Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri.

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.

Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara.

248 pages, Paperback

First published April 18, 2016

43 people are currently reading
606 people want to read

About the author

Fakhrisina Amalia

14 books200 followers
Fakhrisina Amalia's books:
1. Cerita Cinta Kota (Omnibook, Plotpoint, 2013)
2. CONFESSION (Novel, Ice Cube, 2014)
3. Public Transportation Stories Vol. 3 (Kumpulan Cerita Mini, Ellunar, 2014)
4. Beneath The Same Moon Vol. 3 (Kumpulan Cerita Mini, Ellunar, 2014)
5. Remembrance (Kumpulan Cerita Mini, Ellunar, 2015)
6. My Last (Kumpulan Cerita Mini, Ellunar, 2015)
7. Love at School (Kumpulan Cerpen, Elex Media, 2015)
8. Town Sweet Town Vol. 3 (Kumpulan Cerita Mini, Ellunar, 2015)
9. ALL YOU NEED IS LOVE (Novel, Gramedia Pustaka Utama, 2015)
10. HAPPINESS (Novel, Ice Cube, 2015)
11. Wonderland Vol. 1 (Kumpulan Cerita Mini Anak, Ellunar, 2015)
12. Amnesia Vol. 1 (Kumpulan Cerita Mini, Ellunar, 2016)
13. PERSONA (Novel, Gramedia Pustaka Utama, 2016)
14. REPRESI (Novel, Gramedia Pustaka Utama, 2018)

Feel free to contact her at dearfakhrisina@gmail.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
242 (35%)
4 stars
312 (45%)
3 stars
113 (16%)
2 stars
5 (<1%)
1 star
9 (1%)
Displaying 1 - 30 of 229 reviews
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
punya-sendiri
May 2, 2016
Rasanya lama sekali sampai akhirnya saya menyelesaikan naskah ini. Saya memulai naskah ini dengan suasana hati dan hidup yang bahagia, lalu menyelesaikannya dengan suasana hati yang berdarah-darah. Selama ini baru Persona yang mengiringi perjalanan hidup saya sampai sebegitunya. Persona ditulis dengan rasa cinta dan sakit hati di saat yang bersamaan. Persona juga membantu saya mengobati hati yang berdarah-darah itu, menyembuhkan dengan cara yang mungkin tidak dipahami orang lain dan saya tahu "kelahiran" Persona adalah saat di mana saya kembali sembuh. Lahirnya Persona adalah lahirnya saya yang baru juga.
Saya berharap Persona bisa dinikmati oleh pembaca. Jadi, selamat membaca. Saya takut mengucapkan selamat jatuh cinta karena mungkin akan ada yang tidak cinta-cinta amat. Selamat membaca, selamat membaca, semoga apa yang saya tulis dari hati akan sampai pula ke hati pembaca.
Profile Image for raafi.
930 reviews452 followers
May 25, 2016
Asyik ya. Pengalaman membaca karya penulis yang, well, bisa dibilang mengejutkan. Sempat beberapa kali mengeluarkan air mata karena ceritanya yang tampak nyata dan tak bercela. Juga karena Azura menjadi karakter sangat mudah diberi empati. Dan plot twist-nya!!!

Satu saja ketika kau membaca buku ini. Jangan banyak berharap! Kau akan jatuh!

Ulasan: http://bibliough.blogspot.co.id/2016/...
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
November 13, 2016
Resensi ada juga di: http://www.kubikelromance.com/2016/11...


Beberapa waktu yang lalu saya menonton drama Korea berjudul It's Okay That's Love, tokoh utamanya adalah dokter jiwa dan katanya sebagai pelopor drama yang berkisah tentang psikologi di sana. Kenapa saya memulai resensi ini dengan pernyataan yang nggak penting itu? Karena efek yang saya dapatkan ketika menonton drama tersebut dan membaca Persona ini sama, saya merasa dibodohi oleh penulisnya. Saya tidak pernah menduga kalau ceritanya ternyata tentang itu, sering kali saya melewatkan bagian sinopsis atau pernah membaca (biasanya ketika akan membeli buku) tapi lupa, ketika akan memulai membaca novelnya saya langsung memulai dari halaman pertama, sering kali melewatkan bagian sinopsis karena saya ingin mendapatkan cerita yang mengalir begitu saja tanpa tahu tentang apa, mendapatkan hal tak terduga seperti ini, dan biasanya akan puas bila berhasil menebak. Dan dengan sangat telak saya kecolongan.

Persona bercerita tentang Azura, seorang gadis SMA yang penyendiri dan memiliki hobi menyayat tangannya untuk mendapatkan kedamaian. Dia berasal dari keluarga yang berkecukupan tapi tidak harmonis, orangtuanya sering kali bertengkar dan hanya dengan melakukan kegiatan tersebut dia merasa lebih baik. Azura mulai mengurangi kebiasaannya setelah bertemu dengan murid baru di sekolah, blasteran Jepang dan sulit melafalkan huruf L, Altair Nakayama. Altair sangat memahami Azura, dia mengerti akan kesedihan dan rasa sakitnya, selalu berusaha untuk mengisi kekosongan yang selama ini Azura rasakan, dia selalu ada. Altair juga mulai membuat Azura tidak lagi memandangi Kak Nara dari balik jendela perpustakaan.

Lalu, Altair tiba-tiba saja menghilang setelah Azura mengatakan perasaan dan memilih dirinya, tidak ada kabar satu pun yang dia dengar tentangnya. Hidup Azura mulai berantakan lagi, tapi dia sudah lebih dewasa, walau sulit dan memerlukan waktu, dia berhasil mengatasi kekosongan, tidak lagi dengan melukai diri. Dan ketika dia menginjak bangku kuliah, dia memiliki teman perempuan pertamanya, Nayara W. Yara sosok yang menyengangkan dan penuh energi, dia kerap kali bercerita akan impian dan keluarganya yang harmonis, melihat temannya bahagia, dia ikut bahagia, Yara memberikan warna akan hidupnya, dan abangnya ternyata adalah Kak Nara, orang yang pernah Azura sukai. Kedekatannya dengan Yara membuat Azura juga dekat dengan keluarganya, terlebih dengan Kak Nara.

Namun, tiba-tiba Altair datang kembali ketika dunianya sudah berjalan dengan normal, entah kali ini tujuannya untuk menyembuhkan luka atau menimbulkan luka yang baru.
Tuhan nggak pernah ngasih kita beban kecuali untuk menjadikan kita orang yang lebih kuat.
Ada hal-hal dalam hidup yang kadang tidak bisa kita bagi ke siapa pun, entah karena terlalu menyakitkan, atau karena terlalu membahagiakan sehingga kita tidak ingin menyimpannya untuk diri kita sendiri. Jadi, kalau kau ingin aku mendengarkan, aku di sini.
Segala sesuatu yang seharusnya terjadi akan terjadi, Ata. Kalau tidak terjadi, ya berarti memang seharusnya tidak terjadi. Mungkin kali ini hal itu yang harus kita pahami.
Kata orang, sering kali kita bersahabat dengan seseorang tanpa tahu kapan persahabatan itu dimulai. Tiba-tiba sudah bersahabat, tiba-tiba sudah begitu dekat. Tapi saat menjabat tangan Nayara hari itu, saat melihat senyumnya, dan binar-binar di sepanjang matanya, aku seolah mengalami momen klik. Saat itu aku seolah diberi keterampilan untuk melihat masa depan, dan di masa depan itu aku dan Nayara menjadi dua orang yang bersahabat.
Ketika seseorang menganggap kita sebagai temannya, berarti orang tersebut mempercayai kita dan merasa bahwa kita pantas menjadi temannya dari sekian banyak pilihan orang yang ada. Dan itu menunjukkan bahwa, setidaknya bagi orang itu, kita istimewa.
Saya tidak akan membeberkan apa yang akan menjadi kejutan dari buku ini, sama sekali tidak seru kalau saya memberikan spoiler, biar kalian rasakan sendiri nantinya. Dari prolog saja buku ini sudah tercium akan sesuatu yang bersifat menjebak, meninggalkan tanya. Sebenarnya dari awal penulis sudah memberikan kepingan-kepingan untuk saya susun agar tidak terjebak, tapi entah saya terlalu bodoh atau penulis terlalu lihai membohongi, saya tidak menyadarinya. Saya terlalu serius menyelami karakter Azura sehingga saya seperti dia, terlalu kaget mendapati kenyataan yang ada, saya cukup speechless, buku ini ditulis dengan amat baik bahkan seperti tanpa cela.

Alasan saya sangat menyukai genre mental illness adalah karena tidak mudah dibuat, penulis harus membuat karakter yang sangat kuat, memberikan unsur psikologi yang tidak memberatkan pembaca untuk dicerna, dapat merasakan emosi dari tokoh utamanya, menjabarkan sebab-akibat dari tema yang dipilih, menciptakan plot twist yang tak tertebak untuk merangkai sebab-akibat tadi dengan sempurna, dan penulis melakukannya dengan sangat baik. Alur ceritanya sedikit lambat, tapi tanpa alasan, memang diperlukan untuk membuat jebakan kepada pembaca. Auranya sedikit gelap, rasa yang biasa kalau membaca buku bergenre mental illness.

Ini kali pertama saya membaca karya Fakhrisina Amalia, sebenarnya saya sudah ingin membaca tulisannya ketika buku Happiness cukup booming tapi sayangnya saya kesulitan mendapatkan buku tersebut. Membaca buku ini meyakinkan saya bahwa Fakhrisina Amalia adalah penulis muda yang cukup berbakat, saya akan menantikan karya lainnya.

