Suara rintihan yang terdengar di podcast misteri Podcase milik Briska viral! Ada teori bahwa itu suara Sofia, seorang siswa yang tewas di SMA Lentera Victoria dan konon bergentayangan di kawasan sekolah. Namun, banyak juga yang bilang itu hanya setting-an demi mengejar popularitas. Warganet menuntut pengakuan Briska.
Berlin, gadis cupu yang bersembunyi di balik nama siar Briska, ketakutan! Dia nggak ada nyali untuk mengungkap identitas karena isu trauma masa lalu. Namun, karena semakin tertekan, Berlin akhirnya meminta bantuan Kairo, cowok indigo di sekolah yang bisa berkomunikasi dengan arwah. Mereka berusaha mengungkap suara misteri itu.
Akan tetapi, Berlin dan Kairo nggak menyadari hal besar yang menanti mereka. Sebuah kasus mengerikan yang rasanya tak mampu dihadapi oleh dua orang murid SMA. Sanggupkah mereka menuntaskannya?
Awalnya buku ini dibaca secara santai buat pengantar tidur. Eh, ternyata malah keterusan gak tidur-tidur gara-gara penasaran 🤣🤣 Alhasil buku ini selesai dalam sekali duduk.
Ini pertama kali aku baca buku Kak Lia Nurida, dan seruuuuuu! Pas awal-awal lumayan bikin merinding sih pas hantu-hantunya keluar. Tapi ke belakang-belakang malah bikin ngakak. Momen serem yang bikin bikin ngakak salah satunya pas hantu tentara di mobil Bang Egypt colek-colek Kairo minta dianterin pulang. Wkwkwk dah kayak sopir grab car aja si Kairo 🤣🤣
Penceritaannya juga ngalir banget, nggak kerasa tahu-tahu habis aja.
Kayaknya bakal mulai baca buku-buku penulis lainnya.
Pas baca ulang ternyata nemu beberapa hal yang luput kusorot waktu pertama baca.
Pertama, ini masalah receh, sih. Di sesi chat grup kelas setelah suara Sofia muncul di Podcase itu Acha sempat melontarkan pertanyaan apakah Briska itu anak LV karena dia tahu kasus Sofia yang mana udah jadi semacam rahasia umum di kalangan LV. Padahal, di introduce siniarnya Briska bilang "sekolah gue", yang mana sangat menjelaskan dia anak LV juga, kan?
Kedua, berkaitan dengan salah satu gestur Berlin waktu pertama kali ngobrol dengan Kairo dan minta bantuan dia buat nyari tahu soal Sofia, mengingat Kairo yang bisa berkomunikasi dengan Sofia. Di situ dia langsung kecewa sampai nangis. Bukannya mau invalid perasaan dia, ya, cuman dia kan minta tolongnya buat menyelidiki, terus kalo Kairo nolak kayaknya ya wajar soalnya Berlin ini masih "asing" buat dia. Selama ini kan Kairo menjaga rahasianya banget. Tetiba ada orang datang dan agak-agak mengancam terus ada kesan maksa buat bantu menyelidiki kan aneh juga. Beda cerita kalo Berlin sengaja pasang wajah sedih sampai nangis biar Kairo bantuin dia. Tapi kayaknya nanti bakalan ngubah karakterisasinya wkwkwk.
Masih soal di atas, Berlin yang sedih dan nangis di sini malah bikin bingung karakterisasi dia yang terkenal sebagai anak pendiam dan jarang menunjukkan emosi gitu. Dia memang digambarkan sebagai middle child yang posisinya nanggung, dipuji karena prestasi kayak kakaknya enggak, dimanja kayak adeknya sebagai bungsu juga enggak. Tapi, karena dia nangis di sini malah bikin sifatnya berubah. Kupikir di awal dia tough girl begitu. Nangis atau nunjukin dia sedih cuma waktu sendirian, di kamar mandi sekolah atau kamarnya gitu misal. Maka dari itu, pas adegan ini jadi agak gimana gitu. Ataaau, si Berlin udah kelewat nyaman sama Kairo, walaupun dia belum benar-benar kenal sama Kairo (even mereka satu kelas), makanya bisa tumpah perasaan asli dia. Bibit-bibit nyaman sudah ada di awal, ciyeeehhh.
Ketiga, nah berhubungan dengan koneksi perasaan mereka (jiakhhh), setelah dicerna baik-baik, dari awal kok udah ada rasa, ya. Maksudku bibit-bibitnya udah kelihatan banget di awal. Dugaanku karena ceritanya memang mengarah ke romansa (ya pasti ada sih ini), jadi niatnya mungkin dimunculkan di awal gitu kali, ya. Pas baca ulang baru kelihatan jelas poin ini. Menurutku udah bagus banget pembukanya karena ini kan horor campur misteri ya, jadi kupikir romansa bisalah diselipkan Ketika penyelidikan berjalan. Tipis-tipis aja dulu, tapi masih denial dua-duanya. Kairo juga kan sebelumnya hampir nggak pernah notis Berlin secara berlebih. Habis itu baru deh di akhir diperjelas. Jadi semacam sub-plot gitulah. Romansa salah genre biasanya lebih membekas wkwkwk.
Keempat, posisi Berlin as anak tengah di sini entah kenapa nanggung gitu ya kesannya? Seperti yang kusinggung di poin kedua. Permasalahan anak tengah ini emang kompleks. Sama kompleksnya dengan anak sulung atau anak tungga, sih. Menurutku selama ini middle child tuh lebih ke invisible. Berlin nggak terlalu menonjol, sih, tapi perlakuan mamanya nih kok seolah dia nih anak tiri gitu. Kereng banget tho, bu, hiks. Pas ditelaah lagi memang porsi ini dikit, sih. Kayak sepintas lalu aja gitu, nggak yang mengakar. Berlin memang takut ortunya tahu dia bikin sinar dan menyelidiki kasus, tapi ketakutannya pasti dirasakan semua anak. Enggak harus jadi anak tengah dulu.
Yah segitu dulu. Kupikir pendek aja karena catatannya dikit, ternyata malah latihan bikin esai wkwk. Hopefully nanti bisa ketemu lanjutan Podcase, kalo ada (ADAIN DONG, PLISSSEUUU).
***
Baca ini kayak lagi bikin mi instan; nunggu momennya berbulan-bulan, bacanya cuma 2 hari :'(
Bukan rahasia lagi, sih, aku suka sama tulisan Kak Lia. Tipikal teenlit yang ngalir dan nggak kelihatan ditulis sama orang yang usianya sudah nggak masuk kategori remaja lagi. Nggak ada pula karakter yang mendadak punya pikiran macam orang dewasa dan bikin dia ngerasa unfit sama posisinya sebagai anak SMA.
Podcase dulu sempat aku masukkan library aplikasi oren karena judulnya kreatif. Lalu mengingat genrenya misteri, nggak ragu lagi buat baca. Unsur horor di novel ini emang kental karena salah satu karakternya memang hantu, tapi nggak sampai bikin serem. Malah lucu sama kelakuan Sofia. Apalagi pas dia coba ngintimidasi Mbak Kunti yang ada di kamar Bima itu. Astaga, ngakak :D
Kasusnya sih, nggak rumit. Penyelesaiannya juga jelas. Alasan Sofia lupa kematiannya bikin greget karena baik Kairo dan Berlin harus mengusut dari awal. Karakter dua mc-nya juga konsisten, ada progres juga sampai akhir. Walaupun orang2 masih nggak tau Kairo punya sixth sense, dia lebih terbuka.
Sayangnya, konflik keluarga Berlin nggak begitu diperdalam di sini. Aku lupa pernah baca di mana, Berlin ini sering dibedakan dengan kakak maupun adiknya. Karena waktu itu aku belum baca bukunya, jadi makin penasaran sama hidup dia, tapi setelah dibaca ternyata memang nggak dibahas mendetail, hanya satu paragraf dan adegan waktu di meja makan itu. Tapi nggak apa2 karena sudah di-cover dengan baik dengan konflik batin seorang anak SMA yang ditekan untuk menghentikan penyelidikan.
Rasanya puas banget sampai kalimat terakhir. Melow juga sih, sama bab terakhirnya :(((
Yang suka teenlit wajib coba baca ini. Ringan, nggak banyak adegan romansa sih tapi tetap bikin gemas, dan penasaran. Rekomen buat bacaan santai, sekali duduk.
Disini ada yang suka dengerin podcast? Well, aku bersyukur banget dengan adanya keberadaan podcast, dengerin audionya sambil lakuin aktivitas lain 👌😙, berasa produktif banget HAHAHA.
Nah dibuku Podcase ini nyeritain tentang sebuah podcast milik Briska yang dinamakan Podcase. Salah satu episodenya mendadak viral karena ada suara rintihan minta tolong, yang diduga suara hantu Sofia yang sedang diceritakan dalam podcast tersebut. Tapi orang-orang malah skeptis dan nganggap kalau suara tersebut merupakan settingan belaka.
Setelah baca sedikit sinopsisnya pasti mikir buku ini genre horror ya? Well, emang iya misteri-horror gitu, tapi ringan banget (pake banget). Gak bohong, deh 🤪. Horrornya sama sekali gak serem, malah jadi sedih dan kasihan sama Sofia. Misterinya pun masih kategori pemula, nggak belibet dan alurnya tertata tapi, jadi gaada clue yang miss atau plot hole.
Oke, balik lagi ke ceritanya. Setelah podcastnya viral, Briska memutuskan untuk memecahkan misteri dibalik kematian Sofia bersama Kairo. Asli yaaa, mau apresiasi penulisnya karena bikin aku nggak bisa berhenti kepo sama kelanjutannya 😉. Kematian sofia di SMA LV beneran semisterius itu. Pihak sekolah kayak nutup-nutupin, dan beberapa pihak yang ditanya pun no comment.
