Isi ceritanya ngga secerah cover-nya🥲 Tiap baca tentang para orang tua yang dititipin di Desa Doran dan gimana anak-anak mereka memperlakukan mereka, rasanya sedih dan merasa miris banget.
Desa Doran ini sebenernya rumah sakit khusus buat lansia dan penderita demensia. Bangunannya dua lantai dan berbentuk bulat, lengkap dengan supermarket, bioskop, toko bunga, taman, sama kolam renang. Tapi yang aneh, pintu keluar-masuknya cuma satu. Biayanya juga nggak main-main, lebih dari 10 juta won per bulan. Makanya semua fasilitas di dalamnya gratis—supermarket, salon, bioskop, semuanya bisa dipakai bebas. Setiap penghuni punya perawat pribadi, dimandikan, dikasih makan, diajak jalan, dan dirawat kayak bayi.
Di satu sisi, rasanya nyesek banget lihat para lansia yang diperlakukan sejahat itu sama anak-anaknya🥲 Banyak yang nitipin orang tua mereka ke sana cuma biar nggak repot, bahkan ada yang berharap orang tua mereka cepat meninggal biar warisan cepet turun. Tapi di sisi lain, Desa Doran ini juga semacam tempat impian bagi sebagian lansia. Mereka lebih bebas, punya teman buat ngobrol, dan nggak sendirian lagi.
Jadi teringat pas ada yang tanya ke Nenek Limun, "Apakah Nenek punya anak?". Si nenek jawab, "Untuk apa aku membesarkan makhluk mengerikan seperti itu!" Mungkin beliau juga takut diperlakukan seperti orang-orang tua lain di desa ini, yang anaknya lari dari tanggung jawab dan cuma peduli pada warisan.
Awalnya kukira novel ini bakalan fokus ke misteri pembunuhan bayi aja, ternyata nggak. Ceritanya memang lebih ke slice of life, tapi tetap ada benang merah ke kasus itu. Perlahan penyelidikan Nenek Limun ngebawa kita ke hal yang lebih rumit dari yang dikira. Ada banyak rahasia besar di balik berdirinya Desa Doran, dan semuanya nggak seindah yang terlihat di permukaan.
Ceritanya ditulis dari berbagai sudut pandang, dari Nenek Limun, si Bocah Asisten, perawat, direktur, sampai anak perempuannya direktur.
Interaksi antara Nenek Limun dan si Bocah Asisten tuh heartwarming banget tapi juga sedih. Kayak waktu Nenek Limun nggak mau ngasih tahu namanya atau nanya nama si bocah karena katanya nanti bakal sedih kalau harus berpisah😭 Dan pas bagian Nenek Limun tiba-tiba lupa sama si bocah karena demensia itu, duh sumpah sedih banget meskipun cuma sebentar😭💔
Cuma ya, ada beberapa bagian yang perpindahan scenenya agak bikin bingung. Awal-awal pace-nya santai, tapi pas udah mau ending kerasa buru-buru banget.
Tapi overall, Lemonade Granny ini bener-bener ngasih banyak perasaan campur aduk. Hangat, nyesek, dan juga jadi refleksi tentang kasih sayang, kesepian, serta dunia yang kadang menutupi kebusukannya dengan senyum manis💔