Tidak banyak yang bisa saya katakan untuk buku ini, hanya pesan singkat, bacalah dan resapi apa yang dirasakan oleh tokoh utamanya. Dengan sudut pandang orang pertama, penulis berhasil mentransfer apa yang dirasakan Azura, membuat kita menjadi seperti dirinya, merasa kesepian dan membutuhkan orang lain untuk berbagi kesedihan. Layaknya drama Korea It's Okay That's Love yang wajib kamu tonton, maka Persona ini sangat recommended dibaca oleh siapa saja.

Dan saya akhiri dengan adegan paling paling paling favorit di buku ini.
"Aku nyata, Azura. Jadi setiap kali kamu merasa kalau segala sesuatu yang ada dalam hidup kamu nggak nyata, ingat aku. Aku nyata."
4.5 sayap untuk Hikoboshi.
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
June 28, 2016
3,5 dibuletin ke 4

PERHATIAN: REVIEW INI MENGANDUNG SPOILER

sempat skimming beberapa review di sini dan mendapat kesimpulan harus mewaspadai endingnya, tapi ya sudah begitu saja. saya tidak membayangkan endingnya seperti apa, dan tidak juga mematok ekspetasi. yang bikin saya berharap malah gaya bercerita yang mungkin akan mirip-mirip A Untuk Amanda mengingat buku ini bahas bintang (dan saya juga belum lama selesai baca A Untuk Amanda sebelum mulai baca buku ini), dan saya kira akan ada unsur astronomi yang cukup kental. ternyata tidak, harapan saya itu tak terkabul. saya juga mengharapkan suasana jejepangan yang cukup kuat, tapi ternyata itu juga tidak terkabul, malah cenderung kurang kuat. saya mengalami banyak momen "bagus sih tapi kok...." sebelum memutuskan penilaian untuk buku ini, tapi pada akhirnya ngasih empat bintang karena 1) secara keseluruhan, ceritanya bagus banget 2) memberi suasana baru dan beda dari yang lain di jagat novel remaja lokal.

saya benar-benar merasa buku ini bagus bangetnya di alur dan plot saja. soal gaya bahasa, saya malah merasa penulis kurang luwes bernarasi walau ada cukup banyak gagasan yang tersampaikan dengan sangat tepat sasaran (pilihan katanya pas banget) tapi itu hanya di bagian-bagian tertentu. pada halaman 27, Nara dan Reno bertemu dan ngobrol sedikit tentang dikeluarkannya mereka dari kelas Mr. Eko. Nara bilang, "Bukan gara-gara nggak bisa jawab soalnya, tahu. Kita dikeluarin gara-gara ngobrol dan nggak merhatiin. Udah gitu, pas dikasih soal kita nggak bisa jawab, makanya dikeluarin." percakapan ini sudah jelas fungsinya adalah untuk memberi tahu Azura (yang otomatis juga akan memberi tahu pembaca karena pembaca tahunya dari Azura mengingat dia adalah narator cerita) tentang mengapa Nara bisa ada di luar kelas dan nantinya menolong Azura. tapi rasanya agak kurang pas kalau perkataan Nara itu ditujukan kepada Reno. Reno berada di kelas, jadi seharusnya sudah tahu tentang itu. walau kesannya seperti menegaskan, akan lebih pas kalau penjelasan itu diberikan langsung kepada Azura. bagian lain yang kurang luwes adalah gaya bicara Azura pada Altair yang terkesan baku seperti percakapan tertulis, sedangkan kalau sama Yara atau Nara, gaya bicara Azura lebih natural seperti percakapan biasa pada umumnya. apa ini semacam salah satu hint yang mengiringi misteri tentang Altair atau hint untuk "membedakan" keberadaan Altair? soalnya kerasa banget perbedaannya, dan itu agak aneh. pada kesempatan yang sama Azura bisa ngobrol luwes sama Yara, pada kesempatan selanjutnya dia kayak pakai bahasa terjemahan yang baku gitu.

cerita ini pakai latar waktu yang cukup lebar, mulai dari Azura masih SMA sampai lulus kuliah. perpindahan dari kuliah sampai lulus kuliah itu agak-agak kurang mulus, sebab saya sempat mengalami momen kaget semacam "Loh, Azura udah wisuda?" yang ternyata penjelasannya ada di halaman selanjutnya. dan setelah berpindah waktu, tidak ada detail tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada Azura atau keadaan di sekitarnya. mungkin itu juga yang bikin saya kurang bisa mengikuti perpindahan waktu ini dan sempat agak bingung. saya kurang bisa membayangkan perubahan fisik Azura, yang sepertinya sejak awal memang kurang dijelaskan, padahal itu aspek yang penting untuk menunjukkan perubahan anak SMA menjadi anak kuliahan dan bahkan sampai jadi sarjana. perubahan pada gaya berpakaian misalnya, atau pada fisik seperti rambut, wajah, dan lain-lain.

pemberian informasi juga kurang rapi (atau saya yang kurang fokus ya?). tahu-tahu saja ada informasi kalau Nara ada jadwal koas yang berarti dia ternyata sekarang udah jadi dokter. informasi ini seharusnya bisa diberikan lebih awal di masa-masa Azura masih SMA dan Nara belum lama lulus SMA. di situ Nara agak-agak ngilang gitu kan? rasanya ngilangnya agak maksa gitu karena bener-bener nggak ada info lagi tentang dia, padahal kelihatannya dia anak yang cukup populer dan Azura bisa saja mendengar gosip Nara keterima di jurusan kedokteran, toh di bagian awal banget juga sudah ada informasi kalau teman-teman Azura suka bergosip. dan kalau dilihat di kehidupan nyata, biasanya setelah kelas dua belas selesai ujian dan mulai muncul aneka pengumuman, siapa saja yang keterima di jurusan apa saja jadi informasi yang lumayan menyebar bebas di seantero sekolah. apalagi pas diwisuda. Azura kan datang tuh ke wisudanya Nara. pas Nara muncul lagi, saya kira dia jadi anak teknik atau DKV gitu. eh, ternyata dokter. hal yang sama juga terjadi pada saat saya baca info kalau ayahnya Nara adalah dokter. awalnya saya kira ayahnya Nara hanya bapak-bapak kantoran yang suka baca koran. sama sekali nggak ada kesan kalau dia seorang dokter, jadi saat tahu kalau ternyata ayahnya Nara juga dokter, info itu jadi terasa tiba-tiba sekali. oh, hal yang sama juga terjadi pada Bara. sejak awal kemunculannya saya bertanya-tanya anak ini kelas/umurnya berapa sampai akhirnya disebutkan kalau dia udah kuliah. info itu jadi terasa telat banget.

chemistry Azura-Altair atau Azura-Nara juga saya nggak begitu ngerasain. si Altair tahu-tahu saja bilang "Aku mencintaimu", jujur saja itu harusnya momen penting tapi karena sebelumnya dia nggak ada gelagat cinta sama Azura (malah cenderung menjaga jarak aman), rasanya jadi kering banget. Nara sama aja, dia kayak suka sama Azura gitu tapi setengah-setengah banget. iya sih dia peduli, tapi ya hanya sampai sebatas simpati.

penggambaran momen-momen Azura nerima kenyataan setelah identitas Altair yang sesungguhnya terungkap, itu nyata banget, cuma kurang banget emosinya. penggambarannya bagus, tapi ya kayak digambarkan pakai kata-kata aja, nggak kerasa feelsnya.

bagian Azura diceritai ibunya sama Nara tentang hal-hal yang telah berlalu (semacam flashback), menurut saya itu terlalu detail untuk ukuran POV 1, dan rasanya sulit membayangkan ibu Azura dan Nara bercerita sampai sedetail itu, mengingat di kehidupan sehari-hari juga jarang ada orang yang kalau cerita sampai detail banget kayak gitu. terutama pas ibu Azura, masa sih ibu Azura cerita sampai menggambarkan momen-momen sebelum adegan dewasa di antaranya dan ayahnya Azura terjadi? seorang ibu menceritakan hal yang terbilang sangat personal seperti itu kepada anaknya... hmm sulit dibayangkan. tapi kalau nggak diceritakan secara detail begitu, Azura juga nggak akan bisa bercerita dengan detail ke pembaca.

satu lagi yang jadi keluhan saya adalah penyelesaian konflik orangtuanya Azura yang kesannya "gitu doang". di prolog disebutkan kalo ada Papa dan Mama saat Azura dirawat. tapi setelah baca selengkapnya, keberadaan Papa cenderung tidak ada karena tidak pernah disebut, padahal kehadiran Papa adalah momen penting yang seharusnya tidak luput dari perhatian Azura. soalnya kan si Papa minggat dari rumah, kok tau-tau muncul lagi, emangnya dia masih peduli sama Azura? tapi sampai akhir, bagian itu tidak dibahas. hanya muncul sedikit di bagian akhir, tapi ya gitu-gitu aja. Mama juga sama aja. setelah apa yang terjadi dengan pria asing itu, nggak ada kelanjutannya lagi. rasanya jadi ngegantung gitu.

oh, ada satu lagi keluhan saya. diary Azura, ini maksa banget. dari awal nggak ada hint kalau Azura suka nulis diary. tahu-tahu saja di belakang, ternyata dia punya diary. aneh. nggak cukup hint-nya kalau hanya waktu Azura bilang pengin nulis lagi setelah ngobrol sama Yara.

