"Pernahkah pelangi menangis karena hujan dan langit tak mau mewarnainya? Jika sempat, tolong katakan pada hujan untuk menitik satu kali pada tiga puluh tahun kesunyian di ujung pelangi yang tak berbatas. Mungkin saja asa yang tersesat menemukan jalan pulang dan darah tak harus tercurah pada telapak tangan yang beku."
Sebuah liontin menuntun Jeruk pada sebuah nama, Rinai. Sebuah nama yang digunakannya untuk memulai kiprahnya sebagai penulis misteri. Namun, misteri ternyata tidak hanya terjadi di novel fiksi buatan Rinai. Satu per satu korban mulai berjatuhan sesuai dengan kisah di dalamnya. Kini, Jeruk harus berpacu dengan waktu, sebelum lebih banyak lagi korban berjatuhan. Ataukah kali ini, Jeruk sendiri korbannya?
"Saat seseorang mengikatkan diri dalam dendam, tidak ada yang namanya selesai. Sebab dendam adalah kemarahan yang tak pernah padam. Kamu melihat awalnya tapi tak bisa melihat akhirnya." (hlm. 277)
Awal-awal ketika Alias ramai dibicarakan akan terbitnya, saya mengira ini akan menjadi sekuel dari Misteri Patung Garam, atau paling tidak sama jenisnya dengan novel bestseller mbak Ruwi itu. Ternyata, Alias adalah sebuah kisah baru dengan tokoh-tokoh yang juga baru. Tidak hanya itu, novel ini adalah novel horor dengan elemen supranatural di dalamnya. Meskipun jauh berbeda, Alias saya rasa tetap mempertahankan ciri khas dari penulis, yakni pada petunjuk-petunjuk yang bertebaran di sepanjang cerita (bukan semata di akhir cerita) sehingga ketika mendekati ending akan terasa benar-benar betapa penulis pasti sudah bekerja keras dalam menyusun skema alur serumit ini.
"Hubungan itu bertahan lama bisa terjadi karena dua hal, pertama karena kebutuhan dan yang kedua karena ketergantungan." (hlm. 57)
Novel ini berkisah tentang seorang novelis bernama Jeruk Marsala. Gadis ini adalah seorang penulis novel romansa yang populer, namun memiliki keinginan terpendam untuk menulis novel horor. Sayangnya, penerbitnya yang lama tidak mengizinkannya berganti genre karena takut mereka akan kehilangan pembaca setia novel-novel Jeruk. Maka, diam-diam Jeruk pun menggunakan nama alias agar dirinya tidak ketahuan. Nama Rinai dipilihnya, tepatnya dipilihkan untuknya oleh sebuah liontin tua milik neneknya. Dengan nama itulah, Jeruk seperti menemukan kebebasan dan haknya dalam menulis novel-novel horor. Entah bagaimana, cerita itu mengalir begitu derasnya ketika Jeruk tengah menulis sebagai Rinai.
Siapa sangka, novel-novel horor karya Rinai (alias Jeruk) meledak di pasaran. Pembaca sangat menyukainya. Awalnya, Jeruk sangat bangga dengan popularitas ganda ini. Sebagaimana JK Rowling yang menggunakan nama alias Robert Galbraith untuk menulis novel detektifnya, Jeruk berhasil. Tidak ada yang tahu bahwa Jeruk adalah RInai, hanya Darla—sahabatnya sejak kecil—yang mengetahui siapa sebenarnya Rinai. Semua korespondensi kepada dan dari Rinai diwakili oleh Darla. Pembaca pun turut bersorak dengan hadirnya penulis horor baru ini, sampai-sampai di dunia maya terjadi heboh perseteruan antara penggemar karya-karya Jeruk dan Rinai. Jeruk Marsala hanya bisa bersorak di dalam hati.
"... seharusnya penulis itu mau menerima karyanya dari sudut pandang orang lain agar karyanya menjadi lebih matang dan dewasa. Saat seorang penulis hanya menggunakan satu sudut pandang dalam menulis, dia tidak bisa menilai karyanya dari berbagai arah." (hlm. 92)
Tapi, setiap ketenaran selalu ada harganya. Jeruk tetap menulis novel ketiganya sebagai Rinai, sampai akhirnya dia sadar, ada harga untuk nama alias yang dipilihnya. Dari kabar dan berita, Jeruk mengetahui kalau telah terjadi sejumlah pembunuhan dengan pola yang sama persis dengan adegan yang ada di novel-novel yang telah ditulisnya dengan nama pena Rinai. Awalnya, Jeruk menganggapnya semacam kebetulan, tetapi korban terus berjatuhan, satu per satu, tepat seperti yang ditulis Rinai. Kedatangan seorang cowok misterius bernama Eru malah semakin membuat dirinya bingung. Tapi, dari Eru lah Jeruk mulai menyadari ada sesuatu yang keliru tentang Rinai. Aliasnya itu seperti bisa melakukan hal-hal sebagaimana yang tertulis dalam novelnya.