Semua tokoh kayak bisa dicurigain gitu 😅, penyelidikannya juga berlapis-lapis. Seruuu!! Banyak banget tantangan dan kesusahan yang Briska dan Kairo hadapi. Kadang geregatan juga sama mereka kapan sadar sama perasaan masing-masing, heheheh 🤍🤪.
Overall aku enjoy bgt baca buku Podcase. Keseluruhan ceritanya tidak menyisakan tanda tanya buatku, walaupun tokoh pak Bima agak gimana gitu, sedikit tidak konsisten, tapi ketutup sama keseruan ceritanya 😭😭. Apalagi pas tau endingnya, hoooo 😌(agak sedih juga 🥺). Aku kasih rating 4.5🌟.
Aku sukaaa. Mau lagiii. Kuraaang. Aduh, bentar, aku mau ngucek mata yang pedih dulu :')
Oke, aku nggak asing sama tulisan Kak Lia, tapi kayaknya baru beneran jatuh cinta di sini. Kerasa banget kerja keras dan cinta Kak Lia buat buku ini. Dari awal BWM 4.0 dimulai, aku udah tertarik banget sama premis Podcase. Jadi galau pas harus dukung-dukung waktu itu, karena jelas penulis yang kukenal dan ikut BWM bukan Kak Lia doang wkwk ketika aku vote atau dukung Podcase, itu murni karena suka premis. Ternyata, setelah baca bukunya pun nggak menyesal. Aku sesuka itu.
Jadi, Podcase merangkum kisah Berlin yang punya podcast berjudul Podcase dan tiba-tiba viral karena rekamannya merekam suara ganjil. Muncullah Kairo, teman sekelas Berlin, yang punya kemampuan "lebih" dalam hal lihat sosok-sosok gaib. Berlin yang tahu secara nggak sengaja, awalnya mau maksa Kairo buat bantu dia, tapi akhirnya Kairo sukarela bantu kok karena dia bucin *heh Kasus yang mereka usut adalah tentang kematian Sofia, siswi SMA Lentera Victoria yang meninggal 7 tahun lalu dengan dugaan bunuh diri. Padahal, Sofia mati dibunuh. Dimulai deh petualangan mereka menyelidiki siapa pelaku pembunuhan dan motifnya.
Jujur, masih ada beberapa hal yang bisa dikembangkan lagi atau dipoles lagi dan mungkin itu sebabnya aku butuh hampir 25 hari buat menyelesaikan buku ini. Tapi itu ocehanku sebagai editor. Dari sisi pembaca, aku sudah puas. Beberapa salah ketik atau penempatan tanda baca kurang tepat nggak terlalu mengganggu buatku. Plotnya oke, naik-turunnya pas, cuma paling dialog aja yang perlu diulik lagi buat buku Kak Lia selanjutnya. Sisanya sudah mantulll, apalagi karakternya. Dan, aku suka narasi Kak Lia~
Kalau kalian suka cerita remaja berbumbu hantu (tapi hantunya friendly dan nggak seram) harus banget coba baca Podcase ini. Takaran roman di sini pun pas, bikin pipi nyeri karena nyengir gemasss!
Sudah berhari-hari saya menamatkan tulisanmu, dan hingga kini saya masih tetap terbayang-bayang dengan apa yang kamu tuturkan tentang konsep astral yang sangat meyakinkan. Bukankah, untuk jatuh dan bergumul ke dalam sebuah tulisan, perlu rasa percaya? Dan kamu berhasil membuat saya percaya. PODCASE bergulir begitu meyakinkan.
Kasus dibuka dengan sebuah peristiwa menyusupnya rintihan kata, "Tolong...." di siaran podcast Berlin. Respons nitizen pun terbelah dua, antara dugaan settingan agar viral, dan suara Sofia, hantu penunggu sekolah yang kabarnya tewas bunuh diri.
Kamu dengan cerdik menjadikan poin ini sebagai katalis untuk Berlin. Menggunakan karakter Berlin yang tidak mau dianggap pembohong, apalagi untuk memanipulasi sebuah suara demi ketenaran, kamu memaksa Berlin harus membuktikannya.
Keinginan Berlin untuk menyelidiki suara misterius itu kemudian mempertemukannya dengan Kairo, anak indigo, yang menjadi mediator bagi hantu Sofia dan Berlin. Tak diduga, penyelidikan dua remaja, dan satu hantu itu tenyata mengantarkan mereka ke depan pintu rahasia kelam sekolah yang sengaja dibungkam.
Lia, saya sangat menikmati tulisan kamu; rapi, sederhana, dan tidak bertele-tele. Ciri khas kamu di novel ini menggunakan scene alur melompat dalam beberapa bab. Saya sangat takjub karena itu bukan hal yang mudah, tapi kamu meramu itu dengan halus, tidak ada friksi dan paksaan. Bergulirnya peristiwa sekarang, beralih ke peristiwa sebelumnya, kemudian kembali lagi di waktu sekarang, terasa tidak ada pembatas yang kasar. Aku sangat menikmati liukan alur semacam ini dibanding alur yang lurus.
Kamu tahu, Lia, saya salah menebak-nebak cerita ini. Oke, ini aib betapa bodohnya saya, atau justru betapa piawainya kamu membungkus misteri ini. Setelah kamu bongkar misteri tentang kematian hantu Sofia lapis demi lapis, saya hanya mengangguk seraya berujar, "Oh, pantesan, Cuk!" karena logika yang kamu bangun kokoh dari awal hingga akhir kesimpulan. Sekali lagi salut buatmu, Lia.
Lia, semalam saya berdoa, semoga suatu saat saya bisa mewawancaraimu tentang buku barumu ini. Karena masih banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin saya ajukan. Juga, banyak konsep-konsep yang ingin saya diskusikan padamu. Seperti, psikologis anak tengah, konsep arwah, mekanisme kesurupan, kuantum energi makhluk gaib, dan masih banyak lagi. Semoga Allah mengabulkan doa saya. Amiiin.
Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati saya, Lia. Tentang jarak rooftop, dan lokasi ditemukannya mayat Sofia. Apakah teriakan dari bawah masih sanggup didengar sampai atas? Kemudian, saya jadi galau, memikirkan apakah kelak saya harus memakai kata 'kaos' atau 'kaus'?
Satu lagi yang membuat saya kepikiran, apakah kamu benar-benar bisa melihat hantu?
Mungkin itu saja surat terbuka dari saya, Lia. Mohon maaf kalau ada salah kata.
Empat kali empat Sama dengan enam belas Sempat tidak sempat Jangan lupa dibalas
Buku ini tuh tipe buku yang sekali diangkat buat dibaca bakal susah diturunin. Akhirnya, baca terus sampai habis. Termasuk cepet saya menyelesaikan Podcase. Dibikin penasaran banget dan sok-sok mau nebak siapa yang jahat dan sebagainya. Pengalaman yang seru banget! Padahal, ceritanya bukan genre yang biasanya saya gandrungi. Jadi, ini pengecualian yang mengesankan!
Mungkin yang paling saya sukai itu di dalamnya nggak ada tokoh yang cuma numpang lewat! Dari awal sudah dibuat benang-benang merah tak kasatmata di antara tokohnya. Lalu, menurut saya, enggak ada konflik yang klise. Saya suka dengan Berlin yang mungkin awalnya terkesan damsel in distress, tapi ternyata sama sekali enggak! Saya juga suka Kairo yang kesannya nggak peduli, tapi sebenernya orang yang peduli. Dinamika antara tokohnya juga saya suka dan chemistry antara Berlin, Kairo, dan Sofia itu gemessss banget.
Good job, Lia! Nggak heran kalau ceritanya terpilih jadi juara 1 BWM4!
Meski sudah membelinya cukup lama, saya berhasil menyelesaikan novel ini dalam dua kali duduk. Suatu hal yang menakjubkan untuk saya, yang belakangan ini terjebak dalam mood "malas" membaca.
Podcase menurut saya membawa angin segar dari karya-karya Mbak Lia Nurida yang selama ini saya kenal bernuansa light dan manis. Saya pribadi melihat karya ini sebagai bentuk keberanian Mbak Lia keluar dari zona nyamannya untuk menulis novel dengan plot yang lebih kompleks dan nuansa yang kelam. Sepanjang membaca, saya nggak bisa berhenti terhanyut dari pergerakan tokohnya, yang menurut saya bagus banget, karena ceritanya benar-benar mengikuti tujuan dari tokoh itu sendiri, bukan semata-mata adegan itu ada karena keinginan penulisnya. Dan saya tahu, menulis naskah seperti ini juga nggak mudah dilakukan. Meski genre yang diangkat adalah horror/mystery, ceritanya tetap asyik diikuti dan masih bisa bikin ketawa, tanpa menghilangkan unsur "seramnya". Ide ceritanya sendiri juga menarik, yaitu mengungkapkan kasus lewat podcast.
Ke depannya, kalau Mbak Lia masih akan mengeksplor genre serupa, bagian narasinya menurutku bisa lebih diperkuat dengan diksi yang lebih beragam, supaya novelnya bakal lebih keren lagi.
Sekian dulu ulasan ini. Saya nggak sabar untuk baca karya Mbak Lia selanjutnya! :)
4.8/5 alias SUKAAABGT!! Novelnya sangat page turner terus kalo ga baca tu jadi kepikiran HAHAH
The good things is... horrornya ga seserem itu!! Jujur aku tu orangnya penakut HAHAH tp suka kepo cerita2 serem. Ya emang sih penggambaran hantunya ada yang cukup detail gituu tp lebih dominan di bagian awal, makin ke belakang gak terlalu soalnya lebih berfokus ke Sofia.
