Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dear Nathan

Rate this book
Berawal dari keterlambatan mengikuti upacara pertama di sekolah baru, Salma Alvira bertemu dengan seorang cowok yang membantunya menelusup lewat gerbang samping. Selidik punya selidik, cowok itu ternyata bernama Nathan; murid nakal yang sering jadi bahan gosip anak satu sekolah. Beberapa rangkaian kejadian pun terjadi, yang justru menghantarkan Salma untuk menjadi kian lebih dekat dengan Nathan. Dua kepribadian yang saling bertolak belakang, seperti langit dan bumi; yang tidak bisa bersatu tapi saling melengkapi. Novel ini mengisahkan tentang masa indah putih abu-abu, persahabatan, pelajaran kehidupan, dan pentingnya untuk selalu menghargai perasaan.

520 pages, Paperback

First published March 1, 2016

1489 people are currently reading
13201 people want to read

About the author

Erisca Febriani

16 books847 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2,639 (43%)
4 stars
1,248 (20%)
3 stars
1,057 (17%)
2 stars
597 (9%)
1 star
551 (9%)
Displaying 1 - 30 of 390 reviews
Profile Image for April Silalahi.
227 reviews213 followers
May 30, 2016
0.1* rate for this book!

Sebelumnya gue mau kasih bocoran ke kalian yang baca review gue. Beberapa waktu pas gue baca buku ini, gue nge post apa hal yang gue temukan di buku ini ke twitter gue. Dan gue di block sama penulisnya yang nan muda belia. Padahal gue gak mention doi dan gue gak follow dya :)

Oke, gue mulai kasih review singkat tentang apa kurang dan lebihnya buku ini:

1. Dari 500 an halaman tebelnya buku ini, bener2 KETEBAK CERITANYA! Bangke! Gue baca tebel2 ya emang ceritanya ketebak mau kayak apa. Dan ceritanyaaa mirip bener dengan sebuah judul novel..

2. Tidak terlalu banyak typo didalamnya (gue baca cetakan ketiga) namun memang novel ini alay abis. Masa ada bahasan cepu segala.

3. Endingnya katcrut! Bangke! Setelah dengan mudahnya si Nathan dapat hidayah ke Bapaknya, endingnya gitu aja bangke! Nathan ini nyimpan dendam bertahun2 dan berakhir lo eksekusi gitu aja, Erisca? Emang lu pikir ini sinetron yang tiba2 dapat hidayah alam bawah sadar? Usaha Salma juga gak ada. Buat apaan bapaknya nemuin Salma kalau lo kasih deskripsi hidayah yang didapat Nathan begitu aja?

4. Nathan itu gak dengan mudahnya nerima kehadiran orang baru dalam hidupnya gitu aja kali neng Erisca! Emang lo pikir setelah dya sakit hati, berontak, kehadiran orang baru tersebut bisa diterima dengan mudah saat ngobrol doang? (Sorry gue gak mau spoiler orang baru ini siapa)

5. Ada hal kurang riset:
- setting SMA ini dibilang SMA fav di Jkt, tapi seluruh penggambaran isinya BUKAN SMA FAVORIT! ya kali anak SMA skrg ngomongin kucing bunting pas istirahat terus ngerjain guru sampai segitunya. Guru yang lagi HAMIL pula! THINK SMART ERISA! Ibu hamil GAK BISA DIJADIIN BERCANDAAN KACANGAN LO, ERISCA!
- Tipes itu bukan penyakit kayak Asma! Yang capek dikit kambuh. Memang merupakan penyakit tahunan tapi ya ikutan OSIS aja gak bakalan bikin lu sampe kolabs di RS kali ERISCA!
-Di cerita ini digambarin kalau tokohnya masih kelas X, tapi udah berkendara sendiri kemana2 :(

6. Gue gak nemu feel sedih atau kecewanya sama sekali. Gue gak nemu feel sedih saat si Salma cemburu atau saat konflik yang mendera Nathan dan Ayahnya. Semua ya berlalu gitu aja. Karena udah banyak cerita serupa.

7. Gue gak tau versi wattpadnya kayak apa, jadi gue gak bisa bedain ada sama dan bedanya dengan versi wattpad.

Bagusnya?
1. Covernya dicetak dengan bahan yang bagus. Kualitas jilidnya juga oke. Bahan kertasnya juga oke.
2. Untuk ukuran penulis muda belia, gue harus memuji kemampuan merangkai katanya mengenai perasaan seorang ayah. Dapat sih.. cuma ya biasa aja.
3. Novel ini pas dibaca sama anak zaman sekarang. Yang abege atau masih labil2 nya. Pas juga dibaca sama pembaca yang suka cerita romance menye2 tanpa peduli cerita ini mirip kisah apa dan apa yang kurang atau aneh akan tulisannya Erisca. Kalau kamu bukan termasuk 2 golongan tersebut, GA USAH COBA2 BELI BUKU INI! BUANG2 DUIT!

Terakhir, gue harap sih penulisnya lebih bisa terima masukan dan kritikan yang hadir dari pembacanya. Terlepas dya masih muda. Karena gue dah baca balasan komen di social media Erisca, dya gak terima kalau pembaca kritik bukunya atau mempertanyakan keaslian cerita novel ini.

Pesan penting: Novel wattpad lagi menjamur di penerbit major, sebelum beli liat review dulu deh. Apalagi harga bukunya mahal banget. Kasian duit lo habis, mata lo sakit baca buku tebel, tapi ceritanya gitu doang.
1 review
June 16, 2016
Review pedas untuk novel "Mega Best Seller" ini. Gue sebagai remaja 14 tahun baru menyadari kenapa lebih suka dengan novel karya JK. Rowling, John Green, Suzanne Collins, Andrea Hirata, atau buku antologi puisi Kahlil Gibran. Alasannya jelas, novel bergenre fiksi remaja di Indonesia kebanyakan isi ceritanya cinta abg labil semua. Karena novel ini hadiah ulang tahun, jadi gue terpaksa baca untuk menghargai kocek yang keluar dari saku teman.

Kekurangan dan keanehan:
1. 500 halaman dan banyak dialog sehari-hari yang tidak penting. Buang-buang kertas.
2. Banyak kata-kata kasar; ex: "Bangsat", "Brengsek", "Anjir", "Shit". Editor kerjanya apa, deh?
3. Katanya "SMA Favorit" tapi masa penggambarannya jauhhh banget. Mana ada SMA Favorit tapi kucing bunting jadi riset, orang kos sebelah diintipin, bawa motor pribadi sebelum punya SIM dan gak ditegur guru, Ketua OSIS ciuman di ruang OSIS? Kayak SMA Buangan.
4. Candaannya garing, guru yang lagi hamil gak bisa dijadikan bahan bercandaan. Keterlaluan.
5. Konfliknya kurang dieksplor lebih dalam.
6. Ceritanya ketebak.
7. Novel ini mengajarkan solidaritas; Ngumpul ngerokok bareng di belakang sekolah.
8. Novel ini mengajarkan menghargai perasaan; Intinya lo boleh bolos sekolah asal sama orang yang lo cintai.
9. Banyak teman gue bilang cerita ini mirip dengan novel "Jingga dan Senja". Akhirnya gue terpaksa baca dalam bentuk pdf untuk membandingkan. Dan wow! Tidak heran teman-teman gue para penggemar karya Esti Kinasih jadi marah-marah.

0, 01 rate. Gue serius.

Kelebihan:
1. Covernya bagus.
2. Untuk penulis muda kemampuan Erisca merangkai kata cukup baik. Namun biasa aja bagi gue yang hobi baca buku antologi puisi.

Dear Indonesia, Dear Penerbit, jangan heran anak-anak sekarang gak pernah galau kalau lupa ibadah tapi galau kalau diputusin pacar. Remaja butuh bacaan yang mendidik dan mengembangkan imajinasi. Jangan heran remaja sekarang berkata kasar karena memang kata-kata kasar justru diloloskan oleh editor untuk dibaca remaja seumuran kami. Woy, remaja! Lo hidup pakai nasi, bukan dicekokin cinta yang semu dari pacar. Lo gak punya pacar juga gak bakalan mati. Receh sekali, bung. Gue gak ada respect lagi sama novel fiksi remaja Indonesia. Mendingan novel yang punya konflik berat tapi isinya bagus. Lah, ini? Kata orang bikin baper. Bikin baper gua juga enggak nih novel, malah bikin gue makin bodoh.
Profile Image for Chaira.
29 reviews3 followers
November 2, 2017
Ada dua alasan mengapa saya berpikir bahwa novel ini overrated and doesn't worth the hype that much.

1. Semua orang yang membaca novel ini seharusnya sadar bahwa novel ini bisa terbit dengan versi yang jauh lebih singkat dan tidak harus menghabiskan hingga lebih dari 500 halaman, dengan inti cerita yang persis sama. Who writes a teenlit longer than that, anyway?!