"Hei, tidak ada ide yang baru. Kebaruan itu hanyalah sesuatu yang tidak kita ketahui." (hlm. 104)
Jeruk tidak bisa berdiam diri, apalagi kini Rinai mulai mengancam orang-orang terdekatnya, mulai dari Alan, pacarnya hingga Darla. Bersama Eru, keduanya bergegas melakukan penyelidikan tentang siapa Rinai sebenarnya, juga tentang liontin keramat berisi foto seorang gadis bernama Rinai. Mendekati akhir kisah, satu demi satu fakta dan petunjuk mulai terungkap. Tetapi, Eru dan Jeruk harus bergegas karena sosok Rinai semakin kuat dan keji, dan korban terus berjatuhan. Siapa Rinai sebenarnya? Bagaimana caranya melakukan pembunuhan-pembunuhan itu? Dan, apakah sebenarnya peran Jeruk dalam aksi sang makhluk gelap ini?
"Penampilan memang bisa menipu." (hlm. 25)
Alias benar-benar buku yang susah dilepas sebelum sampai ke halaman belakang, cara penulis membangun ketegangan sungguh layak diacungi jempol, pembaca seperti dibuat penasaran sepanjang cerita, sebelum kemudian disodori kejutan demi kejutan yang membuat Alias semakin seru. Tambahan bumbu mistis dalam buku ini sebenarnya bisa menjadi penyegar yang cantik kalau saja tidak ada bolong-bolong kecil. Misalnya saja, saya masih belum habis pikir bagaimana sesosok dendam bisa mewujud sedemikian nyata sehingga mahkluk gelap itu mampu meng-up date status Facebook serta Twitter. Juga, membawa benda-benda fisik seperti pisau berhias batu putih untuk menghabisi korban-korbannya.
Tetapi, sebuah cerita yang bagus menurut saya adalah cerita yang mampu menghibur pembaca. Saya terhibur, dan saya berani bilang bahwa Alias adalah novel yang sangat nagih untuk dibaca. Melalui Alias, saya juga seperti bisa membaca sosok mbak Ruwi dalam diri Jeruk, tentang penulis yang menulis tentang penulis, bukan kah itu sesuatu yang indah? Setting Alias yang mengambil tempat-tempat seputaran Jogja (yang saya akrab banget dengannya--semacam Jalan Imogiri dan juga Amplaz) serta kecenderungan Jeruk yang membutuhkan waktu lebih lama saat sedang membeli buku ketimbang saat membeli baju; rasanya sangat klop saja dengan saya si penimbun buku ini ngohahahaha. Saya suka novel ini \(´▽`)/
Selamat atas novel tentang novelis ini, mbak Ruwi. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada blog Baca Biar Beken. Ditunggu karya-karya ciamik berikutnya ya, Mbak. Sukses..
Aku di dalammu. Kau di dalamku. Datanglah lebih rapat dalam gelap dan kamu akan melihatku.
Jeruk Marsala adalah seorang penulis fiksi roman yang terkenal. 3 novelnya telah diadaptasi menjadi film dan ia sedang menulis novel ketujuh. Popularitasnya menanjak, fansnya banyak dan hidupnya berjalan baik baik saja.
Diam diam, Jeruk membuat novel bergenre horor dengan nama samaran, Rinai. Siapa sangka ternyata novel horornya juga melejit di pasar, bahkan menggeser ketenaran asli Jeruk. Tentu saja Jeruk berbangga hati, tapi dia masih bersikeras untuk tidak menampakkan siapa Rinai sebenarnya ke khalayak umum. Semua urusan naskah dan penerbitan diurus oleh sahabat Jeruk yang bernama Darla. Sebagai teman yang baik dan loyal, Darla senang senang saja membantu Jeruk, apalagi memang mereka berteman sejak kecil.
Tetapi akhir akhir ini ada kejadian yang tidak mengenakkan hati Jeruk maupun Darla. Ada adegan adegan pembunuhan di dalam novel yang benar benar berubah menjadi nyata. Orang orang yang mati itu memiliki ciri dan cara kematian yang sama persis dengan yang Jeruk tulis di dalam novel horornya. Pembaca mulai berspekulasi apa sebab novel Rinai malah menjadi pembunuhan berantai beneran. Meski Jeruk mencoba mengabaikan fakta ini, lama kelamaan ia terteror juga, apalagi karena polisi juga mulai mengulik misteri siapa sebenarnya Rinai dan mengapa ia tidak mau tampil ke publik.