Ohiya jujur buku ini lumayan mengingatkan aku sama A Good Girl's Guide to Murder! ceritanya beda sihh, walaupun sama2 memecahkan misteri kematian seseorang gituu.. cmn entahlah si Berlin sama Kairo ini bikin aku keinget Pip & Ravi di AGGTM hehe
Buku ini sungguh page turner. Selama membacanya aku merasa seperti tergelincir dalam setiap rangkaian kalimatnya, terus masuk ke dalam kisahnya yang sungguh menyedot perhatian. Rasanya memang pantas buku ini menjadi Pemenang 1 Belia Writing Marathon 4. Misteri di dalamnya benar-benar membuat penasaran dan membuatku tak sabar untuk terus membuka halaman demi mencapai ending.
Kisah misteri amateur detective yang digabungkan dengan genre supernatural memang tak lagi asing. Kita sudah sering disuguhi cerita tentang hantu gentayangan yang minta tolong pada orang indigo untuk menyelidiki fakta di balik kematiannya. Namun, Podcase bisa meracik pola-pola mainstream itu menjadi sebuah cerita unik yang kekinian.
Podcase berkisah tentang Berliana Mariska, seorang gadis penyendiri di balik persona Briska seorang podcaster dalam Podcase, sebuah kanal siniar yang terkenal karena membahas kisah-kisah misteri. Podcase mengingatkanku pada kanal-kanal YouTube seperti Nadia Omara dan Nessie Judge. Berliana atau yang kerap dipanggil Berlin sebenarnya punya bakat menjadi penyiar. Tapi klub radio di sekolah elit tempat ia menimba ilmu, Lentera Victoria, hanya menerima murid-murid populer. Sungguh picik. Terluka karena ia dianggap terlalu cupu untuk menjadi bagian dari klub radio, Berlin jadi menutup diri, malas bergaul, dan memilih untuk bersembunyi di balik persona Briska dalam Podcase. Dengan menjadi Briska, dia bisa menyalurkan hobi berceritanya dengan leluasa sekaligus merasakan rasanya punya teman yang tak ia dapatkan di kehidupan nyatanya.
Di Lentera Victoria, ada rumor soal hantu gadis bernama Sofia yang diduga sering bergentayangan di sekolah karena arwahnya tak tenang akibat bunuh diri. Berlin meriset gosip itu dan menyiarkan hasil temuannya dalam podcast-nya. Anehnya, di sela-sela siarannya, terdengar suara halus seorang gadis yang berseru, "Tolong....". Suara itu sebenarnya adalah suara dari Sofia yang tak sengaja masuk ke dalam rekamannya. Hal ini langsung menghebohkan para pendengar Podcase. Briska dituduh melakukan setingan demi jadi viral. Instagramnya langsung banjir DM-DM dan komentar berisi hujatan yang membuat Berlin langsung terpuruk.
Berlin pun memutuskan untuk menyelidiki kasus Hantu Sofia agar ia tak dituduh melakukan setingan. Apalagi Berlin lalu ditempeli Sofia yang masuk ke alam mimpinya hingga ia terus bermimpi buruk soal hari Sofia jatuh dari rooftop. Dalam mimpi itu, Berlin seolah menjadi Sofia dan merasakan sendiri kehororan jatuh karena didorong dari rooftop.
Tak sengaja Berlin melihat salah satu teman sekelasnya, Kairo, ngobrol sendiri ketika cowok itu mengira tidak ada yang melihat. Kairo adalah cowok indigo yang mampu melihat dan berkomunikasi dengan hantu. Cowok itu selama ini menyembunyikan kemampuannya karena tak mau dianggap aneh. Hanya keluarganya yang tahu soal itu. Kairo didekati oleh Hantu Sofia yang ingin meminta tolong agar penyebab kematiannya diselidiki. Sofia sendiri tidak ingat dengan kehidupannya sebelum mati. Awalnya Berlin mengancam akan menyebarkan video Kairo yang ngobrol sendiri dengan udara kosong agar cowok itu mau membantunya. Tapi akhirnya Kairo sendiri yang memutuskan untuk membantu karena kasihan pada Berlin yang jadi bulan-bulanan netizen, juga kasihan pada Sofia.
Penyelidikan dalam Podcase sungguh khas remaja yang tak berpengalaman sehingga banyak bolongnya, misalnya ketika Kairo tertangkap mengutak-atik komputer ruang TU demi mencari data Sofia; tertangkap kamera CCTV ketika sedang menyelidiki meja gurunya, Pak Bima; dan ketika dia dan Sofia dengan polosnya membolos dan meninggalkan data diri asli di kantor Yayasan Lentera Victoria untuk menyelidiki soal Sofia lalu ketahuan oleh Papa Sofia. Semua itu membuat proses penyelidikan mereka sebagai detektif amatir remaja yang tak berpengalaman menjadi terkesan lebih alami. Kairo dan Berlin tidaklah segenius Shinichi Kudo dan Kindaichi. Keduanya terkesan lebih dekat bagi para pembaca awam. Kecerobohan-kecerobohan itu juga menambah ketegangan cerita dan membuat kita gemas karena mengkhawatirkan nasib mereka.
Di sisi lain menjadikan para remaja tak berpengalaman sebagai tokoh detektif ini juga menghasilkan kekurangan dari segi penceritaan. Aku sendiri lebih suka cerita-cerita detektif yang fakta-fakta misterinya dibuka sendiri satu persatu oleh sang tokoh dalam proses penyelidikan, bukan dijabarkan langsung oleh penulisnya. Namun, keterbatasan sudut pandang kamera yang mengikuti tokoh Kairo dan Berlin membuat penulis jadi terpaksa turun tangan sendiri menjabarkan adegan-adegan flashback yang menguak masa lalu Sofia ketika dirinya masih hidup. Mungkin keterbatasan halaman juga turut berperan karena seandainya jatah halaman buku ini lebih banyak, mungkin semua flashback itu akan lebih baik dijabarkan dengan kembalinya ingatan Sofia sedikit demi sedikit. Meskipun begitu, bagiku hal ini masih bisa diterima karena aku sudah terlanjur peduli dengan cerita dan nasib para tokohnya sehingga cara apa pun yang dipakai penulis untuk menguak informasi dalam ceritanya pun aku telan dengan lapang dada.
Ada lagi hal-hal yang membuatku merasa cerita ini terkesan terlalu diburu-buru untuk meraih ending, yaitu adegan ketika teman-teman Berlin dan Kairo akhirnya mengetahui jati diri Briska dan membuat petisi untuk memprotes tindakan sekolah yang menskorsing Berlin dan Kairo untuk menutupi kasus kematian Sofia. Tidak ada proses signifikan yang digambarkan yang membuat para murid jadi tahu alasan di balik skorsing Berlin dan Kairo. Sekolah rasanya kurang rapi untuk menutupi-nutupi kasus. Padahal, bisa saja cerita dibuat lebih rumit dan menyesakkan dengan misalnya pihak sekolah yang memfitnah Berlin dan Kairo sehingga alasan skorsing itu lebih terjustifikasi dan mereka jadi lebih terkucil di sekolah. Begitu juga keberadaan ponsel Sofia yang menyimpan bukti kejahatan pihak sekolah sejak tujuh tahun lalu yang rupanya masih ada. Sang pelaku diceritakan masih menyimpan ponsel itu karena merasa bersalah sehingga ia tak menghancurkannya meski disuruh oleh mastermind. Namun, buatku ini aneh. Seandainya aku adalah sang mastermind, pasti aku sendiri yang akan menghancurkan barang bukti sepenting itu tanpa menyuruh orang lain. Rasanya penyelesaian kasus Podcase terlalu mudah. Tapi ya sudahlah. Adakalanya memang ada juga para penjahat yang terlalu menyepelekan masalah karena merasa sudah di atas angin.
Hal lainnya adalah soal keberadaan hantu penguasa rooftop. Kukira sosok menyeramkan yang dilihat Berlin dalam mimpinya ini bakal punya peran yang lebih signifikan dalam cerita. Misalnya dia dihadapkan dengan Kairo lalu menjadi salah satu saksi kematian Sofia. Ternyata tidak sama sekali. Dia bahkan sama sekali tidak muncul di dunia nyata, di linimasa kini. Hal ini mungkin terkesan minor, tapi buatku keberadaan hantu penguasa rooftop ini sangat berpotensi untuk menambah tingkat ketegangan dan keseraman cerita.
Karena hal-hal yang kusebutkan di atas itulah aku memutuskan memberi bintang empat untuk novel ini dan bukannya bintang lima (aku memberikan bintang lima untuk Magicamore Arancinia yang merupakan Pemenang 2 event BWM 4). Meskipun tetap saja aku berpendapat bahwa novel ini memang yang paling layak mendapatkan juara pertama. Dari ketiga novel pemenang BWM 4, memang Podcase-lah yang ceritanya paling page turner. Proses membacaku buat buku ini pun yang paling cepat: dalam kurun waktu sehari semalam saja.
Dari awal bahkan sebelum petunjuk-petunjuk mulai dibeberkan, aku sudah menduga kalau kematian Sofia berhubungan dengan petinggi sekolah yang melakukan transaksi keuangan gelap. Tadinya aku juga menduga apakah Sofia adalah korban pelecehan seksual. Ini karena biasanya cerita-cerita sejenis menggunakan pola cerita serupa. Dugaanku yang terbukti benar adalah dugaan pertama. Namun, detail dari kasus yang dijabarkan dalam buku ini tetaplah menarik untuk disimak. Pelaku yang menjadi kaki tangan dari mastermind itu sendiri pun tak terduga. Bentuk kejahatan dan motif kejahatan para mastermind di sini juga bisa dibilang sangat menarik. Kasus di Lentera Victoria menguak sisi gelap dunia pendidikan dalam hal penyelewengan dana yang menginjak-injak hak murid untuk mendapatkan fasilitas maksimal. Di baliknya megahnya gedung dan besarnya nama beberapa institusi-institusi pendidikan, siapa yang tahu kebusukan apa yang sudah dilakukan para orang dewasa demi memuaskan hawa nafsu mereka? Dalam Podcase, semua kebusukan itu terkuak. Namun, dalam dunia nyata? Mungkin baru pengadilan akhirat yang bisa memberikan balasan paling adil terhadap semua pelaku kezaliman itu. Ironis, justice only works well in fictions.
