Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
“Dik, tolong lempar bolanya ke sini,” pinta salah seorang kakak kelas sambil menyeka keringat yang mengucur dari kening.

Setengah malas aku menuruti permintaannya, berdiri untuk
mengambil bola basket. Sampai kemudian, salah seorang dari mereka
menyeletuk, “Bola bisa ambil bola, toh?”

Dalam waktu singkat, orang-orang yang ada di sekitar lapangan
basket tertawa. Semua mata memandang ke arahku. Akhirnya aku jadi
pusat perhatian, tapi bukan seperti ini yang kuinginkan.


Hampir seumur hidupnya, Nina berada di bawah bayang-bayang Nila, saudari kembarnya. Wajah mereka identik, tapi Nila yang memiliki tubuh sempurna selalu mencuri perhatian, sementara Nina yang badannya lebih berisi hanya kebagian ejekan. Tapi Nina tidak pernah menjadikan berat badan sebagai masalah utama dalam hidupnya, sampai ia diajak berkenalan oleh Panji, kakak kelas yang menjadi tambatan hati. Tidak mau menyia-nyiakan kejadian langka ini, Nina bertekad untuk menjadi sosok ideal untuk Panji. Dan perjalanan Nina menuju kesempurnaan pun dimulai.

238 pages, Paperback

First published March 16, 2015

9 people are currently reading
106 people want to read

About the author

Farrahnanda

9 books21 followers
they say curiosity kills the cat but cats have 9 lives so get curious, ou have about 9 chances.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (14%)
4 stars
43 (39%)
3 stars
47 (43%)
2 stars
2 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 49 reviews
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
April 12, 2015
Judul: Perfection
Penulis: Farrahnanda
Penerbit: Ice Cube Publisher
Halaman: 238 halaman
Terbitan: Maret 2015

“Dik, tolong lempar bolanya ke sini,” pinta salah seorang kakak kelas sambil menyeka keringat yang mengucur dari kening.

Setengah malas aku menuruti permintaannya, berdiri untuk
mengambil bola basket. Sampai kemudian, salah seorang dari mereka
menyeletuk, “Bola bisa ambil bola, toh?”

Dalam waktu singkat, orang-orang yang ada di sekitar lapangan
basket tertawa. Semua mata memandang ke arahku. Akhirnya aku jadi
pusat perhatian, tapi bukan seperti ini yang kuinginkan.

Hampir seumur hidupnya, Nina berada di bawah bayang-bayang Nila, saudari kembarnya. Wajah mereka identik, tapi Nila yang memiliki tubuh sempurna selalu mencuri perhatian, sementara Nina yang badannya lebih berisi hanya kebagian ejekan. Tapi Nina tidak pernah menjadikan berat badan sebagai masalah utama dalam hidupnya, sampai ia diajak berkenalan oleh Panji, kakak kelas yang menjadi tambatan hati. Tidak mau menyia-nyiakan kejadian langka ini, Nina bertekad untuk menjadi sosok ideal untuk Panji. Dan perjalanan Nina menuju kesempurnaan pun dimulai.

Review

Perfection adalah "gelombang 2" dari serial YARN. Novelnya sudah terbit dari Maret 2015 yang lalu, tapi baru sempat saya baca sebulan setelahnya :)).

Ceritanya sudah cukup tertuang pada blurb-nya kurasa. Ada yang bilang kalau ceritanya terasa klise. Cewek "biasa saja" yang jatuh cinta pada kakak kelas yang jago basket. Klise banget, kan? Yah, nggak juga sih sebenarnya. Soalnya si kakak kelasnya bukan diceritakan sebagai bintang basket, tapi seorang cowok yang sangat gemar sejarah.

Untuk segi karakter, saya punya plus minus. Plusnya adalah: saya suka dengan kedua karakter utamanya: Nina dan Panji. Nina diceritakan sebagai gadis yang rada-rada pahit karena terus-terusan dikatai gendut oleh orang-orang di sekitarnya (bahkan oleh keluarganya sendiri), tapi masih mampu bersikap baik terhadap mereka (sembari nge-judge orang itu di dalam pikirannya). Sementara Panji, dia seorang penggila sejarah yang mau berjuang untuk mencapai cita-citanya. Paling suka dengan interaksinya dengan Nina.

Nah, segi minusnya adalah: saya merasa ada banyak karakter yang agak tersia-siakan. Banyak tokoh di sekitar Nina dan Panji yang mendapat sorotan, tapi kemudian kurang berkembang. Semisal Wedari dan Raka, temannya Panji, atau Vera (eh, bener si Vera kan yah?), cewek bitchy yang suka sama Raka dan suka mengganggu Nina. Juga Nila, saudari kembarnya Nina. Di awal cerita saya mendapat kesan kalau Nila ini juga suka mengganggu Nina, tapi di tengah cerita dia tiba-tiba jadi kesannya baik dan suportif banget sama Nina.

Untuk ceritanya, saya suka banget sama paruh kedua novel ini. Usaha Nina menuju "kesempurnaan" terasa sangat nyata. Downward spiral yang dia alami juga sangat nyata dan terjadi dengan sangat halus :'). Riset tentang diet dan metodenya juga kelihatannya sangat teliti. Ada banyak referensi cara diet di sini. Diet yang biasa ada di majalah gitu lah, bukan diet macam OCD.

Secara keseluruhan, Perfection adalah novel yang mengangkat tema yang familiar, tapi kemudian memberi twist-nya sendiri. Ceritanya terasa nyata dalam memberikan gambaran tentang seseorang yang berjuang karena masalah imej tubuhnya.

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 Young Adult Reading Challenge
- 2015 New Authors Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
- 2015 100 Days of Asian Reads Reading Challenge
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
August 26, 2015
3.5/5 star

“Bercanda? Dari dulu ‘hanya bercanda’ memang selalu dijadikan pembelaan untuk mengatai orang lain. Yang mereka tidak ketahui, ‘candaan’ yang mereka lontarkan itu adalah senjata mengerikan untuk melukai perasaan seseorang. Termasuk perasaanku.”

Ini tentang kisah 2 anak kembar, Nina dan Nila. Nila yang cantik, kurus dan sempurna. Sedangkan Nina, hanya bisa pasrah dengan kondisi tubuhnya yang sedikit berlebih, bahkan cenderung gemuk. Walaupun Nina punya segudang prestasi di sekolah, bahkan dibandingkan Nila, kembarannya tubuhnya menjadi penghalang baginya. Semua prestasinya seakan tertutupi oleh tubuh gemuknya, Nina menjadi bahan becandaan teman-teman sekolahnya dan hal ini membuat Nina semakin gencar ingin mempunyai tubuh yang sempurna seperti Nila.

“Aku selalu menganggap perbedaan tubuhku dan Nila tidak adil. Kami, kan, sama-sama berada di perut Ibu selama sembilan bulan dan lahir hanya selang beberapa menit. Wajah kami pun identik. Kecuali—harus kutambahkan—pipiku ini terlihat seperti gelembung sabun.”

Apalagi sejak bertemu dengan Panji, kakak kelas yang tidak pernah mengejeknya bahkan menolongnya. Nina pun menyukai Panji, sosok kakak kelas yang sangat tergila-gila dengan sejarah. Perasaan pun bersambut, ternyata Panji punya perasaan khusus untuk Nina, namun Panji tidak pernah secara terang-terangan menyatakannya. Hanya lewat bahasa tubuh dan perhatiannya saja, hubungan mereka semakin dekat.

Hal ini pula yang membuat Nina mati-matian ingin mendapatkan tubuh yang proporsional dan sempurna, agar menjadi layak berpasangan dengan Panji. Dimulailah proses diet ketat ala Nina, semua buku kesehatan dilahap habis, segala cara diet hingga olahraga semua dicoba oleh Nina untuk mendapatkan berat badan yang diinginkannya.

Sayangnya, Nina seakan lupa diri. Nina terus-terusan merasa belum kurus, bahkan belum mencapat berat idealnya, padahal Nina sudah mulai merasakan gejala-gejala yang tidak beres dalam tubuhnya? Bagaimana akhir kisah Nina?

Novel ini sebenarnya sederhana sekali, mengisahkan tentang Nina seorang gadis remaja yang terobsesi untuk mempunyai tubuh yang sempurna seperti kembarannya, Nila. Obsesi yang membuatnya berusaha melakukan segala cara untuk mendapatkan impiannya itu. Apalagi ada motivasi cinta didalamnya, agar Nina menjadi layak berpasangan dengan Panji.

Novel ini kembali mengingatkanku untuk bisa lebih peka kepada sekeliling. Jangan bercanda kelewatan, apalagi bercandaan fisik. Walau memang hanya bercanda, tidak menutup kemungkinan itu telah menyakiti orang lain.

