• Judul : Real Face
• Penulis : Chinen Mikito
• Penerjemah : Lina Budiarti
• Penyunting : Cerberus404
• Penerbit : Spring
• Terbit : Cetakan pertama, Maret 2021
• Harga : Rp 99.500,-
• Tebal : 388 halaman
• Ukuran : 13 × 19 cm
• Cover : Softcover
• ISBN : 9786237351603
"𝘖𝘩. 𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬. 𝘒𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘳𝘪." (hal. 23)
Sebagai mahasiswi pascasarjana Asagiri Asuka memerlukan uang lebih untuk bertahan hidup. Maka dari itu ia pun mencoba melamar pekerjaan di klinik kecantikan Hiiragi Takayuki sesuai dengan rekomendasi dari profesor Shimizu. Asagiri sendiri merupakan seorang dokter anestesi yang memang sedang diperlukan oleh Hiiragi yang seorang dokter bedah plastik. Saat pertama kali bertemu dengan Hiiragi, Asagiri diperlakukan dengan ramah. Nyatanya perilaku Hiiragi itu hanya kedok untuk para pelanggan yang ingin melakukan operasi plastik. Saat mengetahui tujuan Asagiri yang sebenarnya---melamar pekerjaan---Hiiragi berubah menjadi sosok yang menyebalkan. Asagiri sendiri tidak habis pikir bagaimana bisa resepsionis sekaligus perawat bernama Sanae bisa tahan bekerja bersama Hiiragi. Namun, karena gaji yang ditawarkan oleh Hiiragi sangat fantastis dan Asagiri pun membutuhkan uang tersebut, maka mau tidak mau ia pun menerima pekerjaan sebagai dokter anestesi di klinik kecantikan Hiiragi Takayuki. Meskipun banyak sekali norma-norma masyarakat yang mungkin akan dipertanyakan selama bekerja di sana, Asagiri tetap menerima risiko tersebut.
Selama bekerja di klinik kecantikan Hiiragi Takayuki, Asagiri kerap melihat berbagai macam pelanggan yang ingin melakukan operasi plastik dengan alasan yang aneh. Mulai dari harta, nyawa, hingga nafsu belaka. Namun, meskipun banyak alasan yang tidak sesuai dengan norma masyarakat Asagiri tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Hingga suatu hari Asagiri didatangi oleh seorang wartawan bernama Hirasaki Shingo. Hirasaki mengaku sedang menyelidiki Hiiragi tentang kasus yang terjadi empat tahun yang lalu. Asagiri sendiri memiliki perjanjian tertulis untuk tidak menyebarkan informasi yang berhubungan dengan klinik kecantikan Hiiragi Takayuki. Namun, pancingan dari Hirasaki membuat Asagiri penasaran. Dan saat dua detektif kepolisian datang untuk menginterogasi Hiiragi, Asagiri mulai menyelidiki tentang keterlibatan Hiiragi dengan kasus pembunuhan berantai yang terjadi empat tahun yang lalu. Di satu sisi Asagiri tidak yakin jika seorang Hiiragi yang konyol dan menyebalkan bisa terlibat hal seperti itu. Tapi, di sisi lain informasi yang ditemukan Asagiri menggiring pada kasus tersebut. Benarkah Hiiragi terlibat kasus pembunuhan berantai? Apakah Hiiragi pelakunya?
"'𝘒𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯' 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘦𝘢𝘥𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘢𝘺𝘰𝘳𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘰𝘵𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨." (hal. 146)
Cerita misteri yang diramu oleh penulis dari Jepang biasanya selalu memberikan kejutan yang tidak disangka-sangka. Bagaimana mereka biasanya sering memberikan 𝘱𝘭𝘰𝘵-𝘵𝘸𝘪𝘴𝘵 yang bikin menganga. Contohnya seperti Real Face karya Chinen Mikito yang tidak hanya memberikan misteri, tapi juga diselingi dengan komedi. Sebuah perpaduan yang sebenarnya terlihat bertentangan, tapi nyatanya malah bikin ketagihan. Tidak hanya menyuguhkan cerita yang menarik, Real Face juga memiliki 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 buku yang ciamik. Sosok seorang gadis cantik yang terlihat sendu seperti sedang dibuka topengnya oleh seseorang. Representasi gadis cantik ini memperlihatkan rasa haus dari diri manusia yang tak pernah puas dengan bentuk fisik mereka. Sedangkan topeng yang dibuka memperlihatkan parktik operasi plastik sebagai cara untuk memuaskan rasa haus tersebut. Sehingga yang tercipta mungkin hanya kepalsuan yang terlihat nyata. Dilihat dari gradasi warnanya yang gelap 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 buku ini sukses membawa aura misteri yang kuat. Pembaca seakan-akan diajak untuk penasaran dan peduli dengan isi dari buku ini. Sebuah 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 buku yang nggak neko-neko, tapi tepat sasaran.