Novel aroma misteri yang page turner bgt!! bener-bener penasaran mau cepet ngabisin hahayyy
Berputar ttg seorang gadis yang membuat podcast horror di sekolahnya terkait kejadian bunuh d!ri dgn berlindung dibalik akun anonim. Podcast tersebut menjadi viral karena ada suara cewe selain dirinya yang merekam. Dihantui oleh rasa penasaran, ia meminta pertolongan kepada temannya yang bisa berkomunikasi dgn arwah gentayangan dari korban yang diduga bunuh d!ri. Dalam perjalanannya, kasus yang mereka tempuh ternyata merupakan skandal sekolah dan situasi semakin memanas karena adanya tekanan dari berbagai pihak. Seru abis!!! pun aku gagal menebak siapa pelakunya~
PODCASE (Tolong, Kenapa Aku Harus Mati?) || Lia Nurida || Penerbit Bentang Belia || 312 Hlm || Cetakan Pertama, Januari 2022 #podcaseuniverse #reviupodcase
"Hai, kamu, yang selalu dibandingkan, yang tak pernah dianggap dan tak dipercaya. Jangan sedih. Kamu hanya butuh satu langkah lebih berani untuk memulai dan menunjukkan pada dunia bahwa kamu bisa menjadi apa saja yang kamu inginkan. Just be brave!" - Lia Nurida - PODCASE (Tolong Kenapa Aku Harus Mati?)
Aku suka banget sama quotes di atas. Dari quotes tersebut aku bisa merasakan aura semangat mulai muncul dari diriku. Aku tahu banget rasanya tak dipercaya dan dibandingkan itu bagaimana. Di dunia ini tidak ada satu orang pun yang mau dibandingkan dan tak dipercaya.
Sebelumnya terima kasih banyak buat Kak Lia karena telah memberikan aku kesempatan untuk membaca novel PODCASE. Sebelumnya aku sudah membaca PODCASE di wattpad dan memang senagih itu ceritanya. Cuma untuk versi novelnya lebih lengkap dibandingkan versi wattpadnya.
Novel PODCASE ini merupakan Pemenang 1 BMW Batch 4 dengan tema "Beyond Your World" yang diikuti oleh lebih dari 3.200 peserta yang terdiri dari penulis dan publisis. Wahh keren sekali, 'kan?
PODCASE sendiri bercerita tentang siaran Podcase milik Briska yang viral lantaran ketika membawakan cerita tentang misteri kematian Sofia terdengar suara rintihan. Ada teori bahwa suara tersebut adalah suara milik Sofia, seorang siswa yang tewas di SMA Lentera Victoria dan konon bergentayangan di kawasan sekolah. Namun, banyak juga yang bilang itu hanya setting-an demi mengejar popularis. Warganet menuntut pengakuan Briska.
Berlin, gadis cupu yang bersembunyi di balik nama siar Briska, ketakutan! Dia nggak ada nyali untuk mengungkapkan identitas karena isu trauma masa lalu. Namun, karena semakin tertekan, Berlin akhirnya meminta bantuan Kairo, cowok indigo di sekolah yang bisa berkomunikasi dengan arwah. Mereka berusaha mengungkap suara misteri itu.
Akan tetapi, Berlin dan Kairo nggak menyadari hal besar yang menanti mereka. Sebuah kasus mengerikan yang rasanya tak mampu dihadapi oleh dua orang murid SMA. Sanggupkah mereka menuntaskannya?
Kalau kalian penasaran kelanjutan cerita Berlin, Kairo dan Sofia bisa langsung baca novel PODCASE.
Ini bukan kali pertamaku membaca karya Kak Lia. Sebelumnya aku pernah membaca karya Kak Lia di Wattpad dan Storial.co. Jujur gaya penulisan Kak Lia ini aku suka banget. Ketika baca karya Kak Lia aku sangat enjoy dan merasa kalau untuk ditinggal beberapa detik saja itu terlalu sayang banget.
PODCASE termasuk novel yang tebal, tapi membaca novel ini tuh beneran enggak berasa banget. Termasuk novel yang page turner menurutku. Ketika membaca novel PODCASE ini aku enggak bisa untuk berhenti membalik setiap halaman novelnya.
PODCASE ini punya premis yang unik dan aku belum pernah baca karya yang mengangkat tema podcast. Konflik dalam novel podcase ini menurutku sangat relatable dan komplit. Ada masalah percintaan, masalah keluarga, masalah dengan sekolah dan sebagainya. Novel ini memang ada unsur horornya, tapi buatku hantu dalam novel ini tidak menyeramkan. Sosok-sosok yang ada dalam novel diceritakan dalam wujud ketika mereka masih menjadi manusia. Vibes horornya masih berasa di beberapa scene, seperti ketika Kairo dan Bang Egypt ke sekolah malam-malam dan ketika Bang Egypt pulang di waktu magrib ada sosok tentara yang ikut di mobil Bang Egypt.
Dilengkapi ilustrasi yang mendukung dan keren banget. Aku suka layout novel ini, aku juga suka pemilihan font dalam novel ini karena membuatku nyaman ketika membaca kisah Berlin, Kairo dan Sofia.
Membaca novel PODCASE ini aku diajak menebak 'Kenapa Sofia bisa meninggal?', 'Siapa yang membunuh Sofia?. Bahkan, aku juga diajak untuk mencurigai beberapa orang yang ketika ditanya terkesan menghindar dan enggak mau menjawab. Benar-benar diajak untuk menjadi detektif dan itu seru banget.
Ketika membaca novel ini aku merasakan perasaan yang campur aduk, sebal iya, gemas iya, marah, sedih dan bahagia. Pergantian kisah masa lalu Sofia dan masa sekarang diceritakan dengan smooth oleh Kak Lia. Jadi, kita bisa tahu apa yang terjadi ketika Sofia masih hidup. Bahkan, aku agak geram dengan pihak sekolah kalau ada siswa/i yang mereka anggap bermasalah bukannya membimbing malah terkesan menghancurkan mental siswa/inya dan tidak dirangkul. Seperti, ya sudah itu salahmu, kita hanya kasih hukuman aja supaya nama baik sekolah enggak tercoreng.
Seperti yang aku bilang tadi kalau novel ini enggak cuma berpusat tentang Sofia aja. Namun, menceritakan bagaimana konflik Berlin dengan keluarganya. Terutama dengan Mamanya. Saat ada scene keluarga Berlin, jujur aku emosi dengan Mama Berlin. Terkesan pilih kasih sekali. "Hey, Mama! Berlin ini tuh juga anak Mama lho!" Benar-benar pengen ngomong seperti itu. Sikap Mamanya tuh buatku enggak cocok untuk ditiru. Membanding-bandingkan anak itu enggak bagus! Aku juga sebel dengan tingkah adeknya Berlin. Kesannya dia itu seenaknya saja, enggak punya sopan santun terhadap kakaknya atau orang yang lebih tua. Untuk ke Papa aku sih okey aja. Lebih suka sikap Papanya malah. Benar ya, yang dibilang orang kalau Papa itu adalah cinta pertama anak perempuannya. Mungkin rasa sayang ke anak tidak ditunjukkan secara langsung, tapi itu berasa banget.
Ketika scene keluarga Kairo aku berasa enjoy. Suka saja sama interaksi Mama dan Kairo. Interaksi Kairo dan Bang Egypt yang penakut.
Menurutku karakter tokoh dalam novel ini kuat banget. Kayak Berlin dengan keras kepalanya. Kairo yang kaku. Dan aku suka perkembangan hubungan Kairo dan Berlin. Dari yang manggil Lo-Gue jadi Aku-Kamu aja itu udah bikin baper parah.
Dari novel ini juga aku bisa mendapatkan ilmu tentang Podcast dan Ilmu Psikologi tentang mimpi. Novel ini benar-benar keren. Endingnya juga sangat memuaskan dan yang pasti ditunggu untuk Buku kedua PODCASE. Benar-benar gak sabar nunggu kasus apa lagi yang akan mereka pecahkan.
Satu kata buat novel ini, keren. Premisnya yang mengiurkan sudah terpapar sejak membaca blurb.
Kisah remaja indigo(Kairo) bertemu remaja introvert(Berlin) yang ingin mengungkap kematian temanya, Sofia. Ada misteri dan juga teka-teki. Cerita misteri ala-ala detektif berbalut horor. Paduan yang tepat dan tampil mengesankan.
Lebih lagi, gaya investigasi yang dijabarkan sangat renyah. Kriuknya terdengar nyaring seperti suara minta tolong yang diam-diam menyusup di Podcast.
Jalinan alur yang kuat, disertai olahan deskripsi cerita, membuat pembaca terus bertahan hingga akhir. Pembaca buku ini akan dimanjakan oleh kepingan puzzle, serta romansa remaja. Kehidupan di SMA yang penuh dengan tantangan dan juga indahnya masa-masa remaja. Lukisan segala hal yang ada dalam buku ini, tampil prima dan nyata hadir di depan mata pembaca.