Sebagai pembaca, aku juga belajar dari sosok Nina dengan obsesinya. Obsesi yang berlebihan itu pastinya tidak baik. Harus lebih bersyukur dalam hidup.
Profile Image for Lelita P..
629 reviews60 followers
August 22, 2015
Sebenarnya sudah selesai tanggal 17 Agustus lalu, tapi minggu ini menyibukkan, jadi update status di sininya terpaksa ditunda.


1. Betul kata Ambu-san: novel ini "sehari-hari banget". Asli, detail-detail kesehariannya lekat sekali dengan kehidupan nyata. Mulai dari materi pelajaran--Fisika membahas apa, Matematika membahas apa, dsb. Keseharian di rumah--mengerjakan pekerjaan rumah tangga, menjaga kios di pasar, masak buat sarapan. Bayar ongkos parkir ketika pergi dari depan toko. Kerabat-kerabat yang resek. Jajanan sekolahan. Jam istirahat yang digeser karena kepotong Olahraga. Novel ini jadi terasa remaja Indonesia banget. :)

2. Tema ceritanya. Ini novel remaja kedua tentang anorexia yang saya baca dalam beberapa bulan ini, setelah sebelumnya membaca Sylvia's Letters. Tapi jika SL lebih kelam, kompleks dan kontemplatif, Perfection ini benar-benar lebih ke body image. Salut sama penulisnya yang menceritakan diet ekstrem Nina pakai hitung-hitungan kalori dsb. Dan sejujurnya, cerita ini sangat relatable buat saya, berhubung saya juga sedikit kurang tinggi sehingga terlihat tebal haha. -_-a (Tapi saya nggak diet ekstrem kok.) Sepanjang membaca ini saya kerap cengar-cengir kayak orang gila gegara saya bisa banget merasakan perasaan Nina. Salut lagi sama penulis yang bisa menangkap dan menggambarkan perasaan Nina itu dengan sangat baik; sangat tersampaikan ke pembaca.

3. Jalan ceritanya. Betul lagi kata Ambu-san: alurnya datar-datar aja, lambat dan nggak ada klimaks yang terasa sangat "wah" kecuali di akhir--tapi novel ini tetap asyik dibaca karena mengalir dan bikin pengin tahu endingnya. Sayang, saya merasa subplotnya terlalu banyak. Kesannya jadi... apa ya. Kurang fokus. Plotnya tidak satu-bulat-utuh karena "sangat sehari-hari" tadi. Well, berhubung YARN terakhir yang saya baca adalah Summit yang plotnya cepat, langsung dan tidak bertele-tele, jadi kebawa kali ya, dan merasa agak kebanting saat kembali membaca novel beralur lambat.

4. Berbagai history-thingy yang dibahas di sini bikin saya senyum-senyum, berhubung saya juga suka sejarah (meski nggak segila Panji).

5. Hubungan Nina dan Panji itu bikin gemes banget. :3

6. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil di sini, terutama buat para remaja. :)


Kutipan favorit banget banget banget:
"Selama kamu sehat, kamu selalu cantik di mataku, Na." (Panji)
Profile Image for Amaya.
745 reviews57 followers
August 17, 2023
Sejak lihat cover (tanpa baca blurb), sudah ada bayangan ceritanya mau dibawa ke mana, yang nggak kusangka, ternyata si karakter utama punya kembaran. Makin menarik, dong. Apalagi buku ini juga membahas candaan yang biasanya dinormalisasi sampai dianggap hal yang lebay kalau dipermasalahkan.

Yah, memang menyebalkan kalau berbuat apa pun ujung-ujungnya selalu salah, macam Nada. Tubuhnya nggak seideal kembarannya, Nila, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya dijadikan samsak ejekan. Mau jajan apa pun, sebanyak apa pun, pasti kena. Padahal makan, kan, bisa jadi mood booster buat sebagian orang. Nina makin sebal diejek, apalagi posisinya sebagai siswa baru saat itu, ketika aksi "protes"-nya berujung mempertemukan dia dengan kakak kelas baik hati dan menolongnya dari mulut pedas salah seorang temannya.

Mulai dari perkenalan itu, Nana mengubah mindset dan bertekad untuk kurus demi bisa bersanding dengan kakak kelas crush. Keinginan berubah menjadi obsesi ketika Nina tidak bisa lepas dari pandangan bahwa dirinya akan tetap menjadi gendut apa pun usaha untuk mengurangi berat badannya.

Relate banget ya, ceritanya? Sedih karena kurus atau langsing masih jadi patokan buat dapetin perhatian orang yang kita sukai. Tapi, back to the theme, ini young adult, paham banget kenapa Nina bisa minder sama keadaan saudara kembarnya lalu pandangan orang lain ke dia bikin dia mau nggak mau harus berubah. Nggak peduli kalau ada orang yang murni peduli bilang dia itu cantik apa adanya.

Ada beberapa hal yang mengganjal terkait alur (dan mungkin sedikit karakterisasi). Pertama, Nina memang kelihatan jengkel kalau ada yang mulai ngejek dia, tapi dia sendiri nggak memperlihatkan tindak-tanduk bakalan berubah. Kelihatan normal kok, awalnya. Dia suka sama Panji dan udah. Pernah ada yang nyinggung soal berat badannya dan Panji, tapi lagi-lagi aku nggak merasakan semacam "kemarahan" yang bikin dia murka sampai akhirnya memunculkan semacam obsesi. Obsesi itu muncul saat apa ya, intinya saat "serangan" olokannya udah agak mereda. Apa ini semacam after effect? Kalau benar gitu, aku nggak menangkap sama sekali dan bingung kenapa dia mesti diet ketat.

Penyelesaiannya well-done, nggak matang atau mentah. Ya tengah-tengah, deh. Terus aku bingung sama sikap orang tua Nina sama Nila sendiri. Di awal sempat melabeli mereka jahat, tapi apa ya, kalau mereka nggak jahat kok karakternya berubah cepat. Satu lagi, bukannya Panji juga egois ya, ngajak ngobrol hal yang dia suka doang tanpa nanya bener-bener ke Nina? Hmm, tapi nggak salah 100 persen kalo diinget karena Nina sendiri juga maksa suka hal yang nggak dia ngerti.
Profile Image for Poppy Trisnayanti Puspitasari.
8 reviews3 followers
February 10, 2017
Wahuu! Mbaca ini novel dalam 3 hari.

kesimpulannya?

ALAMI.

Banyak hal dalam novel ini nyentuh dan sesuai banget sama kehidupan sehari-hari, enggak drama. Perasaan bahagia Nina yang polos banget waktu pertama dibonceng cowok yang dia suka :') terus juga karakter dalam novel ini enggak hitam putih.

Bercerita soal Nina yang kena anoreksia, tokoh Nina enggak melulu terpojok gara-gara ejekan di lingkungannya yang menyakitkan, tapi juga karena cara dia menanggapi semua ejekan itu pada dirinya sendiri dengan kemarahan yang wajar pasti dialami seseorang yang merasa terpojok. Garis bawahi; merasa terpojok, terlepas ejekan yang dia terima emang betulan ejekan atau bercandaan yang orang hadirkan pada dia tanpa kira-kira yang kesemuanya seolah dikasih lingkaran besar bagi Nina sebagai EJEKAN BETULAN. Meskipun emang konsep ketidakpuasan Nina atas bentuk tubuhnya, salah satu faktor pendukungnya emang lingkungan yang seolah merestui konsepnya itu.

Raka yang mulutnya macem cabe juga enggak melulu jahat. Pada kenyataannya, dia ternyata solider banget sama teman. Nila kembaran Nina, yang dinggap punya bentuk tubuh lebih ketche dari Nina, kadang bercandain keadaan Nina juga sih... sekali pun gitu, dia sebenernya supporter nomor satu buat hal-hal baik bagi Nina.

Intinya, ini novel ALAMI!
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,430 reviews72 followers
December 1, 2015
Apa hubungannya NAZI dan pengidap anoreksia nervosa??? Akan kutuliskan di bawah ini :)

Kesan awalku saat membaca novel ini, datar... Maksudku bagaimana penulis menggambarkan suara hati Nina yang selalu diejek karena berat tubuhnya terasa datar hingga terlihat wajar. Hehe... Datar di sini nggak dalam maksud negatif ya. Seperti yang aku bilang barusan, cara penyampaiannya begitu wajar. Nggak sampai terbawa lebay atau genit seperti kecenderungan beberapa novel remaja lain. Akibatnya, aku yang sebenarnya masih harus baca buku lain buat memenuhi tuntutan review, begitu iseng baca novel ini, langsung tergelincir. Keterusan baca sampai ending hehe...

(Apa beda teenlit dan young adult btw? Bingung. Young adult terasa lebih mature kesannya. Tapi rentang usia tokoh-tokoh dalam novel ini pas untuk masuk dalam ranah teenlit. Ceritanya pun seputar kehidupan remaja dan gejolaknya. Buatku ini adalah teenlit yang gaya penceritaannya begitu matang dan tenang).

