Judul: Sabariah
Penulis: Hamka
Penerbit: Gema Insani
Penyunting: Aminah Nur Habibah
Tahun terbit: Cetakan Pertama, Desember 2019
ISBN: 978-602-250-682-9
ISBN: 978-602-250-712-3 (PDF)
Waw! Ini adalah buku fiksi Hamka ke-5 yang saya baca. Setelah menamatkan buku Di bawah Lindungan Ka'bah, Di dalam Lembah Kehidupan, Terusir, dan Menunggu Beduk Berbunyi. Saya tidak tahu, tetapi ke-5 buku fisksi ini mengaduk-aduk perasaan, sedih betul perasaan membaca ke-5 buku ini, apalagi novel Terusir, berduka membacanya.
Sabariah, seperti namanya, Sabariah, sifatnya pun demikian, ia penyabar, berbudi pekerti, luas pandangan, dan memegang teguh kebenaran, menjaga dan merawat apa yang dia miliki. Ia istri dari Pulai, seorang lelaki yang baik budi, paham adat, tetapi seorang yang miskin, tidak berharta.
Sabariah ini adalah novel Hamka pertama dengan judul asli "Cerita si Sabariah." Novel ini ditulis dalam bahasa Minangkabau dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Sabariah diterbitkan terakhir kali pada tahun 1957 dengan bahasa Minangkabau sehingga novel ini sangat sulit ditemukan.
Dalam novel ini, saya pun sangat menyukai sosok Sabariah, karena kesabaran dan keteguhan hati dan cintanya. Saat suaminya, Pulai, pergi merantau ke negeri orang, mencari peruntungan, tiada berkabar, berkirim surat, maupun berkirim uang belanja, Sabariah tetap berpikir positif. Dalam kelaparan dan kemelaratan yang dialaminya, ia masih tetap setia menunggu Pulai, mendoakan yang terbaik untuknya.
Namun, dia diuji dengan sifat ibunya, Sariaman. Melihat nasib anaknya bersuami dengan seorang yang tidak berharta, di perantauan pun Pulai tidak datang-datang dan mengirimkan uang, ia bersikeras memisahkan Sabariah dengan Pulai. Disinilah halaman yang paling saya suka, bagaimana jawaban Sabariah, cara dia menyikapi maksud daripada ibunya, Sariaman, yang hendak menikahkannya dengan Suman, seorang yang pernah berniaga dari Bengkulu yang telah pulang kampung dan mendapat untung baik, hidupnya sudah lebih ok dari sebelumnya, ia sudah memiliki harta yang cukup, membeli apa-apa yang dia mau sudah dapat terpenuhi.
Sabaraih, bukan main terkejut mendengar penuturan Sariaman, ibu kandungnya. Ia menangis, sesak dadanya.
"Bundo kandung, ampunilah ambo. Mengapa seperti itu kata bundo? Tidak ambo sangka akan seperti ini. Ambo sangka lebih paham bundo. Ambo sangka menaruh sabar..."
"Dengarkan betul, Bundo Kandung. Kita beradat berlembaga. Kita bersyara' beragama. Dalam adat Minangkabau, terlarang betul ini, Bundo, karena cerai, apalagi adzab Allah bahayanya. Jika hidup, disalahi Allah. Jika mati, masuk neraka. Memutuskan silaturahim kita ke surau setiap hari. Kita bangun siang malam. Orang alim berkeliaran (banyak). Buku-buku pun banyak pula yang berisi pengajaran. Lihatlah buku Syamsul Hidayah, tengoklah buku Siti Sawiyah— penuh dengan pengajaran dan petunjuk untuk yang bersuami istri.
Selama Dalam pergaulan, berteku sakit dan senang, bertemu laba dan rugi, biduk seiya semufakat. Hidup ibarat dalam laut, menempuh pulau keselamatan. Satu tegak pada kemudi, satu tegak pada haluan. Ombak besar, angin berseru, layar berkipas, kiri kanan tali-menali berentangan. Jika tidak sama-sama pandai, akhirnya karam di tengah, tidak terjelang tanah tepi. Jika takut dilamun (digenangi) ombak, tidak diarungi laut luas. Jika segan diserang angin, tidak dipasang layar kain. Jika takut dilibas pasang, tidak berumah di tepi pantai.
Bundo Kandung, ampuni juga . Sudah menjadi adat di nagari, baik di atas alam dunia tanda kuasa Tuhan kita. Satu lagi ambo katakan, adat hidup di atas dunia, adat juara kalah menang, adat saudagar laba rugu, adat melepas pedagang jauh buruk dan baik akan bertemu, begitu pula suami ambo. Jika hanya niat di hatinya, maksud baik tiap hari memikirkan korong dan kampung, mengingat ibu dan bapak, serta memikirkan pula istrinya. Dicari untung petang pagi, bukan dirinya yang dipikirkan. Dipikirkannya orang di kampung. Kita menolongnya dengan doa. Dia bekerja dengan usaha. Takdir Allah yang menyudahi.
Jika cerai ambo dengan yang kini, sudah tersedia pengganti, yaitu Suman Sutan Diateh. Heran tercengang ambo kini. Mengapa begitu perangai Bundo? Adakah Bundo pikirkan betul? Adakah dipikirkam lahir batin? Adakah diingat awal dan akhir ataukah Bundo yang terdorong? Terpedaya rupa orang, tidak diingat penderitaan.
