Rayya percaya, prospek pernikahan yang paling aman adalah, jika partnernya adalah sosok yang sangat kita kenal. Kehidupan pernikahan tak akan sulit dijalani, dan kita akan selalu bahagia. Tapi, sesederhana itukah? Apakah semua kisah cinta akan berakhir setelah memasuki jenjang pernikahan? Bagaimana jika justru di situlah awal dari segala kisah yang akan bergulir?
Pada awalnya saya tidak niat membaca buku ini dikarenakan cerita dgn tema perselingkuhan benar-benar bukan type yang bisa saya maafkan karena sudah pasti penuh ketololan dari kedua belah pihak dan pihak yang tersakiti. Tapi ketika disodori buku ini utk direview dgn jujur, masa saya tolak sih? Baiklah tidak perlu panjang lebar lagi, saya mulai review saya.
Tokoh Gandhi ini mengingatkan saya pada cerita dari istri paman saya pada saat saya masih kuliah, ttg paman bungsu saya dan istrinya. Sbg anak bungsu dan tampaknya hobi tebar pesona ke lawan jenis yang tersedia, dia tidak sadar bhw "selingkuh" walau cuma ngobrol2 di night club dgn bkn pasangan dan dgn wanita yg itu2 saja sudah masuk kategori selingkuh. Dia mengeluh ke istri paman saya, baru ikat sepatu aja sudah diinterogasi oleh istrinya yang cantik banget, mau kemana???? Aku kurang apa? Semua yang dia mau aku beliin, dia mau mesin cuci dll aku beliin (pdhl aslinya dia kikir kalau soal keluar duit). Saya dulu tanpa tedeng aling-aling berkata, kalau saya jadi istrinya akan saya tinggalkan saja paman saya yg kekanakan begitu. Serupa tapi tak sama, Gandhi di awal cerita tampaknya penganut waham ala Ahmad Dhani ttg wanita, selingkuh gak apa2 selama gak ketahuan. Dan dia selalu menyalahkan semuanya ke org lain, dr ibunya yang setengah memaksa dia utk menikahi Rayya, menyalahkan Rendra (kakak Rayya) yg memanjakan dan membuat salah pengasuhan terhadap Rayya, Rayya yg gak becus dan cuek banget sbg istri bla bla bla.....
Dan tokoh Rayya ini juga mengingatkan saya pada artikel psikologi ibu Rieny FL Kusien yg sudah lama saya kliping tapi masih terngiang-ngiang dlm kepala saya. Ceritanya ibu Rieny pny pasien seorang ibu yang ternyata diselingkuhi oleh suaminya, parah lagi dgn pembantunya. Ibu Rieny dgn semangat 45 membantu wanita ini utk bercerai dari suaminya yg jelas2 tidak menghargainya. Berbulan-bulan kemudian, Ibu Rieny yg sudah lama tidak bersua dgn wanita itu sejak perceraian finalnya, bertemu kembali dgn wanita ini. Alangkah kagetnya ibu Rieny melihat wanita ini. Bukannya bertambah baik, malah jadi kacau balau. Tampaknya wanita ini jelas2 sudah kadung terlanjur bergantung secara fisik dan mental kpd suaminya, maka ketika dilepas paksa dari suaminya, hasilnya tidak seperti yang diharapkan oleh wanita yg kuat, tegar atau bahagia, dan jelas sekali bhw wanita ini punya mental penghuni harem drpd dicerai. Saya tidak mengatakan Rayya itu mirip dgn wanita lemah tersebut, justru berbeda scr karakter, tapi ketergantungan dia terhadap Gandhi sudah pada titik kronis entah dia sadari atau tidak. Secara keuangan saja Rayya tidak mandiri. Dan seperti wanita manja manapun, karena sudah terbiasa mendapatkan kasih sayang berlebihan (tapi gak sadar) Rayya jadi cuek habis-habisan, tidak peduli dgn suaminya sampai alarm bahaya mengguncang sendi-sendi rumahtangga mereka.
Yang bisa saya ambil pelajaran dari buku ini adalah setelah menikah tidak berarti berhenti berusaha mempelajari pasangan kita, apa yang dia mau, inginkan, harapkan. Kebersamaan sejak kecil tidak jaminan kenal betul seluk beluk watak dan karakter dari masing2 pasangan. Jangan memandang remeh kelebihan/kelemahan pasangan kita yang akan berbalik menjadi bumerang. Ketika Rayya meremehkan kekuatan kesabaran Gandhi, Gandhi membalas dgn perbuatan pelampiasan kpd wanita lain. Dan ketika Gandhi meremehkan kekerasan hati Rayya dlm menolerir perselingkuhannya, dia salah besar ketika Rayya bersikukuh utk tetap bercerai apapun yang terjadi. Namun di sisi lain saya harus mengacungkan jempol kpd pengarang, yang mampu membawa transisi dua tokoh ini menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Rayya boleh saya bilang beruntung sekali punya keluarga pihak suami yang mendukung dirinya, bukan Gandhi. Tapi author saking semangat menunjukkan totalitas keluarga Gandhi malah jadi kebablasan di kalimat hlm 240. Entah kakak Gandhi atau ayahnya yg mengatakan bhw kalau bukan beda umur yg kelewat jauh, mau saja menikahi Rayya. Aku jadi ngakak sendiri, itu kan diucapkan didengar oleh pasangan mereka, bagaimana reaksi mereka ya?
