terlalu banyak, terlalu banyak cerita na willa yang membuatku mengorek diriku dalam dan lebih dalam lagi. kalau kau mau membaca buku ini, diperlukan kesiapan. sebab, akan tayang lagi ingatan-ingatanmu tentang masa kecilmu. dan di sana, di pikiranmu, cuma ada kamu sendirian. meski pun tak semua, aku berani jamin setidaknya akan ada satu atau dua bagian dimana kamu berhenti membaca lalu mengingat-ingat—entah itu kenangan paling seru, kacau, membahagiakan, menjengkelkan, bikin geleng-geleng kepala, kenangan sewaktu merengek, menangis atau perasaan lainnya.
bila dibanding dengan buku pertama, seri kedua ini lebih membuatku 'waras', bisa menikmati baca tanpa terlalu banyak berhenti, merenung. sementara dalam seri pertama, duh, perasaanku porak-poranda. tapi tentu ada bagian dimana air mata saya jatuh, turut bersedih; ketika willa sekeluarga akan pindah ke jakarta dan menetap di sana. sebab pak akan berpindah kantor, ketika ia bilang pada farida, dan farida menyuruhnya agar cepat pulang. ia akan meninggalkan rumah nyamannya dan si mbok, meninggalkan teman bermainnya; bud, farida, dul. meninggalkan bu juwita (guru sekolah willa) yang penuh kelembutan menghadapi omongan serta pertanyaan-pertanyaan willa dan meninggalkan semua kenangan hangatnya selama di surabaya.
di buku ini, na willa masih bocah yang penuh kuriositas dan bawel. penuh kepolosan pada bagaimana ia pamit ingin ke jakarta pada farida dan dul. na willa 2 menampilkan kepribadian willa yang lebih beranjak, dengan dunia yang lebih muram. sosok pak di sini jadi lebih terasa dekat, hadir dalam keseharian na willa. di banding seri pertama, mak juga tidak banyak mengomel-ngomel pada willa, dan sedikit sekali diceritakan main-mainnya willa dengan teman-temannya. kesemua cerita jadi semakin menggemaskan dengan ilustrasi-ilustrasi yang dibuat cecil. buku ini cocok sekali jika kita mau membacakannya pada anak kita, pada adik kecil kita, pada bocah tetangga-tetangga kita atau pada anak didikan kita. "na willa" dan "na willa dan rumah dalam gang" membuat kita belajar merawat kenangan.
"jakarta? kamu mau ke sana? jalan-jalan ya? seperti waktu aku ke madura itu?"
"katanya mau tinggal di sana, di rumah sendiri."
"rumahmu sendiri? di jakarta? wah, itu berarti kamu pindah ke jakarta! eh, jakarta itu jauh?"
"kata pak, kalau ke jakarta bisa naik kereta atau kapal terbang."
"berarti jauh. kenapa kamu musti ikut? tinggal di sini saja, di rumahku."
"tapi aku mau tinggal sama mak."
"kalau begitu kamu dan mak tinggal di rumahku saja. kan rumahku besar." (127)
"jangan lama-lama perginya. nanti aku main boneka dan masak-masakan sama siapa?" (farida, 129)
"willa berangkat besok! besok!"
"lalu kapan pulang lagi ke sini?" dul bertanya.
"besok-besok-besok-besoknya besok, dia pulang," farida menjawab.
"kalau begitu ya masih lama!" dul mendengus.
"tapi aku bisa tulis surat, dul!" (willa)
"ah, aku repot membalasnya nanti." ia berbalik badan, masuk rumah. (137)
dul berlari di samping mobil dengan tongkat di ketiaknya, di belakangnya bud ikut berlari. meski sudah berlari sekuat tenaga, dul tak semakin dekat. jaraknya dengan mobil semakin jauh. tapi aku masih bisa mendengar teriakannua masuk lewat jendela kaca mobil.
"willa, tulis surat! nanti aku balas! willa!"
ya, ya, nanti aku tulis surat.
jangan lupa membalas.
jangan lupa. (143)