2. Saya kira cerita semacam ini sudah terlalu banyak beredar di pasaran?

3. Well, okay, hands down, Nathan adalah salah satu dari sekian karakter novel utama laki-laki yang berhasil merebut hati saya dalam beberapa halaman saja. Sayang, saya agak kecewa dengan karakter Salma yang tidak menonjol dan lovable sama sekali.

Pesan moral dari novel ini: untuk menjadi seorang novelis, anda tidak harus menggunakan kata baku yang sah menurut KBBI, silakan lakukan kesalahan EYD disana-sini. Selama anda mendapat 10 juta readers di wattpad, saya rasa EYD dan kebakuan narasi sama sekali bukan masalah.

(p.s.: Overrated bukan berarti jelek. )
Profile Image for Utha.
824 reviews399 followers
May 4, 2022
Kalau dibilang nyelesaiin novel ini, nggak juga sih. DNF. Berhenti di halaman 164. Jadi resensi singkat ini apa yang aku ambil dari halaman sekian aja. (Bisa dibilang ini nggak murni ngeresensi novel secara keseluruhan... ya meski intip-intip ke halaman sekian juga.)

Pertama, kalo banyak yang bilang novel ini awalnya mirip Jingga dan Senja, yang nggak ada kabar kelanjutannya itu bener juga sih. Adegan awalnya emang mirip. Karakternya pun mendekati. Jadi ngerasa baca fan fiction. Tapi ya nggak apa-apa juga "mencuri" ide seperti ini, toh pengarangnya nggak plagiat. Toh juga masih karya pertama, masih cari karakter tulisan dan cerita apa yang bisa diolah... Sotoy kumat.

Kalau di JS aku masih bisa ngerti candaannya begitu karena sotoy lagi dah penulisnya, Esti Kinasih, sekolah di daerah Bulungan, dan kayaknya terinspirasi dari sekolahnya itu, masih relateable banget emang. Apalagi banyak temen-temen lulusan sana yang cerita tentang atmosfer sekolah itu. Sayangnya, aku nggak bisa masuk ke latar tempat Dear Nathan. Mungkin udah dibahas di ulasan-ulasan novel ini sebelumnya... tapi duh, sekolah favorit tapi candaannya kelas bawah banget. Masa ada candaan taruh kertas di dalem celana, dan... dan... baca sendiri deh... Shallow banget sih ye.

Terus terang aku pun nggak suka karakter-karakternya; penggambaran siswa-siswi di Jakarta kayak begitu...

Tapi, sebenarnya EF ini nulisnya cukup mengalir lho (salah satu poin plus) apalagi EF memang masih sekolah, jadi lebih bisa tahu dunia remaja kayak gimana. Sayangnya, kayak salah tempat gitu. Terus naskahnya terasa dipanjang-panjangin, nggak efektif. Aku sih kayak baca draf mentah dari penulis baru yang potensial. Padahal mungkin aja bisa direvisi dan lebih baik daripada novel tebal ini.

Kalau ada yang bilang overrated, jangan marah-marah dong. Itu nunjukin selera mayoritas remaja masa kini kok... :')

Sebenarnya bisa aja aku baca novel ini sampe abis, dan akhirnya membuat resensi gue berubah... tapi... ya begitu.

Saran: semoga kalau ada novel selanjutnya, "salon" yang mendandani novel tersebut melihat kausalitas cerita dan rasional atau nggak cerita tersebut.

Sekian.
Profile Image for Nola.
15 reviews9 followers
November 18, 2016
Awalnya baca karena dibilang bagus sama teman yang udah baca duluan, katanya sih lumayan buat mengenang masa SMA. Saya langsung mikir, ah teenlit paling ceritanya gitu-gitu aja. Terus pas lihat covernya, wah teryata penulis wattpad dan best seller pula. Siapa tau bagus, pikir saya, akhirnya saya pinjam deh bukunya. Eh gak taunya... Pas dari bab pertama yang awalnya udah ngira-ngira bakal beda, ternyata begitu doang. Ekspektasi jadi turun banget lah.

Tipikal teenlit, bab pertama itu kalau nggak tokoh utamanya yang kesiangan, ya pasti anak baru di sekolahnya. Dan di novel ini, dua-duanya digabung jadi satu! Plot ceritanya pun menurut saya sangat mainstream. Nggak begitu suka juga sama cara penulis mendeskripsikan suasana, kayak nggak runtut gitu. Terus banyak banget scene yang gak begitu nyambung di plot ceritanya, kesannya kayak nambah-nambahin halaman biar banyak. Dan hampir semua tokohnya nggak ada depth, terutama Salma, yang merupakan tokoh utama. Banyak typo juga. Saya tuh sampai balik ngeliat halaman cetakan novel, nyari nama editornya sambil mikir 'ini beneran diedit gak sih naskahnya?' Pas selesai baca novel ini, ngerasa aneh banget liat tebelnya padahal ceritanya ya gitu-gitu aja gaada gregetnya. Nggak worth best seller, kalo menurut saya :/

Tapi yah, balik lagi ke selera sih. Targetnya kan memang remaja ya. Mungkin kalo saya masih remaja atau SMA bisa senang-senang aja bacanya tanpa merhatiin ini-itu :)))
Profile Image for Anak Agung Sandra.
5 reviews4 followers
April 24, 2016
First of all, saya sangat menghargai penulisnya yang masih belia dan mampu menulis sekitar 500an halaman untuk buku pertamanya. Saya membeli buku ini karena hype-nya begitu besar di beberapa Gramedia di Jakarta. Bayangkan saja, terakhir saya ke Gramedia Central Park, buku ini ada di rak best seller, posisi kedua setelah novel terbaru Robert Gailbraith alias JK Rowling. Belum lagi harganya yang tidak main-main untuk sebuah fiksi remaja, tentunya ini menimbulkan ekspektasi besar di benak saya, dan mungkin juga di benak pembaca lain.
Saya menuntaskan buku ini kurang dari 8 jam karena rasa penasaran terhadap kontennya.
Membaca sampai sekitar 70 halaman, saya masih terus ditarik untuk membuka lembar berikutnya. Typo di sana sini dan keanehan tutur kata awalnya tidak banyak mengganggu saya, sampai Salma dan Nathan akhirnya jadian, saya merasa halaman berikutnya terasa hambar sekali. Karakter Salma yang kurang ekspresif dan tidak antusias dengan momen pacaran pertamanya sanggup membuat saya keki. Menurut saya Salma itu tidak kaku, hanya kurang open-minded dan tidak peka, mungkin berhubungan dengan masa lalunya bersekolah di tempat yg "katanya" dihuni murid2 yg alim semua. Karakter Seli yg harusnya bisa dibuat bitchy abis, di sini terkesan setengah-setengah. Lebih dari setengah halaman ke belakang ceritanya flat, dan nggak ada suspense yg menyentak. Saya pengin ceeitanya cepat2 berakhir, dan akhirnya saya menemui ending dan bergumam, "lah, gini doang?" Di sini karakter yg "jadi" menurut saya cuma Nathan, itu pun bisa lebih masuk akal kalau ayahnya bicara nggak pakai saya-kamu ke Nathan. Masa ada ayah manggil dirinya "saya" ke anak, dlm posisi lg berantem gitu? Terlalu banyak nama teman seangkatan dan kakak kelas yg karakternya sambil lalu, nggak ada yg memberi pengaruh kuat ke cerita.
Overall, lumayan buat bacaan ringan di kala santai buat ABG..
Profile Image for Ayu Eddy.
58 reviews11 followers
April 13, 2016
Kecewa sebenarnya... novel ini saya ikuti progresnya semenjak dari wattpad. Ekspektasi saya yang tinggi ketika tahu novel ini akan diterbitkan lalu kemudian hancur saat baca versi cetaknya. Yang saya mau tanya, novel ini di edit atau gak sih sebenarnya? Bukan cuma typo bertebaran, saya rasa selain gaya bahasa Nathan yang memanggil dirinya jadi "Saya-kamu" ke Salma kayaknya gak ada lagi yang berubah dari versi wattpad ke versi cetaknya, semuanya persis sama seperti cuma dipindahkan bulat-bulat begitu saja. Narasinya non baku, timpang dengan gaya bahasa Nathan sendiri yang justru keterlaluan formal saat bicara dengan Salma. Memang sih, narasi non baku masih ditemukan di novel-novel terkenal yang ditulis oleh penulis senior juga tapi seharusnya lebih disesuaikan, perhatikan tata bahasanya dan istilah-istilah asing atau istilah dari daerah itu sebaiknya dicetak dengan huruf miring. Hmm saya cuma bisa geleng-geleng kepala waktu baca halaman demi halaman. Saat baca di wattpad saya gak komplain karena saya cuma baca ceritanya, tapi berbeda jika novel sudah dalam bentuk cetak dan diterbitkan secara massal. Penulis dan penerbit bertanggung jawab akan esensi dan keseluruhan dari novelnya, kualitas dari tulisan pun seharusnya lebih baik karena sudah ada pihak yang membantu dan menganalisa akankah novel tersebut layak atau tidak diterbitkan.
Profile Image for Fikriah Azhari.
362 reviews147 followers
June 27, 2021
Well, aku baca buku ini di usia 15 tahun dan sebagai buku yang pasarnya remaja, aku tidak bisa merasakan kecocokan dengan buku ini. Semuanya diselesaikan secara mudah, bahkan untuk urusan Nathan dengan ayahnya. Bahkan aku nggak paham kenapa ceritanya ditutup seperti itu.