dengan sebegitu banyak keluhan, kok kamu ngasih buku ini 4 bintang sih, rif? hmm pertama, sampulnya bagus banget like bagus bagus bagus banget. kedua, ya itu tadi, alur sama plotnya luar biasa. ketiga, endingnya :))) sebenarnya saya punya dua pandangan untuk ending yang sangat mengejutkan ini: 1) ending-nya tidak terduga banget, plot twist di saat-saat terakhir, dan ya pokoknya bagus banget, 2) ending-nya sangat nggak nyambung, kalo pake istilah jawa maka namanya "terlalu digawe-gawe", bikin pembaca dapet momen "hah? kok gini?" alih-alih "waaah". butuh keberanian untuk bikin ending kayak gini karena momen kedua itu mungkin banget terjadi, tapi syukurlah kalau lebih banyak pembaca yang terpesona dan terpikat ketimbang mengeluh~ hal lainnya apa ya... permasalahan yang diangkat ngena banget, dan eksekusi kejutan tentang Altair sama plot twistnya itu bisa dibilang sangat mulus. hint udah disebar dari awal tapi nggak sampai terlalu mencurigakan. karakter para tokoh juga terbilang kuat, terutama Yara. dia seru banget anaknya :) beberapa pembaca menuntut(?) (sebenernya nanya aja sih) adanya sekuel. saya setuju-setuju aja sih kalau beneran ada sekuel, tapi kalau dipikir-pikir dari Persona ini, sekuelnya mau cerita tentang apa? gini aja juga saya nggak masalah sih, tapi kalau beneran ada sekuel juga saya mau-mau aja ntar bacanya haha

yak begitulah. maafkan kalau review ini terlalu banyak nulisin sisi buruknya. kayaknya baru kali ini saya suka banget sama suatu cerita tapi pas ngereview malah lebih banyak bahas sisi buruknya :) semangat terus untuk mbak Fakhrisina Amalia! saya akan baca buku mbak yang lain~
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
July 1, 2016
Fakhrisina Amalia
Persona
Gramedia Pustaka Utama
244 halaman
7.7

Mendengar kata "persona", hal pertama yang terlintas di kepala orang-orang--paling enggak buat orang yang suka main JRPG, seperti saya--adalah segerombolan bocah SMA di Jepang yang bisa mengeluarkan makhluk gaib berkekuatan super dari dalam dirinya yang selalu membawa evoker ke mana-mana atau menembus layar televisi ke dunia lain. Meski diambil dari bahasa Latin dan "persona" adalah kata yang baku, tentu saja saya enggak tahan untuk enggak bertanya apakah Amalia ter-influence dari franchise Persona. Ketika jawabannya enggak, saya agak ngedumel. Namun, setelah memahami hakikat dari arti kata "persona" sendiri dan membaca cerita ini, saya akhirnya paham kenapa cerita ini diberi judul demikian.

Hal yang paling kuat dari buku ini adalah plot utamanya. Kehadiran Altair yang mewarnai hari-hari Azura, serta alasan kenapa ia menghilang sudah dengan bisa mudah ditebak ketika ia pertama kali muncul, karena Amalia yang berbaik hati menebarkan petunjuk-petunjuk. Sedikit mengingatkan saya akan , Persona sebetulnya tidak menawarkan sesuatu yang baru. Namun, cara Amalia bercerita yang dipenuhi dengan luapan-luapan emosi Azura membuat Persona ini memiliki "perasaan", dan itu hal yang bagus, meskipun "perasaan" itu tidak sekuat di buku Amalia sebelumnya, Happiness , yang menurut saya masih menjadi karya terbaik Amalia.

Persona bisa menjadi karya terbaik Amalia, tentu saja, karena cara bernarasi Amalia yang sudah lebih luwes, tetapi temanya yang terasa distant meskipun nyata. Itu sebabnya Persona jadi kurang begitu relatable dengan pembacanya, tetapi Persona menjadi buku yang penting karena mengangkat tema yang jarang diangkat oleh novel young adult. Sekali lagi, young adult bisa membuka mata remaja-remaja akan kondisi-kondisi yang mungkin jarang mereka jumpai, tetapi real, dan itu penting. Meski saya mengharapkan detail yang lebih digali lagi, karena ini topik yang cukup mengawang-awang, dan saya yakin banyak orang yang masih belum aware akan hal ini.

Di Persona juga, sekali lagi Amalia menaruh ending yang luar biasa berkesan, dan enggak bisa dimungkiri, ending Persona adalah hal terbaik dari buku ini, meski terkesan agak manga-ish, tetapi tetap berkesan. Dan itu yang berhasil membuat Persona salah satu novel dari lini Young Adult yang paling baik.
Profile Image for Nina.
570 reviews53 followers
April 10, 2018
Pas baca hlm awal, saya nyangka ini kayak cerita cinta biasa. Jadi ekspektasi saya biasa saja. Dgn setting di Palangka Raya, kadang alurnya maju mundur.
.
Tapi dari awal awal cerita, pembaca sudah disuguhi adegan silet menyilet pergelangan tangan. Azura mulai melakukannya ketika suasana di rumahnya tdk kondusif. Perihnya luka sayatan membuatnya tenang alih alih kesakitan. Sampai Altair muncul. Azura menemukan teman pertama yg membuatnya nyaman krn Ata mempunyai banyak kesamaan dgnnya. Ketika Azura mulai menyayangi Ata, Ata menghilang.
.
Membaca Persona mengingatkan saya pada Amanda, tp lebih gelap. Makin mendekati akhir, saya sukses bergidik, merinding, dan terguncang (lebai tp beneran) setelah mengetahui kebenaran ttg Altair. Beneran novel ini mengangkat tema yg tidak umum. Bacanya susah untuk tidak menuntaskannya segera, saking page turner dan penasarannya.
.
Bulu kuduk saya berdiri pada bagian keluarga Nara meminta bicara dg Altair tp telp dimatikan, menghubungi no Ata tp tersambung pada nomor yg tdk disangka, sobekan kertas catatan antara Ata dan Azura. Selama ini Azura menyangka anak lain ke kelasnya krn penasaran dg sosok ganteng Ata, tp bukan itu yg dilihat mereka. Nyatanya karena Azura melakukan hal yg tdk disadarinya sampai keluarga Nara menelusuri fakta fakta kondisi Azura saat SMA dan sosok Ata. Semua beres sampai ending Azura menemukan saputangan yg tak pernah dimilikinya dan epilognya.
.
Persona membuat saya kena bookhangover dan ngilu. Cuma PDA Ata dan Azura yg bikin saya agak risih. Habis ini mau baca yg ringan dan sweet saja 👌
Profile Image for mollusskka.
250 reviews158 followers
May 31, 2018
Seandainya aku nggak tahu sebelumnya siapa Altair itu mungkin aku akan shock juga. Gara-gara udah tahu jadi biasa aja deh. Aku juga kurang sreg sama judul yang dipilih karena kepribadian Azura sama aja mau di hadapan orang atau lagi sendiri. Eh tapi aku nggak tahu banyak soal Psikologi sih, hehe.
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
June 14, 2016
Kita tidak bisa mengatakan kita berteman dengan seseorang karena kita menganggap orang itu teman. Karena... bisa jadi orang itu tidak menganggap demikian, atau bahkan malah tidak mau berteman. --- Halaman 19

***

Azura adalah seorang gadis SMA yang penyendiri. Bisa dibilang, Azura adalah gadis yang tidak mempunyai teman. Keluarganya berantakan, ayah dan ibunya tidak lagi memberikan kehangatan yang sebagaimana mestinya sebuah keluarga normal. Namun, suatu hari, kehadran seorang anak lelaki keturunan Jepang di sekolahnya membuat segalanya berjalan dengan lebih baik. Namanya Altair Nakayama, namun Azura senang memanggilnya dengan Ata.

Di sisi lain, Azura menyimpan rasa suka pada kakak kelasnya, Kak Nara, yang pernah menolongnya sekali saat Azura masuk ke dalam lubang. Azura senang mengamati Kak Nara dari jauh, diam-diam mengamatinya sedang bermain sepak bola. Tapi, tidak ada keberanian dalam diri Azura untuk sekadar menegurnya.

Kehidupan Azura yang suram menjadi berwarna semenjak Ata hadir dalam kehidupannya. Perlahan Azura bisa melupakan perasaannya dengan Kak Nara. Ata, selalu ada untuknya bahkan di saat-saat yang tidak biasa. Dengan Altair, Azura merasa dicintai dan begitu berharga, di tengah konflik yang mendera keluarganya dan lingkungan yang ia rasa tidak menerimanya.

Namun tiba-tiba saja, Altair menghilang. Azura merasa seperti kehilangan arah. Untuk beberapa waktu lamanya, ia merasa patah hati. Tapi hidup harus terus berjalan. Azura masuk ke dalam dunia perkuliahan, dan di sana dia menemukan seorang gadis yang mau menerimanya sebagai teman. Kak Nara, yang kuliah di kedokteran pun memberi warna tersendiri dalam kehidupan Azura yang baru.

Di saat segala sesuatunya mulai berjalan dengan normal, tiba-tiba Altair muncul lagi ke dalam kehidupannya. Ini tentu saja membuat Azura menjadi bimbang. Namun setelahnya, satu per satu rahasia kehidupan Azura mulai terkuak.

***

Mau cerita sedikit. Sebenarnya saya sangat penasaran dengan novel ini, karena review dan respon para book-blogger yang bagus sekali padanya. Berkali-kali ikutan giveaway, tapi nggak ada yang nyangkut juga, akhirnya saya memutuskan untuk menunggu saja buku ini sampai di Gramedia Samarinda (yang tentu saja, memakan waktu menunggu lebih lama). Mau beli online, tapi ongkos kirimnya amit-amit. Lalu saya menang sesuatu yang hadiahnya voucher buku, langsung saja saya pilih buku ini. Tapi karena dicampur buku lain juga dan lagi-lagi kendala ongkos kirimnya yang amit-amit itu tadi, akhirnya nggak jadi beli buku ini via online lagi. Berkali-kali saya ngecek Gramedia (yang nyaris tiap hari!) belum dapat juga. Akhirnya di suatu Sabtu, saya nemu juga dan nggak pakai pikir dua kali langsung beli.

