Em O cão alegre, conhecemos um cãozinho que vivia amarrado a uma árvore na entrada de um vilarejo. Ele sempre abanava o rabo e era muito brincalhão, mas, ao cair da noite, só fazia chorar, porque na verdade queria se livrar da coleira e correr pelo campo florido sem amarras. Num dia ensolarado, numa conversa com seu coração, o cão se dá conta de que a chave para sua liberdade pode estar mais perto do que ele imaginava.
I was very fond of the drama 사이코지만 괜찮아. (You can read my long review for the drama here, but I write it in Bahasa) As Kim Soo Hyun said, the drama is a human healing drama and it hit my personal spot and my deepest feeling.
Actually in the beginning this book is not really "eye-catching" for me like 악몽을 먹고 자란 소년 (The Boy Who Fed On Nightmare) or 진짜 진짜 얼굴을 찾아서 (Finding The Real Face) although there are several scenes on the drama that relate to this book. But, one day I got my "Aha Moment" and suddenly I realized that this book can be a powerful reminder for me to keep me going forward in life.
You can feel that you are the most miserable people on earth when you are alone and wear "I'm fine" mask in front of people like The Cheerful Dog. But, you must be aware about your problem and situation so you can cut your "leash" and go enjoying your life.
"Aku sudah terlalu lama terikat. Jadi,aku lupa cara memutus tali leher ini..." . 🐶 Anjing Musim Semi memperlihatkan kehidupan anjing lucu namun tak dapat berlarian dengan bebas,sehingga pada malam hari,ketika warga terlelap,sebuah pohon besar kerap mendengar lolongan sedih dari si anjing lucu. Rasanya jadi ikut sedih,bahkan habis baca ini saya langsung peluk salah satu kucing dirumah :(
🐶 Seri ketiga dari kumpulan dongeng dalam drama korea It's Okay To Not Be Okay yang saya baca. Dan menurut saya warna kover untuk novel grafis kali ini cukup cerah dan mungkin bisa dibaca bersama dengan pembaca usia anak. Ilustrasinya lucu meskipun kesan 'dark' masih sedikit terasa. 🙏
🐶 Alur ceritanya mungkin tidak 'semuram' kisah dalam buku volume pertama,namun dengan memasukkan unsur kesedihan dalam ceritanya saya kemudian berpikir jika kesan muramnya masih bisa dirasakan walaupun begitu tipis
🐶 Akhir ceritanya terasa realistis,walaupun mungkin untuk beberapa pembaca masih cukup bisa memunculkan pertanyaan baru terkait nasib si anjing lucu setelah ceritanya selesai 😄🙏
🐶 Teman-teman pembaca buku yang senang baca buku dengan ilustrasi dan kebetulan mungkin memelihara guguk, mungkin akan suka dengan ilustrasi dan cerita didalamnya.
Dari 3 buku yang sudah diterbitkan, sepertinya buku ketiga ini yang menurut saya lumayan terang suasananya. Meski ya, cerita di dalamnya juga ada sendu-sendunya. Sepertinya, inti yang disampaikan di buku ini: mungkin kita terbiasa dengan kondisi yang kita hadapi, sehingga kita lupa dengan potensi yang sebenarnya kita miliki. Buku cerita yang sangat baik, menyadarkan bahwa boleh (bahkan harus) bagi kita tidak menerima begitu saja apa-apa yang ada. Perlu kita curiga, jangan-jangan sebenarnya kita bisa melakukan apa yang kita anggap tidak.
This one’s my favorite out of the 5 books from the drama. Read it a few times now but I want to make sure I’m reading it properly in Hangul before marking it as “read”.
Meski di siang hari Anjing Musim Panas tampak riang karena bisa bermain dengan anak-anak, tetapi di malam hari ia selalu menangis. Rupanya Anjing Musim Panas merasa sedih karena ia tak hidup merdeka. Ia menjalani hari-harinya sebagai anjing yang terikat di bawah sebatang pohon. Ketika sang Pohon bertanya kenapa ia tidak mencoba meloloskan diri, Anjing Musim Semi mengaku tak tahu caranya melepaskan diri.
Dengan pengisahan yang sederhana, kisah ini mengingatkan mereka yang senantiasa memendam perasaan untuk berani mengungkapkannya. Dengan demikian, mereka akan dapat meraih kebahagiaan.
Bagian yang paling saya sukai dari kisah ini adalah ketika sang Pohon mengingatkan Anjing Musim Semi tentang bakat alaminya, pada saat itulah Anjing Musim Semi menemukan cara untuk meraih kebebasannya.