Yang lebih seram, ternyata tokoh Rinai yang digunakan Jeruk sebagai alias, benar benar nyata. Nah kan, bagaimana parnonya kalau tulisan horor yang kamu tulis berubah jadi nyata, dan tokoh alias yang kamu gunakan benar benar hidup?
Novel ini memberikan ketegangan dan rasa penasaran bagi pembacanya. Sebenarnya saya berharap menemukan kejutan kejutan yang berhubungan lebih dalam dengan Jeruk dan Rinai, tapi ternyata yang ada di buku ini masih belum memuaskan saya. Ceritanya memang cenderung mistis dan ringan untuk dinikmati. Karakter tokoh tokoh dalam cerita juga kurang digali lebih dalam, sehingga saya kurang terkesan dengan mereka. Yang membedakan jelas mungkin dari ciri fisik, seperti Darla yang gothik, Alan yang flamboyan, Eru yang tinggi dan memiliki tahi lalat di wajahnya (yang entah sudah berapa kali disebutkan di dalam cerita) serta Jeruk yang manis.
Yang saya suka dari buku ini sebenarnya adalah ide ceritanya. Mungkin penulis sudah pernah membaca tentang alter ego atau orang dengan kepribadian ganda, dan memang beberapa novel yang sudah terbit lebih sering menggunakan dua hal tersebut jika berhubungan dengan alias. Mungkin itu pula yang membuat penulis menambahkan bumbu mistis ke dalam ramuan ceritanya, sehingga tampil berbeda. (Iya ini berbagai kemungkinan aja sih, belum sempat tanya ke penulisnya langsung XD)
Tapi jadinya bukunya terlalu tipis, masih kurang nendang buat saya. Ada beberapa bagian cerita yang bolong alurnya, seperti saat Eru memakan arum manis di lapangan. Kenapa tiba tiba dia ada di situ? Latarnya juga agak membingungkan, apakah itu masih di rumahnya atau sudah kembali ke Jogja ke tempat neneknya Jeruk? Penyelesaian ceritanya juga terlalu singkat, padahal pembangunan konflik antara Jeruk dan Rinai sudah membuat penasaran pembaca. Secara keseluruhan saya cukup menikmati novel ini, tapi saya lebih suka misteri Patung Garam yang penuh intrik dan kocak daripada Alias yang suram. Eits, ini selera pribadi sih ya. Bisa jadi pembaca lainnya lebih suka novel ini daripada si Kampret rebus :))
Terima kasih atas kesempatan mereviewnya, Mbak Ruwi, semoga makin berhasil meramu sebuah novel gothik berikutnya kelak.
Ini novel horror. Baca novel ini bikin adrenalin saya naik turun! Baca beberapa review tentang buku ini, katanya jangan baca saat malam hari. Tapi karena nanggung tinggal sedikit, justru malam adalah waktu yang pas untuk menghabiskan novel ini, maka saya mencari keberanian dengan menggenggam tangan anak saya yang tertidur pulas, sambil menghabiskan halaman demi halaman.
Karakter utama novel ini adalah Jeruk Marsala. Nama yang cukup unik, tapi terus terang sedikit mengganggu karena mungkin saya tidak terbiasa aja baca nama orang yang diambil dari nama buah-buahan. He-he, sebut saja saya kuno. Anyway, Jeruk adalah penulis best seller cerita romance yang banyak banget penggemarnya. Apa pun yang ditulisnya pasti langsung cetak ulang dan menjadi buah bibir, hingga beberapa karyanya diangkat menjadi film layar lebar. Yes, sesukses itulah Jeruk.
Adalah Rinai, penulis best seller genre horror. Yang baru mengeluarkan dua novel, namun sudah menandingi ketenaran Jeruk yang sudah menelurkan enam novel. Banner dan buku-buku karya mereka bersanding di rak best seller di toko buku, bahkan sebuah PH yang ingin mengadaptasi novel Jeruk berubah pikiran karena ingin mengadaptasi novel Rinai. Tanpa harus memunculkan diri, Rinai telah berhasil menjadi saingan terberat Jeruk.
Misteri mulai bermunculan sejak awal cerita, mulai dari mimpi aneh Jeruk, hingga pembunuhan-pembunuhan di novel Rinai yang berubah menjadi kejadian nyata.
Jeruk Marsala adalah seorang penulis novel romantis yang cukup tenar. Tiga dari enam novelnya telah diangkat ke layar lebar. Saat ini dia sedang mempersiapkan novelnya yang ketujuh. Namun seorang penulis lain, bernama Rinai, rupanya mencuri perhatian publik. Dua novel horor karya Rinai laku di pasaran. Bahkan rumah produksi yang tadinya ingin membeli novel Jeruk untuk dijadikan film, membatalkan rencana itu dan mengalihkannya ke novel milik Rinai.