Biasanya, kalau sudah begini, mau tidak mau saya akan menaikkan ekspektasi sehingga kalau ada yang tidak sreg sedikit saja, akan langsung membuat kecewa. Tapi kesan pertama saat membaca novel ini..., gaya penulisannya asyik, saya langsung suka. Dari segi plot, saya juga belum menemukan kekecewaan di sana. Untuk penokohannya sendiri, juga cukup kuat. Menarik.

Lalu saya menemukan satu dua spekulasi saat sudah sampai ke tengah cerita. Saya menyebut ini sebagai "remah roti" yang langsung bisa saya tangkap maksudnya. Jadi, saya tinggal menanti-nanti apakah spekulasi saya itu terbukti benar atau menjadi plot pengecoh. Dan ternyata, prediksi saya benar =)) #semacambangga hehehe.

Saya juga yakin, upaya penulis dalam melakukan riset seputar banyak hal yang menjadi plot utama di novel ini tidak main-main. Sampai saya jadi ikut-ikutan googling tentang makna "Persona" dan kaitannya dengan ilmu psikologi.

Satu hal yang saya suka, ketika penulis mengangkat kultur budaya lokal di dalam ceritanya. Pada mulanya, saya kira setting Palangka Raya yang dibawa oleh penulis tidak membawa pengaruh apa-apa dalam novel ini, kayak..., mau di Jakarta atau Palangka Raya, atau mana pun rasanya nggak ada bedanya. Tapi ternyata, saat penulis mengangkat tentang Festival Isen Mulang, kekhawatiran saya itu jelas tidak terbukti. Apalagi, saat penulis mengangkat isu asap pekat yang menimpa Kalimantan tahun kemarin. Wow, ini benar-benar tidak terprediksi. Penulis benar-benar jeli untuk mengangkat isu lokal dalam ceritanya! Sebagai warga Kalimantan yang turut merasakan dampaknya juga--meskipun tidak terlalu besar dampaknya seperti di Palangka Raya--rasanya ikut tergugah dan sedih-senang-sedih saat isu itu diangkat kembali.

Good job. Ekspektasi saya tidak salah tempat. Dan sejauh ini, Persona adalah novel Young Adult favorit saya :)

Baca juga di sini >> http://resensibukunisa.blogspot.co.id...
Profile Image for Ainay.
418 reviews77 followers
June 30, 2018
SEPERB!!!
EMEIJIIIIIING!!!
OWSEM!!!

Pokoknya ini buku keren sangaaatlah meski aku hampir mati lemes karena banyak banget adegan berdarah yang adalah pobiakuw :( untung aku kuat dan berhasil landjoet dengan tenang sampai halaman terakhir.

Aku seneng banget akhirnya bisa menemukan buku jenis ini lagi. Dulu aku baca Rumah Lebah zaman SMP, yang aku pengen nyari lagi buku begitu tapi nggak ketemu (dan nggak paham gimana nyarinya) sampai bertemu Persona ini.

Ketertarikanku itu menyeretku berkenalan dengan film Beautiful Mind, yang mengangkat tema serupa. Mental illness serupa. Aku suka film itu, yang kemudian membuatku bisa menebak dibalik cerita Azura dan segala tekanan batin yang dialaminya.

Aku suka semua tokoh-tokohnya di sini, ya kecuali papanya Azura yha. Dunia butuh lebih banyak orang seperti mereka, terutama keluarga Nara yang begitu adem dan cepat tanggap terhadap kondisi Azura. Bukannya menghakimi, menghujat, dan kemudian mengucilkan seperti kebanyakan masyarakat awam.

Di kampung-kampung, orang-orang istimewa seperti Azura pasti sudah dipasung dan ditaruh di kandang atau kamar-kamar tersembunyi. Tidak ada yang mencoba mengobrol maupun berusaha memperbaiki. Aku jadi teringan almarhum sepupu bapak, Wahab namanya, almarhum dulu dirantai seperti binatang dan kami anak-anak kecil suka ngelemparin pakai batu karena almarhum ditaruh di bekas kandang sapi terbuka :(

Kusuka sekali lah pokoknya. Semoga amanat yang terkandung dalam novel ini bisa tersampaikan dengan baik di masyarakat, supaya lebih banyak Azura di luar sana yang bisa ditangani sebagaimana mestinya.
Profile Image for Nining Sriningsih.
361 reviews38 followers
July 23, 2018
*baca ebook di IPusnas..
=)

ending'y ituuu susah ditebak & bikin cengo..
padahal dari awal udah siap" buat nggak keluarin air mata, tapiiii bikin nyesek ending'y..

hei, q juga ingin punya kakak cowok, sayang'y q anak pertama..
:'(

"hanya karena kau menganggapku temanku, bukan berarti aku juga menganggapmu temanku." hal 19

"waktu selalu punya cara mengubah segalanya." hal 54

"ada hal-hal dalam hidup yg kadang tidak bisa kita bagi ke siapa pun, entah karena terlalu menyakitkan, atau karena terlalu membahagiakan sehingga kita ingin menyimpannya untuk diri kita sendiri." hal 102

"passion itu kadang lebih powerful daripada cinta. yah, mungkin berlebihan, tapi seenggaknya passion nggak bakalan mengkhianati dan meninggalkan kamu. passion juga nggak bakal bilang dia sudah nggak jatuh cinta sama kamu lagi." hal 135

"kau harus hidup untuk dirimu sendiri. jadi saat aku pergi, saat orang lain pergi, kau tidak akan merasa kehilangan dirimu sepenuhnya. kau akan tetap bisa berbahagia."
Profile Image for Pattrycia.
351 reviews
April 10, 2016
Akhirnya ada satu buku lagi dari lini Young Adult GPU yang patut dikoleksi. Gw harus acungin jempol buat penulisnya, banyak banget improvement dari buku pertama yang gw baca dulu All You Need is Love. After reading two of her books, I can say that this author is a great story-teller. Membaca buku ini ngingetin gw sama zaman SMP dulu waktu masih suka baca komik Jepang. Tipe-tipe cerita dreamy yang bikin gw pengen balik ke sekolah buat mengalami kejadian yang sama.

I think the blurb of the book doesn't do justice to the story. Kalau ditilik dari blurbnya, gw kira buku ini akan berkisah tentang seorang ABG labil gadis SMA yang sedang galau karena disukai oleh 2 cowok sekaligus. But, hold that thought, turns out it is so much more than that.

Persona berkisah tentang kehidupan Azura, seorang anak korban broken home yang penyendiri, mulai dari SMA hingga ia akhirnya lulus kuliah dan bekerja. Di pertengahan semester kelas 11, Azura mulai mengenal Altair (Ata) yang merupakan murid blasteran Jepang. Untuk pertama kalinya Azura merasa jatuh cinta & dicintai. Tetapi suatu ketika, Ata menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun. Lantas Azura tidak berubah menjadi gadis galau yang susah move on. Dia patah hati & kebingungan, tapi dia berhasil membuktikan bahwa patah hati bukan berarti hidup harus berhenti di titik tsb.

Life goes on, Azura masuk ke universitas & berkenalan dengan Yara. Yara ternyata adalah adik dari Nara, kakak kelas yang Azura sukai sejak masuk SMA. Singkat kata, Azura bersahabat baik dengan Yara. Nara yang selalu memberi perhatian lebih pada Azura tidak juga membuat Azura lupa akan perasaannya kepada Ata. Sampai suatu hari Ata kembali ke kehidupan Azura #galaulagi

Gw suka sama keseluruhan cerita ini. To be honest, gw gak bisa nebak kemana arah cerita ini. Dari awal kemunculan Ata, penulis berhasil bikin gw squeal like a fangirl waktu Azura perlahan jatuh cinta pada Ata. Ata juga berhasil membuat Azura melupakan kesukaannya pada Nara. Kebiasaan Azura yang suka menonton Nara bermain bola secara diam-diam dari jendela perpustakaan menurut gw membikin novel ini kaya akan cita rasa Jepangnya. Pun juga dengan kebiasaan Azura yang suka membawa bekal & membaginya dengan Ata.

Poor Azura had to go through a life-changing kind of ordeal at a very young age. Kisah ini juga menunjukkan bahwa orang tua memiliki andil yang sangat besar dalam mempengaruhi pertumbuhan & mental anak. Tapi untungnya ada Yara, kak Nara dan keluarga mereka yang sangat menyayangi Azura.

Lastly.. That ending though! Berhasil banget bikin gw penasaran. Coba kalo ceritanya dipanjangin lagi, pasti gw kasih 5* deh #nawar #penyuapan

Buat kisahnya yang mengejutkan tapi ga kelewat dramatis, gw sematkan 4 full stars. Semangat ya buat penulisnya untuk menulis cerita-cerita yang bermutu & berisi.

PS: I wanna thank the kind soul who gifted me with this ARC for free. Sering-sering ya ;))
Profile Image for Laili Muttamimah.
Author 5 books39 followers
May 29, 2016
Sebenarnya udah cukup lama selesai baca novel ini, tapi baru sempet review. (Maafin ya, Kak Fa) :p
Ini novel ketiga Kak Fa yang kubaca, sebelumnya ada Confession dan Happiness. Kalau boleh membandingkan, novel ini auranya lebih gelap dibanding dua novelnya yang lain. Waktu itu aku pernah bilang ke Kak Fa, kalo dia jago nulis cerita yang manis-manis. Tapi, di novel Persona ini, aku cukup kaget karena Kak Fa seolah keluar dari zona nyamannya dan menulis dengan nuansa kelam.

