suka sama novel ini.
Sinopsisnya sich lumayan bikin penasaran, tapi pas selesai baca-ampe ditengah cerita malah- gue pengen nyerah.
1. pemakaian kata Gue-Lo dan Aku-Kamu sebenernya bisa jadi ranjau buat sebuah novel, soalnya bisa jadi kelewatan antara mana yang pake Gue-Lo sama Aku-Kamu, dan ya gue nemu dinovel ini. (hal:138, Navin pake kata aku pas ngomong ke Tania kalo Dewi ini mantan tunangannya. plus, hal:162 pas Navin tanya : 'Maksud Kamu?' ke Tania) 2. banyak banget kalimat janggal semacam. (hal: 7, tergeletak tiga anak tangga dibawahku), jadi ceritanya si Tania ini nemu dompet tapi tu dompet adanya ditangga, kalo kalimatnya kaya diatas jadi jatohnya bukan dompet malah tiga anak tangga. (hal: 116, pusing dikepala), harusnya gak usah dijelasin lagi yang namanya pusing ya dikepala kecuali kepala yang laen #eh. (hal:121, pas si Tania sakit Navin sama Viki ini jenguk trus bawa oleh-oleh), kata oleh-oleh kayanya buat barang atau bawaan yang dibawa saat berpergian jauh ya, he. mungkin langsung dijelasin aja buah-buahan. (hal: 79, pas Navin nyerahin kertas yang isinya soal penawaran harga pemakaian tu kolam kali ya, disini Navin bilang 'Vik, ini dari kolam renangnya.' ????), yang awalnya gue baca kaya hah tu kertas jatoh dikolam renang apa bijimana?. dan hal hal lainnya yang kurang pake imbuhan -Di semisal hal 209 yang diceritain si Viki kerja di jepang buat produksi film Diiiii sana bukan 'produksi sana', noh Di-nya gue panjangain. he. 3. karakter Tania yang setibanya punya kebiasaan nyuri sekonyong-konyong jadi ilang tu kebiasaan, mungkin bisa dijabarin dikit-dikit kaya kebiasaan dia nyilet yang lama kelamaan ilang.*saran*. 4. nah pas kumpul panitia gue bacanya diawal ko yang riweuh cuman ber3 ya? antara si Viki, Navin, sama Tania? diujung cerita pas tu acara udah selese baru dah diceritain kaya panitia lain bahkan ketua OSIS. hadeuh. 5. dari Twist, bisa dibilang gak kaget-kaget amat lah ya cuman itu tadi diawal mestinya dikasih clue aja, biar tambah penasaran. dan twistnya si Navin malah bikin gue masang muka datar trus ngomong : 'yaelah, cowok bukan si lo'. 6. paling penting ni ya, di hal 125 Tania bilang gak pernah pake baju yang tanpa lengan, mksdnya selama ini dia pake baju yang tangannya panjang terus. trus gue mikir, dia semacam Anak SMA yang pake baju lengan panjang trus rok panjang tanpa kerudung gt ya? tolong dijawab soalnya gue gak tau anak sekolahan sekarang pake modelnya bijimana *ketauan deh gue udah tua*, setau gue si dulu, dulu loh ya, yang pake baju lengan panjang itu dikerudung dan kalopun disini Tania diceritain pake baju lengan panjang berarti gak sesuai cover novel downk?.
masih lumayan banyak si yang mau gue bahas cuman dari seluruh cerita, karakter, plot, gaya bahasa, sama twist menurut gue si kurang mateng. semoga bisa diperbaiki dikarya selanjutnya ya. amin. keep writing.
Remedy bercerita tentang Tania yang menemukan sebuah dompet. Dalam dompet itu, Tania mendapati dua kartu identitas dengan dua nama yang berbeda. Satu dimiliki Navin Naftali, sang anak baru di sekolahnya, dan satunya dimiliki Budi Sanjaya. Akan tetapi, kedua nama tersebut memiliki wajah yang sama.
Pada awalnya, Tania tidak berniat mengembalikan dompet itu. Namun, karena penasaran pada Navin—yang memiliki identitas ganda—Tania pun mengembalikan dompet itu diam-diam. Sayangnya, Navin memerogoki Tania. Dan sejak saat itu, karena Navin khawatir identitas gandanya terbongkar, Navian mulai menghantui kehidupan Tania.