Sebenarnya Jeruk tidak merasa kuatir dengan ketenaran Rinai. Karena Rinai adalah nama alias Jeruk sendiri. Sudah lama Jeruk hendak menulis novel bertema horor, sayangnya editornya tidak setuju. Akhirnya Jeruk menciptakan Rinai sebagai penulis novel horor. Jeruk juga meminta kesediaan Darla, sahabatnya untuk menhandle akun media sosial dan persuratan untuk Rinai.
Jeruk tidak sembarangan memilih nama Rinai. Nama itu diperolehnya dari liontin milik neneknya yang ditemukannya di dalam laci. Yang Jeruk tidak sadari adalah ada dendam yang hidup di dalam liontin itu. Darah Jeruk yang menetes di atas liontin itu saat berusaha membukanya melepaskan roh Rinai yang sesungguhnya.
Sudah kubilang. Dendam tidak pernah padam bukan?
Nuansa mistis dan horor dalam novel ini terasa sejak awal memegang bukunya, dengan cover yang menampilkan gambar liontin dan warna hitam (plus saya mendapatkan notebook dan pensil karakter yang lumayan spooky tapi keren bersama buku ini... Thanks mbak Ruwi).Tetapi horor bukan satu-satunya nuansa dalam buku ini, ada thriller-nya juga ketika Rinai memutuskan untuk membalaskan dendam sesuai dengan apa yang ditulisnya di dalam novel. Ketegangan semakin memuncak ketika sosok Eru muncul. Eru yang misterius hadir dengan penjelasan yang membuat Jeruk mulai menyadari apa yang dilakukannya.
Novel ini mengangkat ide tentang penggunaan nama alias atau pseudonym oleh seorang penulis novel untuk menulis dengan genre yang berbeda. Hal semacam ini sudah sering dilakukan oleh beberapa penulis, terutama yang sudah terkenal di satu genre tertentu. Tapi bagaimana jika pseudonym atau nama alias itu benar-benar nyata dan mengambil alih kehidupan si penulis? Di sinilah dipertaruhkan harga untuk sebuah nama.
Di dalam novel ini disebutkan bahwa novel romance memang selalu punya peluang lebih besar untuk diterbitkan, tetapi novel horor/thriller punya pasarnya sendiri. Hanya saja saya merasa ketika membandingkan ketenaran antara Jeruk yang sudah menulis novel romance sampai 6 buku dengan Rinai yang baru menulis 2 novel horor agak sedikit berlebihan. Di dunia nyata, ada banyak penulis novel yang sudah menerbitkan banyak karya, tapi sangat jarang yang merasa insecure dengan kehadiran penulis lainnya, apalagi dari dua genre yang berbeda.
Namun novel ini menghibur dengan caranya sendiri. Saya menyukai penggunaan unsur anagram di dalam novel ini. Begitu pula dengan alur ceritanya yang rapi dan membangun ketegangan sejak awal kisah membuat saya tidak bisa melepaskan buku ini sampai selesai. Background lokasi di Jogja juga membuat saya lebih mudah menyerap kisahnya Tapi kalau boleh, saya ingin porsi Eru lebih banyak lagi. Saya penasaran dengan kisah Jeruk dan Eru selanjutnya.
Well...buat kamu yang ingin mencicipi misteri bernuansa horor karya anak bangsa, saya merekomendasikan novel Alias ini.
3,5 bintang. Nggak hanya menawarkan kisah misteri yang memancing rasa penasaran, novel ini juga berisi pesan-pesan bagus bagi teman-teman calon penulis yang ingin mendalami dunia kepenulisan. Menarik!
Cerita horor yang berbeda dengan biasanya. Horor, thriller, dan misteri jadi satu. Siapa sangka yang biasanya novel thriller itu pembunuhnya orang beneran kalau yang ini pembunuhnya hantu. Ya, peran antagonis di sini adalah hantu, Rinai. Padahal Rinai awalnya hanya sebuah nama pena.
Narasi yang mengalir, meski tadinya DNF karena nama tokohnya dari nama buah. Setelah dibaca terus, ternyata seseru itu. Misterinya berbentuk puzzle yang membuat pembaca harus mencoba merangkainya. Kupikir pembunuhnya manusia, ternyata hantu. Sejenak lupa kalau ini novel horor.