Rasa sakit Nina saat diejek orang-orang di sekitarnya begitu terasa, meski sekali lagi, tidak dituliskan dengan mengharu biru dan memaksa pembaca untuk berurai air mata. (Cara menulis Farrah yang terkesan tenang sungguh menarik untuk dipelajari mereka yang ingin belajar menulis).

Seolah Nina bilang gini, "Hatiku sakit diejek terus." Sesimpel itu.

Tapi entah karena ekspresi wajah atau cara bicaranya, yang dengar langsung ngerasa diaduk-aduk hatinya. Satu yang bikin geregetan cuma kepasifan Nina dalam menghadapi para pengejeknya. Apalagi waktu dia menolong orang-orang yang mengejek dia. Pasrah banget. Padahal, dengan otak cerdas Nina, seharusnya dia bisa main sarkasme dikit-dikit. Iya dia memasukkan sarkasme pahit yang bikin geli sekaligus gemas, tapi cuma di dalam kepala! Doang! Tapi ini mungkin wajar karena kecenderungan orang yang menjadi korban bully/ejekan akan selalu rendah diri sehingga pertahanan dirinya nyaris nol. Kepasrahan ini tidak terjadi ketika Nina melempar perut Raka dengan bola basket setelah diejek,

"Bola bisa ambil bola ya?"


YESH!


Yang menarik tentu saja hubungan Nina dengan Kak Panji yang begitu natural, melegakan hati (setelah melihat Nina diejek terus di sepanjang cerita), dan intelektual. Tadinya sempat menebak-nebak alasan mengapa penulis memasukkan unsur sejarah Perang Dunia II dan sepak terjang NAZI di dalamnya (kamuh benar-benar udah tamat baca Mein Kampf, Far??? Huaa). Mudah untuk suudzan dengan mengatakan hal itu sengaja dimasukkan hanya agar novel ini terlihat lebih canggih dari novel remaja lain. Tapi setelah direnungkan, aku mulai nangkap benang merah antara NAZI dan novel ini.

Setahuku, NAZI dan HITLER berambisi membuat satu ras Arya unggulan yang tanpa cela. Akibatnya mereka dengan keji membunuh orang-orang cacat, LGBT, kelainan mental dkk. Waktu nonton film The Pianist ada adegan tentara NAZI yang mendorong jatuh seorang kakek tua yang duduk di kursi roda dari jendela. Itu adegan nightmare banget. Dan ini yang langsung terbayang ketika akhirnya berhasil menemukan benang merah antara novel ini dan sisipan sejarah tentang NAZI. PEERFECTION. Obsesi dan ambisi akan kesempurnaan menjadi kata kuncinya. Agak kejauhan mungkin membandingkan obsesi Hitler untuk menguasai dunia dengan obsesi Nina menjadi kurus demi menguasai hati Kak Panji hehehe... Tapi ya, ada benang merahnya. Dan untuk itu aku harus bilang BRAVO buat Farrah.

Hanya saja, menurutku personal, novel ini bisa dibikin lebih berisi lagi dengan menyisipkan fun fact atau trivia soal sejarah perang dunia II di sepanjang naskah. Tidak hanya menyebutkan judul film bertema NAZI atau kutipan-kutipan sepintas lalu di footnote atau narasi singkat. Sehingga kesan bahwa unsur sejarah perang dunia II hanya menjadi tempelan bisa dihapuskan sama sekali.

Dan ini trivia sih, tapi aku penasaran kenapa Nina bisa menunjukkan ketertarikan besar pada Perang Dunia II di pelajaran sejarah. Karena menurut pengakuan Nina, dia baru tertarik mempelajari sejarah setelah dekat dengan Panji. Hmmm

Dan... baru ngeh kalau novel ini setingnya memang di Yogya. Unsur lokalitasnya agak kurang terasa soalnya. Soalnya kalau kebayang Yogya pastinya langsung nyambung ke eksotismenya kan. Andai lebih tergali lagi.

Yang aku suka dari cerita ini adalah bagaimana beberapa tokoh "antagonis" berubah secara pelan-pelan dan alami ke arah yang lebih baik.


Dan satu lagi yang bikin salut, referensi soal diet, Indeks Massa Tubuh, cara menghitung kalori dan sebagainya. Aku selalu kagum dengan cara Farrah menggali referensi demi novelnya. Dan kali ini aku semakin kagum. Nggak semua orang kuat mempelajari cara menghitung Indeks Massa Tubuh, Metabolisme Basal, hitungan kalori dan sebaliknya. Meskipun sempat pusing karena isi kepala Nina tiba-tiba penuh angka, dimasukkannya elemen ini justru membuat obsesi Nina terlihat begitu riil. Sekaligus meneguhkan kesan bahwa Nina memang pintar secara akademis (setidaknya kecerdasan matematikanya bermain lah). Jadi ketika Nina dibilang pintar di sini aku percaya karena adegan-adegan novelnya memang memperlihatkan itu.

Karena banyak sekali novel yang bilang tokoh utama wanitanya pintar tapi sayangnya lupa membuat pembaca yakin kalau tokohnya memang pintar. Dipuji guru, memberi contekan PR tidak cukup membuatku yakin kalau Nina itu beneran pintar. Masuk ke isi kepalanya, pertimbangannya, dan perhitungannya indeks massa tubuh+kalori langsung membuatku mengamini hal itu. Dan oh ya, Nina di sini tampil alami. Dia nggak seperti tokoh-tokoh novel lain yang kesannya "pingin banget diakui pembaca sebagai tokoh pintar" (entah dengan menyebarkan kutipan sains atau ilmuwan di sepanjang narasi dan dialog yang penempatannya sering nggak nyambung). Nina bahkan dengan rendah hati mengakui soal kekurangpahamannya dengan sejarah dibanding Kak Panji dan Kak Wedari. Dan usahanya untuk belajar biar bisa nyambung dengan Kak Panji sungguh imut dan menggemaskan. Tak hanya usaha fisik, tapi juga usaha otak :)





Novel yang dari awal sudah begitu rapi dan sabar dalam menguraikan kisahnya ini sayang harus berakhir dengan cepat. Bagian efek anoreksia Nina ditaruh di akhir dan kesannya agak buru-buru. Mungkin karena batasan halaman. Tapi seandainya novel ini dibuat lebih tebal demi memperlihatkan kengerian yang dialami penderita anoreksia dan bulimia, aku ikhlas kok, Far. Sungguh xD Karena bagian ini yang justru paling penting. Yang lebih terasa akhirnya adalah gejolak perasaan Nina yang terus-menerus diejek, bukan soal anoreksianya. Aku merasa prihatin dengan yang dirasakan Nina, tapi belum merasa ngeri. Padahal, kalau liat siaran dokumenter soal penderita anoreksia dan bulimia, kesannya kan ngeri banget.

Mungkin Farrah di masa depan tertarik bikin novel yang fokusnya ke efek dua penyakit psikologi ini? :)


Novel ini sebenarnya layak dapat lima bintang jika manajemen plot, karakter, dan adegannya dibuat lebih imbang :)Atau mungkin reader aja yang kecenderungannya jadi demanding ya... Hehehe...


Yang jelas aku nggak akan menyesal beli novel ini. Dan akan terus menanti karya-karya keren dari Farrah yang berikutnya :)

Go go go Farrah Ranger! XD


NB: Sudahkan Ima membaca novel-novelmu? Huahahhaha
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
October 13, 2018
Gila,
suka banget.

***

awal mula saya melihat buku ini di goodreads tuh penilaian singkat saya ''ah paling ceritanya bisa ketebak. standar seperti novel2 lain yg pernah mengangkat tema seperti ini juga''

TAPI INI BEDA!

GAK KETEBAK BANGET ENDING DAN CERITANYA!

Banyak hal sih yang membuat saya suka dengan buku ini.
Nama tokoh yang sesuai dengan latar tempat dan sifat (check)
Sampul yang menarik (check) *kayaknya ini buku pertama saya yg warnanya agak ngejreng gini
jalan cerita yang oke (check)
ending yang gak ketebak (check)

nyaris sempurna lah ya untuk indikator penilaian novel bagus menurut saya hhe.

Saya suka nama Panji dan Raka. kebetulan dulu saya pernah punya gebetan bernama Panji dan pas baca ini jadi bayangin dia. Trus saya juga suka nama tokohnya- Nina dan Nila. Semuanya terasa cocok aja gitu.