Navin mengajak Tania berteman. Navin menemani Tania makan di kafe dan mal. Navin memaksa Tania bergabung dalam panitia Porseni lewat Viki, teman sekelas Tania. Navin mulai mengunjungi rumah Tania dan sering bersamanya. Bahkan Navin mulai membagi rahasia KTP gandanya pada Tania. Dan Navin pun mengetahui kegelapan dalam hidup Tania.
Novel ini merupakan pemenang ketiga dari lomba Young Adult Realistic Novel (YARN) yang diadakan Penerbit Ice Cube. Dan seperti nama lombanya, Remedy berhasil memberikan kesan realistic yang jarang saya temui dalam novel-novel young adult. Penulis berhasil menyelipkan latar belakang yang berat dan rumit dan tragis dalam ceritanya.
Idenya sendiri cukup sering ditemui dalam novel YA, cewek tidak punya teman yang bermasalah dengan keluarga yang dihadirkan oleh Tania. Tapi, saya suka rahasia besar (sekaligus kegelapan) yang tersimpan di hidup Tania. Masalah Tania ternyata tidak sesederhana ditinggal wafat sang ibu atau tidak dekat dengan sang ayah. Dan kenyataan inilah yang paling bikin saya suka sama Remedy.
“Kalau keluarga lo seperti itu, berarti lo butuh keluarga baru.” –hlm. 189
Cara penceritaannya sendiri sangat ringan, khas novel YA. Kejadian demi kejadian dituliskan dengan perlahan-lahan hingga segalanya pecah di satu titik dengan (bagi saya) sangat dramatis. Saya tidak menyimpan curiga apa pun pada keluarga Tania. Makanya ketika segalanya terkuak itu saya syok dan sedih dan merasakan derita Tania—juga Navin.
Secara keseluruhan, saya suka Remedy. Sudah lama saya tidak membaca novel YA dalam negeri yang bagus. Saya bahkan tidak bisa melepaskannya sebelum benar-benar menyelesaikan Remedy. Memang cukup tipis, hanya 200an halaman tapi rasanya Remedy pas. Seperti makan bakso yang nikmat dengan porsi dan rasa yang pas.
Yang paling penting, Remedy juga mengajarkan bahwa selalu ada kesempatan kedua. Selalu ada remedy dalam hidupmu. Selalu ada masa depan.
“Menyelesaikan urusan masa lalu itu modal yang baik untuk maju ke depan.” –hlm. 85
"Kamu bilang ingin maju ke depan, kan? Menyelesaikan urusan masa lalu itu modal yang baik untuk maju ke depan." – halaman 85
Semenjak mamanya meninggal dunia, Tania mempunyai kebiasaan mengoreskan pisau pada kedua lengannya. Tidak ada seorang pun yang tahu, ditambah papa Tania bekerja di luar pulau Jawa. Selain itu, demi menghindari rumah, Tania sering menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan sepulang sekolah. Saat uangnya tidak cukup untuk jalan-jalan di mall, Tania menemukan sebuah dompet dengan isi yang menggoda. Selain uang, ada dua KTP dengan data yang sama, tapi nama yang terteranya beda. Tania tidak mempedulikannya sampai seorang murid baru muncul dan punya nama yang sama dengan salah satu KTP itu.
Setelah kehilangan dompet, Navin Naftali sibuk mengurus segala surat dan laporan untuk segala kartu yang ada di sana. Hal yang paling menganggunya adalah KTP lama yang ikut hilang dan beresiko menghancurkan hidup barunya di sekolah. Kekhawatiranya semakin tinggi saat melihat seorang siswi tak dikenal mengembalikan dompet dan kemungkinan sudah melihat KTP itu. Navin sempat mengancam Tania untuk tidak menyebarkannya. Reaksi acuh tak acuh dari Tania melegakan sekaligus membingungkan. Untuk berjaga-jaga, Navin mengawasi pergerakan Tania. Salah satu caranya adalah memaksanya masuk panitia acara Porseni.