Karena saya penakut, novel genre horor tentulah jauh dari selera saya. Apalagi menjadikannya favorit. Hmmm, agak nggak mungkin sepertinya. Tapi, entah kenapa saya suka tulisan Ruwi. Bergenre apa pun. Saya memulainya dengan Kaliluna, Luka di Salamanca. Sebuah novel yang awalnya suram, tapi lama kelamaan menawan. Lalu saya membaca Patung Garam, sebuah novel bergenre thriller. Mungkin saya tak piawai menebak tersangkanya, tapi saya suka cara Ruwi membuat saya bingung sepanjang halaman novel( Ini bingung dalam artian positif yak).Tetiba saya menantang diri sendiri untuk membaca Alias yang jelas jelas bergenre horor. Nggak terlalu nekad kok, kan saya membacanya pagi sampai sore hari. Dan lebih banyak di antaranya di antara banyak orang( di TransJakarta dan di antara para pengantri sebuah bank populer).Dan asli, novel ini serem pakai banget. Novel yang berkisah tentang Jeruk Marsala, seorang penulis novel roman, yang kehadirannya mulai " terancam" oleh seorang penulis bergenre horor, yang menggunakan nama pena Rinai.Tak banyak orang yang tahu, bahwa Jerk dan Rinai adalah orang yang sama.Hanya untuk Rinai, Jeruk memang sengaja menyembunyikan jati dirinya. Masalah mulai bergulir saat banyak peristiwa tragis terjadi. Pembunuhan, bunuh diri dan kecelakaan terjadi sama seperti yang dikisahkan di novel novel horor tersebut.Bukan itu saja, kejadian demi kejadian aneh terjadi, mulai dari hal hal yang tidak masuk akal, seperti jam yang ada di dalam mayat sampai penampakan yang misterius. Dari segi tehnis penulisan, saya tak bisa berkomentar banyak, karena saya bukan ahlinya. Saya awam. Tapi saya menikmati bagian demi bagian dari novel itu.Dari halaman pertama sampai halaman terakhir.Ruwi pintar mengatur emosi pembaca. Ada beberapa kesalahan tulis, tapi tak mengganggu secara keseluruhan. Selamat ya Ruwi, bisa bikin saya nggak takut baca novel horor tidak di malam hari. Ditunggu novel novel selanjutnya, yang roman lagi dong..
Alias, novel horor thriller yang berbaur dengan romance.
Membaca bab pertamanya saja, aku sudah terhisap dalam kisahnya. Apalagi saat membaca kalimat puitis penuh misteri yang diucapkan Uti Greti, nenek Jeruk.
“Pernahkah pelangi menangis karena hujan dan langit tak mau mewarnainya? Jika sempat, tolong katakan pada hujan untuk meniti satu kali pada tiga puluh tahun kesunyian di ujung pelangi yang tak terbatas. Mungkin saja asa yang tersesat menemukan jalan pulang dan darah tak harus tercurah pada telaak yang beku.” – Uti Greti – hlm. 2
Kalimat ini mengandung kode. Apalagi saat Jeruk menemukan liontin itu. Lalu, muncul kasus dan ternyata kasus itu tampak seperti kisah novel Rinai yang jadi kenyataan. Semua langsung memunculkan rasa penasaranku.
Membaca novel thriller horor benar-benar menarik. Aku seperti terus diajak main tebak-tebakan dan ingin segera sampai pada bagian akhir karena aku penasaran dengan cara penyelesaiannya.
"Kadang kala kita harus selalu waspada dan untuk itu kita membutuhkan prasangka dan dugaan. Jangan abaikan prasangka buruf sebab dunia ini jahat." -hal. 35
Menjadi buku yang genap ke-100 yang aku baca di tahun ini sekaligus mengatarkanku terhadap karya-karya Ruwi Meita, aku tidak kecewa membaca novel yang ini. Tahu judul yang ini dari teman-teman Booktuber dan kebetulan menemukan novel ini dengan harga murah, apalagi ini digadang-gadang lumayan susah dicarinya.
Premisnya mengenai seorang penulis terkenal yang suatu hari mendapat "ancaman" karena ada penulis baru yang tiba-tiba naik daun dengan cepat. Awalnya Jeruk, tokoh utama kita yang menjadi penulis ini, tidak berpikir macam-macam dan malah mendukung penulis baru tersebut. Namun Jeruk menyimpan satu rahasia yang menghubungkannya dengan dunia kepenulisan sampai dirinya tidak sadar, apa yang dia tulis menjadi suatu hal mengerikan yang akan dialami orang sekitarnya.
Aku suka dengan gaya penulisannya, terkesan puitis dan metaforik yang in a good way. Bagaimana penulisnya menggunakan beberapa padanan diksi yang terdengar aneh mungkin, tapi tetap bisa nyambung dan seolah menunjukkan cara lain menggambarkan sesuatu.