Bangunan karakternya mumpuni. Berlin menjelma hidup keluar dari lembar halaman. Mengajak pembaca untuk menelusuri lorong misteri. Begitu pula Kairo, dengan manisnya menyihir pembaca. Pun begitu Sofia si hantu lupa ingatan yang hadirnya selalu ditunggu.
Kalau aku bilang ini paket komplit. Horor, misteri, dan romansa. Menariknya lagi, ketiga unsur tersebut dibuat seimbang. Horor yang tak menakutkan, misteri yang membingungkan, dan romansa manis menjadikan buku ini tampak menawan. Mengigit, dan isinya melimpah ruah. Apa yang diinginkan remaja membentuk jalinan-jalinan naratif cantik.
Aku suka cara pandang, juga pemilihan kata dan bahasa yang digunakan. Tanpa direpotkan oleh diksi tetap memukau. Bahkan diluar dugaan paragraf itu mengelayuti pembaca dengan cara yang sangat berbeda dengan buku berjenis sama. Kepiawaian penulis dalam menghipnotis pembaca untuk mengikuti rangkaian kata-kata itu tak perlu diragukan lagi. Dimana akan mengajak pembaca untuk menyelami luasnya samudra emosi. Mulai dari rasa sedih, senang, bahagia, bahkan trenyuh. Tak heran jika penulis memilih untuk melakukan pendekatan secara emosional terhadap pembaca, Karena memang ada hal yang ingin disampaikan. Tidak hanya menhadirkan cerita-cerita tentang hantu saja. Sesuatu itu bisa didapatkan setelah menghabiskan buku setebal 300-an halaman ini.
Alur cerita yang dibuat maju mundur dengan irama naik turun akan semakin membawa pembaca jauh menyusuri gelapnya teka-teki.
Kejutan yang diberikan membuat pembaca merasa puas. Aku sendiri sempat menebak dan terkecoh. Sungguh tak terduga. Awalnya para tersangka tampak mudah diterka, rupanya kelicikannya tidak hanya ada disifat, tapi juga melalui karakternya yang abu-abu. Penulis menghadirkan tokoh penuh motif dan alibi. Di mana, tokoh tersebut berhasil mengambil simpati pembaca. Latar dan suasana dibangun, sungguh juara. Emosi dialirkan seakan-akan menjerat dan memaksa larut bersama tokoh sentral dalam cerita ini. Walaupun latar tempat, bisa dikatakan repetitif, hanya di seputar sekolah dan rumah tokoh saja.
Hangatnya persahabatan, cinta merah muda, juga teka-teki dibalik kematian mengerikan jadi sajian menyenangkan. Padahal jika diperhatikan dengan baik, bukan hal yang baik-baik saja.
Jika hanya memperhatikan sampul buku warna ungu ini. Mungkin yang terlintas pertama kali adalah cinta segitiga dengan nuansa Korea. Dilihat juga dari seragam tokohnya. Tapi, apa yang aku pikirkan ternyata berbeda. Kisah remaja dengan kemampuannya melihat hantu dan perjalanan menolong hantu hilang ingatan tersebut jelas unik dan menarik. Namun, aku sangat berharap bahwa detail cerita lebih dipadatkan lagi. Ada beberapa bagian yang terasa dipaksakan untuk dipotong. Meskipun halus potongan tersebut, ada informasi yang sedikit kurang tersampaikan. Lokalitas cerita juga sedikit bercampur dengan budaya yang populer saat ini. Hal ini memang sama sekali tak merusak cerita. Aku pikir, dengan tema seperti ini, cerita berlarut-larut juga tak bagus. Untungnya masalah penceritaan yang pelan, tapi tak bertele-tele ini punya ramuan pemikat yang beraroma menyegarkan.
Seru, diluar dugaan. Nyaris tanpa lubang plot dengan penyelesaian Yang bisa diterima. Bahkan adegan akhir itu sangat berkesan. Siapa yang tidak akan ingat penutup yang manis sekaligus menyesakkan ini. Dramatis, menyentuh tak terduga. Khayalan pembaca ikut dipermainkan.
Konflik berhasil diselesaikan dengan cara yang tepat. Tidak hanya itu saja, apa yang ditebarkan diawal halaman menjadi kunci yg akan membuka segala hal. Selipan humor tak dipaksakan, menjadi selingan diantara kemelut intrik. Aku suka hadirnya banyolan ringan yang bisa membuat pembaca tersenyum. Bukan sesuatu yang garing, justru mencairkan suasana yang bisa saja meledakkan kepala. Bagian paling emosional juga terbangun rapi. Apalagi karakternya yang sangat mendukung, #Podcase jadi bacaan yg menghibur.
Buku ini juga punya pesan penting buat remaja. Berani untuk menunjukkan diri, melalui bakat dan keinginan. Seperti Berlin yang harus percaya diri membuat Podcast tanpa harus bersembunyi. Dalam buku ini pula diajarkan untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Sebab, terkadang tindakan yang menurut kita benar, menjadi salah di mata orang-orang tang tak sepemikiran. Kasus kematian Sofia, jelas punya imbas akan sebuah perbuatan, yang mana perbuatan itu dapat menghancurkan seseorang.
Satu hal lagi, aku suka dengan pemberian nama tokohnya. Mengambil nama-nama kota terkenal di dunia.
Aku pikir, buku ini layak untuk dibaca remaja, penyuka cerita misteri, horor, dan kehidupan sekolah yang penuh konflik.
salah satu episode podcast dari segmen podcase milik briska viral di sosial media, suara rintihan minta tolong yang terdengar misterius itu memicu berbagai perdebatan, ada yang bilang itu settingan, tapi ada juga yang percaya kalau itu adalah suara dari hantu sofia, sosok yang kematiannya memang sedang di bahas oleh briska di episode viral tersebut.
berlin, siswi rata-rata yang berlindung di balik nama briska panik bukan kepalang setelah namanya trending di mana-mana. ia tertekan sekaligus ketakutan, hingga akhirnya ia terpaksa meminta bantuan kairo, siswa indigo yang konon bisa berkomunikasi dengan "mereka". berlin dan kairo akhirnya bersatu untuk mengunggap misteri di balik suara misterius itu, keduanya tidak sadar kalau ada hal besar yang sedang menunggu mereka di depan, hal yang saking besarnya mungkin tidak bisa di hadapi oleh hanya dua anak sma. sanggupkah mereka menyelesaikannya?
buku ini udah masuk wishlist gue dari lama, gue juga udah antri di ipusnas dari jaman baheula tapi nggak dapet-dapet karena entah kenapa ipusnas gue tuh nggak ada notifnya (gue berhenti sampe sini karena berpotensi maki-maki ipusnas sampai beberapa paragaraf) gue tertarik karena premisnya menarik dan pas baca terbukti sih, memang cukup menarik meski gue sendiri lupa kalau ini teenlit, jadi masih tergolong ringan dan nggak gong banget baik dari unsur horror maupun thrilernya. alurnya lumayan lambat, tapi gue cukup menikmati proses investigasi abal-abal dua anak sma ini. meski plot twistnya tuh ketebak banget, gue dari awal juga udah tau ini arahnya mau di bawa kemana dan setiap scene penting itu maknanya apa. tapi ya balik lagi, ini fiksi remaja, kedua tokohnya pun masih sma, jadi berharap apa? kalau di buat berlebihan justru lebih nggak masuk akal, masa iya anak sma udah bisa berpikir sejauh itu, misalnya.
untuk kurangnya mungkin masih ada beberapa kejanggalan dan pertanyaan yang belum terjawab sampai cerita ini tamat, salah satu kejanggalannya itu soal orang-orang yang nggak nyadar kalau berlin dan briska itu adalah orang yang sama. okelah sebelumnya memang udah di jelaskan kalau berlin ini anak rata-rata banget, di sekolah dia pendiem dan nggak punya temen, tapi masa iya sih nggak ada yang tau suaranya dia gimana? emang selama 2 tahun sekolah nggak ada presentasi sama sekali? belum lagi soal temen-temennya dia pas sd atau smp, masa iya nggak ada yang dengerin podcase terus notice kalau suaranya ini mirip sama berlin? menurut gue ini kelewat janggal. kalau pertanyaan yang belum terjawab sampai cerita tamat itu soal pengendara serba hitam bikin kairo kecelakaan, itu siapa? kalau dugaan kairo bener juga buat apa? bukannya di ending terbukti kalau orang itu ternyata sekubu?
well, gue pribadi sih cukup menikmati alurnya yang lumayan pelan, meski kadang sempat bosan. buat kalian yang baca dengan membawa ekspektasi ini akan super menegangkan dan banyak plot twist bertebaran, menurut gue turunin ekspektasi lo, karena ini teenlit misteri sederhana yang menghibur aja, bukan bikin kepala pusing karena capek mikir (setidaknya itu yang gue rasain, meski gue sadar kalau ini nggak bisa di pukul rata. jadi silakan di baca sendiri aja, siapa tau pendapat lo beda) karena gue baca ini sebagai hiburan, jadi ya nggak kecewa sama proses investasi dan plot twistnya yang sederhana. bisa jadi pilihan buat yang lagi pengen baca teenlit tapi ada unsur horror dan thrilernya.
Judul: PODCASE Penulis: Lia Nurida Tahun Terbit: 2022 Penerbit: Bentang Belia Tebal: 306 halaman
Baru sempat ngepos ulasan ini, padahal sudah baca dari lama.
Gue salah satu pembaca Podcase sejak dari Wattpad beliawritingmarathon niiih. Ngikutin juga update promosinya di IG @podcasethenovel karena asyik aja ngikutin side story di sana dan gimmick-gimmicknya wkwk.
Dan memang versi bukunya ini udah lebih rapi daripada yang di Wattpad. Gue juga suka dengan tambahan ilustrasi dari interaksi para tokoh.