Terus terang membaca buku ini enteng saja karena penuh bahasa gaul saat ini tetapi terlalu sarat dgn bahasa Jawa Timur yang merajalela, membuat saya kelimpungan dan membuat saya teringat serta "merobek luka lama" saya ketika saya diajak ke Malang menemui saudara2 dari pihak ibu saya, dimana saya jadi pihak yg cuma melongo saja ketika mereka bercicitan dgn menghamburkan bahasa Jawa yang boleh dibilang 90% saya tidak mengerti. Sudah diingatkan bhw saya gak ngerti bahasa Jawa, cuma bertahan 5 mnt bahasa Indonesia dipraktekkan, dan selanjutnya kembali lagi ke selera asal, Bahasa Jawa. Saya harap buku berikutnya dr pengarang tidak terlalu kental dan medok lagi penggunaan bahasa Jawa yang tidak dimengerti oleh pembaca2 non-Jawa seperti saya.
Copy provide by Author for exchance with a honest review.
Cinta segitiga dan perselingkuhan jelas bukan tema yang ingin kubaca, tapi ketakutan awalku kalah dengan rasa penasaran pada novel yang menawarkan tema keluarga ini. Dan jujur, aku tidak menyesal mencobanya karena Mala lebih fokus untuk menceritakan tentang perjuangan meraih kesempatan kedua dan indahnya ketika cinta mulai tumbuh.
Gandhi dan Rayya adalah teman masa kecil. Keluarga mereka bersahabat dan mereka tumbuh dewasa bersama-sama. Kisah mereka sangat khas mencerminkan keluarga besar di Indonesia, dimana saat Gandhi cukup umur dan terlihat lekat dengan Rayya, orang tua memutuskan bahwa mereka dinikahkan saja. Toh sudah tahu latar belakangnya, balas jasa antar keluarga dan tidak mengundang zina. Dan di sinilah masalah mulai muncul. Karena mereka melupakan satu poin penting bahwa menikah tidak semata memenuhi hubungan fisik halal tapi juga masalah hati.
"Semegah dan semeriah apapun prosesi pesta pernikahan, tetap saja kehidupan nyata itu dimulainya setelah selesai pesta."
Di ceritakan dalam kalimat-kalimat pendek yang lucu, kasar dan khas Jawa Timuran (footnote itu adalah tambahan yang sangat membantu), dual POV Gandhi dan Rayya tampil minim narasi deskripsi. Banyaknya dirty word disini membuatku ingin menyikat semua mulut karakter di buku ini dengan detergent. POV keduanya tampil super mirip sampai susah dibedakan kecuali kita membaca aktivitas apa yang dilakukan oleh ybs. Sebenarnya aku suka dengan ide POV Rayya yang seolah-olah curhat dengan bundanya, tapi ini akan lebih sempurna kalau itu dilakukan dari awal chapter bukan cuma dipertengahan saat konflik sudah bermunculan. Konsistenlah dengan style setiap karakter kalau dirimu ingin memakai dual POV. Mala memberikan h/h yang di satu sisi berumur dewasa tapi berkelakuan ala anak kuliahan. Mungkin ini karena pola asuh tapi aku cukup terganggu dengan sifat naif manja egois Rayya, dan sifat suka menyalahkan pihak lain dan lumayanan Gandhi. Tapi interaksi mereka berdua cute, sweet dan menyenangkan untuk diikuti. Banter mereka ceplas ceplos, lucu dan selalu bikin ngikik padahal beberapa ada di scene ngenes !!!
Storyline yang diangkat Mala realistis, sederhana dan punya ciri khas. Konfliknya menohok tapi Mala cukup baik hati untuk membuatnya agak grey. Perjuangan Gandhi untuk meraih maaf membuatku galau ingin menendang bokongnya yang seksi atau memukul-mukul manja dadanya dengan teflon. Kegigihan Rayya untuk melindungi hatinya sampai akhir juga memuaskan batinku untuk melihat Gandhi teraniaya hohoho.. Sedikit masukan untuk Mala, aku ingin membaca kalimat-kalimat yang lebih luwes. Saat ini aku seperti membaca sebuah draft, sebuah "ikan dengan daging yang tipis", karakter dan cerita ini jelas masih bisa digali dan dikembangkan lebih banyak lagi. Cobalah untuk memperbanyak "showing" dan tidak sekedar "telling", seperti misalnya saat menuliskan scene flashback. Dan karena rentang waktu novel ini panjang dan alur maju cerita ini sangat cepat maka keterangan waktu di chapter akan sangat membantu.
Novel ini membuatku intropeksi, menyampaikan pesan moral tanpa kesan menggurui. Pernikahan adalah kuliah seumur hidup, saat setiap pasangan akan belajar untuk menjadi yang terbaik untuk satu sama lain. Aku suka cara Mala menyelipkan sedikit bagian dari pengalaman pribadinya sebagai penulis ke dalam novel ini, seperti diskusi sehat Rayya vs Fendi sang editor atau kejadian di dunia Orange. Good job Mala!!
"Tiap pilihan yang kita ambil memang selalu punya implikasi maupun konsekuensi. Termasuk pilihanku mengikatkan diri seumur hidup padanya. Sejauh ini alasanku sederhana saja, karena aku mencintai dan mempercayai dia. Seutuhnya. Sepenuhnya."