Untungnya aku cukup suka dengan Serendipity karya Erisca, terjadi perkembangan tulisannya di buku itu, aku pribadi menyarankan jika ingin membaca karya Erisca, mending Dear Nathan ini diskip aja deh, langsung baca Serendipity saja. Soalnya aku pribadi cukup nyesal baca buku ini. Hehe. Sekali lagi, sorry not sorry.
Profile Image for Alfiyyah Nurul Huda.
3 reviews3 followers
May 14, 2016
Well, saya pengguna akun Wattpad sejak 2014 dan tidak begitu mengikuti progres perkembangan cerita ini. Dear Nathan selalu muncul di bagian recomended Teen-Fiction dengan jutaan pembaca.
Dari fenomena itu, tidak heran kalau Dear Nathan langsung masuk jajaran Best Seller hanya dalam waktu singkat. Dear Nathan sudah memiliki 'pasar' tersendiri dari kalangan pembaca Wattpad.

Teman-teman di sekolah saya ramai membicarakannya, dan, oke. Saya tertarik membeli nya dengan ekspektasi tinggi. PO bukunya pun langsung laris hanya dalam waktu beberapa hari membuat saya ikutan bertanya, apasih menariknya?

Sesuai judulnya, seluruh kisah di buku ini memang terpusat pada seorang Nathan si anak bandel yang takluk pada gadis bernama Salma. Kemunclan Salma si anak baru inilah awal dari segala konflik.
Konflik batin, percintaan, bahkan keluarga, yang dikupas secara tuntas.

Pertama-tama, mari kita berikan apresiasi pada penulisnya yang sanggup menyelesaikan naskah setebal 520 halaman. Kerja keras Kak Erisca dalam menyelesaikan cerita ini patut diacungi jempol.

Saya tidak mau membicarakan tentang segala tuduhan bahwa Dear Nathan 'mirip' cerita dari beberapa novel yang ramai diperbincangkan. Kak Erisca memang memiliki caranya sendiri untuk mengisahkan kehidupan Nathan dan kawan-kawan.

Yang membuat saya kecewa setelah membaca habis isi bukunya adalah gaya bahasa, cara penulisan, atau apapun itu yang membuat saya berpikir 'Bukunya diedit dulu, enggak, sih?' atau Kak Erisca memang menyerahkan naskah ini mentah-mentah tanpa melakukan self-editing?

Mengedit naskah setebal 520 halaman jelas bukan pekerjaan yang mudah bagi seorang editor. Saya sampai bertanya-tanya apa karena buku sudah dibaca berjuta-juta orang di Wattpad buku ini sudah pasti bagus? Sudah pasti layak baca? Sudah pasti nyaman dinikmati? Sudah tidak perlu diedit lagi?

Penggunaan tanda baca berantakan dimana-mana. Masih ditemukannya kesalahan penyebutan nama. Penggunaan gaya bahasa pun terlihat kurang konsisten. Nathan menyebut dirinya saya-kamu pada Salma. Namun, ada kalanya Nathan menggunakan gue-elo pada Salma, saya bahkan menemukan penggunaan aku-kamu yang Nathan ucapkan pada Salma.

Gaya bahasanya timpang tindih. Beberapa dialog dan narasi menggunakan bahasa sehari-hari, dan banyak juga yang menggunakan bahasa baku.
Apalagi saat Nathan berbicara, saya kurang nyaman membacanya. Contohnya seperti ini :

"... Hati cowok bukan baja, Sal. Hati cowok juga bisa retak karena terlalu lama menunggu senja, dan selamat, kamu udah berhasil ngeretakin hati itu."

Yang paling mengganggu adalah kata asing dan adegan flasback yang tidak menggunakan huruf bercetak miring. Itu membuat saya gemas saat membacanya. Saya tidak tahu, apakah di cetakan selanjutnya semua kesalahan itu sudah diganti? Kalau belum, tolong deh, ya. Ini buku Best Seller yang kualitasnya harus benar-benar dijaga.

Dan semua kekurangan itu membuat saya bosan membaca. Baru sampai di pertengahan halaman, saya sudah ingin cepat-cepat menyelesaikannya. Faktor lain adalah karena tokohnya kebanyakan dan penokohannya kurang dalam. Karakter yang benar-benar terbentuk di buku ini hanya Nathan.

Bahkan Salma, si peran utama kedua pun terasa tidak loveable . Ia berteman dengan geng tukang gosip, kegemarannya baca novel, namun dari sikapnya dia malah terlihat garing dan terlalu kaku.

Saya rasa, buku setebal ini sayang sekali kalau hanya berpusat pada Nathan. Ada banyak karakter yang seharusnya dibuat sama unggul, ya seperti Salma yang jatuhnya gagal dan bikin geregetan. Lalu ada Seli, yang karakternya nanggung. Setengah-setengah dibuat bitchy dan setengah nya lagi dibuat lemah lembut penuh kasih sayang. Saya jadi bingung harus membayangkan sosoknya seperti apa.

Narasinya terlalu bertele-tele dan sekali lagi, membuat saya bosan. Pendeskripsiannya bisa dibuat lebih sederhana tanpa mengurangi kualitas kepenulisan. Dan banyak sekali adegan yang malah membuat saya 'apaan sih?' saking banyaknya konflik di buku ini.

Yap, satu-satunya yang saya nikmati di buku ini adalah dialog Nathan atau Salma dengan teman-temannya yang lumayan menghibur. Khas anak remaja masa kini. Kebimbangan hati para tokoh, kegalauan mereka, memang sangat relevan dengan situasi anak muda di Indonesia. Yang saya rasakan dari hubungan Salma dan Nathan justru hambar. Saya kurang mendapat feel dari keduanya.

Saya tidak tahu apa yang membuat banyak orang baper saat membaca buku ini. Mungkin adegan Nathan dan keluarganya. Yah, dimana-mana kalau sudah bercerita mengenai keluarga, apalagi orangtua, adegannya selalu terasa mengharukan.

Saya menggolongkan ini sebagai bacaan ringan yang cocok untuk para anak remaja, atau kalian yang ingin mengenang masa remaja. Namun tidak ada yang 'ringan' untuk 520 halaman. Terlalu berlebihan dengan ending yang kurang memuaskan. Yah, cerita seperti ini memang mainstream sekali untuk kembali dikisahkan. Namun untuk 520 halamannya, untuk 9,5 juta pembaca Wattpad nya, untuk 99.000 yang dikeluarkan untuk membeli buku ini, saya mengharap ending yang di eksekusi secara WOW.

Saya memasang ekspektasi terlalu tinggi dan menganggap bahwa buku ini terlalu 'biasa-biasa saja' untuk dijadikan Best Seller. Membuat lagi-lagi saya bertanya, buku ini heboh dibicarakan karena isi atau sekedar sensasi? Atau seperti yang teman-teman di grup Novel Addict katakan, bukunya heboh gara-gara kualitas atau popularitas?

Dua dari lima bintang.
Tadinya mau satu, tapi satunya lagi untuk kerja keras menulis 520 halaman.
Untuk Kak Erisca, tetap berkarya dan buktikan bahwa kualitas kepenulisan kakak layak masuk jajaran Best Seller. Tetap rendah hati dan jangan sungkan menerima kritikan.

all review from http://alfiyyahuda.blogspot.co.id/201...