Buku ini berhasil bikin nostalgia juga sih. kebetulan dulu saya sering main ke perpustakaan juga, kenalan sama kakak kelas juga yg bernama kak Mentari Pratiwi. trus berlanjut ke kenalan dengan teman2 cowoknya juga. sayang pertemanan saya gak berlanjut dan gak ada adegan cinta bersambut seperti di cerita ini wq.

saya juga banyak dapat pelajaran menarik dari buku ini. sedikit banyak mengetahui tentang sejarah, dapat pengetahuan seputar kesehatan dan cara membuat badan kurus dan lainnya. sempat membuat saya merenung juga pas di bagian yang Nina mengecek kalender dan mendapati bahwa dirinya sudah hampir 3 bulan tidak haid semenjak berdiet. dulu saya pernah gini juga soalnya. bedanya adalah, saya dulu gak haid karena gemukan.

baca buku ini juga bikin saya nostalgia. jadi inget kalau berat badan saya pernah naik sampai 72kg dan pernah kurus sampai 38kg. penyebab keduanya sama. stress dan kebanyakan tidur. makanya saya kadang suka heran sama orang yang bisa gemuk atau kurus karena ngurangi makan. 2x saya pernah gendut banget dan kurus banget penyebabnya karena stress, jarang makan dan sering tidur.

selesai membaca ini saya juga jadi bernostalgia teringat beberapa teman sekolah saya dulu yang memiliki berat badan di atas rata-rata. jujur saja, saya kayaknya nggak pernah sih ngomongin atau menyindir atau bahkan memberi mereka julukan yang aneh2 gitu. saya kebanyakan diam tapi mengamati mereka gitu dan kebetulan berteman baik dengan mereka juga.

tapi saya juga berteman dengan orang-orang yang suka ngomongin mereka T_T. jadi saya berada di posisi netral yang kadang suka main dengan yg kurus tapi juga berteman cukup akrab dengan yang gemuk. pikiran saya sedikit banyak tercerahkan kalau memberi labelling seperti itu tidak baik, mengatai mereka gendut tak lantas membuat mereka kurus tapi menerima julukan kurus dan berpikir ''yaudahlah emang gue gendut'' juga tidak akan mengubah apapun.

ya gitulah hhh
bagus.

kayaknya dari seri YARN ini, ini yang jadi kesukaan saya banget. oh, saya juga suka gaya bahasa yang dipakai mbak Farrah. santai seperti obrolan sehari-hari di dunia nyata tapi tetap berbobot.

beberapa kutipan kesukaan.

''kebiasaanku yang baru ketika makan, aku akan menghitung kunyah demi kunyah sampai berjumlah tiga puluh satu, baru kutelan. aku pernah membaca dengan melakukan hal ini, kita akan cepat merasa kenyang. sedikit banyak aku merasa bahwa ini benar. mungkin perngaruh sugesti, mungkin juga tidak. yang pasti aku merasa lebih cepat kenyang walau belum sampai sendok terakhir masuk mulut''

''sadar atau tidak, di Indonesia ada semacam tradisi ketika seseorang memiliki hubungan yang denkat dengan kita, maka semakin seenaknya pula dia boleh mengata-ngatai kita''

''tuhan, kalau ini rasanya surga, aku tidak ingin tahu apa itu neraka''

BAGUS!
Profile Image for D. Wijaya.
Author 2 books35 followers
October 5, 2015
Aku udah baca empat YARN, dan ini adalah YARN dengan premis paling bagus sejauh yang aku baca. Mengangkat isu tentang body image, Perfection dengan mulus membawa aku mengikuti kisah Nina yang berjuang—bahkan sampai terobsesi—mendapatkan bentuk tubuh yang sempurna.

Mari mulai dengan poin-poin plusnya.

Pertama, aku suka banget dengan premisnya, seriusan. Ini novel tentang body image pertama yang aku baca dan Farrahnanda berhasil memperkenalkan padaku jenis bacaan ini dengan sangat baik. Pesan dari ceritanya sederhana, tapi penting.

Kedua, penulis menyampaikan isi kepala Nina dengan narasi yang bagus, aku jadi gak ngerasa bosan. Berkat novel ini pula aku jadi agak paham apa yang ada di pikiran para penderita anoreksia nervosa. Perjuangan diet Nina sampai berakhir ke anoreksia juga terasa mulus, semulus paha Cherrybelle.

Ketiga, chemistry antara Nina dan Panji itu pas, gak ngambang, gak juga terlalu manis. Pokoknya pas. Dan aku selalu suka dengan hubungan seperti Nina-Panji ini; dekat, tapi tanpa status. Entah bagaimana, rasanya hubungan seperti itu lebih dalam dibanding jika dilabeli dengan kata 'pacaran'.

Poin minusnya cuma satu. Rasanya ada banyak tokoh yang cuma numpang lewat. Wendari, Vera, Ines, Rio dan beberapa yang lain yang bahkan aku gak ingat lagi namanya.

Direkomendasikan buat kita yang punya kecenderungan mengejek fisik (sebenarnya gak terbatas fisik aja sih) seseorang. Semoga setelah baca ini, kita jadi paham kalau apa yang kita anggap cuma lelucon bisa jadi adalah pisau yang menusuk hati mereka.

Think before you speak. Your words may kill someone.
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
September 27, 2015
Oke, maafkan karena bacanya yang lama dan lama juga baru reviewnya :)

Perfection berkisah tentang Nina yang punya kembaran bernama Nila. Identik, kecuali bentuk tubuh di mana Nina lebih berisi dibandingkan Nila. Awalnya sih, baik-baik aja meski Nina jengkel juga karena sering diledek. Tapi semua berubah begitu Nina naksir dan mulai dekat dengan Kakak kelasnya; Kak Panji. Dari situlah, Nina jadi terobsesi punya tubuh selangsing Nila, bahkan kalau bisa lebih langsing lagi.

***

Sama seperti review yang lain. Kisah Perfection ini memang membumi banget, ada adegan jaga kios, ada adegan gantian bersih-bersih rumah, kencannya juga nggak yang wah-wah banget, mereka ke pasar malam. Pokoknya kayaknya ya emang gitulah seharusnya jalan-jalan ala anak muda. Nggak melulu soal kafe atau mal. Terus mereka masangin juga di alkid. (bikin berniat ntar kalo ke Jogja pengen masangin juga hihihi)

I like this book. Bahkan soal Kak Panji yang kuliah di luar kota itu terasa real (soalnya aku demen cerita yang cowoknya walau mau ke luar kota akan tetap 'tinggal'--oke, aku emang ratu drama) dan aku baik-baik saja dengan cerita itu. Hehehe

Btw, Kak Farrah, di Jogja ya? Aku Desember ke Jogja nih, kira-kira bisa ketemu nggak? I'd love it if you can sign on my copy ;)
Profile Image for POP & Ice Cube.
11 reviews82 followers
Read
November 16, 2015
NOW WE'RE ONE OF THOSE TOP 5! :"D *TEARS OF JOY*

WON'T MAKE IT WITHOUT YOU, THO. SO PLEASE HELP US TO #VOTEPERFECTION ONCE MORE HERE https://goo.gl/5ItZB5 AND BE THE CHAMP.

MERCI BEAUCOUP, NOS AMIS! ;)

===

THANKS FOR YOUR VOTE, NOW WE MAKE IT TO THE TOP 10!

YUK BANTUIN LAGI BUAT #VOTEPERFECTION DAN MENANGIN KATEGORI SAMPUL TERFAVORIT API 2015 DI SINI: https://goo.gl/DjOo0T.

MAKASIH BANYAAAK :D

===

WOOHOO PERFECTION MASUK NOMINASI SAMPUL BUKU FIKSI TERFAVORIT DI ANUGERAH PEMBACA INDONESIA 2015!

YUK BANTU VOTE DI SINI: https://goo.gl/4GOsNY :D

Untuk lebih kenal dengan sosok di balik desain sampul PERFECTION, cek di sini: https://goo.gl/M7yGQv :)

THANK YOU~!
Profile Image for Dian Achdiani.
207 reviews26 followers
July 10, 2015
Pemaparannya lurus-lurus aja engga banyak konflik, tapi ambu suka karena mengupas keseharian remaja biasa. Jarang lho yang kaya' gini, bahwa anak-anak juga punya tugas, punya kewajiban dalam rumah, bukan cuma sekolah sama nge-mall melulu. Suka pemaparan mereka bantu ortu jaga kios, suka saat Nina beberes rumah...

Dan suka juga saat pemaparan yang lurus-lurus tadi mengarah ke-enggaakandibilanginahnantispoiler xD

DAN AMBU JADI PENGEN PEMPEK! xD
Profile Image for Siska.
92 reviews
March 2, 2019
Cukup waktu sekitar dua jam untuk aku selesai membaca novel yang satu ini. Mungkin didukung rasa ketertarikkanku dengan kisah yang setipe dengan novel ini. Terutama di bagian "cewek gendut".