Ada banyak nilai plus dari novel remaja ini, yang agak berbeda karena mencoba untuk memperkenalkan genre investigasi tipis-tipis. Meskipun begitu, masih tetap ada uwu-uwunya~
Gue juga suka cara Kak Lia menyelipkan humor-humor supernatural wkwkwk dari sosok Bang Ejip yang rada parnoan. Jadi, kita bisa memaknai makhluk gaib itu tanpa harus merasa takut, tapi merasa normal. Bagus sih untuk tidak terlalu mengglorifikasi rasa takut, malah menghadirkan cerita yang menarik karena memang pendekatan novel ini bukan "horor" melainkan lebih ke teka-teki kematiannya.
Pokoknya, nggak di versi Wattpad nggak di buku, gue tim Bang Ee-jupt garis keras. 😆😆😆😆 Bener gak nih pelafalannya? 🤣
Sayangnya ada beberapa minusnya. Entah kenapa, di bagian buku punya gue dari halaman 101 - 105, layoutnya miring gitu. Apakah kalian juga sama?
Dan bagian terakhirnya, printing yang gue dapat agak dobel gitu dan berbayang. Tidak mengurangi minat membaca sih, cuma sayang aja. Karena malas tukar-tukar, ya udah gak apa2. Semoga yang kalian enggak begitu ya.
Lalu, ada satu hal yang mengganjal gue. Mungkin ini nggak penting wkwk. Timeline saat Berlin melihat IG story Helena Rasi, sampai nyusul ke lokasi. Apakah tidak terlalu buram? Jika lokasinya dekat pun, kecuali dia betah berlama-lama di salon, harusnya sih dia sudah berpindah posisi. Satu lagi ketika Abang ojol bilang, "Cepet turun, Kak. Nanti orangnya kelewatan tuh!"
Ini gue mikir beberapa kali. Memang Abang ojolnya tahu Berlin mau ke mana, ketemu siapa? Kalau pun dia melihat orang yang dimaksud, bukankah seharusnya orang itu sedang di salon?
Namun, gue suka beberapa falsafah hidup (anjay~) yang ditebar dari buku ini. Intinya, kita harus embrace orang yang baik dan peduli sama kita, sebelum kita tiada. Jangan sampai kita jadi arwah gentayangan kayak Sofia dengan segudang penyesalan. 🤣🤣🤣
Jika ada yang ingin kita katakan pada seseorang atau ada janji yg harus ditepati, segera katakan dan tepati! Jangan sampai juga hal itu nanti menjadi utang kita di alam baka. 🥲
Quotes yang bagus, salah satunya dari Bu Amang, "Kehilangan ingatan lebih baik, daripada kamu bisa mengingat masa lalumu dan sadar bahwa kamu dulu bukan orang yang cukup baik."
Terlepas dari kekurangan minor terkait logika cerita pas abang-abang ojol itu, gue tetap menikmati novel ini dan bisa membacanya dengan cepat. Novel ini menarik untuk remaja dan bisa memperkenalkan genre misteri dan sedikit genre crime buat remaja dengan pembawaan yang ringan. Mantap, Kak Lia!
Wah, gila. Udah berapa lama saya merasa se-enjoy ini baca teenlit lokal? Sampe bergadang cuma untuk nyelesain buku ini dalam 3 jam.
INI. BAGUS. BANGET!
Sepanjang membaca, saya nggak berhenti terkagum-kagum sama kualitas cerita dan penulisannya. Untuk novel remaja, ini bener-bener high quality. Pantesan jadi pemenang 1 BWM.
Suka semua aspeknya: misterinya, cara pembagian adegannya, babnya yang pendek-pendek, romansa antarkarakternya, dan gaya penulisannya. Nggak ada yang saya protes deh saking sukanya. Bahkan saya suka pemilihan nama ketiga karakter utamanya, yang berdasarkan nama-nama ibukota negara: Berlin, Kairo, dan Sofia.
Waktu baca ini saya nggak berekspektasi macam-macam, ternyata genrenya mystery/horror karena ada hantu-hantunya. Rada creepy juga sih, apalagi kalau bacanya tengah malem. :)))) Tapi karena unsur horornya bukan yang mencekam (malah kadang rada komedi haha), jadi ya lanjut aja. Yang jelas sih seremnya karena di buku ini digambarin bahwa makhluk halus bisa ada di mana-mana--di lemari lah, di plafon lah, di perpus lah--cuma nggak keliatan aja. :)))
Anyway ceritanya menarik banget, page turner dari halaman pertama. Nagih, bikin bertanya-tanya terus tentang kebenaran di balik kematian Sofia. Terus interaksi karakter-karakter utamanya juga nyenengin. Menakjubkan karena karakter-karakter remaja di sini cukup lovable, padahal biasanya saya suka frustrasi kalo baca novel remaja lokal karena tokoh utamanya suka ngzlin dengan segala trait remajanya. :)))) Mungkin tokoh-tokoh di sini lovable karena terasa cukup down to earth, nggak terlalu muluk dan masih bisa banget dibayangkan ada sebagai orang nyata.
Kisah-kisah cintanya juga gereget, menggemaskan, dan bikin nge-ship banget. Pembangunan chemistry Berlin dan Kairo yang perlahan-lahan--dari awalnya sekadar "teman sekelas" sampai akhirnya jadian--juga terasa perfect, nggak maksa, natural. Bikin senyam-senyum, siyalll hahaha. Kadang saya ikut gemes ngeliat mereka kayak si Sofia.
Porsi romansa mereka terasa pas untuk cerita yang genre utamanya bukan romansa. Alur penyelidikan untuk mencari kebenaran di balik kematian Sofia masih dapet banget. Plotting-nya rapi, kerasa banget setiap bab di-planning dengan baik. Segalanya diungkap perlahan-lahan, sampai di bab akhir baru deh ketahuan kebenarannya gimana. Nggak yang mengejutkan banget, tapi cukup memuaskan.
Novel ini ditutup dengan teaser tokoh-tokoh lain yang bikin saya mikir, kayaknya Mbak Lia Nurida mau bikin serial anak-anak indigo? Kalau iya, saya mau baca semuanya! *masukin Spoiler ke wishlist*
Intinya ini novel remaja yang menyenangkan banget dibaca. Seru, nggak bisa berhenti, dan memuaskan bagi yang nyari novel remaja nonromansa.
Ceritanya memang menarik gak salah suka sama Berlin yg mungil kacamataan dng rambut pendek hehe.. Suka Kairo yg kalemnya minta ampun plus abangnya Egypt haha.. Dan tentu saja Sofia, teman hantu Kairo dan Berlin yg berperan aktif sepanjang cerita ini bergulir.. Penokohannya bagus sampe kita bisa bedain mereka dengan mudah.. Tiap tokoh punya tujuan masing-masing yg kadang bentrok tapi bisa menemui jalan tengahnya. Sempet gak suka Bima, maaf gak sebut Pak Bima karena sepertinya kita seumuran hahaha jadi Bim lo tuh sempet bikin gue kesel ya tapi syukurlah ternyata pihak kita sama ya: sama² pengen keadilan buat Sofia meski ya jadinya gak adil² banget malah sedih banget tau gak huhu.. Bima guru bahasa Indonesia sih jadi ngerasa temen apalagi sama Berlin dan Kairo yg anak IPS jadi ngerasa temen juga sama mereka.. Alhamdulillah setelah sekian banyak banyak cerita anak SMA yg semuanya pasti anak IPA akhirnya nemu yg anak IPS juga, terharu akutu.. Bangga sama perjuangan Kairo dan Berlin buat bantu Sofia mencari tahu kebenaran akan tragedi yg menimpanya juga menata ingatan berharganya.. Ini teenlit yg bagus sih wajar juara saya terharu membaca kisah persahabatan Kairo, Berlin, dan Sofia.. Terima kasih mba Lia sudah mengantarkan kisah mereka dengan baik meski ada beberapa typo yg cukup mengganggu mata saya yg entah kenapa jeli padahal sebenarnya sepele ya kalo typo(?) tapi semuanya sudah dikemas dengan baik meski gak banyak plot twist tapi narasinya saya suka banget. Sudut pandang orang ketiga yg entah kenapa selalu ngena ke sana ketimbang sudut pandang orang pertama karena jatuhnya suka susah bedain pikiran tokoh.. Ceritanya juga gak pelit ngasih clue jadi kita yg baca seolah dilibatkan dalam penyelidikan Kairo dan Berlin. Kita ikut curiga pelakunya si ini dan si itu.. Potongan bukti di kasih dengan porsi yg pas gak kecepatan gak kelambatan juga jadi ngalir gitu pas banget kita bisa tahu siapa pelakunya sebelum bab terakhir.. Ya gak minta ditebak juga sih keknya tapi kalo novel tema misteri suka pengen jadi pembaca yg bermain jadi detektif kan(?) nah saya sudah curiga pelakunya orang itu meski awalnya curiga dia kaki tangan aja eh beneran ternyata dia pelaku yg dikendalikan orang lain yg lebih berkuasa.. . Bagus ditunggu kalo jadi serial ya keknya masih ada kandidat tokoh utama 5 anak indigo temannya Kairo ya
Podcase Lia Nurida 37 Bab Baca di Aplikasi @rakatadotid - Kali pertama baca karya penulis satu ini dan gila, aku suka gaya berceritanya. Bisa baca ini di aplikasi Rakata pas lagi Orasi Pesta Rakyata. - Soal cover, beuhh aku suka warnanya yang agak sedikit keunguan ini, biasanya kalau aura ungu itu termasuk yang mudah didekati, dalam artian mistis ya, apalagi kalau sama yang astral atau tak kasat mata. Cocok deh. Plus cerita ini ada nuansa horor jadi masuk...Pak Eko. - Diawali dengan prolog akan kasus yang sedang marak aka viral karena suara rintihan minta tolong masuk dalam podcase Briska yang saat itu tengah on air. Ditambah ini kasus lama akan kematian seorang siswi di SMA LV yang ditutup begitu saja tanpa ada kejelasan pasti akan kematiannya dan Briska tidak tahu kalau tema yang dia angkat akan membawanya pada sederetan kejadian-kejadian tidak terduga. Termasuk banyak yang menghujat siarannya hanya settingan belaka. Dan tepat saat itu pula seorang siswa LV, Kairo juga mendengar siaran tersebut hingga menyadari kalau sosok yang tengah dibicarakan kini berada didekatnya. Kairo yang memiliki kemampuan melihat makhluk astral tidak mau peduli, tapi sosok Sofia yang merupakan siswi yang meninggal itu meminta Kairo membantunya untuk mencari tahu kenapa dia bisa mati begitu saja tanpa mengingat apa pun yang terjadi. - Pacenya cepat, gaya bercerita asyik. Penulis juga terus memberikan banyak kode yang membuat aku sebagai pembaca terkesima. Konfliknya keren dengan plot yang padat. Aku juga suka dengan plot twistnya. Oya meski ini cerita horor, tapi lebih banyak porsi misterinya dan untuk romancenya juga tipis aku suka. Jangan lupakan penyelesaiannya yang cakep nian. Ikut sedih karena bagian akhir yang terasa deep banget. Meski beda dunia, tapi kebersamaan mereka terasa nyata. Karakter tokoh di dalamnya pun dibangun dengan sangat kuat, jadi aku ikut merasakan susah senang Berlin, Kairo dan Sofia. - Recommended banget buat teman bacaan ringan sekali duduk dan personal rate 4,2/5
This entire review has been hidden because of spoilers.