Profile Image for Maggie Chen.
145 reviews85 followers
dnf
January 30, 2017
Bendera putih. Gak kuat. Gak bakal di-rate karena gak kelar. ;_;
Profile Image for Iyuscori.
25 reviews16 followers
June 29, 2016
Buat ukuran buku, aku ngabisin buku ini sampai dua minggu. Agak gimana ya, lama gitu. Biasanya aku baca buku cuma beberapa jam. Bahkan IEPnya Dee aja cuma sekitar tiga hari (itu juga lama karena aku rada lemot jadi harus mikir dulu sama istilah susah)
Aku sebelumnya udah baca part 1 di Wattpad, karna aku menemukan kurang asyik, aku menutup. Cuma karena temanku punya bukunya, yaudahlah ya baca aja lumayan libur ada temen gitu.. mana tau versi buku dan wattpad beda.
biar ga belibet dan bertele-tele, reviewku akan aku pakaikan nomor.
1. Buat romance, apalagi tipikal romance yang cewek dan cowok dari awal udah didisain saling bersatu, jujur, 500++ halaman is too much.
2. Dari awal, adegan telat sekolah, aku udah kayak "omigas, too typical!" tapi, yaudah, aku kasih kesempatan ajalah. Kadangkan yang diawal emang enggak seburuk di dalamnya. Tapi, ya ampun. Tambah ke sana, ternyata tambah typical banget.
3. Banyak adegan yang aku pertanyakan. Misalnya, ciuman Aldo. Oke, emang si Aldo waktu itu kayak agak-agak PDKT sama Salma, tapi Salma kan enggak ada rasa, buat apa dong dibuat adegan itu? Adegan itu enggak ada tindak lanjut yang cukup baik juga. Cuma gitu doang. Trus apa?
4. Aku enggak paham kenapa banyak teman-teman sepantarku yang bilang Nathan itu gimana gitu.. kayak favorit banget. Padahal, pas bagian Nathan minta kejelasan, jujur aja dari awal Salma enggak ngasih kode gimana yang bikin Nathan bisa ngira Salma suka Nathan. Jujur aja, ya, kalau emang cewek suka cowok, dichat jam 2 pagi juga ceweknya bakal bales. Kalau emang mau pakai metode tarik-ulur, ada batasnya. Dan yang ditunjukkan Salma itu sama sekali enggak ada rasa suka. Kasihan, mungkin?
5. TANPA ADA MAKSUD UNTUK MENUDUH PENULIS ADALAH PENJIPLAK tapi aku menemukan Nathan sangaaaaaaaat mirip dengan Ari dalam trilogi Mataharinya Esti Kinasih. Hal-hal yang membuat aku merasa mirip: keduanya biang onar, suka buat masalah pada guru, tidak disukai guru, ketemunya gara-gara telat, punya kembaran, orang tua bermasalah, terpisah dengan ibu dan saudara kembarnya (meski penyebabnya berbeda) dan lainnya. Pembaca Esti pasti juga cukup merasakan ini, ya.
6. Oke kebanyakan cons, tapi aku punya pros: penulis cukup jago bercerita. I mean, kalau punya ide yang lebih fresh, dia bisa nulis buku yang lebih baik sih, pasti.
7. Menurut review lainnya, di versi wattpad, Nathan menggunakan kata ganti 'gue-lo' pada Salma (plis, cmiiw) lalu di buku diganti jadi 'saya-kamu'. Saya enggak tau sebabnya apa, mungkin karena boomingnya serial Dilan? Entah. Tapi, karena perubahan itu, jadi tersisa beberapa kalimat di mana Nathan tetap menggunakan 'gue-lo' pada Salma yang jujur aja agak membingungkan.
8. Penulis memakai kata autis dan insomnia sebagai kalimat umum. PLEASE, IT'S A SERIOUS DISORDER. Tolonglah, jangan pakai kata-kata gitu.
9. Eksekusi terakhirnya, ugh, benar-benar menyakitkan. Saya ngerti bapaknya Nathan merasa bersalah. Tapi, enggak diperjelas kenapa Ayahnya memutuskan untuk menikah lagi pada Astrid padahal meski memiliki gangguan kejiwaan istrinya masih sehat walafiat (agak sakit tapi masih hidup dengan baik). Dan Nathan tidak mempertanyakan itu? Nathan malah menerima bayi dengan mudah? Nath, please?
10. Beberapa kalimat di bab-bab akhirnya saya skip dan fokus ke bagian percakapan (soz not soz) soalnya bosan banget. Please, itu bisa pendek kenapa harus bertele-tele.
11. Buat yang enggak pernah baca novel, novel ini cukup fine kok. :)
12. Saya enggak ngerti sama surat yang dikirimkan Salma ke Nathan. Saking malas, enggak berasa, enggak saya baca. MB, ITU NGIRIM SURAT CINTA KOK KAKU BANGET? SITU KIRA SETTINGNYA BARENG SAMA TENGGELAMNYA KAPAL VAN SOMETHING ITU?!
13. Intinya, Nathan mirip banget sama Ari. Cuma, ini kayak Ari kebanyakan baca Dilan. Bye.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Tiny Shen 沈帝妮.
1,251 reviews34 followers
May 11, 2016
Awal sekali, ketika cerita ini masih bertengger di wattpad, banyak teman-teman aku yang rekomendasiin, Viral nomor 1 lohh.. Cuman karena genre teenlit, aku ga tertarik..
Sekarang, setelah naik cetak, bertengger lagi di rak Bestseller. WOW.. Aku masih ga tertarik, meski penasaran juga ceritanya seperti apa. Hingga teman aku kirimin aku buku Dear Nathan ini. Mau ga mau, akhirnya aku bacalah buku ini..

Tadinya yaa, TADINYA mau kasih 1 bintang aja.. Tapiiii, ga tega juga jadinya kasih 2 bintang deh.. Apalagi penulisnya masih muda dan nulis cerita yang 500++ halaman.

Ini cerita di luar ekspektasi banget.. Karakter Salma ini bikin aku migren berjam2.. Ampun dehhh, kog bisa ada heroine kayak Salma ini? Kaku, ga pedulian, ga open-minded juga.. Kasian banget sama Nathan, pacaran sama Salma kog kayak pacaran sama nyamuk aja??

Tokoh2 pendukung lainnya bener2 cuman pendukung deh, kurang digali lagi karakter tokoh2nya. Dan yang bikin bingung aku (karena aku ga baca Wattpad) kog muncul tokoh yang namanya Fitri ditengah2 cerita, perasaan aku ga ad temannya Salma yang namanya Fitri. Setelah tanya2 akhirnya tau juga, Afifah itu waktu di wattpad namanya Fitri, setelah dibukukan ganti jadi Afifah.
(Tokoh Fitri ini muncul di halaman 121 dan 488)

Next... Ini buku diedit secara profesional dunk ya harusnya? Kan terbitnya lewat penerbit mayor.
Kenapa masih ada typo dan penggunaan kata2 yang menurut saya agak kurang pas.
Contohnya : matanya melinangkan sorot geli (hal.31).

dua bungkus rongkok (hal. 197), maksudnya rokok kali ya?


Dan menurut aku lagi, novel ini ga harus sampai 500 halaman lebih. Setengahnya saja udah cukup karena konfliknya pun cuman setengah2.. Tidak digali dan dieksplor lebih dalam. Kurang greget lah..

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Putri Mayang.
6 reviews2 followers
April 16, 2016
Awal mula saya menemukan cerita ini di Wattpad beberapa bulan lalu dan melihat viewersnya di Wattpad. Luar biasa, belum pernah saya menemukan cerita teen-fiction dengan antusiasme yang membludak dari para pembaca. Pertama kali saya tahu ada cerita dengan viewers terbanyak ada di My Lady tapi sungguh, semenjak itu saya fobia dengan viewers banyak namun ternyata kualitas cerita yang disungguhkan tidak sebanding. [Mohon maaf, bukan membanding-bandingkan, saya hanya ingin berkata jujur]. Entah kenapa waktu itu Dear Nathan muncul di daftar terpopuler, akhirnya dengan mengalahkan fobia saya, saya mulai membaca chapter pertama dan seketika saya akui "Cerita ini pantas mendapat viewers banyak." Kenapa? Karena dari sekalian banyak teen-fiction yang saya baca di wattpad, Dear Nathan mempunyai gaya kepenulisan yang rapi dan menarik, menggunakan gaya bahasa baku dicampur non baku, mengalir sebagaimana tutur kata remaja semestinya. Dan jujur saja, semenjak itu, Dear Nathan menjadi favorit saya di Wattpad. Tiap hari mengecek Wattpad, berharap ada update terbaru sampai akhirnya mendapat kabar bahwa naskah ini dibukukan. Sempat kecewa, tapi saya sangat berekspektasi tinggi dengan novel ini.
Menurut saya, banyak naskah di Wattpad yang 'hanya mengandalkan viewers namun juga dibukukan' dan Dear Nathan sangat layak naik cetak, bukan hanya mengandalkan viewers, tapi kualitas ceritanya sendiri.
Ada beberapa kelebihan dari cerita ini.
1. Penokohan yang Kuat.
Karakter Nathan yang bad-boy dan sangat menghargai perempuan membuatnya mempunyai bagian tersendiri dalam hati setiap pembacanya [salah satunya saya:p]. Kemudian karakter Salma, sempat berpikir Salma akan seperti karakter cewek teenlit kebanyakan yang akan jatuh hati pada pesona Nathan. Tapi ternyata tidak, penulis konsisten membuat karakter Salma seperti gadis kaku nan polos, seperti karakter anak SMA kebanyakan dan disinilah keistimewaan Salma sehingga mengulik rasa penasaran Nathan untuk mengejarnya. Dan juga dengan karakter teman-teman Salma, gerombolan tukang rusuh yang menjadi humor segar dalam cerita. Karakter tiap tokoh sangat kuat dan punya ciri khas.

2. Gaya Bahasa.
Dear Nathan memadukan bahasa baku dan non baku dalam tiap dialognya. Terlebih lagi penulis menyuguhkan diksi-diksi yang menyentuh hati.

