Selesai baca ini dengan mixed feelings.
Saya salah satu fans berat Sitta. Tapi setelah baca buku ini, perasaan saya setengahnya senang karena lagi-lagi Sitta berhasil menulis sebuah buku yang 'Sitta banget', tapi setengahnya lagi kecewa dengan eksekusinya.
Dari halaman pertama, saya sudah disuguhkan dengan nama-nama yang banyak. Austin, Rae, Dio, Romy, Teas, Kintan, Danica, Putra, Rodi, Nicky, Demmi, Ellie, Leslie, Carrine-Kingsley, Ted, Ety, Kalin, dan whew, itu bahkan belum ada dua bab, kayaknya? Susah sekali ngehapalin nama-nama itu. Saya pikir mereka bakalan jadi tokoh signifikan - belum lagi sepupu-sepupunya Romy yang banyak itu. Tapi nyatanya, banyak yang bahkan nggak muncul lagi tanpa peran mendalam. Sayang, karena kesannya jadi tempelan dan cuma memperamai suasana aja.
Banyak inkonsistensi, seperti Austin yang pertama-tama bilang bahwa ia sekolah di Nasional High, tapi kemudian di belakang sempat disebutkan bahwa ia sekolah di SIS dulunya. Dan soal Ayah Romy yang lulusan Reutgers dan dikagumi oleh Austin, tapi kemudian di belakangnya di sebut lagi bahwa Austin nggak tahu bahwa bapaknya si Rome ini lulusan Reutgers. Sayang, penulis sebesar Sitta masih bisa luput dari kesalahan begini.
Tapi yang paling penting, sebenernya saya juga bingung sama kepribadian Romi.
Anti-socialite, apa adanya, cuma bisa beli baju sale di Metro atau Sogo, tapi bisa hangout di tempat nge-wine, dan tempat-tempat high class kayak Hotel Mulia – dan bukan sekali dua kali, tapi lumayan sering? Yang saya tangkap, Romy ini anti kemewahan yang dipaksakan, hidup berkecukupan apa adanya, dan kadang sedikit – well, ngirit. Tapi kadang apa yang ditunjukkan Sitta seakan berkontradiksi dengan wataknya. Yang menurut Rome ngerakyat pun, menurut saya nggak merakyat-rakyat amat sebetulnya.
Perubahan emosinya juga kadang kelewat cepat. Seperti waktu Tejas yang muncul sekilas di Ball di Belanda, Romi tampak terkejut dan kaget. Hampir nangis malahan. Tapi sesudahnya, nggak sampai 1 halaman, langsung balik lagi kepikiran dengan Austin – kayak kejadian Tejas tadi nggak pernah ada . Patah. Sepertinya ada bagian yang diloncati dan hilang. Sama seperti saat bagian Naren yang tertembak, dan Austin-Romi malahan tidak manggil ambulans, polisi or whatsoever – dan malahan berantem terus pulang! Jadi Naren dibiarin aja, gitu? Ck, kasian Naren.
Dan, penting ya semua orang naksir Romy? Austin, Audrey, Tejas, Reiner, Arman,
Duh, maaf ya. Tapi saya nggak suka Romy. Karakternya nanggung, saya lebih suka Inez yang gamblang. Yeah, tapi masalah selera aja sih
Sebetulnya, jalan ceritanya enak kok. Saya tahu, nangkep maksudnya apa. Dan saya suka. Beneran. Tapi cerita ini sebenarnya bisa lebih oke kalau ditulis lebih sederhana, tanpa taburan glitter dimana-mana.
Jadi, satu bintang untuk ceritanya, satu bintang untuk gaya bahasa Sitta yang selalu jempolan dan mengalir, dan satu bintang lagi untuk Tejas – iya, saya suka sama cowok metroseksual.