--
Karena dikasih dari penulisnya, aku sempat takut tidak menyukai cerita Remedy ini. Kritikanku sering kali terlalu pedas sampai aku sendiri merasa sangat bersalah. Terus aku juga lagi kecapekan (alasan basi, dhyn), jadi jadwal baca dan reviewnya agak telat. Untungnya aku menyukai cerita Tania dan Navin ini. Sangat suka malahan! Saat membaca ulang beberapa bagian, untuk menulis review ini, aku menemukan detail yang semula terabaikan dan lebih memahami apa pesan yang ingin disampai. Jadinya semakin suka, lupa deh sama capeknya :D Gaya menulisnya yang mengalir, dua sudut pandang yang menarik, dan chemistry antara Tania dan Navin membuatku terus membaca dan menikmati ceritanya. Aku suka bagaimana mereka saling ‘menyembuhkan’ satu sama lain secara tidak sadar. Suasana remajanya juga sangat terasa dan berhasil membuatku merasa tua, hahaha. Banyak dialog yang lucu yang berhasil membuatku tertawa! Bagian kesukaanku adalah saat Tania memergoki baju Navin yang tak dikancingkan. Komentar datar Tania membuatnya sangat lucu. Seperti agak mesum, tapi sebenarnya tidak koq ;p
Udah lama beli dan baca buku ini begitu terbit, tapi baru sempat nulis review sekarang.
Pas baca ucapan terima kasih penulis, saya senang membaca nama Kastil Fantasi di situ (dan bikin saya pengen cepet-cepet punya buku sendiri biar bisa menuliskan hal yang sama di lembar pertama bukunya). Ups, melenceng. Intinya, sebagai karya debut Biondy, saya cukup suka buku ini dan cukup tertarik untuk membaca karya Biondy selanjutnya.
Saya masih menemukan beberapa typo, walau tidak ingat persis halaman berapa, tapi ada kata yang terpisah spasi atau salah ejaan yang seharusnya ada huruf n dobel (ga cuma satu). Tapi secara keseluruhan cukup bersih dari typo. Untuk ceritanya sendiri, penggunaan POV dobel karakter itu menarik, eksekusinya juga cukup rapi. Paling tidak saya bisa membedakan "suara" Navin dan suara Tania.
Yang paling saya ingat dari buku ini, di awal ketika Navin baru pendekatan dengan Tania, trus mereka ke kafe bareng, begitu Navin bilang dia yang traktir, mendadak Tania memesan banyak banget menu (siomay goreng, kentang goreng, trus apa lagi saya lupa). XD Lebih dari tiga piring. Padahal waktu itu Tania belum sepenuhnya percaya sama Navin. Laper, atau mendadak rakus karena ditraktir? :)) Humornya kena.
Untuk konflik dan twistnya sendiri cukup tertebak, tapi hal-hal realistis yang membuat novel ini masuk kategori YARN, menurutku sangat nyata dan berterima. Juga detil. Endingnya terkesan beda sendiri karena kedua tokoh utama tidak semata-mata langsung bersatu begitu saja, hanya ada indikasi ke arah sana. I would love to read more about them two in the future. I hope Navin and Tania live happily (although not ever after).
Overall, 3,5 bintang. Pembulatannya ke bawah, sori, sebab meski saya menyelesaikan novel ini sekali duduk semalaman => Ini pujian karena alurnya bagus, rasanya masih ada yang kurang greget, entah apa.
Ini tentang kisah Navin dan Tania, dua remaja yang sama-sama punya rahasia yang berusaha untuk ditutupi. Berawal dari Tania yang menemukan dompet milik Navin, anak baru disekolahnya cerita ini bermula. Tania menemukan sesuatu yang mengagetkannya, 2 KTP dalam dompet Navin yang mengungkap identitas Navin sesungguhnya. KTP yang memuat nama yang berbeda dan tentunya usia Navin sesungguhnya. Tania pun penasaran kenapa Navin mengubah namanya? Ada apa sesungguhnya?
Tania pun mengembalikan dompet Navin secara diam-diam karena Tania sebelumnya telah "mengosongkan" uang dalam dompet Navin. Tetapi Navin terlanjut memergoki Tania dan berusaha mencari tahu tentang Tania. Akhirnya Navin pun berusaha untuk mendekati Tania dan memintanya untuk merahasiakan apa yang diketahuinya.
Tania tetap penasaran apa yang sesungguhnya dirahasiakan oleh Navin. Tetapi Tania tidak pernah ingin memaksa. Karena Tania pun menyimpan rahasia sendiri. Rahasia yang tidak ingin orang lain tahu, kalau selama ini Tania selalu menyakiti dirinya sendiri dengan membuat sayatan-sayatan kecil ditubuhnya. Karena dengan melihat sayatan itu, Tania merasakan hidup. Ada apa dengan Tania sesungguhnya?