Oh, tapi prediksiku mengenai jalan cerita dan konflik di dalamnya sedikit meleset. Dan urghhh, untuk sekali ini, aku sempat merasa kayaknya nggak seperti ini deh. (Because, i am one of them)

Tapi setelah aku pikirkan, pola pikir setiap orang berbeda, lingkungan berbeda, ketahanan mental setiap orang berbeda, dan mungkin saja, tidak sedikit mengalami apa yang dirasakan oleh Nina dan menjadi seperti Nina.

Nina, memiliki tubuh yang gemuk jika dibandingkan saudara kembarnya. Yang nggak punya saudara kembar aja, suka enek kalau dibandingkan dengan orang lain atau dengan kakak atau adik mereka, Nina harus dibandingkan dengan saudara kembarnya. Ia merasa semua berpihak ada Nila, hanya karena Nila terlihat lebih kurus dan lebih cantik. Tidak memandang Nina yang sudah berusaha untuk menonjol di sisi akademis. Dan tiba-tiba Nina merasa jatuh cinta pada Panji, sang kakak kelas yang baik kepadanya. Karena banyaknya cemoohan mengenai tubuhnya dan sempat ada yang mengomentari ketidakpantasan Nina dekat dengan Panji, membuat Nina bertekad untuk menurunkan berat badannya agar ia bisa terlihat pantas berada di sisi Panji. Agar ia terlihat sempurna.

Menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Nina, membuat kita dapat menyelami apa yang dipikirkan Nina. Sampai kesal juga sama perlakuan dan perkataan yang diterima Nina, tapi nggak habis pikir juga sama beberapa pola pikir Nina.
Alur bergerak maju dan jalan cerita terasa pas.
Setting tempat dan waktu dijelaskan cukup baik.
Dari segi ide cerita dan konflik menurutku fresh. Meskipun sebenarnya terkesan umum, tapi ini lebih dark aja kesannya menurutku kalau dibandingkan dengan ide yang setipe.

Novel ini mengangkat tema body shaming yang sebenarnya tanpa disadari sudah merubah pola pikir seseorang. Terlepas dari maksudnya yang entah hanya bercanda atau tidak, mental setiap orang berbeda. Ada yang bisa jadi pemicu ke arah positif atau justru bisa berdampak negatif. Terkadang kita suka tidak menyadari efek ucapan atau mungkin candaan kita yang bisa bagaikan pisau kasat mata. Tak nampak, tapi meninggalkan luka yang juga tak nampak.
Profile Image for Seffi Soffi.
490 reviews142 followers
July 6, 2020
3.5🌟

Suka ceritanya. Cuman agak gemes dengan ambisi yang dilakukan Nina. Ya emang sih masa2 remaja emang labil gitu. Tapi bikin gregetan gitu.

Ya kadang efek omongan dr orang lain itu membekas bgt, apalagi menyangkut yg ada di diri kita.
Profile Image for mollusskka.
250 reviews159 followers
June 28, 2020
Ini adalah novel pertama Farrahnanda yang aku baca. Sebenernya sih Farrah udah banyak punya novel, tapi baru ini yang berhasil aku dapat hehehe. Dan itu pun nyempil di deretan buku komik dan anak-anak. Aneh, kan?
Jadi buku ini bercerita tentang dua anak kembar bernama Nina dan NIla. Meski mereka kembar tapi ukuran tubuh mereka beda banget. Yang satu kurus sementara yang satunya lagi gemuk. Awalnya aku ngira mereka bakalan suka berantem karena sering dibanding-bandingkan, tapi akhirnya Nila mau juga bantuin Nina untuk melaksanakan program dietnya. Dan aku sering tersenyum-senyum membayangkan kekompakan dua saudara kembar ini. Cool!
Aku senang juga karena penulis mencoba menggambarkan kehidupan tokoh yang begitu sederhana dan begitu dekat dengan kebudayaan Jawa. Zaman gini, udah lama juga aku nggak baca cerita remaja yang kedaerahannya lumayan kental. Kebanyakan yang aku baca, kehidupan anak mudanya condong ke barat. Pemilihan namanya pun sesuai banget sama setting dan kehidupan si tokoh. Begitu menurutku.
Ada lagi. Awalnya aku mengira percakapan soal Perang Dunia dan Hitler cuma sekedar pemanis dan untuk memberikan kesan intelek dalam novel ini, tapi di akhir cerita ternyata aku salah. Nina menyamakan dirinya dengan Hitler yang memiliki ambisi yang begitu besar. Ambisi itu yang membunuh dirinya sendiri. Dan Nina nggak mau memiliki nasib sama dengan Hitler. So, sejarah itu memang penting banget untuk dikenang.
Kata-kata dan narasi dalam novel ini menurutku begitu sederhana. Sehingga di awal-awal sampai bab 12 cerita berjalan flat. Dialog-dialognya pun terkesan kaku. Dan seingatku perawakan Nina dan Nila kurang begitu detail, selain ukuran badan mereka. Sebenernya aku pun penyuka kata-kata sederhana, tapi untuk cerita Perfection ini penilaianku sedikit berbeda dan cenderung merasa bosan. Tapi aku mulai tersentak ketika masuk ke bab 13. Kata-kata tetap sederhana, tapi jalan ceritanya mulai menarik dan bikin pengen terus baca dan baca lagi. Dialog yang digunakan pun nggak kaku kayak di bab-bab awal. Peristiwa Nina yang mencubiti tubuhnya sampai memar itu benar-benar menguatkan jalan cerita. Lalu soal ketelitian Nina dalam mengatur asupan kalorinya bikin geleng-geleng kepala. Gila ya kalo orang udah punya ambisi. Sampe detil-detil terkecil pun dia perhatiin. Dan kalo udah terserang yang namanya Anorexia Nervosa, badan udah setipis jarum pun masih dia bilang gemuk. So dangerous. Tambahan yang aku tahu, Anorexia Nervosa ternyata bisa berakibat fatal pada jantung.
Yang bikin aku tambah suka, tokoh Nina dalam cerita ini katanya temennya penulis. Berarti si penulis nggak main-main bikin cerita ini. Riset pasti diperlukan banget. Dan soal kalori itu kan pastinya bukan cuman karangan semata. Tokoh yang diambil dari kisah nyata ini menjadi nilai plus dalam novel ini. Sebenernya aku pun punya temen yang kisahnya mirip-mirip kayak Nina. Dan aku jadi mengerti betapa candaan yang menjatuhkan seseorang itu bisa berpengaruh besar pada kehidupan seseorang. So watch your mouth, guys.
Profile Image for Abdul Azis.
127 reviews13 followers
March 22, 2015
Bagus Banget !!!!

(rekomendasi cara membaca : bayangkan sosok Nina adalah temen SMA lo yang punya badan gendut dan pernah lo bully - in a good way tapi).

Gue pikir seri YARN tu cuman tiga biji doank dan ternyata berlanjut. dimulai dari acara tidak sengaja gue memilih buku didalam tumpukan yang 'dia dibeli dan diletakan begitu saja', gue sedikit ragu diawal pas liat covernya yang dari semua seri ko begini amat, yah walaupun yang ini udah jelas ngegambarin ceritanya. dengan susunan warna yang ijo kekuningan-kuningan yang bisa dibilang lumayan eye catchy lah ya. enough about the cover. balik ke isi novel, gue suka dari idea tulisan yang ngangkat tema 'maen fisik'. oke gini ceritanya, setiap orang pasti pernah dibully atau dikata-katain, begitu juga dengan gue. kalo dicerita si Nina ini sering dikatain gembrot, sintal, sekel atau kelebihan lemak dibadan, gue juga, tapi bedanya yang ini diidung. ko bisa ???. gue kurus, dulu atau lebih tepatnya sampai sekarang gue masih denger orang-kalo bisa dibilang orang kalo suka ngatain- kalimat menohok menusuk uluh hati gue dengan candaan seperti : ' makanya kalo nunjuk tu pake jari, jangan pake idung' atau ' zis, lo ko gendutan?.. idungnya.' adalagi 'makanya kalo makan tu hasilnya kebadan jangan keidung' -dengan kondisi temen gue watir karena gue saking kurusnya.

Kalimat-kalimat kaya gitu sebenernya candaan si cuman tetep aja suka miris kalo didenger. sama halnya dengan isi novel ini, Sosok Nina yang gemuk diceritakan punya kembaran Nila yang langsing. karena jatuh Cinta sama kakak kelasnya yang bernama Panji, Nina berusaha keras buat jadi kurus walau akhirnya keputusannya menghasilkan konsekuensi tersendiri.