Suasana suram dari novel ini juga dibangun perlahan diikuti dengan kengerian-kengerian yang terjadi dan juga pertanyaan-pertanyaan kecil yang akan mengantarkan kita pada bagian ending cerita ini. Dan ketika cerita mencapai puncaknya, mulailah segala sesuatu mulai pecah satu demi satu dengan penjabaran yang mind-blowing dan pintar. Aku bener-bener syok waktu baca bagian plot twist itu, yang mana aku bacanya waktu di sekolah pula, hahaha.
Sayangnya menurut aku setelah plot twist diungkapkan, ketegangan dari ceritanya mulai menurun dan aku merasa cerita sisa menuju akhirnya agak sedikit datar dan di beberapa poin terkesan cringy mungkin. Akan tetapi penulis masih mampu mempertahankan suasana mencekam dalam novel ini, meskipun meninggalkan tanda tanya besar ke pembaca setelah selesai menutup buku ini.
Pembukaan yang pas untuk bulan Oktober, dan karya-karya Ruwi Meita.
jadi akhir2 ini lagi demen demen nya baca karya mba @ruwimeita karena emang sebagus itu. Alias ini bercerita tentang Jeruk adalah seorang penulis terkenal dengan karya buku romance nya. tapi seorang penulis baru bernama Rinai yang enggan menunjukkan identitasnya muncul ke permukaan dengan karya Horornya, namanya langsung terkenal dan novelnya langsung masuk jajaran Best Seller. Wartawan dan para penggemar pun bertanya soal ini itu perihal tanggapan Jeruk soal penulis baru ini. Pertanyaan yang membuat Jeruk gerah. Tanpa diduga, ada kejadian mengerikan yang terjadi. Kejadian tragis yang ada didalam novel horor Rinai, menjadi kenyataan. Korban berjatuhan, dan kasus ini menyeret nama Jeruk beserta keluarga dalam lingkup Horor Novel Rinai ini. Jadi siapakah Rinai dan mengapa kejadian yang ia tulis menjadi kenyataan? Suasana mencekam dalam novel mba ruwi selalu dapat dan bikin merinding. ditambah dengan bahasa yang tegas dan detail, membuat novel ini enak di ikuti. Plotnya yang yang langsung intens tanpa basa basi diawal adalah ciri khas dr mba ruwi. sampai akhir, aku merasa puas dengan alur dan plotnya. hanya saja, karakter utama nya Jeruk berasa kurang. Dimana ditempat diposisi tengah2 oleh mba ruwi. Tidak lemah tapi juga tidak kuat. Mudah terlupakan. Malah justru saya terpukau dengan karakter Darla dan Eru yang kuat dan nempel dalam ceritanya. Bahkan aku melongo dengan karakter Rinai disini. Alias menampilkan horor yang gak receh, keren dan bikin merinding. Bahasanya mba ruwi juga enak dan selalu bikin penasaran Rekomended.👍💚 #ruwimeita #alias #novelbagus
Awal tertarik membaca buku ini berkaca pada pengalaman membaca karya Ruwi Meita yang sudah kubaca sebelumnya, seperti Rumah Lebah dan Carmine. Ya, masih tetap menyuguhkan unsur "dark" dalam tulisan-tulisannya seperti di buku ini. Jeruk Masala penulis novel bestseller yang menghasilkan novel bergenre romance yang laris di pasaran. Namun di sisi lain Jeruk sangat berbakat menulis novel horror ,Rinai dipakai Jeruk untuk nama pena novel-novel horrornya itu. Diilhami oleh penemuan liontin di rumah neneknya, Uti Greti semasa Jeruk masih kanak-kanak. dalam liontin itu ditemukan sebuah foto lawas seorang perempuan cantik bertuliskan nama Rinai. Namun, satu persatu novel-novel yang Rinai tulis seakan menjadi kenyataan,satu persatu korbanpun berjatuhan sesuai dengan cerita yang Rinai tulis. Misi Jeruk sekarang bukan lagi menulis untuk kedua novel bergenre yang berbeda, tapi Jeruk juga harus mengungkap misteri dibalik terjadinya pembunuhan seperti yang tertulis didalam novel karya Rinai, mampukah Jeruk menghentikannya ataukah malah dia sendiri yang menjadi kiorban selanjutnya?
Bercerita tentang Jeruk, seorang penulis novel romance terkenal. Pada suatu hari ia memiliki saingan baru. Terdapat Rinai, penulis novel horror yang menyaingi ketenaran Jeruk. Tetapi, novel yang ditulis Rinai menjadi kenyataan, dan melibatkan Jeruk serta orang orang terdekatnya.
Novel pertama @ruwimeita yang aku baca. Satu pertanyaan dariku setelah baca novel ini "Novel yang ini ngga dijadiin film?" Atau aku aja yg kurang update?