3. Suasana Sekolah Realistis.
Saya jarang sekali menemukan cerita remaja dengan penggambaran yang realistis, namun dalam cerita ini. Saya bisa merasakan diri saya ditarik ke atmosfir masa putih abu-abu. Dengan kenakalan anak SMA pada umumnya, nonton video *sensor*, menjaili teman-teman, ganti baju di kelas setelah olahraga dan sejuta kenakalan anak SMA lainnya. Dan entahlah, saya kira kelebihan cerita ini adalah "REALISTIS." Apa adanya.

4. Amanat.
Ada banyak amanat dan pelajaran dalam cerita Dear Nathan, tidak hanya sekadar cinta atau romansa picisan. Ada amanat yang bisa dipetik dalam ceritanya, tentang menghargai wanita, orangtua, pentingnya komunikasi antarkeluarga, kekompakan, persahabatan dan pentingnya untuk menghargai perasaan.

Novel ini menurut saya sangat pantas dijadikan bacaan remaja saat ini! Walaupun di novelnya ada beberapa typo tapi overall, saya tidak terganggu karena hanyut dalam adegan-demi-adegan dalam novel.
Saya bahkan melihat satpam di Gramedia ikut baca Dear Nathan. Sewaktu saya tanya, "Pak, Bapak suka baca novel?"
dan Bapak itu menjawab, "Iya Mbak, penasaran, abis banyak bener anak remaja yang beli, sampe anak saya aja mau ikutan beli." Hahaha. Luar biasa! Harus diakui, Dear Nathan adalah debut yang menurut saya 'fenomenal'. Bukan berlebihan, tapi sewaktu saya membeli novelnya di Gramedia. Ada banyak anak-anak remaja, bahkan ibu-ibu yang mengerumuni tempat display novelnya. Amazing, right? Dear Nathan berhasil menjadi 'gerbang' bagi para remaja untuk mencintai sastra.

Untuk membahas harga dan kualitas, menurut saya harga dan kualitas sebanding. Maksud saya, 520 lembar ... tentu saja sebanding dengan tebal halaman serta kovernya berbeda dari berbagai novel yang saya temukan. Kovernya sangat tebal dan anti robek. Saya berharap Mbak Erisca mau menelurkan banyak karya-karya lain dan kembali membuat pembaca larut dalam euforia.



Sekian review dari saya, semoga bermanfaat!
Profile Image for Ummul.
6 reviews
August 12, 2016
Pertama gue udah baca novel di wattpad udah mau 5 tahun, banyak banget yang udah gue baca dan pertama nemu cerita ini gue baca karna ya ngingetin sama JINGGA DAN SENJA, gue ga bilang ini plagiat JDS kok cuma bikin inget dan jauhhhhhhh banget lah sama JDS kualitasnya, saat gue baca ini gue mengalami masa dimana cerita cerita yang gue tunggu tunggu banyak yg ga update yaudah ini dijadiin sambilan, tapi baru berapa bab baca gue bosen terus berenti dan temen gue nyuruh gue baca lagi yaudah gue baca lagi deh katanya seru ternyata B AJA. Kenapa B AJA? Karna yaelah apaansi konfliknya berat banget buat anak sma, drama banget pokoknya tentang keluarganya itu dan gue mutusin buat yaudah ah buang buang waktu banget baca cerita ini. Mungkin banyak yang bilang ini ceritanya bagus blablabla, iya bagus buat lo yang baca novel karna ikut ikutan, iya bagus buat lo yang suka baca cerita drama kacangan, iya bagus buat lo yang baru pertama kali baca novel. Kalo gue baca novel ini 6 tahun lalu mungkin gue bakal ngasih 5 bintang buat novel ini. Katanya juga ini sampe 500 an halaman? WOW banget hahaha novel CEWEK nya Esti Kinasih aja cuma 300 an udah super tebel tapi ga pernah bosen baca berpuluh puluh kali, kalo novel ini baru berapa bab udah ngebosenin. Awalnya gue heran apasih bagusnya ini novel sampe banyak yg baca LOL, cuma ya balik lagi mungkin remaja Indonesia banyak yang suka drama kacangan.
Profile Image for Putri Review.
74 reviews13 followers
June 28, 2016
Actual score : 3 from 5 stars

Baca lebih lengkap review novel ini di blog Putri Review : Galaunya Masa Remaja dalam novel Dear Nathan by Erisca Febriani

Menurut saya, Dear Nathan adalah jenis novel yang tipe audiens pembacanya lumayan saklek. Dalam artian, pembaca dengan rentang umur sesuai genre novel (remaja) kemungkinan besar akan cocok dengan premis dan plot cerita yang ditawarkan. Biasanya pembaca dengan umur lebih dewasa (seperti saya) mendapatkan bonus nostalgia dari novel2 remaja, dan memang saya tersenyum-senyum sendiri karena teringat banyak kenangan di masa sekolah dulu dari novel Dear Nathan. Namun, di sisi lain, seperti banyak novel remaja lainnya yang pernah saya baca, saya juga menemukan sedikit ganjalan di sana-sini pada elemen2 pembangun cerita.

Meskipun begitu, saya somehow bisa mengerti mengapa novel Dear Nathan ini menjadi favorit pembacanya. Sang penulis, Erisca Febriani, menggunakan kombinasi plot yang sulit ditolak : karakter bad boy keren, tokoh utama perempuan yang cantik-polos-pintar-rajin yang tentu saja dikejar cowok2 ganteng, sampai ke permasalahan2 khas remaja (naksir2an, krisis identitas, krisis pede). Dear Nathan juga melibatkan tema sekolah yang cukup kental, lengkap dengan hal-hal mendasar seperti telat dan menyontek PR, sampai yang lebih mendetail seperti kegiatan pengurus OSIS mengadakan acara sekolah, urusan giliran ganti baju saat jam olahraga dan senioritas.

Saya tak bisa memungkiri, bahwa ada sesuatu dalam hati saya yang tersentil saat membaca Nathan yang setia menunggu Salma berlatih marching band dari sisi lapangan, perhatian sesimpel botol mineral dingin setelah terjemur panas sepanjang siang, juga Salma yang datang lebih pagi ke sekolah dan menemukan sosok Nathan tertidur di kelas. Kalau dipikir lagi, memang momen2 macam itulah yang dulu menjadi fantasi terbesar dalam masa remaja saya--mulai dari digendong kecengan saat pingsan, mengobrol berdua kecengan saat piket pagi, sampai sekadar bertemu mata di sela-sela upacara.

Momen permen. Kecil2 manis. Dan Dear Nathan adalah novel remaja yang penuh dengan itu.

Adapun ganjalan cukup besar yang saya rasakan adalah di bagian diksi. Tata bahasanya sudah cukup bagus, mudah dimengerti, meskipun sempat terselip beberapa kata tidak baku di deskripsi. Namun yang mungkin sebaiknya dikurangi/diperbaiki adalah penggunaan kiasannya. Penulis beberapa kali menggunakan perumpamaan dengan maksud memperdalam emosi, namun ada beberapa yang menurut saya kurang mengena dan efeknya malah mengurangi kenikmatan membaca. Dalam hal ini pun sulit mengasumsikan hal2 tersebut sebagai bagian dari personality tokohnya (bisa jadi ada tokoh yang memang suka menggunakan kiasan yang kurang pas) karena terjadi beberapa kali, tercantum pada deskripsi, dan melibatkan lebih dari satu karakter. Salah satu contohnya adalah kalimat Seli di halaman 470 :

"Mengejar lo itu seperti mengejar bayangan, mau gimana cara Nathan meraih bayangan itu...bayangan bakal tetap gak bisa diraih. Kadang bayangan ada di belakang, kadang di depan. Tapi nggak pernah dalam satu garis lurus dengan objeknya."

Saya gak tau dengan pembaca lainnya, tapi saya terus memikirkan matahari jam 12 siang, yang mana bayangannya setahu saya berada tepat di bawah objek. Dan saya menemukan cukup banyak kiasan yang membuat saya sangsi dalam novel ini.

Hal kedua yang ingin saya bahas adalah cerita. Ada satu bagian plot yang terasa sangat berlubang, yaitu alasan mengapa ayah Nathan menikah lagi. Sempat disinggung, Nathan sendiri sudah mendapatkan penjelasan, namun jawabannya tidak dibagi pada pembaca (CMIIW), padahal menurut saya itu adalah elemen cerita yang penting, salah satu bahan pertimbangan apakah Nathan akan memaafkan ayahnya/tidak. Dan saya rasa, pembaca butuh diberitahu dengan jelas (tanpa harus menduga2) agar dapat membangun fondasi moral yang sama dengan Nathan, sehingga ceritanya akan terasa lebih bermakna.

