What do you think?
Rate this book


564 pages, Paperback
First published September 2, 2022
Agni diceritakan memiliki kecerdasan verbal dan logika yang tinggi. Tapi sama sekali tidak terlihat demikian. Ia justru sering sekali dibantu dengan teman-temannya. Kenapa doktrin bertahun-tahunnya langsung luruh hanya karena mendengarkan cerita orang lain sekali? Dimana sifat kritisnya? Mengapa Agni selalu merasa clueless hingga perlu orang lain untuk merangkai “puzzlenya”?Tak hanya itu, Agni yang memiliki adik seorang perunggu namun begitu memandang rendah kaum perunggu, menjadikan dirinya amat naif dan sombong, hingga terasa menyebalkan.
Buku ini punya konsep seperti buku harian, hingga lebih banyak narasi di dalamnya.
Tak masalah, jika dikemas dengan baik. Sayangnya, aku justru merasa sebaliknya. Agni sebagai tokoh utama, menulis buku hariannya “terlalu baik”. Ia mampu mengingat hari-harinya hingga detail terkecil. Si Hitam, nama buku harian itu, diperlakukan seakan-akan makhluk hidup. Agni menceritakan segalanya, hingga lupa bahwa benda itu tidak memerlukan informasi seperti jabatan suatu tokoh, kejadian masa lalu, sesuatu yang rasanya sudah diketahui mereka berdua ataupun orang lain pada masa itu. Semua itu membuat konsep membaca novel seperti membaca buku harian seseorang terasa janggal. Jujur, siapa yang peduli jika tokoh pembantu punya perut buncit atau kotak-kotak? Ditambah lagi, detail tidak penting seperti itu ditulis berkali-kali. Pengulangan yang tidak diperlukan seperti itu amat membosankan, sungguh. Aku berusaha menamatkan buku ini dengan harapan akan menemukan plot twist yang menarik, tapi justru kecewa hingga akhir. Pada penulisannya juga cukup banyak ditemukan inkonsistensian seperti penggunaan kata ganti orang, hingga terasa mengganggu.
Aku suka bagaimana penulis berusaha memproyeksikan kondisi Indonesia di tahun 2045. Indonesia yang kembali seperti orde baru: dipimpin oleh seorang diktator, kritik dikekang, seni dibatasi. Ya, semua itu bisa terjadi. Tapi agak lucu menemukan bagian seperti plesetan McDonald menjadi McLele. Pemerintah yang dikatakan antibarat malah justru mengadaptasi merek dagang mereka. Juga bagian ketika penulis menggambarkan pembunuhan pentolan hamas sebagai salah satu prestasi, secara tidak langsung mengatakan bahwa hamas seorang teroris. Tidak layak sekiranya membalikkan fakta yang menyangkut isu sosial dan kemanusiaan meskipun di dalam buku berlabel fiksi.
Terakhir, tidak ada ide yang orisinil. Bukan salah penulis jika terinspirasi dengan karya lain. Pun bukan salah penulis karena sudah banyak buku lain dengan tema serupa. Namun selain latar Indonesia, aku tidak menemukan hal baru dalam buku ini. Jujur saja, konsep kecerdasan buatan bernama Dasamuka ini mirip Thunderhead karya Neal Shusterman. Klasifikasi rakyat menjadi beberapa golongan warna juga dapat ditemukan di Red Rising karya Pierce Brown. Dan beberapa detail lainnya sehingga membuat buku ini seperti bagian-bagian dari buku lain yang disatukan.
Kesimpulan Awal
Sebagai novel fiksi pertama dari Henry Manampiring (biasa dikenal sebagai Om Piring), Hitam 2045 langsung menawarkan sesuatu yang unik. Ditulis dalam format daily journal dari sudut pandang pemeran utama, novel ini menghadirkan alur yang runtut dan bikin penasaran. Awalnya aku sempat berhenti baca selama sebulan karena kesibukan pekerjaan, tapi begitu lanjut, aku langsung binge reading sampai ratusan halaman dalam 2-3 malam.
---------------------
Keunggulan
Format Narasi yang Unik: Gaya penulisan dalam bentuk jurnal harian bikin cerita terasa personal, seolah-olah aku sedang membaca catatan rahasia seseorang.
Plot yang Misterius & Penuh Konflik: Novel ini punya elemen sci-fi, fantasy, thriller yang seru, dan banyak konflik yang bikin penasaran dengan akhir ceritanya.
Ending yang Mengguncang: Beberapa halaman terakhir sukses bikin aku gemeteran dan kaget. Gak nyangka Om Piring bisa menutup cerita dengan cara seperti ini!
---------------------
Kekurangan
Beberapa Bagian Terasa Cringey: Ada adegan atau gaya bahasa yang terasa agak aneh di tengah cerita, meskipun ini subjektif.
Penjelasan Politik yang Terlalu Panjang: Istilah-istilah fiksi tentang pemerintahan terasa sedikit bertele-tele, yang kadang bikin cerita agak melambat.
---------------------
Bagian Favorit
Bagian penuh aksi di sekitar halaman 300-400an. Aku gak bakal kasih spoiler, tapi di sinilah cerita jadi makin seru!
---------------------
Perbandingan dengan Buku Lain
Awalnya aku mengira buku ini bakal mirip banget sama Masa Depan yang Tidak Boleh Dibicarakan karya Adit MKM, tapi ternyata gak sepenuhnya. Ada relevansi di beberapa elemen cerita, terutama di bagian ending, tapi secara keseluruhan keduanya punya vibe yang berbeda.
---------------------
Pengalaman Pribadi
Aku memutuskan baca ini karena sudah menikmati tiga buku non-fiksi dari Om Piring: Filosofi Teras (yang bikin aku ngefans sama beliau), The Compass, dan Belajar Marketing Belajar Hidup: Prinsip-prinsip Marketing Untuk Belajar Hidup. Karena semua tulisannya selalu berkualitas, aku penasaran dengan novel fiksinya. Hasilnya? Gak nyesel!
---------------------
Desain & Tata Letak
Aku lebih suka desain cover cetakan awal dibanding versi barunya. Cover hitam doff dengan lubang-lubang membentuk tulisan "HITAM 2045" plus simbol mata satu di tengahnya terlihat lebih minimalis dan unik. Dari segi layout, cukup rapi. Aku juga sempat curiga kenapa font di halaman-halaman akhir berubah dari serif ke sans-serif, ternyata itu untuk menandakan perubahan sudut pandang dari pemeran utama ke karakter lain. Detail kecil tapi menarik!
---------------------
Kesimpulan
Hitam 2045 adalah novel sci-fi, fantasy, thriller yang mendebarkan, penuh konflik, dan ditutup dengan akhir yang gak terduga. Meski ada beberapa bagian yang terasa bertele-tele atau cringey, secara keseluruhan ini tetap bacaan yang sangat enjoyable. Ditambah lagi, ini adalah buku 500+ halaman pertama yang aku baca sampai habis—cukup bangga! Hahaha.