Novel ini bikin aku larut bacanya sampai lupa waktu. Aku melihat kemampuan Kak Fa semakin berkembang di setiap karyanya, dan menurutku itu bagus banget. Dari segi konflik, novel ini terasa lebih kompleks. Meski begitu, gaya penuturannya tetap asyik diikuti, khas Kak Fa. Selain jalan ceritanya, hal lain yang kusuka di novel ini adalah latarnya. Di tiga novelnya yang kubaca, Kak Fa selalu mengambil latar Palangka Raya. Kak Fa seolah mengeksplor banyak hal sekaligus memperkenalkan daerah tempatnya tinggal itu, dan hasilnya memuaskan. Kak Fa juga membawa latarnya maju dengan persitiwa-peristiwa yang ada, salah satunya kabut asap. Hal-hal semacam itu membuat cerita dalam novel ini terasa lebih hidup. Jujur, sampai hari ini, aku belum bisa 'seberani' itu untuk menulis dengan latar tempatku tinggal. Ketika aku membayangkan tokohnya tinggal di Bekasi, imajinasiku buyar seketika. Hahaha.

Kembali ke cerita, sebenarnya di pertengahan aku sempat menebak-nebak soal Altair. Tapi ternyata tebakanku salah hahaha (anaknya suka sok tahu emang). Aku setuju dengan reviewers yang lain yang bilang kalo ending-nya itu top banget!!! Rasanya kayak dipermainkan, iya nggak, sih? :") Tapi ada banyak pesan yang ingin disampaikan novel ini, salah satunya hubungan antara orangtua dan anak yang sebenarnya bisa memengaruhi bagaimana kepribadian seorang anak. Menurutku, orangtua penting melakukan komunikasi intens dengan anak-anak mereka, walaupun sibuk bekerja atau sebagainya. Karena akan bahaya jika seorang anak nggak punya tempat curhat, lalu dia cari pelarian buat menghilangkan rasa sakitnya, entah pelariannya itu bisa berdampak positif atau negatif buat dirinya sendiri.

Waktu ketemu di Jogja bulan Desember lalu, Kak Fa bilang kalo dia senang banget nulis novel ini. Dan aku merasakan betapa Kak Fa menikmati tulisannya waktu baca Persona. Selain menemukan kesamaan latar di ketiga novel Kak Fa, aku juga melihat ciri khas tulisan Kak Fa yang lain, yaitu hubungan kakak-beradik. Kak Fa kayaknya hobi bikin adegan antara kakak kelas atau adik kelas, maupun kakak kandung dan adiknya. Jadi, meskipun novel ini nuansanya kelam, bukan berarti nggak ada adegan manis-manisnya, kok. :p

Secara keseluruhan, aku suka novel Persona ini. Setelah Abimanyu, Farhan, dan Altair, akan ada siapa lagi ya setelah ini? Ditunggu karya selanjutnya, Kak Fa! <3
Profile Image for April Silalahi.
227 reviews213 followers
June 30, 2016
Review Lengkap: http://duniakecilprili.blogspot.co.id...

Novel ini memang ditulis dengan baik sekali.
hal itu membuat pembaca dengan mudah terus membalik halaman demi halaman ceritanya.

Bercerita tentang Azura, cewek mungil yang tidak punya teman di sekolahnya. Dia bukannya tidak cantik, namun Dia merasa tidak perlu berteman dengan orang lain karena merasa mempunyai ayah dan ibunya saja sudah cukup. Keluarga Azura bahagia, setidaknya begitulah menurutnya.

Sampai suatu ketika Azura mengalami hal yang bertolak belakang dengan hidupnya selama ini. Dia merasa ayah dan Ibunya berbeda. Tidak sehangat dulu.
seringkali Azura mendengar pertengkaran setiap hari di rumahnya. Dan hal yang bisa meredam kekacauan yang didengarnya hanya dengan menyakiti dirinya.

Sampai suatu ketika Azura kedatangan seorang teman. Altair. Dengan caranya sendiri Altair dapat membuat hidup Azura membaik. Tidak lagi menyakiti dirinya.

Tapi bagaimana kalau Azura menyadari Altair pergi dari hidupnya?

Sejujurnya gue mengikuti seluruh tulisan Fakhrisina dari AYNIL, Happiness, lalu ini. Semuanya mengalami kemajuan dari teknik penulisan, diksi, dan tentunya cerita.

Sejak membaca halaman awal cerita ini, gue mati2 an pengen tau kemana penulis membaca sosok Azura menemui ending. Kisahnya yang kelam, ngebuat gue merasakan nyeri berkali-kali.

Penulis pun memberikan ending yang gue gak duga sebelumnya. Hahahahahahaha.. gokil parah.

Sosok Nara dalam cerita ini juga bener-bener menarik perhatian gue. Sayang porsinya dalam hidup Azura di sekolah tidak digambarkan banyak. Nara baru berperan saat Azura mengalami hal terburuk saja.

Oh ya, ada hal ganjil yang gue temukan, dan gue udah mendiskusikannya dengan teman yang mengerti hal tsb. Yaitu saat Azura menyayat pergelangan tangannya dengan menekan cutter kuat2 dan berkali-kali, digambarkan darah mengucur deras, tapi si azura masih dapat mengendarai motor bahkan menelepon Yara. Itu gak mungkin sih :)

Bahkan sampai dapat bertamu segala. Dalam benakku itu sudah membutuhkan waktu lama. Ya kecuali si Azura tidak mengirisnya pergelangannya dengan kuat.

Mau kasih 3* karena keganjilan tsb, tapi berubah jadi 4 karena plot twist menjelang ending yang penulis berikan.

Tidak sabar membaca tulisan Fakhrisina selanjutnya!
Profile Image for RaLav.
89 reviews21 followers
March 15, 2022
I’M SPEECHLESS.

Buku ini merupakan salah satu buku yang aku temukan di ipusnas. Stoknya sendiri lumayan banyak di ipusnas. Sebenernya aku bingung kapan aku mulai minjem buku ini dan kenapa alasannya😃. Tapi yaudahlah ya, kayaknya sih aku minjem pas itu gara-gara covernya lumayan cakep. Dan setelah aku pinjem, aku sempet cerita sama salah satu temenku dan kata dia, buku ini udah lama dia incer karena dia baca samplenya dan menurut dia bagus tapi gak tahu dimana bacanya dan ternyata di ipusnas ada (dia baru sadar di ipusnas ada buku ini pas aku kasih tahu).

Yaudah, akhirnya aku baca buku ini deh. Aku gak punya ekspektasi apa-apa pas baca buku ini, palingan roman anak sekolah, pikirku pas itu. Tapi ternyata gak sesederhana itu, bestie 😌.

Buku ini awalnya emang keliatan kayak buku young adult seperti biasanya tipe romance-romance gitu. Ya gak sepenuhnya salah sih, tapi plot twist yang ada diakhir buku ini itu beneran keren. Ending buku ini sendiri menurutku nyesek sih, aku emang gak nangis tapi nyesek udah gitu bacanya malem-malem pula, jadi kepikiran terus😔.

Buku ini juga gak cuman bahas romance tapi mental health juga. Sumpah gak nyangka sih ada buku kayak gini di ipusnas dan yang ngantri gak banyak😩. Rasanya buku ini underrated banget, padahal sebagus itu.

Usut punya usut, ternyataa oh ternyata buku ini ditulis sama penulis yang bukunya di ipusnas ngantrinya penuh perjuangan🥲. Alias buku berjudul Represi. Kalau kalian suka main di ipusnas, rasanya pasti gak asing deh sama judul buku yang satu ini. Buku Represi sendiri juga mengangkat isu mental health (btw aku belum sempat baca, karena sekali lagi ngantrinya nauzubillahiminzalik😭)



Overall buku ini bagus bangett dan woth it sekali untuk kalian coba baca. Setelah baca buku ini aku langsung nyari apakah buku ini masih dijual di pasaran, sayangnya aku belum nemu toko yang ada stok buku ini, kalau kalian nemu boleh banget dikasih tahu ke aku gapapa kalau preloved asal gak bajakan, karena aku pengen banget koleksi buku ini🥲.

Rate-ku buat buku ini 4.5/5⭐

Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
July 12, 2016
Review juga bisa dibaca disini http://rizkymirgawati.blogspot.co.id/...

"Memang luar biasa sekali pengaruh yang bisa ditimbulkan oleh kehadiran seseorang dalam hidupmu. Pada suatu waktu kau akan menjadi dirimu yang kau kenal, di waktu lain tiba-tiba kau berubah menjadi orang lain."

Selama ini Azura yang terbiasa hidup dalam sepi, di sekolah pun dia terkenal sebagai siswi yang penyendiri dan tidak punya banyak teman. Tidak ada seorang pun yang tahu, bahwa di balik semua sikapnya itu, Azura menyimpan beban berat dalam hidupnya. Azura sering menyiksa dirinya sendiri dengan sering mengiris pergelangan tangannya.

Azura seakan hidup dalam dunianya sendiri, di rumah pun hidupnya sudah berubah. Tidak ada lagi kehangatan keluarga, yang ada hanya suara bentakan dan teriakan dari papa dan mama yang senantiasa terdengar. Azura sudah terbiasa seperti ini, hingga suatu hari ada seseorang yang hadir dalam kehidupannya, mengubah hidup Azura sedemikian rupa.

Dia adalah Altair Nakayama, seorang siswa pindahan dari Jepang. Sejak awal Azura tidak berminat berteman dengannya, tapi entah kenapa Altair selalu mengganggunya. Altair yang belum terlalu fasih bahasa Indonesia, selalu saja bertanya kepada Azura selama pelajaran berlangsung. Altair ingin berteman dengan Azura, sebaliknya Azura masih enggan untuk membuka dirinya.

"Hanya karena kau menganggapku temanmu, bukan berarti aku juga menganggapmu temanku."

Hingga kemudian Altair mulai menarik diri, Azura merasa kehilangan. Akhirnya mereka pun berteman, dan Azura merasa bahagia. Bersama Altair, Azura menemukan dunia yang baru. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, sering menghabiskan bekal bersama. Altair selalu ada di samping Azura. Termasuk saat Azura sering mengintip gebetan yang disukainya, Kak Nara, kakak kelas yang pernah menolongnya.