Sebenernya yang paling gue suka dari novel ini selain idea, ada alur yang gak berantakan sama sekali pas sama karakternya yang emang masih SMA ababil alias teenagers jaman sekarang. ada juga candaan - candaan yang menurut gue levelnya udah setara sama 4R karangan orizuka walaupun porsinya gak begitu banyak tapi mengocok bahkan baru sampe hal 39. mengenai karakter, karena POVnya diambil dari sudut pandang ke tiga, gue pikir yang paling gue suka adalah kak Panji, ko laki? haha... gak tau pas bagian si Nina lagi bareng atau ngobrol sama Panji, kayanya Panji teduh aja. dipertengahan cerita kirain gue bakalan ada pertengkaran antara Nila sama Nina atau Panji yang selingkuh setelah ngelanjutin kuliahnya dan ternyata gak, dan menurut gue itu bagus kalo ada bakalan kaya sinetron ababil. kelamahan mungkin ada diending yang sebenernya gue berharap agak lebih sama karakter Nina ini, apalagi pas diEpilog. oia, karakter lain semisal Nila, Raka dan Rio ini juga bagus, dalam artian nge-blend sama cerita.

Jadi intinya novel ini enak banget buat dilahap. he..

QN : sebenernya seri YARN ini siapa yang menang? trus bakalan keluar berapa buku lagi? mungkin ada yang bisa jawab? Merci....
Profile Image for Asmira Fhea.
Author 7 books31 followers
October 2, 2015
Kesan pertama pas selesai menutup novel ini: Si Nina gelo banget!! Perjuangannya buat nurunin berat badan itu... ya ampuuuun... sampai setengah dari berat badan semula!! Bikin tercengang karena segitu gigih dan ngeyelnya si karakter Nina.
ps: amanat 1 : kegigihannya boleh ditiru. Sampai cara detailnya dia mengatur gizi pun, bisa dibilang keren lah.
amanat 2: Saking obsesifnya, Nina sampe lupa bahagia. Seketat-ketatnya diet, boleh lah cheating dikit2 biar nyenengin mulut.
*lho kok jadi curhat*
48 reviews2 followers
July 12, 2018
Konsep ceritanya bagus, namun membacanya agak sedikit membosankan sehingga ada bagian yg dilongkap-longkap oleh saya.

Tapi isu yang diangkat memang nyata terjadi pada remaja dan penting utk diperhatikan terutama terkait body image
Profile Image for Didi Syaputra.
53 reviews13 followers
May 30, 2020
❝Bercanda? Dari dulu 'hanya bercanda' memang selalu dijadikan pembelaan untuk mengatai orang lain. Yang mereka tidak ketahui, 'candaan' yang mereka lontarkan itu adalah senjata mengerikan untuk melukai perasaan seseorang.❞ —Hlm. 51

Vanina Saraswati. Gendut dan suka gorengan, itulah gambaran sosoknya. Dengan postur tubuh yang sedemikian besar jika dibandingkan dengan kembarannya- Vanila Saraswati yang sangat ideal untuk ukuran gadis kebanyakan membuatnya semakin terkucil, setidaknya dalam hal perbandingan berat badan.

Babak baru hidupnya dimulai ketika Nina— panggilan akrabnya dipertemukan dengan Panji, kakak kelasnya. Sosok cowok yang berbeda dari kebanyakan, tidak pernah membahas 'fisik' ketika mereka berdekatan dan yang terpenting tampaknya Nina mulai menaruh hati padanya.

Berawal dari sinilah petualangan memangkas lemak tubuhnya dimulai. Demi bisa menjadi sosok yang sempurna untuk mendampingi kakak kelasnya itu dan Nina juga sudah sangat geram dengan ocehan merendahkan orang-orang tentang fisiknya.

Kesan pertama ketika membaca novel ini, NGENA BANGET. Mengingat ide yang diambil sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bisa dibilang novel ini cukup mewakili keresahan para insan yang memiliki kelebihan dalam berat badan.

Lewat Perfection ini, penulis ingin menyadarkan kita semua (red. pembaca) bahwa setiap kata-kata yang terlontar dari mulut kita sangat berpengaruh bagi kesehatan mental orang lain. Bahkan bisa berakibat fatal bagi kehidupannya. Karena kita tidak pernah tahu isi hati seseorang.

❝Kekurangan seseorang bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan sebuah lelucon.❞ —Hlm. 139

Novel ini sangat direkomendasikan buat kamu yang butuh bacaan relevan bagi kehidupan sehari-harimu.
Profile Image for Alfi.
45 reviews2 followers
April 7, 2020
Ini kisah Nina yang suka dibuli karena bentuk tubuhnya yang gendut dan perjuangan dia mencapai kesempurnaan. Kisah Nina yang sangat mirip dengan kisahku, rasa-rasanya pas baca ini, Nina adalah aku.

Suka banget!!! Kisah Nina seperti menjadi pengingat buat aku sendiri. Aku gendut dan ngga percaya diri. Pengen diet tapi takut. Untung aku baca ini. Pesan yang kutangkap, apapun bentuk tubuhmu, bersyukurlah. Apapun perkataan orang yang menyakitimu, abaikanlah. Nina, terima kasih sudah menjadi pengingatku. Pokoknya suka banget, seri yarn emang the best!!! Alurnya santai, ngalir gitu aja tapi nggak dilupain dong. Pokoknya ini paling favorit!!!!

Membaca ini bikin nagih, membuka lembar demi lembar menjadi menyenangkan karena rasa penasaran akan terbayarkan saat membaca cerita selanjutnya. Apapun yang dilakukan Nina ditulis detail, bahkan kalori pun dirinci sedemikian rupa. Buku ini jadi mirip buku kesehatan, karena membahas nasi itu berapa kalori, telur rebus bisa cepat mengenyangkan, pekerjaan rumah bisa membakar kalori. Pokoknya seru banget deh!
Profile Image for Melati.
70 reviews
September 28, 2018
Topik yang diangkat bener-bener 'realistic', deket banget sama apa yg terjadi di kehidupan kita. Body shaming.

Baca ini tuh rasanya kesel, gara-gara banyak yg ngomentarin gimana bentuk tubuh Nina😭😭 apalagi keluarga sendiri, ADUH ITU NGESELIN BANGETT😭💔

Aku sama tokoh Panji. Dia tuh tipe-tipe cowo yg selama ini aku cari buat jadi sahabat:'). Sayangnya aku blm menemukan di dunia nyata:( bisa diajak brain-storming, ngomongin sejarah, dia juga jujur, tanggung jawab, dan apa adanya duhhh.

Kekurangan ini menurut sudut pandangku aja sih. Aku kurang suka sama karakter Nina:(, ya mungkin aku kurang suka sama dia karena dia selalu bikin diri sendiri di bawah tekanan gitu, dan dia terlalu ngambil hati omongan orang:') yang berujung kayak gitu...
Kekurangan yg lain, aku beberapa kali nemuin kalimat yang ngga pas gitu, kayak salah sebut nama, typo, atau yg ngga baku. Masih bisa buat dipahamin kok.
Profile Image for Nike Andaru.
1,638 reviews111 followers
February 3, 2022
13 - 2022

YARN series kedua yang saya baca. Karena memang buku ini dan Remedy itu gak punya versi buku fisiknya, eh ternyata muncul di GD, jadi ya coba dibaca duluan aja.

Kali ini cerita besarnya tentang kesempurnaan atau kecantikan perempuan = kurus. Nina adalah saudara kembar Nila yang punya tubuh berbeda. Nina selalu diolok-olok karena bertubuh gendut, beda dari Nila yang kurus. Banyak anak di sekolahnya yang sering secara sadar melukai Nina karena perkataan yang menyakiti soal tubuhnya. Mengesalkan sekali memang, kadang tanpa sadar juga keluarga atau orangtua memberikan komentar yang gak enak. Apalagi setelah Nina dekat dengan seorang Panji, makin deh merasa dirinya harus sempurna = kurus.

Ya, ceritanya sederhana, diceritakan dengan ngalir tanpa berlebihan dan tentu saja jadi punya pesan moral yang baik untuk remaja yang baca buku ini.
Profile Image for Melati Tegugur.
76 reviews4 followers
September 10, 2018
Aku pernah ada di posisi Nina. SMA dengan bobot sebanyak itu. Tp aku bersyukur, aku tidak ambil pusing dengan segala ejekan tersebut. Singkat kata, aku tidak pernah mencoba diet ekstra. Tp aku sangat mengerti gimana rasanya ada di posisi itu. Resah karena takut ga bakal punya pacar, ga bakal ada orang yg tertarik, merasa diri selalu jelek. Aku sudah mengalami fase itu.

Hanya saja, aku sangat sedih saat ketakutanku akan keadaan Nina menjadi nyata. Anorexia. Seharusnya dia tidak mengidap itu, andai saja, andai saja, andai

Semua orang bisa menahan mulut mereka. Dan tidak mengatasnamakan bercanda.
Profile Image for Indri Octa Safitry.
Author 1 book18 followers
January 31, 2021
Ceritanya cukup bagus. Tentang Nina yg berusaha mengurangi berat badannya karena kesal dibanding2 kan dengan kembarannya. Terlebih saat dia menyukai kaka kelas. Sampai gila2an diet. Ya mulut netizen emang sejahat itu. Bahkan bisa berdampak trauma. Mereka hanya beranggapan itu hanya bercanda tapi nyatanya justru menjadi kalimat menyakitkan

Suka sih, cukup rapih penulisannya. Latar kota jogjanya kurang tereksplore sih tapi cukup lah. Karakternya juga sih cukup kuat. Overall bagus
Profile Image for kik.
159 reviews1 follower
April 15, 2021
this book is underrated menurutku. topik yang diangkat sangat anak muda banget, dekat dengan apa yang terjadi di dunia nyata, dan aku yakin banyak orang bisa merasa relate dengan kisah buku ini. salah satu buku bacaan yang sukses mengajarkan kita tentang self-love dalam narasi sederhana, seru dan tidak menggurui. a must to read, tapi beberapa bagian dari buku ini mungkin bisa mentrigger pembaca, jadi tetaplah berusaha untuk bijak selama mengikuti ceritanya.
Profile Image for Stef.
590 reviews190 followers
October 23, 2018
Buku series YARN pertama ku baca gara-gara blurb bukunya. Premis yg ditawarkan lumayan seru, perihal body shamming yang berujung obsesi buat kurus yang kelewat salah. Sebenernya pesan buku nya bagus, konflik nya juga oke. Cuman kurang pengembangan karakter-karakter minor nya, padahal tokoh-tokoh minor nya lumayan buat di kembangin.
Profile Image for Maria Magdalena.
1 review
July 9, 2015
Judul: PERFECTION
Penulis: Farrahnanda
Penerbit: Ice Cube Publisher
Halaman: 238 halaman
Terbitan: Maret 2015

“Dik, tolong lempar bolanya ke sini,” pinta salah seorang kakak kelas sambil menyeka keringat yang mengucur dari kening.

Setengah malas aku menuruti permintaannya, berdiri untuk mengambil bola basket. Sampai kemudian, salah seorang dari mereka menyeletuk, “Bola bisa ambil bola, toh?”

Dalam waktu singkat, orang-orang yang ada di sekitar lapangan basket tertawa. Semua mata memandang ke arahku. Akhirnya aku jadi pusat perhatian, tapi bukan seperti ini yang kuinginkan.

Hampir seumur hidupnya, Nina berada di bawah bayang-bayang Nila, saudari kembarnya. Wajah mereka identik, tapi Nila yang memiliki tubuh sempurna selalu mencuri perhatian, sementara Nina yang badannya lebih berisi hanya kebagian ejekan. Tapi Nina tidak pernah menjadikan berat badan sebagai masalah utama dalam hidupnya, sampai ia diajak berkenalan oleh Panji, kakak kelas yang menjadi tambatan hati. Tidak mau menyia-nyiakan kejadian langka ini, Nina bertekad untuk menjadi sosok ideal untuk Panji. Dan perjalanan Nina menuju kesempurnaan pun dimulai.

Cerita soal adik kelas yang minder dengan penampilan fisiknya dan naksir kakak kelas ganteng memang klise. Tapi bila dibumbui dan diracik dengan tepat, tentu hasilnya menarik. Inilah yang terjadi dengan buku ini.
Adakah perempuan yang senang menjadi gendut dan dibanding-bandingkan dengan kembarannya yang langsing? Saya pikir tidak. Begitu juga dengan Nina, sang tokoh utama dan kembarannya Nila. Nila yang cantik vs. Nina yang pintar, Nila yang dicintai keluarga vs.Nina yang (sepertinya) agak kurang dicintai. Satu pelajaran menarik yang bisa diambil dari cerita ini adalah: love should come from all sizes. Tidak peduli apapun ukuran kamu, kamu bisa mencintai dan dicintai.

Hal lain yang dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah komentar sanak saudara dan teman-teman yang suka seenak udel. Mentang-mentang bercanda, mereka pikir tak apa untuk meledek ukuran tubuh. Padahal hal itu bisa bikin yang disinggung emosi batin (pengalaman *loh* haha). Betapa kita harus menjaga mulut untuk tidak asal berkomentar.

Saya punya dua komentar besar: komentar tokoh dan komentar beberapa bagian cerita.

Nina: Saya pikir, konsep diri Nina akan makin baik jika diperkuat di akhir cerita. Misalkan: ia menyadari bahwa untuk menjadi cantik juga tidak boleh serta merta melupakan kesehatan. Atau: mencintai artinya menerima, dicintai artinya diterima. Bagaimana cinta membutuhkan proses mencintai dan dicintai. Bagaimana arti penerimaan Panji terhadap Nina seharusnya diimbangi dengan penerimaan Nina terhadap dirinya sendiri. Sehingga penokohan Nina makin tajam.

Panji: Terlalu sedikit dan sepele hal-hal terkait Panji yang saya baca. Ada baiknya bila tokoh Panji semakin digali lagi karakternya.

Nina: Perubahan tokoh Nina dari jahat jadi baik terlalu tiba-tiba. Akan lebih baik bila dibuat bertahap disertai alasan mengapa ia berubah.

Raka: Saya suka sosok Raka. Tapi, sebenarnya saya menanti lebih banyak detail tentang diri Raka sebagai dirinya sendiri. Bukan hanya sebagai teman Panji. Walaupun begitu, saya pikir tokoh Raka tetap menarik.

Wedari: Yang saya pahami dari sosok Kak Wedari hanyalah sebagai jembatan antara Panji dan Nina. Mungkin akan sedikit lebih seru bila memang sempat ada kedekatan asmara di antara mereka yang membakar api cemburu Nina (kecemburuan yang dirasakan Nina tidak terlalu menarik bagi saya selaku pembaca).

Teman sekelas Nina yang suka Raka: Saya merasa agak sedikit aneh dengan sosok ini. Di awal diceritakan ia menyukai Raka. Setelah Raka jadian dengan Nila, dia masih ingin ikut mereka jalan-jalan. Kok terkesan terlalu bodoh dan ngarep tanpa penjelasan lebih lanjut tentang kenapa dia masih tetap menyukai Raka?

Rio: Tokoh Rio juga kurang diberi sentuhan mendalam. Hanya hal-hal sepele yang disebut-sebut dari tokoh ini.

Untuk komentar beberapa bagian cerita saya membaginya menjadi bagian pengenalan, bagian permasalahan, dan bagian penyelesaian.

Bagian pengenalan: saya menyukai bagaimana penulis mengenalkan tokoh-tokoh dalam ceritanya secara satu per satu. Saya tidak mengalami kesulitan yang cukup berarti untuk menghafal setiap tokoh yang terlibat dalam cerita ini. Pengenalannya pun terasa mengalir lewat adegan-adegan yang terjadi di rumah, sekolah dan perpustakaan.

Bagian permasalahan: Permasalahan yang diangkat ada yang sepele dan khas anak SMA, seperti: porsi makan, hubungan tanpa status, serta penjurusan di bangku kuliah. Permasalahan yang cukup menarik untuk level anak SMA adalah diet yang dijalani Nina. Bagaimana efek dari diet itu mempengaruhi psikologis dan psikis Nina dan bagaimana pandangan orang-orang terdekatnya akan diet yang ia jalani.

Bagian penyelesaian: cerita ini selesai dengan datar. Tidak buruk namun juga bukan penyelesaian yang bombastis.

Saya jadi ingat lagu "All About That Bass" saat membaca cerita ini. Kurus tidak selalu berarti cantik, kawan! :)

Secara garis besar, saya menyukai novel ini. Saya berikan bintang tiga untuk novel ini. Novel ini memang khas anak SMP-SMA :)
Profile Image for Achame.
178 reviews1 follower
June 20, 2021
This book should add trigger warning for some reason coz i seem get some trigger.

Enjoy this book so much.
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
May 21, 2015
3.5/5

“Aku selalu menganggap perbedaan tubuhku dan Nila tidak adil. Kami, kan, sama-sama berada di perut Ibu selama sembilan bulan dan lahir hanya selang beberapa menit. Wajah kami pun identik. Kecuali—harus kutambahkan—pipiku ini terlihat seperti gelembung sabun.”

Bagaimana rasanya punya berat badan kurang ideal dengan lemak berlebih? Tersiksa. Setidaknya begitulah menurut Nina. Keadaannya diperparah lagi dengan kehadiran Nila, saudara kembarnya yang cantik, populer, dan terutama yang paling penting: langsing. Nina merasa hidupnya amat sangat tersiksa.

Dia selalu benci ketika orang-orang di sekelilingnya membuat candaan mengenai berat badannya, apalagi kalau sampai dibanding-bandingkan dengan Nila. Tidak hanya teman-teman di sekolah, orangtuanya pun sering sekali secara tak langsung menyakiti hati Nina.