Gagasan yang coba dituangkan Chinen Mikito dalam Real Face adalah perihal operasi plastik. Di mana praktik ini sekarang tidak lagi menjadi hal yang tabu untuk dilakukan. Di sini pembaca akan diperkenalkan pada tokoh Asagiri, seorang dokter anestesi, yang bekerja di klinik kecantikan miliki Hiiragi Takayuki. Selama bekerja di klinik kecantikan tersebut, Asagiri kerap melihat permintaan para pelanggan yang cenderung melenceng dari norma masyarakat. Tapi, apa mau dikata Asagiri sendiri terikat kontrak dan sedang membutuhkan uang untuk program pascasarjana yang ia ambil. Hingga suatu hari Asagiri mendengar informasi jika Hiiragi yang terkenal dengan tangan "sihir" nya itu terlibat dalam pembunuhan berantai yang terjadi empat tahun yang lalu. Di awal cerita pembaca akan dibuat tergelak dengan komedi yang diberikan Mikito. Kelakuan Hiiragi dan interaksinya dengan Asagiri menjadi pemicu kuat yang akan menarik tawa pembaca. Semakin dalam masuk ke jalan ceritanya pembaca malah akan dibuat bertanya-tanya akan misteri yang melingkupi tokoh Hiiragi ini. Mikito seperti memberikan antitesis dalam ceritanya di mana komedi bisa dipadu padankan dengan misteri.
Ada beberapa tokoh yang menjadi jembatan dalam narasi ceritanya, seperti Asagiri Asuka dan Hiiragi Takayuki. Tokoh Asagiri adalah seorang dokter anestesi yang sedang mengambil program pascasarjana. Asagiri sendiri digambarkan sebagai seorang wanita yang berani, ceplas-ceplos, dan tangguh. Bagaiamana tidak berani Asagiri kerap kali meladeni sindiran-sindiran yang dilontarkan oleh bosnya, Hiiragi Takayuki. Selain itu Asagiri sendiri memiliki dasar bela diri sehingga dirinya bisa dibilang cukup tangguh. Sedangkan tokoh Hiiragi Takayuki sendiri merupakan seorang dokter ahli bedah yang sudah memiliki nama dan berkualitas di Jepang. Hiiragi sendiri kerap kali dijuluki memiliki tangan "sihir" akibat kemampuannya dalam merekonstruksi wajah pasiennya. Hiiragi adalah sosok yang bisa dibilang sombong, menyebalkan, dan konyol di saat yang bersamaan. Hiiragi kerap kali membangga-banggakan kemampuannya di depan para pasiennya dan Asagiri. Tidak hanya itu Hiiragi pun kerap melemparkan sindiran yang cukup pedas untuk Asagiri. Tidak hanya Asagiri dan Hiiragi, terdapat pula tokoh Sanae yang merupakan perawat sekaligus merangkap memjadi resepsionis di klinik kecantikan Hiiragi Takayuki. Sanae memiliki karakter yang ramah, ceria, dan menenangkan. Masing-masing tokoh yang diciptakan oleh Mikito tergolong kuat dengan karakter yang berbeda-beda. Setiap tokoh seakan memiliki nyawanya tersendiri. Saya juga amat menikmati tek-tokan antara Asagiri dan Hiiragi yang bergulir secara natural tanpa terasa dibuat-buat.