Ide ceritanya yg sederhana jujur bikin saya suka dengan buku ini. Ga njilemet seperti buku self publish dr Wattpad. Cerita ttg Rayya seorang penulis novel yg bersuamikan seorang pegawai negeri, Gandhi. Lika liku pernikahan mereka yg tidak dilandasi (atau mungkin tidak disadari oleh mereka) cinta. Saya suka cara penulis menggambarkan tarik ulur konfliknya, pas menurutku. Tapi saya ada bbrp ganjalan nih: 1. Hal.282 Melihatku, Rayya tak juga bergeming. Mungkin penulis lupa kalo arti bergeming adalah tak bergerak atau diam. :) 2. Hal.317 Oh, astaga. Kissmark! Mungkin maksud penulis adalah hickey yg artinya cupang? 3. Penulis terlalu sering memakai kata "Duh bunda" saya aga gerah tiap nemu kalimat itu (well, mungkin saya sedikit "nyinyir", tp mungkin bs diganti dengan kata lain. 4. Saya tetap menemukan bbrp typo. Contoh penempatan kata "di" Baiklah, saya rasa cukup segitu dulu. Setidaknya buku ini membuktikan kepada saya bahwa tidak smua buku SP itu buku panadol.
Ini adalah salah satu dari tumpukan buku yang dikirim teman-teman untuk melibatkan aku dalam tren baca buku-buku self-published. Kita gak niat mbuli lho ya. Apa yang ada di depan mata, kita kritisi dengan jujur. Apa yang bagus akan kita ungkap. Karena memang itulah yang kita lakukan sebagai book lovers. Buku ini aku selesaikan dalam sehari-semalam, dengan beberapa catatan .... 1. Cover. I loved the cover. It gave the right appeals for a gal with strong tendencies towards bubbly-cute stories like me. Ehehehe. 2. Did I have the right to critisize the pen-name? I was afraid it was the given name from the day she was born. So, sorry for saying about this, Mbak Pengarang .... but your pen-name was triggering me to pronounce it the wrong way. Instead of ‘Malashantii >> Mala + santi’, My mind always read it ‘Malas + hanti’. Wrong perception. Right? 3. At the first, I wanted to DNF-ing this book. The font size was hurting. So I asked my daughter (10 year old, a font lover :D). She said, “I like this font. It is Garamond. The font is easy to read. The contrast between roman (tegak) and italic (miring) is obvious. The kernings are at the right size ....” Oh wow. This was not the answer I'd wanted. Then I asked my husband. He teaches Typography and Graphic Designing at his campus, so I thought his answer would be fair enough. He said, “Garamond is the best font to be read. It is easy in the eyes, right. But the problem with this book is: it was using Garamond in regular size. For other fonts, the size was alright. But for Garamond, it tends to looked smaller. Maybe if the layouter used thirteen instead of twelve, the problem would not be there.” 4. There were several typos such as ‘batangan’ on page 20. I was pretty sure it was a local (Javanese) slang for male genital, so it should be written in italic, right? The same kind of typo you could find on page 117, ‘janggut’. It was a Javanese term for ‘chin’. In Indonesian, you should use ‘dagu’, because for some people, ‘janggut’ could be interpreted as ‘goatee’. On page 327: “Oke, menarik sekali pertanyaan Mbak Chia blablabla.” How could the host call her ‘Chia’ when she introduced herself as ‘Diara’ (page 325), and we knew that the host hadn’t known her before? I also found some ‘di-‘. ‘ke-‘, and comma placements typos. 5. Ok now the story-telling. In the beginning, it frustrated me that the writer wrote the book in two povs, but decided to not putting pov’s name on each chapter. It was confusing. Maybe if it were written in different type-face for Rayya and Gandhi, I would not that confused. 6. For Indonesian contemporary writer, I always love Retni SB. She was good at exploring feelings, without came out as whiny and annoying. Her heroines were always strong, had several flaws, but at the end, they could conquer their problems. I found her style of writing in Malashantii’s. Malashantii also wrote this book with heart in it. She made me cry for Rayya, and had sympathy fo Gandhi. 7. I only found a tiny hole on Chia/Diara. Why should she appear as a conscious-trigger at the end? Yes, it gave a win-win ending for a perfect-world story. But this was not a children story. You had no obligation to the readers to give them a win-win ending. There was no perfect ending for Rayya-Chia's relationship. Leave it when Rayya-Chia met at the mall. Period.
For the rating, I won’t give 1 because the plot was good, the story was also enjoyable. It was make sense too, with 'witty' and 'funny' and 'cute' at the right doses, so definitely not 2 stars. I liked how the book could described every aspects of jobs, places, dialog, in details. It proved that the writer did thorough researches for her book. So, would it be a 4 stars for me? Umm ... but the typos and the font-size were minus points. So I think 3.5 would be a fair rate for this book. As usual, it would be round-up to 4. There, in my humble opinion: 4 stars from me ... because Goodreads has no a-half star in their rating system ;)
Rayya dan Gandhi, dua orang yg menikah karena nyaman bukan karena perasaan cinta. Karena mereka berdua merasa, cinta itu nanti juga akan datang. Setelah cinta itu datang, terlambatkah untuk memulai?