Pikirkan betul kata ambo. Bermenantu orang yang miskin tidak mendapat emas banyak. Tidak ada harta benda. Kain basah kering di pinggang tetapi khusyu' kepada Allah, itulah yang baik betul. Kalau harta dipikirkan, dimakan nasi akan habis, dipakai cita luluh kalau berbasa-basi dan berbudi.
Bertukar menantu Bundo, terbuang suami ambo, berganti dengan yang lain. Bunga mekar menunggu layu. Pekan (pasar) ramai, pembeli lengang. Jika kaya betul dia sekarang, jika habis akhir kelaknya, tidak Bundo berkeinginan lagi. Pendekar boleh membalas. Di dunia, tinggi meninggikan. Sudah tampak yang lebih bagus, berkisar pula angin Bundo.
Pikirkan satu lagi, tampan celaka orang kaya kalau kita menerimanya. Kebanyakan seperti itu, tetapi bukan pukul rata. Kita dipandangnya rendah seperti mengharapkan limpah karunianya. Bunyi katanya lalu lalang (sembarangan). Ninik mamak disangkanya sampah. Kita disangkanya perkakas (alat) pelepas hawa dan nafsu. Dunia seperti akan dikehendaki. Alam seperti akan dilangkahi. Tidak ada hati kasihan. Ada pula yang buruk betul. Jika seumpama dia banyak uang, semua boleh untuknya. Tampak pula yang lebih muda, kita tidak dipandangnya lagi.
Bundo Kandung, ampuni ambo. Sudah banyak betul tutur ambo. Sudah panjang berlingkar-lingkar. Jauhlah tiba di atas kata putus ambo berikan. Adapun kehendak hati Bundo, tidak bisa ambo lakukan. Maafkan ambo jika begitu."
Itulah sepenggal jawaban yang diberikan Sabariah kepada ibunya, hanya sedikit saja saya tuliskan dan saya acak, lebih tepat dan lengkapnya bisa di baca dalam novelnya langsung.
Diperantauan, nasib seorang pedagang, Pulai, merasakan baik dan buruknya, senang dan sakitnya, enak dan pahitnya. Suatu masa, datanglah seorang kawandari kampung halamannya, Nagari Sungai Batang, memberikan bungkusan kecil yang berisi ikan kering dan sebuah surat dari ibu kandungnya. Surat tersebut berisi tentang bagaimana keadaan keluarganya di kampung, terutama sekali istrinya, Sabariah, yang terus menerus dipaksa ibunya, Sariaman, untuk berpisah darinya dan menikah dengan Suman seorang lelaki yang sudah berharta, sementara Sabariah tengah dirundung kebimbangan, oleh karena itu, dalam isi surat itu ibunya memintanya dengan harap bahwa ia segera pulang ke kampung halaman.
Setelah meninggalkan ranah Ujung Gunung, sampailah ia di Nagari Sungai Batang, di pekan Maninjau ia pulang. Memanglah benar apa yang dikatakan ibu kandungnya. Terlebih, saat Sariaman, melihat menantunya telah pulang tetapi tidak ada hal istimewa darinya, yang ia bawa pulang dari perantauan tidak ada harta benda melimpah seperti orang-orang, bertambah kuat keinginannya memaksa Sabariah menikah dengan Suman, bahkan ia mengatakan kalau Sabariah tidak mendengarkan perkataannya, tidak mematuhi keinginannya, tidak lagi ia menganggab Sabariah sebagai anaknya.
Tetapi Sabariah seorang yang tulus, keteguhan cinta dan kesetiaannya kepada Pulai, suaminya membuatnya tetap memegang teguh biduk rumah tangga mereka.
"Kata ambo tidak bertolak. Jika mati, kita sama-sama mati."
Begitulah ucapan Sabariah kepada sumainya yang hendak meninggalkannya. Bertakatalah Pulai, hilang pikiran dari mengingat Allah tatkala mendengar perkataan istrinya itu, "Adik Kandung Sabariah, relakan nyawa Adik Kandung. Sama-sama mati kota elok."
Tidak sampai Sabariah menjawab, Pulai menikam perut Sabariah, lalu ditikam pula pada lehernya. Meninggallah Sabariah. Adapun Pulai, ia sempat di bawa berobat ke dokter, tetapi tak dapat ia terselamatkan, lalu meninggallah ia, sebelumnya ia sempat meminta maaf dan meninggalkan pesan kepada orang-orang yang membuat mereka yang menyaksikan menangis haru pilu.
Walaupun demikian, membaca novel ini dan beberapa buku Hamka lainnya membuat saya sedikit memutar otak, karena novel hasil terjemahan, jadi walaupun sudah diterjemahkan dari bahasa aslinya, Minangkabau, tetapi tidak menghilangkan sarat aslinya tersebut, sehingga saya agak sedikit kurang memahami kata-katanya. Novel ini memang cukup ringan, bahasanya santai, dan memuat pantun-pantun nasihat dalam bahasa Minangkabau dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Yah, begitulah kisah dari novel Sabariah, yang saya tulis ini masih banyak kurangnya, hanya sepenggal-sepenggal dan tidak lengkap. Mungkin saya akan meninggalkan pesan kepada kamu, "Bahwa mestilah kita harus senantiasa bersyukur dengan apa yang kita punya, memaksimalkan ikhtiar, jangan selalu melihat kepada apa yang dipunya orang lain, dan selalu memuja harta benda, boleh jadi harta benda itulah yang akan menenggelamkan kita."
Salam hangat dari saya untuk kamu yang membaca tulisan ini.