Ceritanya horror tapi ga terlalu berat. Ini cocok banget jadi film di Indo. Cerita modelan gini nih yang kayanya banyak disukai deh. Dan yah, endingnya ~ cocok jadi film bgt deh (keukeuh 😂)
Yang aku suka: Tulisannya rapi.. jadi aku bisa bayangin, bisa masuk ke ceritanya. Lalu ada beberapa tingkah eru yang bikin aku senyum senyum 😭😂
Yang kurang aku suka: Aku ngga terbiasa dengan nama tokoh yang diambil dari buah buahan. Agak aneh aja di awal. Lama lama terbiasa hehe.
Yeayyy ... nemu juga novel meskipun terbitan lama, tapi yang terpenting lead female nya seorang penulis.
Dialah Jeruk. Nama tokohnya unik yaa. Kak Ruwi kalo nulis novel suka ngambil nama-nama yang anti mainstream wkwk.
Intinya, novel ini premisnya unik. Tentang Jeruk yang minjem nama 'Rinai' untuk jadi nama pena dalam karir kepenulisannya. Nama itu dia dapet dari liontin milik neneknya. Btw, 'Rinai' kayak merek kompor 😆 Kan, lagi-lagi nama yang unik.
Setelah kejadian itu, banyak korban berjatuhan seperti plot yang dia buat di novelnya. Cerita novel yang jadi kenyataan. Semacam 'ada novel di dalam novel'. Jadi inget novel The Paragon Plan nya Aranindy.
Selalu pengin tahu sama kisah liontin itu dulunya gimana. Rinai itu siapa. Apa hubungannya sama kematian beruntun yang terjadi dalam novel yang Jeruk tulis dengan dunia nyata. Sayangnya nenek Jeruk kena alzheimer, wkwk.
So, ini novel bikin aku nggak berhenti untuk terus buka halaman selanjutnya. Satu kata : 'penasaran!'
Sebagai orang yang anti dengan hal-hal yang berbau horor, novel ini menjadi pilihan terakhir untuk ku baca, aku beli ini pun karena penulisnya mbak Ruwi.
tapi pas aku minjemin novel ini ke temen, dia ga berhenti ngoceh ttg novel ini (aku takut di spoiler-in) jadi aku baca deh, dan WOAHH GILAKK, AKU BENERAN GAK HABIS PIKIRR, INI NOVEL BISA BIKIN EMOSI KU CAMPUR ADUKK, MBA RUWI BENER BENER CERDAS DALAM MENYUSUN CERITA!!, meskipun aku takut, aku terus-menerus dibuat penasaran setiap membuka halaman per halaman dari novel ini, dan akhirnya malah jadi ketagihan, good job mba, terimakasih sudah bekerja keras!!><
Aku agak kurang puas dengan endingnya, tapi overall, bagaimana cara mba Ruwi menuliskan cerita yang mengalir, menegangkan dan sangat rapi membuat aku ga berhenti bilang gilakk!!
Awalnya aku sangsi baca novel horor😭 udah parno duluan wkwk. Tapi ternyata, aku menemukan novel yang tepat untuk mulai baca genre horor. At least aku nggak akan ketakutan kalau mau ke kamar mandi tengah malem😂
Aku suka dengan novel ini, gaya penulisannya sederhana tapi pas, nggak lebay dan berlebihan. Konfliknya pun bagus dan nggak merembet kemana² (kebanyakan filler kurang penting) cuma rasanya ada beberapa hal yang agak di luar nalar menurutku, seperti adegan Rinai yang tiba-tiba nulis di laptop (aku kalo jadi Jeruk, kusuruh si Rinai ngerjain tugas kuliahku :'v)
This is my second book from Ruwi and I like it better than Rumah Lebah. At first I thought it's going to be another split identity case, but nope the ghost was real.
Sama seperti kawan saya, saya kira novel ini bergenre detektif seperti Kiri Lamari, eh, maksudnya Misteri Patung Garam. Rupanya, ini... horor.
Ketika di tengah mulai sadar kalau buku ini horor, sempat ragu mau menyelesaikan, tapi nanggung.
Kejutannya, bagi saya, tidak mengejutkan--iya, ini emang akan agak songong kesannya. Perkara nama, sudah keliatan dari nama pertama. Perkara Alan, sejak Rinai mengetikkan kisahnya, saya sudah bisa menduga akan dibawa ke mana... *eaaakkk...
Editannya sedikit tidak detail, ya. Sejak awal sudah menggunakan memerhatikan dan bukan memperhatikan, tapi masih pakai karuan dan hutang. Menjelang akhir, kita malah mulai kehilangan huruf.
Selain itu, keterangan tentang karakter Jeruk yang suka memperjuangkan hal yang dia anggap benar sepertinya terlalu banyak diulang sehingga tidak lagi mengesankan.
Bagi saya, Misteri Patung Garam lebih bagus dari Girl on The Train, tapi ini... eee... mungkin memang cerita horor model begini bukan selera saya, jadilah bintangnya 2. Bagi saya, hantu yang menawan *halah* masih model lawas, macam di buku Abdullah Harahap yang dulu dulu~~~bukan yang... *etapi ntar spoiler* Saya nggak mau mengganggu kesenangan kalian ketika membaca. (^-^)v
Okesip. *lanjut nunggu petualangan Kiri Lamari dan si bocah tengil
Bagi seorang penulis, memiliki nama pena itu sudah menjadi berita umum—wajar. Apalagi jika penulis itu memang ingin melindungi privasinya. Hanya ingin mengenalkan karyanya tanpa mengumbar kehidupan pribadinya. Bukankah setiap orang memang memiliki rahasia—privasi yang ingin dilindungi? Rahasia yang ingin disimpan sendiri. Tapi apakah pernah terbesit bahwa nama pena pada akhirnya akan mengubah kehidupan yang semula baik-baik saja menjadi kacau balau?
Novel ini menceritakan tentang Jeruk Marsala, seorang penulis novel romance yang sudah memiliki nama besar. Enam novelnya masuk jajaran best seller dan bahkan ada yang sudah difilm-kan. Namun, dalam hatinya sebenarnya dia sangat tertarik ingin menulis novel horor. Hanya saja Penerbit Paragraf, yang biasa menjadi langganan untuk menerbitkan bukunya, menolak jika Jeruk menulis novel horor. Alasannya, “Kamu punya branding, J. Romantis, sedih dan melankolis. Jika kamu menulis horor branding yang sudah kamu bangun akan rusak. Apa pun itu harus ada fokus agar semua orang mudah menghapalnya.” (hal. 28)
4.5* untuk karya Mba Ruwi yang satu ini. Awalnya, perasaanku biasa saja, dibuka dengan cerita yang akan menentukan kemana kisah ini akan dibawa. Seolah diajak jalan-jalan ke tempat yang berbeda. Lalu, terfokus pada kasus pembunuhan yang ternyata sama dengan apa yang ada pada novel Rinai. Nama alias yang dipakai Jeruk untuk novel misterinya. Jeruk sendiri seorang penulis romance yang karyanya sudah melejit, bahkan beberapa karyanya di adapatsi ke dalam sebuah film. Jeruk sebenarnya ingin dari dulu menulis novel horor, namun romance justru menjadi passionnya. Terlebih pribadi Jeruk yang manis tidak akan ada yang percaya jika dia menulis novel horor. Rinai menjadi sosok yang nyata, kehadirannya untuk balas dendam. Menghantui Jeruk yang membuatnya tertekan. Hingga perbuatan Rinai tak dapat ditoleransi lagi, orang-orang terdekat Jeruk menjadi korban jikalau Jeruk tak meneruskan novelnya. Sosok Rinai sangat mengerikan. kelanjutan reviewnya silahkan kunjungi http://hotarubookstory.blogspot.co.id...
“Sahabatku yang tak lagi setia. Dengan menyesal aku mengumpulkan semua dendam di dalam darahku. Warnanya lebih merah dari darah. Keras melebihi karang. Pada penghujung ajalku, aku melihat dendam lebih indah dari penantian yang sia-sia. Aku ingin melihatnya bersamaku.” (ALIAS, hal 3)
Baca novel ini, rasanya? Sedihnya ada, seremnya ada, senengnya ada. Serem yang paling mendominasi sih, tergantung juga bagaimana imajinasi pembaca dalam membaca novel Alias. Kalo saya paling ngerasa serem saat membaca tulisan:
“Rinai berteriak.” Bagaimana, imajinasi otak saya sudah keren?
Kalian pernah mendengar istilah “alter ego”? Menurut wikipedia, alter ego yang berasal dari bahasa Latin ini mengandung pengertian “diri kedua” yang berbeda dari kepribadian sebenarnya. Istilah ini dipakai pada awal abad kesembilan belas, di mana seseorang yang memiliki Alter ego dikatakan menjalani kehidupan ganda. Review selengkapnya di : http://www.riawanielyta.com/2016/01/r...
Bukannya saya nggak suka sama buku ini, saya hanya nggak bisa menikmati seperti saat membaca Misteri Patung Garam. Jadi rasanya "It was okay" cukup dari saya. Mungkin sebenarnya salah saya juga sih, nggak baca review apapun sebelum beli dan baca bukunya jadi nggak tahu bahwa ceritanya lebih berat ke horror dan supernatural gitu...
Btw, tanda koma mahal kali ya, irit banget makenya...