What do you think?
Rate this book


264 pages, Paperback
First published April 28, 2016
"Nama kerennya, Big Bang."
"Itu salah satu teori asal usul alam semesta, bukan sembarang ledakan kayak yang kamu bayangkan," katanya lagi. "Dulunya alam semesta itu nol, nggak ada apa-apa. Terus ada ledakan besar, kemudian lahir materi-materi pembentuk benda langit, pelan-pelan mengembang sampai jadi alam semesta yang luas banget kayak sekarang. Kamu tahu apa artinya itu?"
"Apa?"
"Artinya, bahkan orang bodoh pun punya potensi," sindir anak laki-laki itu. "Yang awalnya nol besar pun bisa meledak jadi hebat kalau mau berusaha."
"Aku nggak pernah ngerendahin orang lain. Sejak awal mereka memang udah ada di bawahku. Orang yang ada di bawah selalu kelihatan kecil buat orang yang ada di atas, kan?"
"Tapi orang yang ada di atas juga selalu kelihatan kecil buat orang yang ada di bawah."
"Alasan selalu sederhana," tandas Lintang. "Yang jadi pembeda kan gimana kita bisa bikin hal sederhana itu jadi sesuatu yang nyata dan berarti besar."
"Sisi yang tidak terlihat sering kali lebih cantik dari yang biasanya terlihat."
"Kegagalan sekali nggak ngebuktiin apa pun. Kamu masih bisa melaju sejauh mungkin kalau mau bangkit."
"Tugas wali kelas itu untuk selalu ada di sisi anak-anak didiknya tanpa pilih kasih, tanpa satu orang pun disingkirkan, kan?"
"Sekolah itu seperti masyarakat kecil. Selain urusan nilai-nilai berwujud angka, kamu juga bisa belajar bersosialisasi. Punya teman, misalnya."
"Kalau kamu udah nggak ada perasaan apa-apa lagi buat Bagas, itu bagus. Jadi, semuanya selesai. Kalau udah selesai, apa pun bisa dimulai lagi dari awal."
"Maksudmu?"
Teguh berhenti lalu memutar badan penuh menghadapi Wulan. Tanpa bisa diduga, cowok itu tersenyum. "Aku bakal bikin kamu jadi urusanku lagi."
"Bahkan seseorang yang selalu dalam kondisi sebelum Big Bang pun bisa berbuat sesuatu."
"Big Bang? Kamu itu black hole."
"Ya bagus. Bakal kusedot semua cahaya dari bintang-bintang yang kelewat dekat. Hati-hati, bisa aja kamu salah satunya."
"Itu tantangan?"
"Iya. Kamu mau ambil bidang apa? Aku bakal ngambil bidang itu juga lalu jatuhin kamu dari posisi atas."
"Lihat langit malam rasanya nyebelin."
"Kenapa?"
"Di sana isinya masa lalu semua. Lihat aja Proxima Centauri. Itu bintang paling dekat dengan bumi setelah matahari. Tapi jaraknya aja 4,2 tahun cahaya. Artinya, Proxima Centauri yang kita lihat sekarang kan sebenarnya Proxima Centauri 4,2 tahun lalu."
Wulan tergelak. "Sejak kapan kamu jadi mellow? Bilang aja kamu jadi teringat masa lalu."
"Bukan teringat. Aku memang nggak bakal pernah lupa. Kesalahan masa lalu memang nggak seharusnya dilupain, kan? Itu sesuatu yang harus terus diingat sebagai pelajaran biar nggak ngelakuin kesalahan sama dua kali."
"Lan, kamu tahu kenapa kalau di bulan, sekali kita menginjakkan kaki, jejak kaki kita nggak akan pernah hilang selamanya?"
"Kenapa?"
"Karena bulan nggak punya atmosfer, makanya rapuh, nggak ada tameng kalau ada benturan dari luar. Nggak akan ada udara, angin, atau materi yang bisa menghapus jejak kaki itu. Makanya kawah di bulan ada banyak, kan?"
"Terus?"
Lintang tersenyum getir. "Itu sama kayak pertemananku sama Teguh, rapuh dan nggak punya tameng. Cuma satu kesalahan, dan itu membekas selamanya. Sekali keadaan udah berubah rusak, nggak bakal pernah balik kayak semula."
"Kamu tahu tipe teleskop luar angkasa kayak teleskop Hubble yang ukurannya sebesar bus? Itu tipe teleskop yang bisa nangkep gambar benda langit yang nggak bisa dilihat dari teleskop refraktor biasa. Teleskop Hubble pernah mengamati orbit Sirius yang kelihatannya aneh, kayak terhalang sesuatu. Berkelok-kelok gitu gerakannya. Bahkan intensitas cahayanya kadang meredup. Setelah diselidiki lebih jauh, baru ketahuan kalau Sirius itu punya kembaran. Yang namanya bintang kembar kan selalu mengitari satu sama lain. Waktu Sirius B kebetulan lewat di depan Sirius A, intensitas cahaya Sirius A meredup gara-gara ketutup Sirius B, kan?"
"Terus? Maksudmu apa?"
"Maksudku, butuh teleskop sekaliber teleskop Hubble buat bisa lihat bintang yang nggak akan kelihatan dengan teleskop biasa. Kalau Sirius B nggak terlihat, itu cuma karena kualitas teleskopnya yang jelek, bukan karena Sirius B itu nggak ada."
Wulan kembali tersenyum. "Jadi, cuma orang hebat yang bisa nyadar potensiku?"
Lintang mengangguk mantap. "Iya, orang hebat itu ada di depanmu sekarang."
"Dulunya alam semesta itu nol, nggak ada apa-apa. Terus ada ledakan besar, kemudian lahir materi-materi pembentuk benda langit, pelan-pelan mengembang sampai jadi alam semesta yang luas banget kayak sekarang. Artinya, bahkan orang bodoh pun punya potensi. Yang awalnya nol besar pun bisa meledak jadi hebat kalau mau usaha."
"Maksudku, butuh teleskop sekaliber teleskop Hubble buat bisa lihat bintang yang nggak akan kelihatan dengan teleskop biasa. Kalau Sirius B nggak terlihat, itu cuma karena kualitas teleskopnya yang jelek, bukan karena Sirius B itu nggak ada."
Wulan kembali tersenyum, "Jadi, cuma orang hebat yang bisa nyadar potensiku?"
Lintang mengangguk mantap. "Iya, orang hebat itu ada di depanmu sekarang."
Wulan refleks menjitak kepala Lintang. (hal. 82)
"Dulu, aku pernah punya impian. Aku cuma ngerasa kalau sekarang ini belum waktunya buat menyerah." (hal. 63)
“Saya nggak membelanya. Saya cuma merasa nggak punya hal untuk asal menuduh tanpa ada bukti apa pun, nggak peduli separah apa pun dia memperlakukan saya.” (h. 45)
“Orang yang ada di bawah selalu kelihatan kecil buat orang yang ada di atas, kan?”
“Tapi orang yang adad di atas juga selalu kelihatan kecil buat orang yang ada di bawah.” (h. 59)
"Udah, lupain. Dua prinsip yang benar-benar beda nggak bakal pernah ada itik temunya biar didebatin sampai botak." Lintang, hlm. 59.
"Alasan selalu sederhana.Yang jadi pembeda kan gimana kita bisa bikin hal sederhana itu jadi sesuatu yang nyata dan berarti besar." Lintang, hlm. 64.
"Semua yang hilang, bisa kembali kalau kamu nggak menyerah. Kalau berusaha keras,impian sebesar apa pun masih mungkin diraih." Ayah, hlm. 152.