Kisah ini adalah refleksi yang sangat menyentuh hati perihal bagaimana ritme hidup monoton yang kita jalani kerap menyembunyikan bakat menakjubkan yang kita miliki. Semakin lama, kita melupakan diri kita yang sesungguhnya. Kehilangan diri sendiri adalah hal yang paling menyedihkan.
Buku ketiga dari serial ilustrasi its okay not to be okay.
Berkisah tentang seekor anjing yang selalu membawa keceriaan di siang hari namun selalu menangis setiap malam. Usut punya usut, si anjing ini bersedih karena sangat ingin melepaskan tali di lehernya tapi tidak bisa. Anjing mengatakan ia membutuhkan seseorang untuk membuka talinya.
Tapi anjing lupa. Ia punya gigi taring yang tajam untuk membuka tali itu. Akhirnya anjing menggunakan giginya utk membuka tali dan berhasil.
Kisah satir untuk para manusia yang seringkali mengeluhkan keadaan, padahal di saat bersamaan ia memiliki sesuatu yg bisa ia gunakan untuk keluar dari keadaan tersebut
Si anjing yang terikat pada sebatang pohon memimpikan padang luas yang berada tepat di depan matanya. Dia bermimpi untuk berlari-lari dengan bebas, berharap bahwa dia tidak lagi terkekang. Mungkin karena sudah terlalu lama berada dalam kondisi seperti itu, dia lupa bahwa yang menahannya hanyalah seutas tali yang dapat dia putuskan dengan taringnya sendiri.
Apakah si anjing akhirnya bisa sadar dan memperoleh akhir yang bahagia? Bisa kamu baca sendiri untuk mendapatkan jawabannya.
" "Meu corpo é honesto, e choro quando ele dói, mas meu coração é mentiroso. Fica em silêncio mesmo com dor. Por isso, quando adormeço, ele começa a chorar escondido. Meu coração sempre chora, mas não é por querer." "
Depois da tristeza e do fundo do poço dos livros anteriores, esse deixa o coração quentinho🤣🥰
I would have never discovered this book if it wasn't for the K-drama series 'It's Okay to Not be Okay.' I love how this book has such bring colours and the drawings are very simplistic. The message is also powerful too. This one, I feel, is most suited for younger children out of the 5 books in the series. I have the original Korean hardcover, but read it with a translator app.
Ceritanya simple sih ya, tapi ada pelajaran yang bisa kita ambil. Kita tuh kadang suka lupa sama kualitas diri kita sendiri, kita pikir kita lupa atau ngga tau gimana cara melakukan sesuatu. Padahal harusnya, kalo kita sadar dengan kemampuan kita, pasti ada cara untuk melakukan apapun.
Sama dengan buku sebelumnya, aku suka sama cerita dan ilustrasinya, jadi buku ini aku kasih rating 5/5 ⭐
Gostei, não é meu preferido da coletânea Mas, é muito lindo, diria que esse é o mais heart warming, e que de fato se parece com um conto infantil. Mesmo não sendo um dos meus preferidos ainda ta na lista de livros preferidos.
Dari "Anjing Musim Semi" pembaca akan kembali diingatkan bahwa kita nggak perlu melulu menyenangkan orang lain. Kita juga nggak perlu ngerasa selalu butuh orang lain untuk melengkapi hidup kita. Kita juga akan belajar arti kebebasan yang sesungguhnya.
Ohooo yang ini somehow ngingetin aku sama diriku sendiri. Aku tuh kayak udah lama nyemplung di sebuah lingkungan terus kayak lupa sama potensi dan kemampuanku sendiri yang sebenarnya bisa bebasin dan malah menguntungkan aku
pesan moril: kesedihan ada untuk dirasakan, bukan ditutupi dengan berpura-pura bahagia. kadang kita merasa terbelenggu dan tersesat dalam kehidupan, padahal sebenarnya kita punya kekuatan yang besar untuk membebaskan diri dari belenggu dan pikiran sempit itu. tapi kita tidak menyadarinya.
J'ai beaucoup aimé cette phrase: 몸은 정직해서 이ㅛㅡ면 눈물이 나와요... 그런데 마음은 거짓말쟁이라 아파도 조용하지요... The body is honest so tears come out when it hurts...but the heart is a liar, so it is quiet even if it hurts.
The body can't lie when in pain, but a heart can. The spring dog is like us who can't cut the bad ties. Or it can't because it needs a help? Or it just forgot what it has to cut the ties.