Perlahan-lahan Kak Nara tidak lagi menjadi perhatian Azura, apalagi sejak Kak Nara lulus sekolah. Namun, kemudian Altair menghilang begitu saja. Azura patah hati, tapi berusaha untuk bangkit kembali dan akhirnya bisa lulus sekolah dan kemudian kuliah. Takdir pun mempertemukannya kembali dengan Kak Nara. Kak Nara adalah kakak dari Yara, sahabat barunya saat kuliah.

Ketika keadaan semakin membaik, Azura pun sudah terbiasa hidup tanpa Altair, mengapa Altair hadir kembali? Ada apa sesungguhnya? Bagaimana pula hubungan Azura dengan Kak Nara?

"Masing-masing dari kita punya satu lubang itu, lubang tempat sesuatu yang hilang mendadak, seolah dicabut paksa dari sana, dan kekosongan tempat itu akan mengubah kita setelahnya. Bagiku, lubang itu dulunya ditempati oleh Altair."

Ini bukan pertama kalinya aku membaca karya penulis, aku merasakan perkembangan tulisan yang makin matang dari penulis. Sejak membaca All You Need Is Love , aku sudah menyukai tulisannya sehingga aku pun tak sabar untuk membaca karya terbarunya ini.

Awalnya aku berpikir aku akan disuguhkan dengan seorang gadis remaja yang kebingungan memilih diantara 2 pria sekaligus, tipikal kisah cinta segitiga biasa yang sering diusung oleh penulis lainnya. Rupanya aku salah, kisah ini tidak sesederhana itu.

Sejak awal membaca novel ini, aku sudah disuguhkan dengan sebuah adegan rumah sakit yang cukup mencekam dan membuatku bertanya-tanya dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Kemudian perlahan-lahan aku diajak memasuki kehidupan Azura, tokoh wanita dalam novel ini. Awalnya aku bisa merasakan bagaimana sepinya hidup Azura. Hidup dalam keluarga yang broken home, tentunya tidak mudah. Sehingga ketika Azura mulai melakukan hal-hal yang tidak terduga itu mungkin hanya pelarian dari masalah yang sedang menghimpitnya, mengubah pribadinya menjadi penyendiri dan tak banyak teman.

Aku bisa merasakan bagaimana Azura yang sudah terbiasa hidup seperti itu, kemudian ada seseorang asing yang masuk dalam kehidupannya menawarkan sesuatu yang rasanya jauh sekali dari dirinya "sebuah pertemanan". Tentunya ada rasa takut membuka diri, namun perlahan-lahan Altair dengan semua sikapnya bisa mengubah Azura keluar dari zona nyamannya. Kehadiran Altair memberikan warna tersendiri dalam hidup Azura, kemudian akhirnya dia menghilang jujur aku pun bertanya-tanya ada apa. Apalagi kemudian Azura dipertemukan kembali dengan Kak Nara, kemudian Altair hadir kembali, makin membuat kisah ini menjadi semakin menarik.

Hal ini mungkin terlihat sederhana, tetapi jika kamu membaca halaman demi halaman novel ini aku yakin kamu bakal tahu bahwa kisah ini tidak sesederhana itu. Mungkin kamu akan merasakan banyak kejanggalan demi kejanggalan dalam kisah ini. Rasanya seperti ada yang tidak pas dan kamu mulai menebak-nebak apa yang terjadi, teruslah membaca karena kamu akan menemukan jawabannya di akhir cerita.

Mungkin aku seperti pembaca lainnya yang memang ikutan menebak kisah ini akan dibawa kemana, tapi percayalah aku pun dibuat terkejut dengan ending yang diberikan. Salut sekali dengan eksekusi yang dibuat oleh penulis, jujur aku dibuat tercengang-cengang dengan penutup kisah ini. Plot twist yang indah menutup perjalanan kisahku bersama Azura.

Tidak hanya mengisahkan tentang romansa Azura-Altair-Nara saja, tetapi ada kisah keluarga juga yang tidak kalah penting. Penulis mampu menggambarkan dengan baik, bagaimana sebuah keluarga itu menjadi fondasi utama bagaimana membentuk kepribadian dan karakter seseorang. Pentingnya keluarga untuk selalu ada, bukan hanya dalam bentuk materi saja, tetapi juga perhatian dan kepedulian.

Overall, aku rekomendasi novel ini untuk kamu baca, percayalah kisah ini tidak sesederhana yang kamu pikir. Aku yakin kamu mungkin akan menyukai novel ini seperti aku jatuh cinta kepadanya. Novel ini menjadi Young Adult terbaik dan terfavorit sejauh ini dari lini Young Adult yang sudah kubaca.

"Kadang-kadang, kedekatan kita dengan seseorang tidak dilihat dari seberapa sering kita bersamanya. Kadang-kadang, kedekatan kita dengan seseorang justru tampak dari betapa tidak seringnya kita bertemu, tapi kita selalu punya waktu-waktu menyenangkan dalam pertemuan yang tidak sering itu."
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
July 27, 2016
Azura memiliki cara yang salah dalam melarikan diri dari masalah keluarganya. Setiap kali orang tuanya bertengkar, ia akan menyakiti dirinya sendiri. Baginya, rasa sakit fisik yang ia rasakan dapat mengalihkan rasa sakit dalam hatinya. Setelah itu, ia akan dapat menghadapi hari-hari seperti biasanya.

Di sekolah, Ia lebih senang menyendiri, mungkin itu juga sebabnya ia tak memiliki teman sama sekali. Sampai Altair, seorang anak lelaki blasteran Jepang, pindah ke kelasnya dan duduk di bangku kosong persis di belakang kursi Azura. Lama kelamaan, Altair menjadi sahabat Azura. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama-sama baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dan pelan-pelan kebiasaan buruk Azura berhenti.

Sekarang jika orang tuanya bertengkar, Azura hanya perlu menelepon Altair dan mengobrol dengannya. Altair pun sangat mengerti keadaan Azura karena ternyata keadaan keluarganya dulu juga sama, hanya saja sekarang kedua orang tuanya telah bercerai. Persamaan ini membuat Azura makin dekat dengan Altair, sampai ia sadar bahwa ia jatuh cinta.

Sialnya, di saat keadaan makin baik, Altair malah menghilang. Azura hanya mampu menelan kekecewaannya sendirian. Hidup pun mengalir lagi seperti biasa, sampai ia lulus sekolah, melanjutkan kuliah dan bertemu dengan seorang perempuan bernama Yara. Sosok Yara yang ramah mengingatkannya dengan Altair, sehingga dengan mudah Azura menjadi dekat dengannya. Tapi toh hidup ngga pernah selalu penuh kebahagiaan, bukan? Karena kelak Azura akan bertemu lagi dengan Nara, cinta pertamanya. Serta Altair, yang muncul kembali begitu saja dalam kehidupannya. Hanya saja kali ini, kehadirannya mengungkap mengapa ada banyak rahasia dalam hidupnya.

Sejak awal saya cukup bersemangat membaca buku ini. Ceritanya dark, bikin penasaran, dan temanya ga jauh-jauh sama buku favorit saya yang tokoh utamanya “sakit”. Sejujurnya sampai konflik berakhir pun, saya masih menyukai buku ini. Ceritanya dibangun dengan baik, meski saya tak habis pikir mengapa Azura bisa tergila-gila dengan Altair. Tapi ya tak apalah, toh genrenya Young Adult, masa di mana cinta membuat hidup dipenuhi bunga-bunga #plaaak.

Pembangunan konfliknya dibangun bertahap dengan apik, pembaca masih dapat mengikuti laju cerita meski dikisahkan dengan alur yang maju mundur. Dan karena tema yang diambil tak hanya melulu tentang cinta dan keluarga tetapi juga nuansa psikologis, saya rasa cerita di buku ini cukup kompleks. Tetapi jangan khawatir, karena bahasanya asyik kok. Mudah dipahami dan diikuti.

Karakter-karakternya cukup kuat dan berkesan, terutama sosok Azura. Buat saya, Azura bukanlah anak SMA biasa, sebab ia telah melalui kehidupan yang keras bahkan dalam keluarganya sendiri. Keterpurukan Azura yang diceritakan dalam buku ini menjadi pesan cerita yang bagus, bahwa tidak hanya orang dewasa yang bisa tertekan, mereka para remaja juga dapat merasakan hal yang sama. Pun melakukan hal yang sama gilanya seperti orang dewasa. Saya sih berharap buku ini membuat orang tak hanya memandang sebelah mata terhadap mereka yang terlihat bermasalah. Adanya dukungan serta kebaikan yang senantiasa diberikan serta persahabatan tanpa penghakiman, menurut saya adalah cara yang tepat saat membangun hubungan dengan mereka.

Oh, satu yang tidak saya suka dari buku ini. Epilognya. Menurut saya, alangkah baiknya jika epilog itu ditiadakan saja. Itu jadi mengingatkan saya kepada salah satu buku menyebalkan yang pernah saya baca. Dan epilog itu menghancurkan bayangan saya tentang betapa bagusnya novel psikologis ini.

Profile Image for Yasfin.
119 reviews
February 8, 2017
Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas.

Secara harfiah kata persona yang berasal dari bahasa latin mempunyai arti semacam topeng yang digunakan para pemain teater untuk bersandiwara di atas pentas.
persona adalah semacam peran yang dilakukan seseorang dalam kehidupan sehari-harinya.


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/leonart_mar...

Ya mungkin itu sekilas pengertian Persona karena aku sempat bingung kenapa judulnya 'Persona' dan akhirnya paham.
Novel ini termasuk novel dengan cerita mental illnes. Yes, Azura merasa hidupnya yang berantakan, merasakan 'kedamaian' ketika melukai dirinya dengan cara menyilet urat nadinya. Hal itu selalu dilakukannya ketika mendengar orangtuanya selalu bertengkar di rumah. Awal mula dia bisa menyilet tangannya juga diceritakan di dalam novel ini.
Kehidupannya perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaannya membuat Azura melupakan mini cutter-nya dan juga membuat perasaannya kepada Kak Nara yang sudah lama dipendam perlahan luntur.