Rayya sosok istri cuek, Gandhi sosok suami pengen istri nya manut dll. Setelah menjalani hidup bersama, Gandhi masih merasa sang istri terlalu cuek. Meskipun sudah dibilangin, Rayya tetep aja keras kepala. Oh ya Rayya disini sosok penulis. Suatu hari, Gandhi melakukan kesalahan yg menurut Rayya emang gak bisa di maafkan. Rayya menuntut untk cerai. Karena selama ini, Trnyata Gandhi ini blm mengungkapan apa yg di rasa. Cinta, itulah yg Rayya harapkan. Setelah kata Cinta yg Gandhi ungkapkan, apakah mereka masih ttp bersatu?!
Overall novel ini, lumayan. Cuman aku ngerasa kurang nge-feel sama mereka berdua. Gemess sama sikap 22 nya yg Jaim dan sok gengsiii.
Emang sih kita bisa memaafkan, tapi melupakan masih butuh waktu.
Aku lagi jenuh baca waktu nerima novel berjudul Rayya ini dari @shantiimala. Maka setengah hati aku mulai buka halamannya. Halaman pertama, hm… gaya nulisnya asik nih. Buka halaman berikutnya… berikutnya lagi… lalu tadaaa! Aku mendadak amnesia kalo aku lagi males baca ^^. Selain gaya bertuturnya yang asik, penulis ini mampu bikin kejutan di saat yang tepat, dengan adanya ‘misteri’ kecil yang terbentuk saat baca halaman-halaman sebelumnya. Seperti yang aku selalu bilang, aku suka cerita yang bahasanya disesuaikan dengan setting tempatnya, dan aku angkat jempol buat penulis buku ini, suasana Surabaya terasa banget! Top! Cerita berkonflik lumayan berat, tentang pernikahan/rumah tangga, namun dikemas manis dan ringan, bisa jadi bahan bacaan yang menghibur.
pertama baca karya mbk mala tu yang Aldebaran, suka gaya penulisannya, enak dan gk ribet bahasanya. dan saat baca Rayya aku mikir harus siap mental saat baca haha, dan bener dugaan aku, mulai dari kesel, gemes, dan masih banyak lagi. gemes saat Rayya dengan kuekehnya mempertahankan prinsip nya. dan sebel saat Gandhi melakukan kesalahan itu, duhhhh hmm... walau agak kaget dengan bahasa jawa kasar yang di pake, tapi masih bisa di maklumilah, haha. maaf mbk. dan aku bilang keren karna mbk Mala bisa banget membuat emosi pembaca naik turun. good job mbk. semangat buat karya selanjutnya.
Ini termasuk novel yang paling cepet saya kelarin. And... aku nggak kecewa sama sekali hehehe..
Di review beberapa akun goodreads banyak yang mempermasalahkan dialog 'suroboyoan'. Tapi buat aku yang notabene di Surabaya justru terkikik dan mewajarkan. apalagi kalau kadar kedekatannya udah kayak Gandhi dan Rendra, kata kami mah 'konco plek keteplek' (teman klop banget). Jadi ya seru sih, gak awkward juga. Kata 'jancuk' rasanya pas keluarnya di monolog ataupun percakapan. Kalau dibilang kasar sih, nggak juga ya.
Yap, di cerita ini aku menangkap bonding Rendra dan Gandhi kuat banget. Asli. Ini tuh persahabatan dua cowok yang udah kenal semua-muanya mah emang gini. Mulai dari cara cerita, penyampaian emosi, bahkan amarah. Tapi justru awkward soal kedekatan Rayya dengan Rendra atau Rayya dengan gandhi (sebagai teman). Sebagai adik yang punya kakak laki-laki, justru aku lihat penggambaran kedekatan Rayya dan Rendra terlalu berlebihan. Begitupula dengan Gandhi. Tapi ya mungkin ini cara Mbak Mala mengikat emosinya biar makin mantep ya.
Ada yang pernah review juga nggak sih soal dialog janggal di pertemuan keluarga Gandhi? Itu yang salah satu mas nya bilang mau juga sama Rayya kalau selisih umurnya gak jauh? Well.. Aku juga ngrasa aneh. Ini forum keluarga dan Rayya kan iparnya sendiri. Mungkin seharusnya Gandhi merasa risih.
Ceritanya berkisah tentang pernikahan Rayya dan Ghandi yang menikah karena dijodohkan oleh keluarga Ghandi yang berhutang budi pada keluarga Rayya. Kebetulan, Ghandi dan Rayya sudah saling kenal sejak Rayya umur 6 tahun sehingga Ghandi tak pernah merasa ada perasaan cinta pada Rayya. Rayya pun yang sudah nyaman dengan Ghandi tak begitu paham juga dengan cara menjadi istri yang baik karena mereka dari dulu seperti kakak dan adik. Ghandi pun cukup kecewa dengan sikap Rayya yang cuek yang mengakibatkan dia berselingkuh dengan Diara. Ghandi akhirnya menyesal dan bersalah pada Rayya. Sementara, Rayya yang sudah tahu kesalahan dia mengacukan Ghandi mulai belajar jadi istri yang baik. Namun, setelah dia mengetahui perselingkuhan Ghandi, akhirnya dia terluka dan meminta cerai. Menurut aku, cerita ini menyimpan pesan moral yang bagus banget bahwa meskipun pasangan sudah mengenal dalam jangka waktu yang lama, mereka tetap harus mencoba belajar mengenal terus karena sifat dan kondisi pasangan terus berubah seiring pertambahan umur. Dari sini juga, aku belajar bahwa pernikahan itu sebenarnya "masalah" karena seperti yang dinyatakan Ibu Ghandi, pernikahan akan terus menciptakan masalah dan itu yang harus disesuaikan antara suami dan istri.