Last but not least, saya pikir cerita Dear Nathan ini memang dibuat oleh remaja (Erisca kelahiran 1998 dan membuat cerita ini untuk mengisi senggang karena sang penulis mendapat SNMPTN undangan dan tidak sesibuk remaja lainnya waktu itu), ditujukan untuk remaja, dan memang menjadi referensi yang paling mendekati pola pikir remaja--lengkap dengan sedikit elemen galau, over-reacting, dan sebagainya. Melihat karyanya kali ini dan novelnya yang terhitung cukup tebal (500+ halaman), saya merasa Erisca memiliki semangat dan potensi yang besar untuk mengeksplor bakat menulis yang dimilikinya. Rasanya tidak sabar untuk menunggu Erisca menerbitkan novel remaja school life lainnya.
Profile Image for Rachel Gratia.
7 reviews
August 29, 2016
manusia jujur kaya saya cuma bisa satu kata pembuka : overrated.

Indonesia suka banget sama sesuatu yang overrated. Entah karena gak semua orang kaya saya yang bisa 4 jam di rak diskonan dan mencari buku potensial yang gak laku bukan karena jelek, tapi kurang publikasi (oke most of the reason is because gue mau cari yang murah tapi bagus, lol)

Dear Nathan liganya adalah remaja, fresh, memberi sedikit kutipan slice of life pada pembacanya. So saya akan komentar di lingkup liga itu aja, ga akan strawman dan tetep membandingkan DN dengan novel pada liganya sendiri.

Selama 3 hari membaca, saya benar-benar menikmati Dear Nathan, seperti saya menikmati sebungkus chiki Lays: ringan, asin, kadang manis di ujung lidah, kemudian setelah selesai, saya bersendawa ringan dan menatap bungkusannya sambil tersenyum sebelum dibuang.

Sejujurnya untuk keramaian publikasi seperti ini, Dear Nathan belum pantas mendapatkannya. Mendengar sudah berkali-kali dicetak ulang tapi tidak ada perubahan signifikan, semakin greget lagi lah saya sama kelakuan penerbit ini. Woy, DN ini potensial untuk ningkatin minat baca remaja loh, tapi lu gaada niatan ngasi Erisca editor yang baik untuk ekspansi potensi DN jadi novel yang lebih worth all of this fame.

1. Dear Nathan feel remajanya dapet, tapi sayangnya saya merasa (apa bener gini?) kalau tokoh protagonis adalah Nathan. Karena apa? Salma useless. Kehadiran dia dalam penyembuhan batin Nathan pun gak lebih baik dari Seli, gak lebih fungsional dari Seli (i scream inside my head : ANJER BALIKAN AJA SONO LU SAMA SELI DARIPADA LU AMA SALMA CUY!)
2. Kata-kata kasar dalam Dear Nathan itu cerminan asli dari pergaulan SMA Indonesia saat ini. Beginilah adanya pergaulan yang selama ini kita hadapi. Cuman sayangnya saya selalu pegang prinsip: penulis adalah pengendali imajinasi pembaca. Erisca saya rasa belum bisa mengendalikan imajinasi pembaca ke arah "oke ini realita tapi jangan ditiru ya guys!". Saya gak merasa ngena ke arah sana
3. Komedi sarkasme Erisca sebagai storyteller dalam POV 3 ini cukup baik. Beberapa kali saya dibikin ngakak sambil tepok jidat. Bagian sini saya acung jempol karena terasa sangat alami
4. Show, dont tell. Kata mereka gitu. Tapi sayang, kayaknya Erisca belum jago di bagian itu. Dia masih bener-bener kurang banget dalam membedakan line tipis tersebut, belum berhasil membuat gue memvisualisasikan rasa dan bahasa dalam DN dengan baik. Tapi kembali ke nomor 3, baiknya adalah gue merasa ingin punya temen doyan dangdut kaya Aditya. Cuman sayangnya, belom banyak bagian ngena yang bikin gue jatuh hati sama Aditya, Bimo, dkk
5. Sama kayak yang lain, 500 halaman, you drag us nowhere. Kelamaan, cantik. Kalau kamu dapet editor yang berjodoh sama kamu, mungkin DN harganya 78.000 dengan 360 halaman, dan lebih berbobot apa yang pembaca dapat.

Overall, I can only give 2 stars at this. This is how much I enjoyed this novel. Dan gue agak kaget aja kenapa tagnya di GR itu Young-Adult. Gue merasa hanya Nathan yang menemukan jalannya menuju kedewasaan, bukan Salma.

SERIOUSLY JADI FUNGSINYA SI SALMA DI NOVEL INI APAAN SIH? AAAAAAHHH!!!!
Profile Image for sifa fauziah.
52 reviews
May 31, 2016
Review yang udah ada di Goodreads bisa dibilang sepaham.
Gak perlulah, hal. sampai 500 lebih untuk cerita yang memang jujur aja kurang greget.
Pertama okelah Nathan unik juga, sempet mikir ikutin gelagatnya Dilan. Ha. Ternyata jauh mending Dilan.
Nathan songong, sama Bi Ijah ngomongnya "gue" dan bentak-bentak pula. Ck. Berasa hebat. Jujur aja gak respect sama kepribadiannya yang songong kayak gitu. Bahkan gue sempet gerutu kalo sopanan Dilan. Yha gue bandingin, biarin ah.
Bukan bilang sosok Dilan sempurna, tapi tetep dia lebih unggul ketimbang Nathan. Meski mungkin sih latar belakang Nathan yang jadi penyebab dia begitu, bodo ah.

Lama kelamaan, jadi kesel sama Salma, cewek muna, naif.
Pernyataan; gak pernah pacaran-nya malah bikin dia terkesan "norak" sewaktu ngejalanin hubungan dengan Nathan.
Bahkan gelagatnya benar-benar ngebuktiin kalo sebenarnya dia gaperlu dipertahanin, makanya sewaktu Nathan bilang lebih mending temenan, gue ngerasa "mamp*s! sukurin lo haaa~"
Gue yang cewek justru lebih ngertiin perasaan Nathan.
Dialog Nathan yang sempet beberapa kali typo jadi "lo-gue" jujur aja bikin nyusahin, gue jadi baca ulang untuk pastiin itu Nathan atau Salma. Karena dari awal, Nathan ngomongnya "saya-kamu" ke Salma.
Alah, yang bisa kayak gitu cuma Rangga.

Dan jujur aja, chemistry antara keduanya gak ngiket, gak dapet.
Profile Image for Diah Sulistiyanti.
1 review3 followers
May 15, 2016
Maaf bukannya saya tega sama pengarangnya atau hater buku ini, tapi saya butuh banget review di sini. Maaf jika kata-kata di bawah ini agak pedas bagi pengarangnya.
Untuk cerita teen fiction, cerita ini bisa dibilang datar-datar alias adem-adem ayem saja konfliknya. Tidak ada konflik khas remaja yang terlalu mencolok, ada bullying, ada fangirling, tapi ya cuma sekelebat aja. Tokoh cewek fangirlnya Nathan cuma sekadar menggertak ditakutin ama Nathan, terus udahan pasrah aja nyerahin Nathan ke Salma.
Untuk latar SMA, suasana kelas, bagaimana sifat-sifat semua tokohnya, okelah detail banget, berasa masuk ke zaman SMA yang belum lama berlalu itu. Persis banget sama realita dan ini bagus.
Tapi sisanya? Sori banget.

Saya baca dua puluh satu bab and got nothing, seriously. Sampai saya bertanya pada diri sendiri, "Apaan nih?" Serius jika saya sampai bertanya seperti itu pada diri sendiri, artinya tidak ada konflk mencolok pada buku yang saya baca. Ibaratnya hanya lembar berisi kisah slice of life yang penuh drama dan pelajaran kehidupan tanpa ada gejolak berarti.

Untuk dua puluh satu bab yang isinya cuma cuap-cuap ala anak sekolah, konflik ringan yang nggak berat-berat amat, dan obrolan santai sehari-hari, serius itu terlalu banyak. Bisa disingkat jadi setengah atau bahkan seperempatnya untuk menghadirkan konflik yang lebih kental dan lebih mengudang untuk dibaca. Saya nggak mau baca begitu sampai di bab dua puluh satu. Ibaratnya sudah tidak ada lagi konflik yang menarik minat selain masalah keluarga Nathan yang sebenarnya kurang dieksplor. Jika dieksplor lebih lagi masalah keluarga Nathan pasti bisa lebih bagus. Masalah "tidak pernah melihat seseorang dari depan" itu bisa menjadi loncatan konflik batin yang bagus lho.

Kalaumasalah karakter, saya sebenarnya punya banyak keluhan,tapi keluhan utama saya adalah karakter Salma yang mirip "Clear Protagonist" Belum lagi reaksinya yang datar banget. Reaksi Salma yang terlalu Mary Sue ini yang membuat suasana novel adem-adem ayem. Karakter lain bisa dibilang cukup manusiawi dengan segala kekurangannya, termasuk Nathan, meski cowok ini saya bilang feminim sekali.

Untuk EYD dan typo saya no komen. Semua review di bawah sudah menerangkan dengan jelas bagaimana EYD dan typo di novel ini.

Singkat kata, novel ini recommend buat kalian yang suka konflik yang adem ayem tanpa melibatkan terlalu banyak emosi. Ya, serius. Novel ini butuh eksplorasi emosi yang lebih dalam. POV alias sudut pandang ketiga bukan halangan menciptakan konflik batin ya. Tapi bagi kalian yang mengharapkan novel yang menguras emosi yang membuat kalian ingin membalik semua halaman sampai akhir, prepare to be dissapointed.