Podcase merupakan novel yg bergenre misteri horor. Menceritakan seorang remaja yangbbernama Berlin. Ia memiliki kanal podcast misteri yang disebut Podcase. Ia populer dengan nama Briska. Ia bersekolah di SMA Lentera Victoria yang terkenal sebagai sekolah elite.
Di sekolah sosok Berlin jauh berbeda dengan di Podcase. Ia gadis yang cupu, tidak banyak bergaul bahkan bersembunyi dibalik nama siar Briska. Ia kehabisan ide untuk dibahas dalam Podcase. Hingga akhirnya tidak sengaja mendengar percakapan teman sekelasnya. Mereka membicarakan sosok hantu cewek yang bernama Sofia.
Sofia sering bergentayangan dan mengganggu murid di sekolah tsb. Berdasarkan cerita yang beredar Sofia ditemukan meninggal karena bunuh diri
Berlin berinisiatif melakukan riset agar cerita tersebut bisa ia angkat untuk episode terbaru Podcase. Ternyata setelah diupload, Podcase miliknya menjadi viral karena tertangkap suara rintihan. Namun ia dianggap melakukan settingan demi mengejar popularitas dan mendapatkan banyak komentar yang menyudutkan.
Semakin hari ia merasa tertekan. Hingga akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan pada cowok indigo yang bernama Kairo. Mereka berusaha mengungkapkan kasus misteri itu. Tanpa menyadari konsekuensi yang mereka hadapi begitu besar dan membuat posisi mereka di sekolah terancam. Mampu kah mereka menyelesaikan kasus ini?
Novel ini dikemas dgn alur yang menarik. Dibuat roller coaster jg krn banyak bagian yg menegangkan dan horor. Apalagi ketika penulis mendeskripsikan apa yg dilihat oleh Kairo (si anak indigo) secara detail membuat pembaca jd terbayang dan kepikiran 😂
Novel ini juga memperlihatkan ketidakadilan dan kekuasaan yang disalahgunakan. Ketika seseorang mendapat kekuasaan disitulah ia bisa bertindak semaunya. Bahkan segala cara dihalalkan untuk menutupi kesalahan.
Cocok dibaca oleh siapa saja, terutama yg baru mau coba berkenalan dgn genre misteri horor.
This entire review has been hidden because of spoilers.
My first impression pas kelar baca novel ini adalah ....
"Gila! Emang pantes PODCASE menang BMW Bentang Belia! Emang sekeren itu, ya Allah!"
PODCASE (Tolong, kenapa aku harus mati?) adalah novel kedua Kak Lia Nurida yang aku baca. Bercerita tentang podcast Berlin yang gak sengaja menangkap suara gaib minta tolong dari hantu cantik bernama Sofia. Kisah berlanjut dengan petualangan Berlin mengungkap kematian Sofia dibantu oleh Kairo, teman sekelas yang punya kemampuan indigo alias bisa ngeliat penampakan.
Plotnya lancar bak aliran nagashi somen. Total cuma butuh sehari aku kelarin ini novel karena page turner banget ceritanya. Pas baca blurb sempat merinding disko beneran gak aku berani baca horor? Mana ada hantu-hantuan segala pula. Nyatanya PODCASE adalah horor versi jenaka yang sering bikin aku ngakak oleh interaksi tiap tokohnya.
Misteri pembunuhan Sofia dipaparkan secara runut dengan hint-hint yang tersebar rata di seluruh bagian cerita. Betewe aku hampir terjebak hint palsu yang diberikan Kak Lia di awal cerita. Nyatanya, Sodara-sodara PODCASE beneran punya plot twist berlapis!
PODCASE sukses membawakan unsur misteri. Ada selipan humor segar saat Kak Lia menggambarkan interaksi sosial para hantu yang bikin aku senyum-senyum. Hubungan Berlin dan Kairo juga rawan baperin pembaca, hati-hati keseret sama kisah manis mereka berdua. Buatku hampir seluruh tokoh di novel ini punya peran dan penggambaran yang pas, kecuali Egypt. Please, Kak Lia bikin spin off kisah si Egypt. Aku ngefans sama dia.
Buat kalian, PODCASE recommended banget buat dibaca. Mumpung libur, nih. Kuy, baca ebook PODCASE di aplikasi Rakata atau dapatkan versi cetaknya di toko buku offline.
Aku suka banget sama kavernya. Perpaduan warna yang sepertinya mewakili aura ungu yang dimiliki Berlin dan Kairo, sehingga (Hantu) Sofia bisa dekat-dekat mereka dengan 'nyaman'.
Kisah persahabatan Kayo, Beber dan Sopi ini bermula dari adanya suara misterius minta tolong dari podcast misteri Podcase milik Briska. Ada yang bilang setting-an, ada juga yang percaya dan penasaran.
Usaha mereka tidak berjalan mulus karena ada beberapa pihak yang sengaja menjegal. Namun, Berlin dan Kairo tidak patah semangat untuk terus membantu Sofia.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa ada masalah sangat besar, kasus mengerikan, yang sedang menanti mereka. Apakah mereka berdua yang notabene hanyalah anak SMA mampu menghadapinya?
Aku suka banget dengan gaya penulisannya Kak Lia di novel ini. Aku dibuat penasaran dengan cerita selanjutnya. Alurnya tidak cepat tetapi tidak lambat juga. Selama membaca, ada kali aku menggumam beberapa kali "jangan-jangan dia pelakunya" tapi aku ternganga ketika sampai di bagian akhir. "Hah, gimana? Dia?" plot twist banget sumpah.
Selain dag dig dug serr dan tegang, #Podcase ini ada bumbu komedi dan romantisnya juga lho.
Menurutku Kak Lia mengangkat isu ketidak-adilan. Bagaimana Berlin diperlakukan tidak adil karena 'kecupuan'nya.
'Gelap mata karena uang' juga bisa kita temukan di novel ini. Aku rekomendasiin #Podcase jika kamu butuh bacaan misteri ringan yang ada romantisme khas remaja. . . #LiaNurida #PenerbitBentangBelia #BentangBeliaOfficial #BentangPustaka #DumzBabatTBR #UlasanDumz #reviupodcase #podcaseuniverse
Sebuah podcast bernama Podcase, yang dibawakan oleh Briska menjadi viral, karena saat Briska membahas tentang hantu Sofia ada suara lirih yang meminta tolong dalam rekaman podcast itu. Kairo, yang memiliki kemampuan khusus sebagai anak indigo tahu bahwa suara itu memang milik Sofia, arwah penasaran yang ada di sekolah LV.
Saat Sofia menyadari Kairo bisa melihatnya, Sofia pun meminta tolong kepada Kairo untuk mencari tahu penyebab kematiannya. Sementara itu, Berlin a.k.a Briska berupaya mencari jalan keluar dari permasalahannya sendiri. Podcastnya dituduh merekayasa suara aneh itu supaya bisa lebih viral. Dia ingin membuktikan bahwa Sofia tidak bunuh diri seperti yang orang ketahui selama ini.
Kairo akhirnya bekerja sama dengan Berlin. Keduanya mencoba menggali kembali kasus Sofia. Upaya mereka berdua tentunya mendapatkan banyak halangan. Sepertinya ada misteri besar dibalik kematian Sofia.
Setelah membaca kisah misteri karya penulis yang berjudul Spoiler, Podcase ini semacam spin off dari Spoiler. Meski timeline-nya lebih awal dibanding Spoiler, tapi tidak bisa disebut prekuel juga, karena masing-masing jalan ceritanya bisa berdiri sendiri.
Saya suka sekali dengan interaksi antara Kairo dan Berlin, ditambah kocaknya Sofia. Unsur misterinya juga pas, ditambah bumbu romansa yang tidak berlebihan. Dan by the way...karena saya membaca Spoiler terlebih dahulu, di bagian bonus Podcase disebutkan bahwa Kiev dan JS adalah teman klub indigo-nya Kairo. Hanya saja JS kok ga kelihatan kemampuannya ya di Spoiler? Apakah JS akan punya ceritanya sendiri?