Banyak teman saya yang bilang kalau membeli buku self publish karya penulis di wattpad itu pasti rugi, entah banyaknya typo yang keterlaluan, sampul yang tidak sesuai dengan isi cerita, atau bahkan isi cerita yang kelewat ngarang alias tanpa adanya riset sama sekali. Tapi setelah saya menerima Rayya dan kemudian membaca ulang (karena sebelumnya saya pernah baca di wattpad) saya langsung kagum, meski Rayya diterbitkan melalui self publish tapi ternyata hasilnya sangat memuaskan, tidak ada itu yang namanya typo merusak mata dan perasaan apalagi isi cerita yang ngarang bebas tak berdasar.
Pertama saya akan mulai dari covernya, secara keseluruhan saya suka karena terlihat cantik dan spesial. Perpaduan warna hijau muda dan semburat merah jambu membuat terlihat segar di mata, terlebih ilustrasi dua tokohnya yang sangat manis——menurut saya. Tapi ada dua garis melintang seperti bekas dilipat di sampul depan, entah itu bekas tertindih sewaktu di ekspedisi atau memang begitu darisananya, tapi ini tidak terlalu mengganggu karena sepintas tidak terlalu jelas.
Dulu sewaktu saya membaca Rayya di wattpad, tiap kali mbak Malashantii update ceritanya itu saya pasti yang langsung buru-buru buka, tapi sewaktu sudah buka wattpad dan tinggal baca, saya harus nyiapin hati buat baca. Akhirnya saya tutup lagi dan tinggalin itu wattpad, itu berlangsung sampe tiga kali baru dan saya baca keseluruhan. Tapi setelah sudah punya dalam wujud buku, ternyata saya masih juga sering gak siap dan harus nyiapin hati. Ceritanya yang sederhana dan terasa nyata membuat saya begitu dipermainkan oleh emosi yang dirasakan oleh kedua tokoh ini. Rayya marah saya ikut gregetan, dia sedih saya nyesek, Rayya nangis saya ikut nangis. Gandhi kecewa sama Rayya pun saya ikutan sebel sama Rayya (oke saya labil). Karena tema yang diambil adalah perselingkuhan, maka isinya bukan hanya melulu tentang romansa pernikahan yang disajikan secara berlebihan. Cerita yang disuguhkan itu nyata dan ada di sekitar kita. problema nyata yang pastinya akan menyentil hati istri-istri di luaran sana. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik dari Rayya, untuk modal NANTI kalau sudah berumah tangga. Bagaimana itu proses pembelajaran dan pembiasaan antara kedua belah pihak, apa itu menerima, bagaimana cara menyikapi masalah dari berbagai sudut pandang, memaafkan dan segala macam prosesnya. Dan semua itu disajikan secara sederhana namun mengena serta apa adanya, terlebih bahasanya ringan serta campuran bahasa Suroboyoan membuat saya merasa kalau Rayya dan Gandhi ini memang benar ada wujudnya dan tinggal di lingkungan saya. Ending yang disimpan ternyata sangat memuaskan, digambarkan dengan realistis dan tidak murahan, kecuali yang bagian semalam di Kenjeran hahahaha (melet dulu). Untuk typo ada beberapa tapi tidak mengganggu, lalu untuk EYD saya tidak berkomentar banyak karena sejujurnya saya buta EYD tapi kalau membaca buku saya lebih mengandalkan feeling dan entah apa saya tidak bisa menjelaskannya. Pokoknya dari hati, karena yang dari hati itu biasanya jujur. Oh iya, setelah diperhatikan ternyata jargon “Duh, bunda” banyak banget yaaa. Wkwkwkw
Yang paling saya suka dari Rayya yaitu adalah kalimat ini “Pasangan yang sempurna tidak diperoleh dengan cara ditemukan. Dia baru bisa didapatkan setelah melalui proses pembentukan.”
Ibarat makanan, secara keseluruhan Rayya ini paket kumplit, harganya murah meriah, porsinya banyak dengan nutrisi yang lengkap, yang beli pasti puas dan tidak kecewa. Semoga dapat memotivasi penulis lain yang akan menerbitkan secara self publish agar lebih memerhatikan kualitas dan kuantitas dari karyanya agar cap “ecek-ecek” yang sudah terlanjur diberikan pada self publish bisa berubah. Untuk mbak Malashantii ditunggu karya-karya berikutnya
Jujur, Rayya adalah karya penulis yang pertama saya baca di wattpad. Meski sebelumnya, Mbak Mala ini udah banyak nulis, tapi saya males bacanya. Bukan karena ceritanya nggak bagus, tapi karena EyD-nya terjal abis. Hahaha…Maafkan saya, Mbak Mala. Tapi, di Rayya, meski masih ada beberapa typo dan peletakkan tanda koma (,) yang kurang, kerasa banget peningkatan cara menulis Simbak. Mungkin karena kerja keras Fendi juga (?). Untuk itu, bintang pertama saya dedikasikan kepada cerita ini. Hal yang pertama kali terlintas di benak saya saat baca Rayya itu adalah … Wow, ini cerita sederhana! Sederhana yang saya pikir di sini, bukan karena ceritanya biasa-biasa saja. Tapi, justru karena amat sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Buat saya, ini keren. Lebih terasa realistis dan hidup, tak sekedar menjual mimpi. Tak sekedar CEO-CEO-an. Hahaha…. Chapter demi chapter yang saya baca (waktu itu masih di wattpad), membuat saya sering terkesiap. Berasa ditoyor-toyor dengan kelakuan Rayya. Berasa ngaca terus menggumam, ‘udah bisa jadi istri ‘beneran’ belum, nih?’ Gitu, yang ada di benak saya. Intinya, cerita ini mampu menyedot perhatian saya yang mudah teralihkan saat membaca, menjadi tenggelam dan bahkan hanyut di dalamnya. Berasa liat tetangga sebelah lagi berantem saking bisanya ngerasain feel-nya. Bintang kedua untuk cerita ini. Profesi Gandhi, tidak seperti cerita kebanyakan, yang selalu mengusung pria tamvan dan mavan (Saking nggak berserinya itu duit, makanya saya tulis pakai ‘v’. Hahaha), justru adalah seorang PNS, dengan segala keterbatasannya sebagai abdi negara (taulah ya, mesti hadir tepat waktu, harus ngangguk kalo disuruh atasan, kerjaan setumpuk datang tiap hari silih berganti dan jelas nggak ada episode tamatnya, terus yang jelas banget: kalo punya harta mencolok dikit langsung dicurigai korupsi. T.T), tapi justru tidak menghilangkan pesona seorang Gandhi. Gandhi dengan kemanusiawiannya membuat saya jatuh cinta dengan karakternya. “Hei, aku masih ngerokok ngapain nyusul ke sini?” (Rayya hal. 161) Sederhana banget ucapan Gandhi ini mah, tapi entah kenapa saya justru ngerasa romantisnya dia itu ya begini ini. Dan romantis semacam ngasi bunga (selama masih bunga beli di toko, bukan bunga deposito) mah masih kalah jauh romantisnya dibanding ini. Kata saya sih. Bintang ketiga untuk karakter Gandhi. Dan terakhir … ending-nya. Bukan karena saya mengharapkan and they life happily ever after kayak dongeng Princess-Princessan, tapi justru karena ending yang disodorkan begitu realisitis. Memaafkan bukan berarti melupakan, tapi jadikan pelajaran. Bintang keempat untuk cerita ini. Sekali lagi, Rayya bukanlah novel dengan konflik menye-menye dan menggambarkan hidup hedon penuh kemewahan. Tapi, Rayya adalah novel yang menyentuh konflik sehari-hari, kemudian dibalut dengan pesan moral yang menghentak di dalamnya. Menyentil kita dengan lembut, bahwa pasangan yang sempurna itu dibentuk, bukan ditemukan!
Saya mau jujur, buat pengakuan, mungkin Mbak Mala akan tersinggung, jadi sebelumnya saya minta maaf, sungguh.
Pertama tau Mbak Mala itu temen saya yang rekomen cerita Mbak, waktu masih 2014 atau awal 2015 kayaknya. Lupa. Temen saya ini rekomen cerita yang Love Insight. Saya baca, dan karena masalah selera, saya nggak lanjutin. Tulisannya masih belum rapi. Saya adalah pembaca kampret, yang mau baca cerita yang EyD oke dan penulisan rapi, tapi kadang lupa bahwa banyak author di Wattpad ini masih baru, masih dalam proses belajar, termasuk saya. Ya sudah. Setelah beberapa bulan (atau setahun?) kemudian, muncullah Rayya di halman rekomendasi. Saya tertarik baca karena suka kovernya (don't blame me, I'm a visual creature) mana blurb-nya juga simpel, managed to hook me pretty well. Dan saya baca, trus ga nyadar udah sampai part 6 padahal besok kuliah pagi dan harus bangun lebih pagi lagi buat balik ke Bogor. Saya suka gaya pembawaannya, berasa kayak ngobrol, ngalir aja, jadi enak. Saya menyadari tulisan Mbak Mala juga berkembang jadi lebih baik.
Rayya membuat saya merasa greget iya, nyesek iya (IH KEZEL SAMA GANDHI PAS DIA KAYAK GITU YAH YOU KNOW LAH WHAT I MEAN BAGI YG UDAH BAVA RAYYA), heart warming iya. Dan saya puas sama ending-nya. Nggak salah lah kalau Mbak Mala menyimpan ending sebenarnya untuk para pembeli buku Rayya. Ini bukan tentang endingnya hepi atau sad. Tapi endingnya realistis.
Cerita ini membahas perselingkuhan di pernikahan. Bener-bener diulas dari dua sisi, memberi pelajaran moral dan perspektif lain dalam memandang kasus ini, dengan bahasa yang mudah dicerna. That's why I love it. Novel ini bisa lah saya tunjukkan buat para manusia yang entah kapan itu pernah bilang novel SP itu gak bisa dipercaya atau gak berkualitas (jahad anet yang pernah bilang gini). Overall, Rayya worth it lah dibaca, bisa menghibur, dibawakan dengan bahasa ringan tapi tak melupakan pesan-pesan yang disisipkan secara halus.
Kekurangan? Paling EyD aja, tapi gapapa. Mari kita sama-sama belajar ya, Mbak. Saya juga masih belum menguasai perihal EyD ini haha
Akhirnya bisa menamatkan novel pertama mbak Mala. Novel ini aku dapet dari hadiah GA. Udah lama, sih tapi baru sempet baca sekarang.
spoiler alert!
Aku suka banget sama gaya berceritanya bikin betah. Kalo aja gak banyak godaan udah bisa aku tamatin dalam sehari aja ni novel. Diawal-awal aku gak suka banget sm Gandhi yg gampang banget terima ajakan Diara. Parahnya lagi waktu lagi ada masalah sm Rayya malah bikin masalah lagi. Satu kejutan lagi ternyata Diara itu sahabat Rayya dan pengakuannya. Sampe sini aku jg udah mulai ikut ngerasain sakitnya Rayya dikhianati. Rayya yg sampe minggat, susah makan, susah tidur bener2 bikin sakit rasanya. Aku udah pengennya cerai ajalah mereka ini biar Rayya gak sakit lagi :'( Ketika Gandhi punya taktik bikin Rayya jadi istri baik dulu sblm izin cerai diberikan ke Rayya dan seiring waktu Gandhi jg mulai berubah aku jadi kasihan sm Gandhinya. Aku ngerasa Rayya ini udah egois banget, Gandhi udah berusaha nurutin maunya Rayya tapi tetep aja mau minta cerai :"( Apalagi waktu udah Gandhi bilang kalo dia cinta sm Rayya (ya walaupun disini Rayya udah mulai berubah) dan untungnya endingnya berakhir bahagia buat kedua belah pihak. Untuk masalah tanda baca aku no commentlah gak terlalu paham tapi tulisannya udah rapi banget walau masih ketemu typo (cm 2 sih yg aku temuin) Good job, buat mbak Mala :D
Membaca novel ini memang agak sedikit lama. Bukan karena kisah novelnya, tapi dikarenakan, sehabis membaca beberapa novel yang langsung membuat mood ngedrop seketika. Keinginan untuk membaca apapun, hilang.
Akhirnya setelah sedikit memaksakan diri harus nih baca yang lain dulu biar moodnya balik lagi, bisa juga menyelesaikan membaca novel ini agak lama juga. Kehidupan di dunia nyata sedang membutuhkan perhatian yang fokus.
==== =====
Kisah ini benar-benar mampu membuat emosi menjadi satu. Ada tawa, canda, sedih, sebal, marah, dan sakit. Ada beberapa typo memang, tapi masih dalam batas wajar. Hanya saja ada beberapa yang bikin agak mengganggu..
Artinya tak bergeming itu berarti tak diam gitu yaa? Karena setauku biasanya ditulis bergeming ajah. Bisa minta tolong yaa, kalau aku salah EYDnya dibenerin. Kemudian kalimat 'Duh, Bunda' terlalu kebanyakan. Mungkin bisa diganti dengan 'Duh, Biyung'.
Tentang Gandhi dan Rayya yang semula menikah tanpa cinta. Rayya yang cuek akhirnya perlahan menjadi istri yang baik untuk Gandhi. Tetapi Gandhi yang terlanjur kecewa, sempat "selingkuh" dengan seorang wanita, yang ternyata "musuh" istrinya. Pada akhirnya perbuatan itu diketahui dan membuat hubungan mereka renggang. Rayya yang semula telah mengajukan syarat untuk tidak ingin berbagi, akhirnya mengajukan cerai pada Gandhi. Polemiknya dimulai disini. Kisah Gandhi yang berusaha mempertahankan pernikahan mereka, yang membuat mereka berdua sadar akan cinta dan kesalahan mereka selama ini. Seperti inti cerita: pasangan dibentuk, bukan ditemukan.
Ceritanya nagih terus. Keren banget pokoknya, karena cerita dalam novel ini seperti nyata beneran. Kisah Rayya dan Gandhi yang bisa dialami sama siapa saja dalam pernikahan, membuat kisahnya terasa real. Salut untuk author yang mampu menjungkar-balikkan emosi pembaca. Apalagi kadang diselingi dengan bahasa daerah, yang membuat novel ini terasa Indonesia banget. Mantap deh.
Tema ceritanya menarik, konflik juga sederhana gak ribet dan terlalu 'drama'. Saya suka cara Rayya menghadapi rasa sakit hati dan kecewanya gak berlarut-larut terus Gandhi juga yang meskipun licik akhirnya bisa membuat saya jatuh simpati juga sama dia. Jujur sebenernya ada moment saya benci banget sama Gandhi waktu dia bisa-bisanya mencumbu perempuan lain yang jelas-jelas dia tau kalo itu perempuan lagi mengandung anak orang lain. Jangankan Rayya, saya sendiri aja jijik ngebayanginnya. Tapi yaa memang penulis sukses bikin karakter tokohnya konsisten dari awal hingga akhir, makanya Rayya konsisten keras kepala dan Gandhi konsisten mesumnya. Novel yang cukup menghibur, meski saya sangat terganggu dengan kata-kata 'Jancuk' yang muncul terlalu sering. Tiap kali nemu itu saya jadi ngebayangin abang-abang yang lagi main gaple yang ngomong begitu. Aneh banget, ganggu banget. Lalu banyak bahasa daerah yang bagusnya dibarengi catatan kaki juga. Untuk bacaan ringan bangun tidur sih, novel ini lumayan okee.