Profile Image for Elisabeth Sahitya.
5 reviews4 followers
July 3, 2016
Pertama mohon maaf karena ga mengapresiasi dengan beli bukunya :))
Awal tau buku ini memang di Wattpad. Tapi karena dasarnya gak tertarik ya gak di baca sama sekali :) Tapi akhirnya baca juga. Penasaran sih soalnya temen sekelas pada baper sama Nathan.

1. HARGA. Hastaga, untuk ukuran buku debut, genre teenlit, dan tebalnya 500 halaman. Cuma buang buang uang :) 99k yang bener aja? Bahkan bukunnya Jane Austen gak sampai 80k :(

2. ALUR. Beh. Udah ketebak dari awal sampai akhir. Yang pasti bakal gitu gitu aja. Konfliknya juga flat dan basi abis!!!

3. KARAKTER SALMA. GILAK. Karaker cewek yang gak bisa bikin jatuh cinta sama sekali. Dari awal pengen nonjok Salma. Gak saya gak iri karena dia sama Nathan. Tangan gatel pengen ngelempar Salma ke ujung dunia. Kenapa ada manusia seaneh salma? Se-enggak pedulian seperti dia?? Gebetan saja lebih peduli daripada dia. Kasian sama Nathan, kok bisa mau sama Salma.

4. TYPO. udh baca aja, cuma sakit mata kok :))

5. HUMOR. Tolong ya Erisca :) Ibu Hamil gak bisa di becandain, dia bawa dede bayi lho.

Heran kenapa bukunya jadi Mega Bestseller :( Terlepas dari kemiripannya dengan karya mbak Esti Kinasih :(
Profile Image for Leoni Ong.
11 reviews2 followers
May 27, 2016
novel versi wattpad lebih enak di baca drpd novel versi cetak n novel ini terkesan asal cetak tanpa di cek ulang eyd dkk
Profile Image for Azifah.
371 reviews7 followers
April 30, 2020
Gimana ya, dua bintang atau satu setengah? Dua aja deh.
Buat seseorang yang hobinya baca, Dear Nathan termasuk buku yang selesainya paling lama. Biasanya sih cuma dua-tiga hari, tapi yang ini fix banget seminggu. Kalian bisa simpulin sendiri deh bagus atau enggaknya.
Sebenernya dari baca sinopsis pun aku udah bisa nebak gimana alur ceritanya. Klise. Bener-bener tipe teenfiction di wattpad. Mungkin fakta kalau aku bisa nebak ceritanya yang bikin aku lama banget nyelesaiin buku ini.

[Spoiler alert!]

Awalnya lucu banget, mulai dari kejadian di kelas di X-2 yang hebohnya gara-gara anak cowok suka nyari ribut sama anak cewek, sampai kejadian di kelas X-6 yang hebohnya gara-gara Nathan dkk. Lucu abis! Bener-bener pas banget sama kenyataan sekolah di Jakarta zaman sekarang, apalagi fakta kalau anak-anaknya setengah rajin setengah males tiap lagi jam pelajaran.

Nathan lucu bangeeeeeeeeeeeeeeet. Liat Nathan jadi inget temen paling bandel di kelas. Ya meskipun nggak senakal Nathan sampe tiap hari sarapannya dipukulin guru. Tapi tetep aja, Nathan bagaikan bumbu makanan yang kalau nggak ada rasanya jadi hambar.

Di sisi lain ada Salma yang - menurutku - kaku banget. Bahkan di akhir cerita dia ngaku kalau dia gadis kaku! Tapi tetep aja ya, sekaku-kakunya orang, dia nggak kaku banget kalau sama sahabat sendiri. Salma tuh... garing banget kalau diajak bercanda (atau cuma aku doang ya?). Di kelas ngumpulnya sama anak-anak cewek yang paling heboh, yang kerjaannya kalau nggak males-malesan ya ngegosip, atau nggak ribut sama Jaya and the gang! Tapi Salmanya cuma diem aja, dan itu UGH kayak 'Apa banget sih ni orang!!!!' Teruuuus, ada bagian yang nggak logis kayak sifat polos Salma. 1) Salma suka baca novel, khusnya romansa, berarti dia tau dong hal-hal yang berkesan romansa? Kenapa Salmanya dibukin polos banget ih! Tau gak sih, dari awal sampe akhir aku mikirnya Salma itu muna banget. 2) Sekolah mana di Jakarta yang masuknya jam 7 pagi pulangnya sebelum jam 3 siang? Mana sempet-sempetnya lagi pergi ke monas jam 4 sore abis sekolah. Nggak logis dong.

Terus pas mereka pacaran: Aku mau dong sama yang kayaaaaaaaak Nathan!!!! Tapi minus ngerokok sama dideketin banyak cewek ya. Soalnya yang begitu bikin kesel duluan. Nathan nembak Salmanya blak-blakan banget, bikin meleleh. Aku kalau jadi Salma juga bakal kaget. Nggak ada angin, nggak ada apa, tiba-tiba Nathan bilang: Saya cinta sama kamu, Sal. DOUBLE U G H
Salmanya masih kaku, tapi wajar lah dia kan baru pertama pacaran. Tapi but but but, ada kalanya aku pengen neriakin Salma buat nggak kaku-kaku amat. Makin kaku Salma, makin males bacanya. Orang-orang juga bakal ngira kalau Salma nggak cinta sama Nathan, meskipun banyak banget monoloh yang nunjukin perasaan Salma. Justru kesannya maksa banget,.
Kalian tau bagian favoritku dari hubunganathan sama Salma? Pas mereka putus! HAHAHAHA. Aku ngerasa kayak, "Yes Nathan seharusnya lo ngelakuin itu dari awal!" atau nggak, "Ini nih baru namanya cowok!" Pokoknya entah kenapa aku seneng bangeeeet pas mereka putus. Walaupun Nathannya keliatan banget masih cinta, tapi nggak pa-pa selama nggak jadian. HA-HA

Kalau temen-temenku bilang mereka nangis pas lagi baca novel ini, aku justru datar. satu-satunya ekspersi yang berubah itu gara-gara lucunya Jaya dkk sama NAthan dkk. Jadi kepengen punya temen sekelas macem mereka, hmmm. Ada juga sih momen-momen menyentuh yang bikin aku 'OOOOOOOh' 'Ya ampun' dll. Yang paling menyentuh itu bagian Nathan sama ibunya. Itu sedih deh pokoknya. Selebihnya gitu deh, nggak bisa diungkapkan pake kata-kata.

Buku ini aku cocok buat kalian yang kangen asem-manisnya masa-masa SMA. Dan buat kalian yang pengin ketemu Dilan versi Jakarta, di sini ada banget! Tapi Mileanya nggak ada, jadi ya nikmatin aja apa yang ada. Dua jempol buat Kak Erisca! Sukseees berkarya ya Kak!
Profile Image for Indah Prayascita.
27 reviews
April 22, 2017
1 bintang karena sukses bikin senyam-senyum lompat-lompat gak keruan selama bacanya. Dear Nathan ini ceritanya ketebak banget. Tipe novel yang akan saya baca hanya sekali saja. Cukup. Suka dengan saya-kamu nya Nathan ke Salma. Tapi setelah beberapa saat saya berpikir ini kan mereka masih kelas X ya. Hahaha jadi lucu aja ngebayangin anak kelas X kehidupannya spt mereka. Agak kecewa dgn novel ini karena yaah belinya juga lumayan mahal. But overall kekecewaan ini sedikit terobatilah sama tingkah cheesy Nathan yg bikin gemes sendiri. Saya tunggu novel selanjutnya! Keep going!
Profile Image for Marissa SF.
172 reviews4 followers
August 14, 2016
Tebal berarti menarik, komplex, seru, mendebarkan etceteralah ya...buuuuttt sorry I think big no for this book bahkan kaget predikat best seller dan nangkring dibarisan depan toko buku ternyata bukan jaminan bahwa novelnya sebagus tampilannya. Menghibur? okelah iya..ketebak iya..easy iya..diary anak SMA bisa jadi..ya begitu deh pokoknya
Profile Image for Fadilla Sukraina.
51 reviews
June 4, 2016
Dua bintang. Satu untuk mengapresiasi penulis muda yang sanggup nulis 500+ halaman buat novel pertamanya, dan satu lagi untuk mengapresiasi tingkat kebaperan yang udah parah bgt. Selebihnya, biasa saja.