Selama di sekolah pun, Azura selalu berinteraksi dengan Altair dikarenakan ia tidak punya teman, sampai akhirnya Altair berulangkali menghilang. Azura merasakan kesalahan yang sangat janggal, ditambah dia stres menghadapi rahasia dari orangtuanya yang mulai terungkap.

Novel ini juga menceritakan bagaimana Azura ketika kuliah dan sudah bekerja. Padahal tipis lho, tapi penulis mampu membuat ceritanya tidak membosankan dan mengalir apa adanya. Mulai dari halaman pertengahan itulah, aku mulai curiga. Curiga akan suatu hal, yang ternyata emang bener! Damn it! Padahal aku berusaha menepis semua tebakan itu, tapi penulis membuat cerita dengan rapi sehingga tidak terlalu keliatan apa yang salah. Ketika tahu kebenarannya seperti apa, barulah aku tau di halaman sebelumnya, penulis sudah memberikan kode tertentu

Novel ini buat baper sumpah. Dari bab awal, udah nahan air mata terus saking sedihnya cerita ini. Ceritanya suram dan gelap. Dan ini adalah salah satu novel dengan genre Young Adult terbaik (menurutku). Kebenaran yang terungkap itu pula yang menyatakan peran Azura seperti apa. Miris ya pas baca halaman menjelang akhir, untungnya Azura punya beberapa orang yang masih peduli dengannya

Novel ini juga mampu membuatku menetes air mata, sumpah. Dan endingnya tak disangka-sangka........
endingnya menunjukan indikasi adanya..... ya baca sendiri aja deh. Dan aku minta tolong jangan liat halaman belakang yah, harus baca dari halaman depan, gak seru kalo udah tau duluan
Profile Image for Riski Oktavian.
465 reviews
June 3, 2021
Hari ketiga di bulan keenam diisi oleh buku yang pertama kali aku kasih bintang lima di tahun ini. Emang sebagus itu yak? Kalau pertanyaan itu yang keluar dari dirimu aku bakal bilang: iya. Bagus. Pakai banget. Oke lebay.

Aku gak bisa bohong kalau awalnya kukira novel ini tuh novel fantasi, tapi ternyata ini adalah novel slice of life yang juga ada percikan romance-nya gitu deh. Dan, ini adalah romance yang kusuka! Akhirnya setelah berkecimpung menjadi pembaca aku baru nemuin novel romance yang gak mainstream, gak itu-itu aja, gak common dan gak bikin illfeel. Sorry to say, tapi memang iya. Dan buku ini jauh lebih berbeda menyajikan cerita romance itu.

Awalnya aku harus terbiasa dengan gaya narasi dan penulisan dari penulis yang menurutku agak baku gitu sih, tapi lebih ke sana sananya aku jadi bisa terbiasa sama gaya penceritaannya yang seperti itu. Selain itu juga beberapa kali penulis memasukkan kata-kata sehari-hari yang bikin cerita ini real.

Bagian prolog saja cukup membuatku bertanya-tanya ditambah lagi bab satu, dua, tiga dan seterusnya sampai akhirnya perlahan-lahan aku mulai nangkep benang merahnya. Alurnya aku suka banget bagaimana penulis menyusunnya dengan rapi dan semakin dibuat sempurna dengan penambahan waktu di setiap awal bab.

Selain itu aku juga suka dengan deskripsi yang ada di dalam sini. Aku gak nyangka kalau akan "berjalan-jalan" di Palangka Raya dan aku suka detail-detail yang dijelaskan di sini entah itu dari hal-hal keseharian di sana bahkan sampai budaya. Gak terkecuali deskripsi makanan di sini yang bikin ngiler parah. Penulis cukup lihai mendeskripsikan hal-hal yang bikin aku suka dengan buku ini.

Dan, yang pastinya, hal yang aku suka lainnya dari buku ini yaitu: covernya. Covernya yang serasa ada kesan magis dan fantastikal bikin mempercantik buku ini (meskipun aku masih gak terima kalau buku ini bukan buku fantasi hahaha).

Buku ini membuatku terkejut dan nggak nyangka dengan segalanyaㅡlagi lagi dengan alasan tidak mau cari tahu tentang sinopsis maupun review apapun dari buku ini, supaya tidak terlalu ngasih harapan tinggi ke buku ini, seperti yang sering aku lakuin.

Dan karena buku ini pula aku akhirnya pengin eksplor tulisan Fakhrisina Amalia yang lainnya dan aku serasa pengin nyobain tulisan penulis Indonesia yang terkadang suka aku sepelekan. Meskipun deskripsi tempat-tempat di Indonesia cukup sering aku temuin gitu yah, tetep aja buku ini menampilkan kisah utama yang menarik dan antimainstream.

Recomended, even buat yang gak suka baca romance.
Author 4 books21 followers
July 31, 2016
Sekian kalinya baca cerita yang ditulis Fa dan sekian kalinya pula aku jatuh cinta dengan cara dia bercerita. Menurutku ini novel terbaik dari Fa, setelah Happiness (karena di sana ada Farhan). Selain itu, novel ini juga memberikan warna baru dalam tulisan Fa, membuatnya namanya berhak dikenal sebagai salah satu penulis young adult lokal yang patut diperhitungkan.

Kalau baca Confession atau All You Need is Love, kita akan menemukan rasa yang manis dalam ceritanya. Di Happiness, yang mempunyai cerita yang lebih berat, rasa manis itu juga tetap terasa (walau nggak banyak). Namun di Persona ini rasa manis itu cukup jauh berkurang. Ya, hubungan Azura dan Altair dan Nara memang cukup manis, tapi konflik yang diberikan menghilangkan rasa itu. Bisa dibilang ini novel Fa dengan konflik yang berat. And I really really like it.

Review lengkap bisa dibaca di: https://girlwithwritingproblems.wordp...
Profile Image for Yessie L. Rismar.
136 reviews2 followers
July 27, 2018
Saya suka cara penulis menjelaskan tentang sosok Altair yang misterius, juga suka cara penulis menggambarkan perasaan Azura yang tertekan. Alurnya agak lambat sih, tapi nggak masalah. Saya tetep suka Persona. Dan Kak Nara. :D
Profile Image for Meila Nada.
76 reviews2 followers
August 12, 2021
Hmmm endingnya kaya setengah-setengah gitu dehh padahal kalau endingnya A mengikuti jalan cerita udah oke tapi ternyata endingnya B hmmm gimana yakk
Profile Image for Aditya Wulan.
45 reviews5 followers
February 9, 2021
Baca ini saat bab awal bikin ngilu yang baca sih. Membayangkan adegannya karena dijabarkan dengan detail oleh penulis.
Azura yang selalu sendiri bertemu sosok laki-laki bernama Altair si sosok misterius.
Pertemanan itu makin terjalin seiring berjalannya waktu. Atair yang menemani Azura untuk melihat Kak Nara di waktu jam istirahat pertama. Altair selalu meminta bekal makan siang Azura. Juga sering mengganggu Azura hingga membuat Azura merasa hidupnya sedikit berwarna.

Azura yang dilema dengan perasaannya antara Kak Nara atau Altair di olah tidak berlebihan. Suka sama sosok Yara yang membawa aura positif dan energik. Nggak kelihatan maksa saat karakter baru masuk di tengah cerita.

Konfliknya dapat dirasakan untukku pribadi. Meski di ceritakan dengan alur maju mundur tidak membuat yang baca bingung. Penulis juga membuat pembaca merasakan rasa tertekan dalam diri Azura. Keren sih cara penjabaran tiap babnya.

Tapi entah bagaimana saat Azura melihat Atair yang lagi beli es teh dipinggir jalan. Aku langsung tahu siapa sosok si Altair ini. Langsung deh ingat kembali pertemuan mereka dan kejadian-kejadian yang menurut Azura aneh. Dan ternyata benar penulis menjelaskan semuanya sesuai dengan yang aku bayangkan. *Nggak tahan buat menebak*

Jadi ingat salah satu ftv nya Gigi saat membayangkan tiap cerita saat bisa menebak si Altair ini.
Adegan saat Azura melihat Atair di rumah sakit pun aku membayangkan drama nya Jo In Sung. Biar makin greget bacanya karena ada bayangan adegan nyata dalam kepala.

Dan juga typo pengulangan kalimat dan dialog di salah satu halaman yang sedikit mengganggu saat membacanya.
Profile Image for Sayfullan.
Author 10 books39 followers
November 7, 2018
Jujur, ini buku pertama Iis yang saya baca, dan saya langsung jatuh cinta. Sama bukunya tentu saja.

Cara bercerita penulis asal Kalimantan ini sangat mengalir. Enak dan memabukkan. Tanpa sadar, saya sudah ikut hanyut saja dalam perasaan tokoh dan kejadian-kejadian perih yang dia hadapi. Saya ikut sedih. Bahagia. Tertekan. Bahkan, saya merasa sebentar saja menggantikan posisi Azura. Penulis berhasil membuai pembaca dan menyesatkannya dalam alur dan plot cerita yang sudah dibangun. Good job, Is!

Penggunaan sudut pandang pertama sangat tepat. Selain langsung bisa menembak pembaca dengan pergumulan perasaan dan lubang hampa kesepian Azura, twist yang disimpan di bab-bab akhir sukses dieksekusi. Saya sempat ngeri. Kesakitan dan rasa putus asa digambarkan baik oleh Iis. Serius. Bahkan saya yakin memasang wajah muram saat membaca kisah PERSONA.

Yang sedikit mengganggu saya, ordo manusia kurang teliti dan mawas diri, adalah lompatan waktu. Beberapa kali saya membuka ulang untuk memastikan tahun kejadian. Selebihnya, saya suka. Ya, walau sedih merasa terlambat menemukan buku ini dan mengenal penulisnya yang sangat HUMBLE dan menyenangkan dunia akhirat.

Lanjut REPRESI! :D
Profile Image for Adhinda Puteri.
69 reviews27 followers
January 11, 2018
"Jangan menahan dirimu sendiri untuk melakukan sesuatu karena aku atau siapa pun, Azura-chan. Aku, bahkan siapa pun, tidak ada yang benar-benar akan bersamamu selamanya. Jadi jangan berhenti melakukan sesuatu yang ingin kaulakukan hanya karena orang lain. Kau harus hidup untuk dirimu sendiri. Jadi, saat aku pergi, atau saat orang lain pergi, kau tidak akan merasa kehilangan dirimu sepenuhnya. Kau akan tetap bisa berbahagia." -hal 188
*
Pada beberapa titik, saya merasa cerita ini klise. Brokenhome, naksir kakak kelas, kehadiran murid baru. Kemudian saya merasa dijungkir-balikkan dengan twist yang dibuka di hadapan saya. Novel ini membuat saya merasakan banyak hal, sampai sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book268 followers
July 20, 2016
Azura adalah seorang anak tunggal, dan juga gadis pendiam. Hampir setiap hari dia mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya. Namun suara-suara pertengkaran itu akan hilang ketika Azura mulai mengiris pergelangan tangannya. Rasa sakit dari sayatan itu mengalihkannya dari dunia nyata.

Suatu hari di sekolah, Azura bertemu dengan siswa baru bernama Altair. Kebetulan sekali, Altair duduk di bangku kosong yang ada di belakang Azura. Tidak butuh waktu lama untuk keduanya menjadi akrab dan menghabiskan waktu bersama. Bagi Azura, Altair semacam malaikat yang dikirim Tuhan untuk menentramkan hatinya. Azura bahkan mengacuhkan Nara, kakak kelas yang dulu sempat disukainya.

Sebelum saya membaca novel ini, tentunya saya sudah melihat beberapa review dari teman-teman di Goodreads yang umumnya menyukai kisah Persona ini. Saya jadi tertarik untuk membacanya. Thanks to SCOOP, buku versi digitalnya bisa didapatkan dengan mudah (tanpa ongkir pula).

Hingga setengah buku, novel ini hanya mengisahkan hubungan antara Azura dan Altair saja. Saya sudah bisa menebak sejak awal siapa Altair ini. Tapi ya penasaran juga sama ending-nya kayak gimana, dan apa yang menyebabkan Azura bisa “bertemu” dengan Altair. Apalagi kemudian Altair menghilang.

Berikutnya muncul tokoh baru, Yara, yang menjadi sahabatnya Azura di masa kuliah. Yara ternyata adalah adiknya Nara, yang sekarang ini sudah menjadi calon dokter. Bersama Nara dan Yara, Azura mulai melupakan kesedihan karena kehilangan Altair. Tapi kemudian suasana di rumah Azura mulai memanas lagi.Dan tiba-tiba saja Altair muncul lagi.

Meski ide ceritanya bukan hal yang baru di genre YA, setidaknya novel ini mencoba mengangkat satu sisi permasalahan yang mungkin akan dihadapi oleh remaja yang mengalami penolakan di lingkungan keluarganya. Satu hal unik juga dari novel ini adalah setting tempatnya di Palangka Raya. Penulis bahkan memasukkan fenomena kabut asap menjadi unsur yang memperkuat ceritanya. Ada satu quote menarik yang saya dapat dari novel ini

Ada hal-hal dalam hidup yang kadang tidak bisa kita bagi ke siapa pun, entah karena terlalu menyakitkan, atau karena terlalu membahagiakan sehingga kita ingin menympannya untuk diri kita sendiri. (Hal. 102)

Terima kasih untuk SCOOP dan Gramedia.com yang telah memberikan novel ini untuk saya. Kalau kamu tertarik untuk membacanya, kamu bisa mendapatkan versi digitalnya di sini. Ada diskon 20% lho…dan harganya jadi lebih murah dari versi cetaknya. Kamu pun jadi bisa membacanya di mana saja. Asyik kan?
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews125 followers
August 21, 2016
Pertama kali akan membaca buku ini saya sempat ragu karena saya kira ceritanya akan sama seperti novel remaja kebanyakan yaitu tentang cinta yang membosankan, tapi diluar dugaan ternyata tema yang diangkat didalam buku ini jauh lebih berat dari pada hanya sekedar cinta.

Fakhrisina Amalia berhasil menceritakan kisah yang cukup rumit tentang keluarga, cinta dan sahabat secara sederhana dan bisa dinikmati oleh saya secara pribadi yang cukup bercermin di Persona ini.
Profile Image for nadinosaurus.
273 reviews5 followers
November 1, 2021
WHOAH! AJAIB!

Cinta banget sama penulisnya! Ini buku kedua beliau yang saya baca setelah Represi. Dan lagi-lagi, saya jatuh cinta dengan ceritanya, twist dan ending yang keren dan tidak terduga! Aku kira ini novel romansa young-adult biasa, eh ternyata... dugaanku salah!

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sini, contohnya, bagaimana bersikap lebih peka terhadap orang seperti Azura, sebagaimana Yara dan keluarganya menaungi, juga... pentingnya punya sahabat dan temen curhat.
Profile Image for Ayesa.
69 reviews3 followers
October 31, 2021
Keren sih. Alur ceritanya tereksekusi dengan sangat baik. Ini novel kedua karya kak Fakhrisina Amalia yang saya baca.

5/5
Profile Image for Rayya Tasanee.
Author 3 books23 followers
November 11, 2018
Kapan terakhir kalinya saya dibuat menangis ketika membaca novel? Saya lupa, sepertinya sudah lama.

Munculnya prolog, pada awalnya membuat saya merasa sudah tahu akan seperti apa akhir ceritanya. Azura yang merasa tertekan karena pertengkaran orang tuanya yang terjadi terus-menerus, sering menyakiti dirinya sendiri dengan menyilet pergelangan tangannya. Ia remaja penyendiri yang tak punya seorang pun teman. Lalu Altair muncul di kehidupannya sebagai murid baru blasteran Jepang. Hari-hari Azura menjadi lebih berwarna sejak hadirnya Altair.

Di 3/4 bagian novel, saya menggumam, "Jadi inti ceritanya sederhana gitu aja?" Kemudian saya shock karena twist-nya mencengangkan! Whoa, nggak nyangka sama sekali. Saya sempat kesal, mengapa Altair tiba-tiba datang, lalu menghilang, kemudian muncul lagi. Kemunculannya seolah menunjukkan teknik deus ex machina (peri penolong tiba-tiba datang). Saya kira zodiak Altair adalah Scorpio karena tingkahnya seperti itu. Tetapi lahirnya disebutkan 24 Maret. Aries, dong? Oh, rupanya...

Altair adalah nama bintang, tapi isi novel ini tidak berhubungan dengan rasi bintang atau astrologi. Heuheu...

Setting cerita di Palangkaraya. Tetapi saya malah mengasosiasikannya dengan Jakarta. Kalau tidak disebutkan suasana kabut asap, saya mungkin keterusan membayangkan lokasi kisahnya di sekitar Jakarta. *woy!* Dua kali saya ke Kalimantan Tengah, tahun 2014 dan 2015 ketika terjadi kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan oleh korporasi, dengan sengaja. Tahun 2015 adalah yang terparah. Betapa warga di Palangkaraya dan sekitarnya tetap tabah menjalani hari-hari dengan udara sesak dan visibility rendah. Masker biasa tak cukup untuk menghalau asap agar tak terhirup rongga pernapasan.

Baiklah, kembali ke cerita. Ini bukan novel biasa tentang remaja yang kesepian. Konflik yang diangkat lebih berat dari itu. Judulnya sendiri diambil dari bahasa Latin. Persona berarti topeng, sebuah kata yang membentuk kata 'personality'. Ya, novel ini lebih membahas kepribadian Azura.

Ada beberapa narasi yang saya suka, narasi cerdas dan bijak, namun tak menggurui.

Secara ilmiah, manusia dibedakan dari hewan karena manusia memiliki akal. Itulah kenapa manusia merasa dirinya begitu agung dan kadang-kadang lupa bahwa segala persoalan tidak hanya dapat dihadapi dengan melibatkan akal, tapi juga bisa mengandalkan perasaan dan insting. (hlm. 75)

Segala sesuatu yang seharusnya terjadi akan terjadi, Ata. Kalau tidak terjadi, ya berarti memang seharusnya tidak terjadi. (hlm. 108)

Masing-masing dari kita punya lubang itu, lubang tempat sesuatu yang hilang mendadak, seolah dicabut paksa dari sana, dan kekosongan tempat itu akan mengubah kita setelahnya. (hlm.130)

Aku, bahkan siapa pun, tidak ada yang benar-benar akan bersamamu selamanya. Jadi jangan berhenti melakukan sesuatu yang ingin kaulakukan hanya karena orang lain. Kau harus hidup untuk dirimu sendiri. (hlm. 188)

Berkat twist-nya yang mengejutkan, saya semakin bersemangat membacanya hingga akhir. Prolog dan epilognya membuat cerita menjadi satu kesatuan utuh.

Suatu hari nanti kau akan tiba pada suatu titik di saat kau akan bangga pada dirimu yang hari ini, Azura-chan. Jadi kuatlah. (hlm. 241)

Selamat dan terima kasih buat penulis karena berhasil membuat saya menangis. :))

*4.3 bintang*
Displaying 1 - 30 of 229 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.