Lalu Nina berkenalan dengan Kak Panji. Kakak kelas yang tergila-gila pada Sejarah. Sejak mengenal Kak Panji, Nina semakin membulatkan tekad untuk mengubah bentuk badannya agar menjadi proporsional dengan cara apa pun. Nina ingin berubah menjadi sosok sempurna untuk cowok yang ditaksirnya itu.

“Bercanda? Dari dulu ‘hanya bercanda’ memang selalu dijadikan pembelaan untuk mengatai orang lain. Yang mereka tidak ketahui, ‘candaan’ yang mereka lontarkan itu adalah senjata mengerikan untuk melukai perasaan seseorang. Termasuk perasaanku.”

YARN (Young Adult Realistic Novel) adalah seri yang memuat novel-novel remaja, ditulis oleh para penulis muda dengan ciri khas ceritanya yang realistis. Alasan saya memilih Perfection sebagai perkenalan perdana saya pada YARN adalah selain karena covernya, ide cerita yang digunakan menarik dan memang terkesan realistis sekali.

Perfection secara tidak langsung menyentil saya bahwa mulai dari sekarang harus lebih bisa “jaga mulut”. Orang bilang “Senjata paling mematikan adalah kata-kata”, hal tersebut sama sekali tidak salah. Apa yang kita ucapkan pada orang lain, baik sadar maupun tidak, bisa jadi memberi pengaruh bagi orang lain. Kalau pengaruhnya positif sih mending yaa, bagaimana kalau pengaruhnya jadi negatif coba?

Kalau dipikir-pikir lagi, saya pernah menjadi salah satu karakter “jahat” di buku ini yang dengan seenaknya melontarkan candaan fisik ke orang yang dikenal, walau tanpa maksud mencela. Memang kadang susah juga mengendalikan yang sudah menjadi kebiasaan sik, apalagi kalau objek yang dicandakan itu adalah teman akrab sendiri. Benar kata Nina di buku ini, kebiasaan kita kalau sudah menganggap seseorang itu dekat dengan kita, otomatis kita merasa bisa seenaknya mengatakan apa yang ingin dikatakan tanpa memikirkan dampaknya.

Saya harap remaja zaman sekarang membaca buku ini agar makin banyak yang sadar kalau penampilan bukan segalanya. Ada hal-hal lain yang lebih penting daripada sekadar penampilan luarmu. Banyak baca buku, tambah pengetahuan dan wawasanmu. Seriously, otak yang seksi jauh lebih menarik daripada sekadar lekuk tubuh seksi. Otak seksi looh yaa, bukan otak mesum x))

Kembali membahas bukunya, satu yang paling saya sayangkan (yang juga menjadi alasan kenapa saya memberi buku ini 3.5 bintang) adalah saya tidak merasa terhubung dengan karakter utamanya. Entahlah saya tidak bisa memberikan penjelasan yang lebih spesifik kenapa, pokoknya kadang saya merasa bersimpati dengan Nina, tapi kadang juga karakternya berubah nyebelin. Saya menilai Nina sebagai pribadi yang amat sangat sensitif, drama, kadang suka pamer secara tidak sadar, juga terlalu berusaha keras agar dianggap pintar. Nah, di beberapa bagian, ketika sifat-sifat tersebut muncullah yang membuat Nina menyebalkan. Parahnya, ada di bagian menjelang akhir, bagian klimaks yang seharusnya membuat saya bersimpati (yang berhubungan dengan rambut), malah bikin saya ngakak ketika membacanya. Kejam ya? x))

Selain masalah karakter utama yang tidak bisa relate dengan saya, dan jika mengabaikan beberapa typo plus kata-kata yang tertulis double buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Endingnya tidak mengecewakan.

Setelah buku ini tentu saja saya juga pengin baca novel-novel YARN yang lain. Ada rekomendasi apa yang harus saya baca selanjutnya?


“Sadar atau tidak, di Indonesia ada semacam ‘tradisi’ ketika seseorang memiliki hubungan yang dekat dengan kita, maka semakin seenaknya pula dia boleh mengata-ngatai kita. Yah, mungkin di luar negeri juga seperti itu, aku kurang paham. Yang jelas, kebiasaan semacam ini mengesalkan.”


Profile Image for ima.
102 reviews3 followers
July 3, 2015
Review :
Adalah Nina, seorang gadis remaja yang baru memasuki masa-masa SMA. Kembar identik dengan Nila, tapi memiliki proporsi tubuh yang berbeda. Nila dengan tubuh langsingnya, sedangkan Nina harus berbangga diri dengan tubuh ‘subur’nya.
Bercanda? Dari dulu ‘hanya bercanda’ memang selalu menjadi pembelaan untuk mengatai orang lain. Yang mereka, tidak ketahui, ‘candaan’ yang mereka lontarkan itu adalah senjata mengerikan untuk melukai perasaan seseorang. (hal. 51)

Awalnya, Nina hanya jengkel terhadap cercaan yang ia dapat dari teman maupun keluarganya. Bahkan cercaan itu tak membuat Nina menginginkan tubuh langsing seperti kembarannya. Tapi pertemuannya dengan Panji merubah itu semua.
Bisa dibilang Nina dekat dengan Panji karena sejarah. Nina yang mendapatkan buku rekomendasi dari gurunya, membuat Panji mengira kalau Nina menyukai mata pelajaran yang cukup membosankan tersebut. Akhirnya intensitas pertemuan mereka semakin sering terjadi. Dan itulah awal mulanya, Nina terobsesi memiliki tubuh kurus. Demi bisa sebanding dengan Panji.

^*^*^*^*^*^*^*^*^*^

Covernya yang sedap dipandang mata inilah yang membuatku mengambil buku ini dari rak toko buku. Selain itu, karena ada logo YARN-nya, sih.
Dari awal tahu akan ada seri YARN, aku bertekad untuk mengoleksi semua serinya. Dan, aku harus berbangga dulu dengan satu buku ini.
Menceritakan tentang cewek subur yang akhirnya jatuh cinta dengan cowok tampan. Karena cintalah, akhirnya cewek tersebut mati-matian untuk membentuk pola makan yang ‘sehat’.
Ide dasar ceritanya sih klise yah, tapi eksekusi *cielah* itu yang membedakan. Di sinopsis bukunya kan ada bawa-bawa nama ekskul basket. Ternyata memang si Panjinya itu anak basket, tapi bukan karena embel-embel anak basketnya Nina dan Panji jadi dekat. Tapi karena pelajaran sejarah! Yang menurut sebagian besar pelajar di Indonesia membosankan, ternyata malah jadi kunci kedekatan Nina dan Panji. Itu yang bikin buku ini beda.
Dan lagi, aku suka banget ketika penulis menjadikan sejarah tuh enggak cuma tempelan aja, tapi bener-bener detail sampai buku-buku dan film-film sejarah. Bisa jadi rekomendasi untuk diriku sendiri sih (anggap aja aku juga suka sejarah xD).
Nah, sebenarnya nih, tekad Nina untuk diet itu perlu diacungin jempol. Sungguh, bener-bener-bener niat! Enggak cuman asal ngomong, tapi dia juga menghitung berapa kalori yang masuk dan kalori yang keluar. Niat banget, enggak sih? Tapi, yah, jeleknya si Nina ini, ya itu. Padahal berat tubuhnya udah perfect, eh tetep aja. Disitu tuh aku ngerasa geregetan sama Nina.
“… kalau memiliki ambisi yang terlalu besar, akhirnya akan mengerikan. …” (hal. 43)

Aku enggak bisa ‘jatuh hati’ sama Panji, masa :( Tapi, aku suka dengan bromancenya Panji dan Raka. Seperti kata Nina, persahabatan cewek dan cowok tuh beda. Ngeliat persahabatan cowok tuh kayak yang lebih klop. Entahlah, mungkin karena aku cewek, jadi engga bisa merasakan persahabatan antar cowok, haha. Dan juga, kettika Raka jadi semacam ‘mata-mata’ untuk Panji, dia benar-benar peduli dengan Nina. Aku suka perhatiannya Raka!
Tapi, tapi, aku kurang setuju dengan pendapatnya Nina. Menurutku nih, ya, hubungan tuh perlu status. Kalau misalkan ada status kan jelas, si cowok engga bisa lirik sana-sini lagi. Tapi, kalau cowoknya bisa setia sih ya gapapa deh tanpa status, haha.
Karena ini novel pertama Kak Farrah yang aku baca, jadi walaupun memakai sudut pandang orang pertama, di bagian-bagian awal aku kurang bisa masuk ke dalam emosinya Nina. Dan, yah, sedikit bosan bacanya. Tapi setelah bab 7 atau 8 gitu *aku lupa*, mulai seru. Dari situ aku ngga bisa lepas hingga sampai halaman terakhir.
Ah, jadi pengin baca seri YARN yang lain :)

_Pink's Review_ https://myminilibrary.wordpress.com/2...
Displaying 1 - 30 of 49 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.