Real Face menggunakan 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵 𝘰𝘧 𝘷𝘪𝘦𝘸 orang ketiga di dalam jalan ceritanya. Hampir setiap tokoh yang terlibat diberi kesempatan untuk bernarasi. Tapi, kebanyakan narasi memang didominasi oleh tokoh Asagiri Asuka. Dengan 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵 𝘰𝘧 𝘷𝘪𝘦𝘸 orang ketiga pembaca seakan dibuat untuk meraba-raba apa sebenarnya yang sedang terjadi. Gaya bahasa dan bercerita Mikito tampak ringan, mengalir, dan mudah dipahami. Hasil terjemahannya pun sangat bagus dengan pemilihan kata yang tepat. Pembaca tidak akan sulit untuk segera masuk ke dalam jalinan ceritanya. Alur ceritanya sendiri bergulir dengan cukup cepat tanpa bertele-tele. Mikito sepertinya ingin segera menyuguhkan pembaca dengan hidangan yang menimbulkan rasa tanya. Ceritanya yang mungkin di awal terasa seperti masih perlahan-lahan dalam membangun pondasinya justru merupakan sebuah tipuan yang akan dilihat pembaca di babak akhir ceritanya. Mikito seakan ingin menghibur pembaca di awal sebelum membuat mereka kaget di akhir. Taktik yang bisa dibilang cukup berhasil setidaknya bagi saya.
Masalah yang timbul dalam Real Face adalah perihal kasus pembunuhan yang terjadi empat tahun yang lalu. Di mana Asagiri yang mulai merasa betah dan nyaman bekerja di klinik kecantikan Hiiragi Takayuki harus mendengar rumor soal keterlibatan Hiiragi Takayuki dalam kasus pembunuhan berantai yang terjadi empat tahun lalu. Padahal Asagiri sendiri sebelumnya sudah merasa kurang nyaman dengan melencengnya norma masyarakat di tempatnya bekerja. Apalagi kali ini disinyalir bosnya sendiri adalah merupakan pembunuh berdarah dingin menimbulkan kembali keraguan di diri Asagiri. Mulailah timbul rasa ingin tahu dari Asagiri yang mulai mencari informasi tentang keterlibatan Hiiragi Takayuki dalam kasus pembunuhan tersebut. Konfliknya memang seakan muncul begitu saja di saat Mikito membawa pembaca dalam berbagai operasi plastik yang dilakoni Hiiragi terhadap para pasiennya. Namun, walaupun muncul secara mendadak, tapi konfliknya justru terasa menambah intensitas dalam ceritanya. Di saat pembaca dibuat terbuai dengan berbagai permasalahan operasi plastik yang bisa dibilang drama, secara tiba-tiba Mikito langsung membawa pembaca pada investigasi yang mendebarkan.
Real Face merupakan gabungan komedi dan tragedi yang dapat membuat setiap penikmatnya seakan-akan naik 𝘳𝘰𝘭𝘭𝘦𝘳 𝘤𝘰𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳. Di mana di awal kita diajak tertawa lewat interaksi antara Asagiri dan Hiiragi yang entah bagaimana terasa klop. Lalu menuju akhir Mikito langsung memberikan kejutan yang cukup menggemparkan untuk dipikirkan. Perubahan suasana yang terjadi sangat terasa berlawanan. Kegembiraan berubah menjadi kengerian. Tidak cukup di situ profesi Chinen Mikito sebagai dokter pun turut membantu dunia operasi plastik yang dituangkannya di sini. Isu operasi plastik tidak hanya untuk sekadar gaya-gayaan atau tempelan belaka, tapi memang itulah yang jadi pondasi utamanya. Bahkan ada satu adegan operasi yang berhasil bikin saya ngilu saking digambarkan secara mendetail dan jelas. Mikito pun pandai dalam menipu pembaca. Banyak dugaan yang seolah-olah akan menuju ke sana nyatanya tidak demikian. Sebagai pembaca saya sukses dibohongi oleh Chinen Mikito. Satu hal yang mungkin terasa janggal adalah mungkin operasi plastik yang seakan-akan mudah aja gitu. Apakah memang demikian atau ini hanya dilebih-lebihkan? Namun, sekali lagi ini hanyalah fiksi. Secara keseluruhan Real Face adalah potret nyata tentang ketidakpuasan manusia akan apa yang dimilikinya.
"𝘔𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘪𝘧 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘳𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶." (hal. 210)
"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢. 𝘒𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘶. 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢, 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘵𝘭𝘢𝘬. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘳𝘢𝘨𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘳𝘢𝘨𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪." (hal. 372)