Dilihat dari mana pun, Lunna dan Ginna sangat bertolak belakang. Tapi mereka mencintai cowok yang Roland. Alias Sandy. Atau entah alias siapa lagi, tapi yang jelas cowok itu brengsek. Dan berani menduakan mereka. Dan pantas ditinggalkan. Hhhh... nyebelin banget, kan?
Tapi toh, selalu ada hikmah di balik semuanya. Sebab siapa sih yang nyangka, dua cewek yang ketemu lewat peristiwa menyakitkan hati itu akhirnya bisa bersahabat? Dan saling mendukung, membantu yang lain melewati masa-masa sulit setelah mereka dikhianati? Sampai akhirnya mereka bertemu cowok-cowok yang lebih layak menerima cinta mereka. Sampai mereka akhirnya sadar bahwa persahabatan lebih penting dari apapun juga.
Seorang penggemar kopi, yang sangat mencintai Starbucks, yang selalu berhasil mendatangkan inpirasi. Paling sering nongkrong di Starbucks Thamrin atau Plaza Indonesia. Hobinya: Art. She's doing art juz lyk drinking coffee... Waktu bosan ia menari. Ia refleks menggambar setiap ada pensil dan kertas. Ia membentuk apa saja yang bisa dibentuk. Dan ia membuat hidup lebih berarti lewat musik, terutama dengan klasiknya piano dan biola. Tapi, selain klasik ia juga suka jazz. Love Dave Coz, love Diana Krall... Berpuisi dan bersastra sering ia lakukan, tapi itu cuma sekedar iseng dan nggak pernah nyangka akan menjadi sesuatu yang berarti. Suka buku-buku Meg Cabbot, Sophie Kinsela, Lauren Weisberger, Jennifer Weiner, Jane Green, etc, etc, etc...
sebel nih kalo tokoh utamanya di matiin - - hehehe
seneng deh akhirnya ada juga yag bikin teenlit tentang friendship gini emang sih beda benci ama sayang itu tipis yaa, buktinya aja Si Ginna ama Luna bs temenan padahal mereka aslinya rebutan cowo gitu :D konyol ihh ! dan yaaah setujuuu skali kita gak perlu percaya2 lah ama cowo, mulut mereka kan emang harimau , hehehe
"Setiap detik dalam hidupku diwarnai pengkhianatan Terlalu kejam tuk jadi kenyataan Terlalu buruk tuk jadi mimpi buruk Dan tangis pun tak sanggup menggambarkan apapun"
Ah indahnya pesahabatan. Masa remaja emank penuh dengan kegalauan yang bisa dilewati dengan adanya para sahabat. Buku ini berhasil bikin aku menangis, sob.
Bukunya <300halaman, fast paced tapi penuh konflik dan drama Part cringe pas author ngejabarin segala merk² yg dipake sama Ginna hehehe My qn: emang kalo penderita kanker uda sampe tahap kemo itu masi bisa maen basket ya??
Luka luar itu bisa disembuhkan, tapi luka hati susah disembuhkan.
Lunna dan Ginna ada dua sosok yang berbeda, dua sosok yang saling bertolak belakang. Lunna, seorang gadis tomboy yang cuek dan memiliki penampilan yang urakan, dan Ginna seorang cewek feminim, yang jago dandan dan selalu memperhatikan penampilan. Walaupun begitu mereka adalah dua sahabat yang saling mendukung satu sama lain. Takdir yang mempertemukan mereka, yaitu saat Lunna memergoki Sandy, pacarnya yang sedang nge-date sama Ginna. Mereka berdua saling berantem ala-ala cewek di basemant kafe, dan yang paling menyebalkan, si biang masalah itu malah kabur! Dari situlah mereka mulai dekat, sama-sama di khianati dan di permainkan sama Sandy. Karena kesamaan nasib itulah yang membuat mereka jadi dekat karna bisa mengerti satu sama lain. Mereka mulai melupakan Sandy dan menemukan pasangan masing-masing. Lunna bertemu dengan seorang cowok bernama Mango dan Ginna bertemu dengan Dave. Lunna yang keras kepala awalnya cuek-cuek aja sama sikap Mango tapi di saat Mango bilang sayang, Lunna malah angkat bahu dan berlalu begitu saja sehingga membuat hubungan mereka memburuk. Di sisi lain, Ginna dan Dave udah jadian, yaah hubungan mereka seperti kebanyakan pasangan lain, adem ayem, romantis gitu. Masalah datang saat Lunna beserta teman-temannya yang sedang makan bakso di datangi oleh Sandy di saat yang nggak tepat. Di saat Lunna sedang menelpon Mango. Di sana Sandy menjelaskan bahwa dia nggak bermaksud untuk selingkuh, awalnya Lunna mulai berharap bisa balik lagi ke Sandy tapi teman-temannya menyadarkannya bahwa Sandy hanyalah cowok brengsek! Tapi di saat Sandy bilang cinta ke Lunna, Mango datang dan kesalah pahaman pun terjadi. Yah hubungan mereka yang memburuk jadi tambah buruk. Itu masalah Lunna, dan masalah Ginna adalah kedua orang tuanya beserta kakaknya datang. Mereka datang untuk memberitahu Ginna bahwa dia akan pindah ke Singapura dan tinggal bersama Kak Ter, tentu saja Ginna nggak mau. Karena teman-temannya, sahabatnya, Dave semuanya ada di sini bukan di Singapura. Tapi saat dia kabur dan cerita ke Lunna, Ginna sadar dia nggak boleh egois dan Ginna pun memutuskan untuk pergi ke Singapura. Dan di saat Ginna akan berangkat, dia mendapatkan kabar buruk dari Bundanya Lunna. Rahasia yang selama ini selalu di simpan rapat oleh Lunna dari teman-temannya juga Ginna. Rahasia apakah itu? Dan bagaimana dengan kelanjutan hubungan Lunna dan Mango yang sedang memburuk? Silahkan di baca selengkapnya ^^ Hmm, aku mau komen dari mana yah? Dari ceritanya aja dulu deh. Ceritanya bagus, dan nggak ngebosenin sih tapi... nggak ada yang sempurna kan di dunia ini? Jadi, hemmb, sebenarnya ceritanya bagus tapi sayangnya kurang panjang ceritanya karna ada beberapa bagian yang seharusnya di ceritain agak detail seperti kelanjutan hubungan Ginna dan Dave, hehe sebenarnya ini maunya aku sih :p Dan untuk endingnya, kalau mbak Silvia benar-benar mendalami lagi saat menulis bagian akhirnya aku yakin pasti bakalan lebih baik lagi dan bisa membuat aku meneteskan air mata. Dan sumpah, nggak nyangka ceritanya bakalan sad ending *maaf spoiler yah* Abisnya gatal banget pengen komen yang bagian ini. Kenapa mesti sad ending? Dan buat aku agak-agak maksa gitu -,-V But overall bagus ceritanya, dengan konfliknya juga nggak berat kan novel TeenLit :p
Judul: A Life Penulis: Silvia Arnie Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Halaman: 208 halaman Terbitan: Februari 2007
Dilihat dari mana pun, Lunna dan Ginna sangat bertolak belakang. Tapi mereka mencintai cowok yang sama: Roland. Alias Sandy. Atau entah alias siapa lagi, tapi yang jelas cowok itu brengsek. Dan berani menduakan mereka. Dan pantas ditinggalkan. Hhhh... nyebelin banget, kan?
Tapi toh, selalu ada hikmah di balik semuanya. Sebab siapa sih yang nyangka, dua cewek yang ketemu lewat peristiwa menyakitkan hati itu akhirnya bisa bersahabat? Dan saling mendukung, membantu yang lain melewati masa-masa sulit setelah mereka dikhianati? Sampai akhirnya mereka bertemu cowok-cowok yang lebih layak menerima cinta mereka. Sampai mereka akhirnya sadar bahwa persahabatan lebih penting dari apapun juga.
Review
Alasan pertama saya baca buku ini hanya karena judulnya sama dengan nama blog saya di kireinasekai.blogspot.com. Alasan kedua, karena kover dan blurb-nya yang menarik.
Ceritanya tentang dua gadis yang diduakan oleh seorang cowok. Suatu peristiwa membuat kedua gadis itu bertemu dan terlibat dalam perkelahian, yang bahkan membuat keduanya berdarah-darah, tapi justru dari adu jotos itulah, persahabatan kedua gadis ini lahir.
Saya suka bagaimana Lunna dan Ginna, kedua gadis tadi, bertemu. Cara pertemuan yang tidak biasa. Kan biasanya ada istilah, entah dibuat siapa, kalau cowok biasanya berantem dulu baru berteman. Nah, kali ini justru tokoh ceweknya yang dibuat seperti itu.
Untuk penokohan dan alur masing-masing tokohnya cukup baik untuk saya. Cuma namanya yang mirip itu, yang sama-sama berakhiran 'nna', kadang membuat saya agak bingung di awal. Untungnya semakin ke belakang, mereka berdua semakin mudah diingat.
Sayangnya saya kurang suka akhir ceritanya. Duh, kalau saja tidak dibuat seperti itu, saya akan menaikkan bintang buku ini ke 4.
"Mau pesan apa?" tanyaku bingung karena ia menutup buku menu. Terserah. Sama kayak kamu aja," katanya singkat. Air mataku menggenang. Aku sudah susah payah seperti ini, tapi sikapnya tak berubah.
Ginna tersenyum berusaha mencairkan suasana, tetapi Roland tetap diam sekeras batu.Ginna tak berani bertanya seperti biasa. Ginna bisa saja jadi wanita paling tegas, tapi tidak di depan cowok ini. Dia lemah di depannya.
Ginna adalah cewek yang selalu memperhatikan penampilan. Giordano, The Body Shop, Salon, adalah tempat-tempat yang selalu ia datangi secara rutin.
LUNNA
"Lunna," Sandy mengejarku. "Cuma gue yang ngerti elo, yang enggak berhenti menyayangi elo, yag enggak pernah berhenti ngejar elo." "Elo?" tanyaku getir. "Lo satu-satunya cowok yang pling enggak ngerti gue!"
Sama sekali tidak terbayangkan oleh Lunna beberapa detik lalu dia masih berharap bisa bersama kembali dengan Sandy. Sandy terus mengikutinya, hingga akhirnya dengan terpaksa dia meninju muka Sandy. Lunna lalu melanjutkan mengejar Mango untuk menjelaskan keadaan sebenarnya.
Lunna adalah kebalikan Ginna. Penampilannya urakan. Suka menulis puisi. Tomboy dan cuek.
Dua orang berbeda ini akhirnya dipertemukan dan lantas bersahabat. Hingga sesuatu akhirnya memisahkan kedua sahabat ini.
Aku suka sekali dengan buku ini. Beberapa part bikin air mata netes sana-sini apalagi di ending nya. Jalan ceritanya mudah dimengerti, tidak terlalu banyak konflik yang seringkali jadi bikin cerita ngalur ngidul. Covernya lucu dan warnanya eye-catching. Tidak ada typo di dalam buku ini. Karakter tokohnya bagus dan porsinya pas jadi tidak terasa hanya salah satu tokoh saja yang menonjol.
Ini pertama kalinya aku membaca buku dari Silvia Arnie dan benar-benar menyenangkan :)
Buku ini menceritakan tentang dua orang cewek yang memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Yang pertama namanya Ginna, cewek modis, tajir, cantik, selalu mengutamakan penampilan, tapi sebenarnya kesepian karena orang tua dan kakaknya tinggal di luar negeri, sehingga dia hanya tinggal di rumah dengan pembantunya sedari kecil. Yang kedua namanya Lunna, cewek tomboy, (maaf) miskin, jago main basket dan bikin puisi, sayang banget sama Adik dan Ibunya. Lunna ini 'kelihatannya' sangat kuat, bahkan ketika Ayahnya meninggal, Ia tidak menangis sama sekali. Mereka berdua mencintai orang yang sama. Ginna mengenal cowok ini sebagai Roland, sedangkan Luna mengenalnya sebagai Sandy. Pada suatu hari, mereka bertiga tidak sengaja dipertemukan dan langsung bertengkar karena satu cowok ini. Tapi, siapa sangka ternyata lama-kelamaan mereka bisa menjadi sahabat. Walaupun saling mencela satu sama lain, mereka pada akhirnya dapat saling mengisi kekosongan dalam hidup mereka masing-masing. Di akhir cerita... ternyata ada kejadian yang begitu mengharukan... yang tidak seharusnya saya ceritakan di sini. :p Saya paling suka dengan cerita dimana terjadi adu mulut antara Ginna dan Lunna yang biasanya dimenangkan oleh Lunna, karena lidahnya lebih tajam. Membaca buku ini membuat saya bisa memahami sudut pandang dari masing-masing tokoh, karena bab-bab dalam buku ini dibagi menjadi 2 bagian, yaitu bab 'Ginna' dan bab 'Lunna'. Puisi yang berjudul 'Setiap Detik dalam Hidupku' dan 'Untuk Sahabat' di dalam buku ini berhasil membuat mata saya berkaca-kaca. :)
2 orang dari 'kalangan' berbeda, penampilan berbeda, hobi berbeda, kehidupan berbeda, akhirnya bersahabat karena satu kesamaan: punya pacar yang sama!
awal persahabatan mereka mungkin ga ada manis-manisnya sama sekali. wong mereka saling cakar, jambak, tinju, tendang begitu, gimana bisa disebut 'awal yang indah?'. tapi, seiring berjalannya waktu, mereka akhirnya temenan, semakin erat, menjalin suatu persahabatan, sampai akhirnya.. salah satu dari mereka meninggal karena kanker. sedih banget endingnya :'(
cerita tentang persahabatan yang keren banget. coba deh novel ini difilm-in, pasti aku bakal nonton deh *weh weh, ngelantur kemana-mana -.-' *
Baru inget ini novel! Udah lama banget bacanya jaman SMP tingkat 2, itu juga baca di perpus, itu juga ga sengaja gegara waktu itu kelas sebelahan sama perpus dan waktu itu ada box gede bgt dimana perpus baru borong buku plus novel2 hihi Tapi saya sampe sekarang masih inget banget jalan cerita ini novel, gegara dulu saking sukanya sama ini novel pinjem berulang kali sampe mau lulus apa yaa? Dan walaau baca berulang kali saya inget dulu saya sering nangis ga relaaaaaa huhu~ Baguuuuuuuuus~ sumpah demi apa mau baca lagi dooong
Mungkin karena emang gak terlalu suka baca novel macem begini, jadi pas baca jadi agak gak enak, terkadang penulis memakai bahasa yang formal dan gak jarang juga penulis memakai bahasa anak muda jaman sekarang.. tapi kurang lebih ceritanya yaa cukup menghibur lah.. :D
Sumpah aku dibuat larut & sedih sampe netesin air mata selesai baca endingnya.😢 Setelah baca blurb cover belakang & lihat sekilas daftar isinya, memang buku ini nyeritakan kisah dari sudut pandang Lunna & Ginna saja.