saya awalnya kuatir karena buku ini mengangkat tema yg paling saya tidak suka, perselingkuhan, tapi saya paksakan membaca, dan saya sadari, begitulah kehidupan rumah tangga, suatu saat ada yang mengalami hal yang dialami oleh Rayya, saya hanya bingung disini, di awal, Gandhi hampir berselingkuh dengan Dirra, kemudian ketika bertemu dengan Rendra, Gandhi bilang cuman secelum, itu artinya dia sudah bersetubuh kan? ini yang saya masih rancu disini, kemudian, Gandhi ini pendidikan tinggi, Rayya juga pendidikan tinggi, tapi omongan dalam pikiran ataupun lisan bolak-balik jancuk-jancuk, itu saya berasa dengar orang golongan pasar dan tukang becak atau supir yang ngomong, coba dikurangi kata-kata jancuknya, mau bercandaan pun, selama saya di jawa timur, kata-kata jancuk sering keluat dari golongan tukang becak, preman, atau supir, dan tidak ada footnote untuk kata jancuk, padahal dikata-kata yang lain ada footnote-nya. Tapi saya salut, penulis berani mengambil tema ini.
Baca Rayya ini kerasa real banget, kl yg lain banyak yg menghujat gandhi tp aku dari awal udah jd pendukung gandhi. bkn karena aku gak solidaritas sesama perempuan tp dr awal penulisnya udah jelasin dengan gamblang gimana sifat Rayya. Lah... laki2 memang begitu kan? aku setuju banget sm kata2 Budhe pur di hal. 79 "Laki2 itu, kalau kita ndak bisa 'pegang' baik2, gampang sekali lepasnya" karna ada akibat pasti karna adanya sebab. Suka sekali sama alurnya, gimana rayya menyadari kl semua masalah dlm rumah tangganya ada andil dia jg didalamnya dan dia mau berubah mengajarkan kita untuk menurunkan ego dlm rumah tangga. suka proses mereka berdua dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah mereka. tapiiiiiii dari keseluruhan aku paling suka endingnya :) see.... gak selamanya perselingkuhan harus berakhir dgn perceraian. intinya 'selagi masih bisa diperbaiki maka perbaikilah'
Aku baca cerita ini di Wattpad.. telat ikutan PO paperbacknya..'cerita tentang rumah tangga yang keren banget.. alami dan memang itulah yang terjadi di kehidupan rumah tangga.. si Gandhi yang kadang pingin tak timpuk rasanya sangking kesel.. apalagi ditambah bahasa jawa slang.. haha.. enjoy banget baca karya mbak mala ini..
Banyak pesan yang bisa diambil, untuk belajar memaafkan, dalam rumah tangga harus saling memahami, tidak egois.
Prinsipku hampir sama dengan Rayya, jika aku dikhianati, aku akan memaafkan tapi tak akan bisa melupakan, segalanya tidak mungkin kembali sama.
Satu lagi buku dengan taburan bintang, dan ternyata gak sesuai ekspektasi. Baca buku ini susah banget kelarnya. Bkn krn tema cerita tapi gak ngefeel banget sama tokohnya. Gak loveable banget. Baik Rayya maupun Gandhy gak bikin simpati apalagi suka. Chemistry antar keduanya jg g dpt. Padahal ini pake POV 1, yg biasanya justru ngerasain banget perasaan si tokoh. Tapi g begitu dgn buku ini. Dan covernya, duh pegel liat lehernya Rayya :(
Diriku pusiang waktu baca ini... Bukan apa-apa, diriku kebat-kebit dibuat Gandhi sekaligus pengen nyiapin golok buat doski. Pokoknya ceritanya bagus, ringan tapi banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah Rayya-Gandhi. Bca ini ad banyak rasa, asin asem manis pahit pedes ada semua. Walau menurutku Gandhi perlu disiksa jauhhhh lebih parah lagi! Good job buat Mbak Mala.
Dari awal baca ini di wattpad, gw bingung sama pembaca2 yang menggilai cerita ini. Gw coba baca tapi entah kenapa gw gbs masuk, mungkin masalah selera sih ya. Apalagi POV si raya ini berisikk banget, dengan kata2 duh bunda berulang-ulang. sangat mengganggu.
Yang paling disuka dari membaca Rayya yaitu dialek Surabaya yang kental di buku ini. Rasanya dekat karena sama-sama dari Jawa Timur. Gaya bahasanya lugas dan blak-blakan. Ceritanya juga ringan dan menyentuh. Drama rumah tangga yang terasa real dan dekat dengan kehidupan pembaca pada umumnya.
Dari segi cerita, karakter dan plot sudah ok hanya teknis penulisan saja yang harus diperbaiki. Entah mengapa, kerja editing buku ini sepertinya kurang maksimal. Typos dan salah penggunaan tanda baca bertebaran di cerita ini. Tidak mengganggu jalan cerita sih, tapi bikin geregetan.
Bagi penyuka drama romans yang bisa bikin nyesek dan ketawa, buku ini bisa jadi pilihan.