More review soon
Profile Image for Syaumi.
121 reviews4 followers
August 19, 2017
Baru inget belom nge rate buku ini xD

intinya : duit gw 99k terbuang demi beli buku gajelas gini

no hard feelings, oke?
Profile Image for Hanni Itazuma.
6 reviews
May 20, 2016
Baru saja menyelesaikan novel ini.
Bagaimana pendapat saya? Baiklah saya akan mengulas kedua sisinya agar objektif. Dari sisi kelebihan dan kekurangan. Saya akan memulai dengan kekurangan terlebih dahulu.
Kekurangan dari novel ini adalah;
1. Novel ini terlalu tebal sehingga terlalu mahal untuk kalangan anak remaja, well terlebih lagi sasaran pembaca buku ini adalah remaja, right?
2. Saya kurang menyukai karakter Salma. Sangat menyebalkan.
3. Saya juga menyayangka kenapa Erisca tidak menggali lebih dalam hubungan masa lalu Nathan. Walaupun sebearnya porsinya sudah pas, entahlah, saya merasa kurang! Ingin membaca terus.
4. Sinopsis atau blurb di belakang novel menurut saya kurang greget. Pasti mereka yang baca sinopsis langsung berpikiran "Alah paling cerita klise, kayak cerita remaja biasanya badboy jatuh cinta sama nerd, ya gitu deh." Padahal salah besar! Serius, ada banyak moral di dalam novel ini makanya saya menyayangkan sekali sinopsisnya seperti itu.

Baik, sekarang adalah kelebihannya. Ada banyak kelebihan dari novel ini. Lets go;
1. Saya adalah penggemar teenlit GPU, dan menurut saya teenlit zaman sekarang sudah mengalami banyak perkemangan terutama dalam hal diksi. Dear Nathan adalah contohnya, sebuah novel teenlit yang memadukan diksi metafora luar biasa. Saya suka perangkaian katanya. Tepat sasaran waktu dibaca. Ada satu narasi yang saya sukai dari sekian banyak narasi di novel ini;
"Ibunya. Sumber kehangatan dan kenyamanan yang selalu membuat Nathan rindu pulang ke rumah. Bagaimanapun, dia hanya ingin ibunya kembali. Hanya ibunya yang mampu menjemput senyumnya yang mati suri. Hanya ibunya yang mampu menolongnya dengan hati nurani. "

2. Karakter Salma walaupun menyebalkan tapi menurut saya realistis, terasa sekali pergolakan batn antara hati Salma dan logika. Seperti di salah satu dialognya.
"Lo kira pacaran semudah itu? Yang nggak cocok terus putus? Enggakla. Gue belum pernah pacaran sebelumnya dan gue juga bukan tipe remaja yang suka gonta-ganti pacar seolah pacar itu benda yang bisa dibuang dan diganti dengan yang baru kalau udah bosen dan nggak cocok. Nggak. Gue nggak mau." Ini mengena di hati saya banget, terutama remaja jaman sekarang yang doyan gonta-ganti pacar. You must read this novel.

3. Saya terharu dengan perjuangan Nathan.
Oi jaman sekarang kira-kira masih ada nggak sih cowok kayak Nathan? Kalau mau, saya pesen satu, ya. Dia tuh cowok yang bener-bener buat saya jatuh hati. Saya bisa ngerasain gimana perjuangan Nathan mengambil hati Salma. AH, sialan banget! Saya jadi fall-in-love banget berandai-andai Nathan itu nyata.

4. Sepanjang cerita saya dibuat tertawa ngakak, senyum-senyum, sedih sampai termehek-mehek. This book bener-bener nano-nano!

5. Saya berharap ada sequelnya, kenapa? KARENA SAYA MASIH KURANG BACANYA. Padahal 520 halaman! hahaha. Besar harapan saya semoga review ini menyenangkan hati Erisca, tetap berkarya dan menciptakan cerita teenlit dengan cerita yang ringan namun berkualitas dan mendidik, serta moral yang 'melekat di hati dan pikiran pembaca.
Salam, Hana.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Kim HoiJin.
8 reviews
May 1, 2016
5 stars guys!!!

Menakjubkan! Debut novel kak Erisca Febriani sukses!

Novel ini benar-benar memenuhi seleraku, karena itu aku memberikan 5 bintang untuk novel ini.
Kak Erisca benar-benar lihai dalam permainan kata dalam novel ini. Banyak kata-kata puitis yang menambah warna dalam novel ini.

Novel ini sarat akan amanat dan pembelajaran, karakter-karakternya digambarkan kuat sekali oleh kak Erisca Febriani.

SALMA!! KAli ini sepertinya Salma menggambarkan aku sekali. Seorang cewek yang suka baca novel, belum pernah pacaran, serta anak rumahan. Kecuali aku tidak pernah dipedekatein cowok kayak Nathan. :-D

Pendapat orang beda-beda kan. Dear Nathan adalah novel bergenre contemporary. Saya sendiri merupakan gadis penyuka novel contemporary, dan sebelumnya saya pernah membaca novel contemporary karya Jenny Han yang memiliki seorang karakter bernama Lara Jean. Sifatnya hampir sama dengan Salma. Mereka sama-sama gadis polos dan lugu dan susah mengungapkan perasaan cinta (saya juga). Karena itu dari awal saya membaca saya sudah merasa koneksi yang kuat dengan sang tokoh.

NATHAN!!! Bikin ngefly dan baper parah. Ditambah dengan bahasa saya-kamu yang digunakan Nathan. Bayangin aja seorang cowok masih bicara saya-kamu dan itu khusus ke kalian doang. Klepek klepek deh. Jarang-jarang kan, ada novel teen fiction yang menggunakan bahasa begini.

Nathan & Salma. Mereka benar-benar saling melengkapi. Salma yang mencintai Nathan apa adanya dan Nathan yang benar-benar jatuh hati dan tertuju pada Salma serta terus berusaha mengejar. TOP!!!!

Walaupun bagian awal masih sama seperti yang di wattpad. Buku ini tetap worth-to-read kok!!!! Karena endingnya itu djfjdisbudbfu

P.S. Kak Eris ditunggu karya-karya selanjutnya, ya! Dan kapan-kapan kalau mood buat EXTRA CHAPTER dong di wattpad untuk mengobati kerinduan penggemar DEAR NATHAN.

Ini debut penulis indie yang fenomenal. LOVE KARYA KAK ERISCA <3<3
Profile Image for Nikotopia Nikotopia.
Author 4 books21 followers
August 25, 2017
Mencoba membaca buku Dear Nathan, karena kaget melihat sampai cetakan kesebelas.
What the? *Melongo banget!
Dan hasilnya pembacaan bukunya, "Maaf, bukan kesukaan saya."

Saya membaca buku ini hampir seminggu lewat dua hari. Ngebut maksain baca, malah ketiduran
bener-bener bikin ngantuk.

Sebab, adegannya, hanya lewat saja. Tidak genting dan terlalu banyak diulur. Konliknya padahal sedikit.
Karakter-karakter selain Tokoh Utama di dalam buku ini hampir sama secara sifat dan kelakuan.

Intinya ya begitulah. Pengarang bisa mencetak buku sampai cetakan sebelas, ya karena dia menulis di portal Wattpad, yang booming beberapa tahun belakang. Itu dia lakukan dengan baik.

Jujur saja, buku ini memang memoret remaja Zaman Sekarang, yang labil keterlauan banget, suka berantem, apalagi berantem berebutan cowok. Haduuhhh...
Kan hidup nggak hanya ngurusin cowok ajah, masih ada isu lainnya.

Anehnya, saya mendengar anak-anak di novel ini, ngomong bahasa kasar, "B****t dipakai dalam dialog tokoh, sumpah saya nyesek sendiri. Tapi realitasnya yah begitu.

Terlepas banyak isu yang beredar, tentang pengarang, tentang cerita Dear Nathan yang meniru cerita teenlit lain.

Ya udah lah.... pokoknya, saya udah tahu buku Dear Nathan ini.

~Terima kasih
Profile Image for ana.
244 reviews41 followers
March 8, 2017
Baca karena kerjaan.

So, this is the wattpad writer. My first encounter for a wattpad lit. Not a terrible experience though, but not a good one. As a novice (I guess), the writer has a good sense to make the story flows smoothly, and make the reader all captured to read more and more. But the flows goes too slow.

And
it
gets
boring
every
single
page.

The book is quite thick. And as a novel for teenagers, I think its too thick so its harder to maintain the readers enthusiasm until the last page. Maybe this kind of writing is good for the wattpad reader who are patient when waiting for the new chapter to be published. But it just dont work for a book.

I'm not a survivor in this battle. Raise my hands up when I reach page 228 (not even the middle!).
Profile Image for Ginan Aulia Rahman.
221 reviews23 followers
June 19, 2016
Kurang suka karena ceritanya begitu aja. Kisah cinta saya sendiri masih lebih rame, hahaha

Tapi bagus nulisnya bisa mengalir dan enak dibaca orang, itu langkah awal. Tinggal Erisca ini berusaha bikin cerita yang bagus dan serius. Stimulasi imajinasi orang ya, jangan cuma ceritain sesuatu yang orang juga ngalamin, ntar kamu kalah sama cerita-cerita pengalaman pribadi pembaca yang unik dan kadang lebih dahsyat dari yang kamu sajikan.
Displaying 1 - 30 of 390 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.