Sebagai debut penulis, aku cukup menikmati ceritanya. Perlahan-lahan Tania dan Navin menjadi semakin dekat. Dan aku pun dibuat makin penasaran dengan apa sesungguhnya yang membuat Navin harus mengubah identitas diKTPnya? Tetapi setelah mengetahui rahasia Navin, aku malah tidak merasakan apa-apa hanya biasa-biasa saja karena alasannya terkesan terlalu biasa saja malah rahasia Tania yang membuatku tercengang dan bahkan terharu terhadapnya.
Namun, anehnya terlalu janggal bagi Tania dengan kasus seperti itu, bisa dekat dengan pria. Harusnya dia menjadi trauma bahkan menghindari untuk dekat dengan pria. Tetapi Tania malah yang ingin lebih dekat dengan Navin, bahkan penasaran dengan jati diri Navin sesungguhnya.
Dibalik itu semua, aku cukup puas dengan endingnya. Memang itu jalan terbaik buat semuanya.
Tania punya rahasia di balik 'kesukaannya' mengiris tubuh. Navin juga punya rahasia di balik kepemilikannya atas dua KTP yang berbeda nama. Lalu suatu hari mereka dipertemukan, masing-masing dengan rahasia mereka sendiri.
Tiga kalimat di atas saya rasa cukup mewakili apa yang diceritakan Biondy Alfian lewat novel debutnya yang berjudul Remedy ini. Sejak membaca blurb-nya, saya sudah sangat ingin membaca buku ini. Bagaimana tidak jika blurb-nya semenarik itu?
Anyway, cerita Tania dan Navin ini dituturkan dengan tempo bercerita yang cepat (bayangin aja, novel setebal 208 halaman ini punya 33 bab plus prolog dan epilog). Dan inilah yang menjadi kritik terbesarku. Bukan, bukan masalah babnya yang banyak, melainkan karena tempo ceritanya cepat, aku rasa gak banyak detil yang dimasukkan ke dalam cerita. Apa, sih istilahnya--atmosfirnya kurang terbangun, kayak pesan steak, tapi yang datang cuma steak-nya doang, gak ada kentang, wortel ataupun kacang panjang. Sangat disayangkan. Kalau saja atmosfirnya dibangun lebih solid, aku gak akan segan-segan ngasih 5 bintang untuk novel ini.
But, overall, hats off untuk penulisnya dan ide ceritanya yang menarik. Debut yang sangat baik!
p.s: direkomendasikan untuk kalian yang suka baca novel bertempo cepat.
p.p.s: kalau kalian gak suka novel bertempo cepat, (tetap) coba baca novel ini aja. Mana tahu kalian suka.
p.p.p.s: siapkan diri kalian untuk mengetahui rahasia Tania.
Novel Remedy benar – benar cocok untuk remaja. Kisah romance memang terbangun sejak awal cerita namun bukan menjadi pusat cerita. Hubungan Navin dan Tania adalah hal yang membangun cerita. Navin dan Tania membawa kisahnya sendiri.
Tema self-abuse yang ditampilkan di dalam cerita ini mampu diceritakan dengan baik oleh penulis. Psikologi Tania mampu ditransfer ke pembaca dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. Dan alasan Tania menyayat dirinya sendiri menjadi sebuah twist yang menarik.
Secara keseluruh novel ini cukup enak dinikmati. Dan banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari kisah hidup Navin dan Tania.
Yang kurang dieksplorasi adalah hubungan Tania dan Viki. Selain itu tokoh antagonis di dalam novel ini nyaris tidak ada. Bahkan tokoh jahat yang terakhir pun muncul mendadak. Jadi gelombang konfliknya masih kurang greget.
Oiya, selain itu, sudut pandang yang digunakan dalam novel ini sempat membuat saya bingung. Saat bercerita dari sisi Tania, maka POV yang digunakan adalah POV orang pertama. Penjelasan tentang hal – hal terkait dalam diri Tania menggunakan kata “aku”. Namun POV 3 digunakan saat cerita dituturkan dari sisi Navin. Bahkan ketika bersama Tania, jika diceritakan dari sisi Navin tetap saja menggunakan POV 3 serba tahu.
Tapi tetap saja secara keseluruhan ceritanya masih bisa dinikmati.
Dari awal udah dibuat shock dan ngeri dengan tema buku ini—tokoh peran utama yang self-harm.
Aku suka dengan ceritanya yang sangat mengalir. Buktinya aku bisa tamatin buku ini kurang dari 24 jam dan melupakan tugasku sejenak.
Cerita antara Navin dan Tania ini juga manis (dan ada yang bikin sedih dan sesak banget). Suka banget deh pokoknya. Sayangnya ada beberapa tokoh yang menurutku kurang dieksplor. Cerita masa lalu tentang Navin dan Dewi menurutku juga kurang, sih... Banyak pertanyaanku yang belum terjawab bahkan sampai akhir cerita.
Bagian saat Viki bisik-bisik dengan Tania trus geleng kepala sambil ketawa, ternyata sampe akhir enggak dibocorin, dong :") padahal aku penasaran haha.
Saya suka karena dari awal baca saya sudah dibawa untuk menebak ke mana arah cerita. Penuturannya juga asyik diikuti. Agak kelam dan bikin penasaran. Sayang di ending rasanya seperti dibuat terlalu cepat dan epilognya seakan-akan semua masalah yang terjadi sebelumnya bisa diselesaikan dengan terlalu mudah. Saya sama sekali nggak keberatan kok seandainya halamannya ditambah--let's say-- 50 halaman lagi. Tapi mungkin kena ketentuan lombanya ya?
Gambar covernya kaku banget, padahal warnanya cantik.
Wow. Tidak seperti novel-novel remaja atau young-adult lain. Kalau kalian mau belajar tentang rasa sakit tertahan dan cara melepaskannya, baca buku ini! Kalau mau belajar tentang rasa sayang yang akan membuat hidupmu menjadi lebih bermakna, baca ini! Kalau mau cari tahu tentang arti pengorbanan nan bertanggung jawab, baca ini!
Sebentar, ini novel debut penulis kan; maksudku sebagai penulis tunggal? Aku tidak segan memberinya apresiasi untuk karya pertamanya. Tidak salah mendapatkan penghargaan, karena memang pantas.
Saya baca ini direkomendasikan Ambu-san waktu saya nanya, di antara YARN yang baru-baru ini keluar di Gramdig, mana yang seru untuk dibaca duluan (selain yang udah saya baca). Dan saya sekarang paham kenapa Ambu-san merekomendasikan Remedy!
Novelnya baguuuss!! Fast-paced banget, sampe nggak berasa waktu ngecek, tetahu udah sampe halaman 111. Saya takjub sendiri mendapati saya baru mengambil jeda membaca di atas halaman 100, padahal biasanya kalo baca buku digital apa pun pasti berhenti di halaman sekian puluh untuk mengistirahatkan mata. Itu menunjukkan betapa seru dan menyedotnya novel ini sampai nggak sadar sudah baca sebanyak itu. :3
Selain fast-paced, plotnya juga rapi. Misterinya dibuka satu per satu dengan kecepatan yang pas sehingga pembaca stick to the book karena penasaran. .
Chemistry antara Tania dan Navin juga bagus banget!! Saya suka karena hubungan mereka di sini dibuat sebagai suatu bonding yang deep, bukan sekadar romansa remaja.
Yang saya suka lagi dari novel ini adalah kedetailannya menggambarkan hal-hal sehari-hari (seperti persiapan Porseni itu, misalnya). Dan novel ini bikin kangen sama Surabaya (I miss TP...!!! T_T). Dan saya suka karakter Viki (nggak nyangka akhirnya dia bakal jadi BFF sama Tania setelah awal mereka yang kurang baik). Dan isu psikologis yang diangkat dalam novel ini juga sesuatu yang penting (bagusnya, diangkatnya cukup "ringan", dalam artian bukan yang dark banget sehingga masih ketahan). Dan saya salut karena PoV selang-seling orang pertama (Tania) dan orang ketiga (Navin) dalam novel ini works so well.
Satu hal lagi yang bikin saya angkat kedua jempol: penulis novel ini laki-laki, tapi menurut saya dia BERHASIL banget menulis dari PoV pertama remaja perempuan. Itu nggak gampang, lho. Di sini suara Tania kerasa banget "remaja-cewek"-nya. Pergolakan batinnya, pemikiran-pemikirannya, keputusan dan tindak-tanduknya, manusiawi kayak remaja cewek sungguhan. Ada aja kan, author laki-laki yang "kepeleset" waktu bikin karakter remaja cewek. Tapi karakterisasi Tania sebagai remaja cewek--yang dibangun melalui PoV pertama--di novel ini lumayan mulus. Applause.