🎙Briska seorang 𝘱𝘰𝘥𝘤𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 yang cukup terkenal dengan cerita-cerita misterinya. Tiba-tiba dia kehabisan ide untuk 𝘱𝘰𝘥𝘤𝘢𝘴𝘵 tersebut. Oh, ya, nama program tersebut adalah Podcase. Siapa yang menyangka bahwa Briska adalah seorang gadis SMA cupu bernama Berlian, dia bersekolah di SMA Lentera Victoria, SMA yang cukup terkenal.
🎙Kebetulan sekali tanpa sengaja Berlian mendengar teman-temannya membicarakan tentang tragedi bunuh diri seorang murid di sekolahnya tujuh tahun yang lalu, namanya Sofia. Berlian pun tertarik untuk menggunakan cerita tersebut dalam 𝘱𝘰𝘥𝘤𝘢𝘴𝘵-nya. Ternyata hal tersebut malah menimbulkan masalah yang besar! Ada banyak rahasia yang disembunyikan sejak tujuh tahun yang lalu.
🎙Berlian tidak sendirian memecahkan masalah tersebut, ada Kairo teman sekelasnya yang indigo, dia bisa berkomunikasi dengan Sofia. Sayangnya, Sofia juga lupa tentang bagaimana dia bisa meninggal.
🎙Novel ini benar-benar penuh teka-teki. Hampir setiap tokoh di novel ini aku curigai, penulis benar-benar bisa membuat pembaca mencurigai setiap tokoh di novel ini. Bagaimana tidak. Setiap tokohnya melakukan tindakan yang sangat mencurigakan, yang akhirnya aku malah salah tuduh.🤣
🎙Alur ceritanya maju mundur namun sangat rapi, nggak bikin bingung, yang ada malah bikin penasaran😭 Benar-benar bisa diselesaikan dalam sekali duduk kalau kamu bacanya di waktu santai.
🎙Ada beberapa isu menarik yang dibahas di novel ini, khususnya dilingkungan sekolah, salah satunya adalah bagaimana harusnya kita menghargai diri kita sendiri. Benar-benar sebuah bacaan yang menarik!
Novel-novel bergenre horror tentu memang bukan comfort genre-ku. Tenang, novel ini nggak sepenuhnya horror, kok. Seramnya cuma sedikit saja. Sisanya? Aku pokoknya bisa menikmati novel ini dengan sangat baik.
Cerita diawali dengan podcast Briska yang viral karena ada suara orang minta tolong di dalamnya. Karakter Berlin, yang terbiasa di belakang layar, tidak begitu percaya diri, menjadi pembawa cerita Podcase. Dari podcast viral tersebut akhirnya Berlin bertemu dengan Kairo, seorang anak indigo yang membantunya memecahkan misteri kematian hantu Sofia, si pemilik suara yang muncul di podcast Berlin itu.
Dari sana cerita di bawa. Sebagai pembaca, aku dibimbing dengan clue-clue yang dimasukkan pada cerita. Clue-nya nggak nanggung dan membuat pembaca serasa ikut serta dalam memecahkan misteri tersebut. Karena clue-clue itu juga aku menuduh si ini dan si itu, yang ternyata banyak salahnya.
Karakter favoritku tentu saja Kairo. Celotehannya yang lucu itu kadang bikin gemas, dan itu adalah salah satu ciri khas tulisan dari Mbak Lia. Ringan, fresh, dengan dialog-dialog yang santai dan fun. Novel ini roller coaster banget, di awal, aku dibuat merinding. Di akhir, dibuat nangis terharu. Di tengah, dibuat gemas dengan pasangan-pasangan yang muncul di novel.
Terima kasih Mbak Lia, atas tulisannya yang sudah menjadi teman yang menyenangkan.
Dari blurb belakang novel aja udah bikin penasaran. Terus relate bagi aku yang suka nonton youtube atau dengerin podcast yang berbau jurig. Pasti suka ada tuh semacam penampakan yang tertangkap kamera. Nah, di novel ini ada suara hantu Sofia yang ikut terekam saat Berlin merekam salah satu episode Podcase yang kebetulan sedang menceritakan tentang isu hantu Sofia di sekolahnya. Podcastnya Berlin aka Briska sampai heboh, bukan hanya di kalangan penghuni SMA Lentera Victoria, tapi ke seluruh netizen. Dari sinilah terkuak kembali kasus kematian Sofia yang ditutup secara sepihak oleh sekolah dengan kasus bunuh diri.
Dari kasus ini juga Berlin bertemu dengan cowok bernama Kairo. Kebetulan Kairo yang anak indigo bisa melihat dan berinteraksi dengan Sofia. Sepanjang novel ini banyak misteri yang bikin aku penasaran. Dari Pak Bima, terus ingatan Sofia yang separuh-separuh, juga kenapa kasusnya Sofia berusaha ditutup-tutupi oleh sekolah? Cuma ceritanya dibawa dengan bahasa ringan khas remaja, jadi ga kerasa tahu-tahu udah habis aja bacanya. Setiap babnya dibuat kita penasaran ingin baca terus menerus. Apalagi adegan sweet antara Kairo dan Berlin. Pengembangan karakter Berlin pun terlihat dari sebelumnya hingga dia bisa menuntaskan permasalahannya. Mungkin kalau di real life Berlin sama Kairo bisa bikin channel youtube kayak Mbak Sara Wijayanto atau jurnalrisa hahaha.
“Sejauh mana mereka mampu menutupi kasus mengerikan itu?” Buku misteri yang ringan untuk dibaca namun sebenarnya menjabarkan kasus mengerikan seperti realita yang banyak terjadi saat ini. Bagaimana sebuah pembunuhan ditutup menjadi kasus bunuh diri biasa? Apa yang disembunyikan? Siapa yang dilindungi? Sekuat apa seseorang yang berada di balik semua ini? Jagat dihebohkan dengan kemunculan suara minta tolong dari siaran podcase milik Briska. Banyak yang menganggap itu settingan namun ada juga yang menganggapnya asli sehingga mereka teringat kembali kasus kematian Sofia. Sofia adalah hantu penunggu sekolah yang lupa identitas diri dan penyebab kematiannya. Ketika kasus pembunuhannya belum tuntas dia tak akan bisa tenang dan menghilang. Dengan bantuan Berlin aka Briska dan Kairo Sofia menggali dan menyusun puzzle yang selama ini hanya berbentuk bayangan semu. Sampai akhirnya sesuatu yang menjadi kesalahpahaman dan rahasia itu terungkap sangat jelas. Perlu ditekankan bahwa yang dihadapi Berlin dan Kairo bukanlah orang ecek-ecek melainkan orang yang memiliki jabatan tinggi sehingga tekanan yang didapatkan juga sangat membelenggu. Buku ini berhasil menyelesaikan kasus dengan baik meskipun menyisakan rasa tidak nyaman dan gelisah setelah mengetahui siapa pelaku sebenarnya. Mengapa orang yang punya kekuasaan tinggi justru menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi?
Podcase menjadi viral gara-gara terdengar rintihan suara minta tolong. Ada yang nyebut itu beneran, nggak sedikit yang bilang itu settingan. Tapi, konten itu justru membimbing Berlin dan Kairo menyelidiki kasus kematian seorang siswi di sekolah mereka tujuh tahun lalu.
Buat yang suka bacaan teenlit, gue rasa sih bakalan jatuh cinta sama novel ini. Menggunakan dengan POV 3, Podcase ditulis dengan bahasa yang ringan dan remaja-able banget. Nama-nama karakternya juga pakai nama-nama kota dari beberapa negara di dunia: Berlin, Kairo, Egypt. Unik banget!
Selain cerita yang emang wah (karena judulnya juga udah keliatan kayak plesetan Podcast), plot-nya juga asik. Tiap chapter ditutup dengan meninggalkan rasa penasaran untuk lanjut ke chaper berikutnya.
Twist-nya cukup mengagetkan, meski ada something yang menurutku kurang. Dan scene di Epilog itu tipikel penutup cerita yang gue suka banget. Kayak... gak ada yang namanya kebetulan.
Bagi yang suka bacaan remaja bergenre misteri, Podcase sih wajib dicobain.
Sayang banget aku maksain baca buku ini pas lagi reading slump, jadi sempet aku stop beberapa bulan😭
Begitu mulai lagi, dari 3/5 bagian sampai akhir, berhasil aku tamatin dalam 2 hari. Suka bangetttttt bacaan remaja dengan balutan teka-teki gini. Konspirasinya juga terbilang 'berani' walaupun ringan (of course, karena target pembacanya juga remaja). Tema yang dibawakan fresh. Plotnya juga rapi banget.
“Jadi, kami percaya mimpi itu sema am perwakilan dari keinginan san pikiran manusia yang nggak disadari gitu.”
Suka banget sama buku ini, unsur misteri dan horrornya buat aku nggak bisa berhenti baca.
Di setiap akhir chapter, berasa digantung jadi sebagai pembaca i just want to keep reading. Pake unsur podcast, ceritanya jadi unik.
Dengan keunikan masing-masing karakternya, aku jadi gampang terobsesi dengan emosi dan pilihan-pilihan mereka. Buku ini bikin sedih, teriak, takut dan excited!! i enjoy my time while i read this book!!
Habis dalam sekali duduk. Buku ini cocok buat yang cari bacaan misteri santai yang dibalut dengan gaya khas remaja. Kalau carinya misteri dengan pembahasan mendalam tentu ga bakal dapet.
Walau pelakunya ketahuan di akhir dimana aku cukup benar menduga pelakunya, tapi di akhir gaada penjelasan gimana nasib dalang sebenarnya.