Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Bakal kusedot semua cahaya dari bintang-bintang yang kelewat dekat. Hati-hati, bisa aja kamu salah satunya.

Gimana rasanya satu kelompok belajar sama murid-murid berbeda kepribadian? Harusnya sih seru, tapi Wulan merasa kebalikannya. Dia bete mesti sekelompok sama Lintang—saudara kembarnya yang lebih disayang sang ayah, Bagas si genius bermulut besar, Nindi yang galak dan dingin, juga Teguh si biang onar. Hubungan kelimanya makin kacau waktu sekolah mengadakan seleksi perwakilan untuk olimpiade sains.

Di tengah persiapan olimpiade, Wulan harus menghadapi sang ayah yang selalu meragukan dirinya, mantan pacar yang kerap menindas saudaranya, juga mantan gebetan yang terus mengganggu konsentrasinya.

Akankah kehidupan SMA Wulan berjalan mulus? Atau dia gagal membuktikan kemampuannya?

264 pages, Paperback

First published April 28, 2016

13 people are currently reading
190 people want to read

About the author

Dya Ragil

8 books43 followers
Hanya seorang yang belum selesai juga mendalami Fisika; pecinta Astronomi yang belum kesampaian punya teleskop sendiri; penyuka kucing, seni, kopi, dan Detektif Conan; penggila sepakbola dan Sherlock Holmes.

Sekian.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (16%)
4 stars
68 (50%)
3 stars
34 (25%)
2 stars
3 (2%)
1 star
8 (5%)
Displaying 1 - 30 of 48 reviews
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews297 followers
August 6, 2016
Review lengkap http://www.kubikelromance.com/2016/08...

"Nama kerennya, Big Bang."
"Itu salah satu teori asal usul alam semesta, bukan sembarang ledakan kayak yang kamu bayangkan," katanya lagi. "Dulunya alam semesta itu nol, nggak ada apa-apa. Terus ada ledakan besar, kemudian lahir materi-materi pembentuk benda langit, pelan-pelan mengembang sampai jadi alam semesta yang luas banget kayak sekarang. Kamu tahu apa artinya itu?"
"Apa?"
"Artinya, bahkan orang bodoh pun punya potensi," sindir anak laki-laki itu. "Yang awalnya nol besar pun bisa meledak jadi hebat kalau mau berusaha."


Bagi Wulan sebangku dengan Nindi, salah satu penghuni tiga besar di kelas tidak ada apa-apanya daripada tergabung dalam kelompok 6, yang bisa disebut juga dengan grup neraka. Kelompok belajar tersebut terdiri dari para predikat tiga besar (Bagas, Nindi, Lintang), satu trouble maker (Teguh), dan satu penggembira (Wulan). Tentu saja tidak mudah menyatukan pikiran yang pada mau menang sendiri, tidak perlu bertemu untuk mengerjakan presentasi, bila tidak ada yang ikut mengerjakan tugas maka namanya tidak akan dicantumkan, bahkan tidak ada yang mau jadi ketua kelompok, Wulan pun terpaksa turun tangan untuk mengatasi keegoisan teman-temannya tersebut.

Belum lagi dengan adanya Olimpiade Sains, Wulan ingin membuktikan kepada ayahnya kalau dia memiliki kemampuan seperti saudara kembarnya, Lintang, yang selalu diharapkan menjadi juara. Wulan lebih mencintai astronomi daripada Lintang, dan dia ingin bersaing secara sehat dan ikut membanggakan ayahnya, tapi ayahnya tidak pernah melihat Wulan, selalu tertuju pada Lintang. Tidak hanya berhadapan dengan saudaranya yang termasuk tiga besar di kelas, Wulan juga harus bersaing dengan Bagas yang mulutnya tidak pernah disaring dan sempat ditembaknya tapi dia langsung ditolak, Nindi yang dingin dan selalu mengutamakan belajar lebih dari apa pun, serta Wulan juga ingin mengembalikan persahabatan yang sudah hancur antara Lintang dan Teguh.

Berbagai tantangan dihadapi Wulan pada tahun terakhir SMA-nya, tentang meraih impian, mendapatkan kepercayaan dan kebanggaan dari ayahnya, menyatukan persahabatan yang retak, serta mendapatkan cinta yang sepertinya mustahil. Wulan tidak ingin menjadi yang terhebat, menjadi sesuatu yang bersinar indah sudah lebih dari cukup, seperti harapan pada namanya, Kartika Wulandari.

"Aku nggak pernah ngerendahin orang lain. Sejak awal mereka memang udah ada di bawahku. Orang yang ada di bawah selalu kelihatan kecil buat orang yang ada di atas, kan?"
"Tapi orang yang ada di atas juga selalu kelihatan kecil buat orang yang ada di bawah."

"Alasan selalu sederhana," tandas Lintang. "Yang jadi pembeda kan gimana kita bisa bikin hal sederhana itu jadi sesuatu yang nyata dan berarti besar."

"Sisi yang tidak terlihat sering kali lebih cantik dari yang biasanya terlihat."

"Kegagalan sekali nggak ngebuktiin apa pun. Kamu masih bisa melaju sejauh mungkin kalau mau bangkit."


Sejak membaca karya debutnya, Sebelas, saya menanti-nantikan karya berikutnya dari seorang Dya Ragil. Buku pertamanya sukses membuat dia menjadi author autoread bagi saya, bukunya wajib dinantikan. Melalui buku keduanya ini, ciri khas penulis juga mulai tercetak jelas, selalu ada paket komplit pada tulisannya, selalu menyisipkan cerita yang berhubungan dengan passion, sibling, family, friendship dan love. Penulis juga memberikan informasi menarik pendamping konflik utamanya, hal-hal yang pada dasarnya memang digandrungi penulis, kalau di buku pertama dia membahas sepak bola, maka di buku keduanya ini bidang astronomi menjadi primadona. Saya jadi penasaran apakah penulis juga akan mencoba memasukkan unsur thriller pada buku berikutnya, melihat Detective Conan dan Sherlock Holmes menjadi favoritnya juga.

Kelebihan yang saya temukan pada karya debutnya masih saya rasakan pada buku Starlight ini, misalkan saja dalam memberikan nyawa pada para tokohnya sehingga ceritanya pun menjadi hidup. Wulan yang tidak pernah berprestasi sebenarnya memiliki potensi besar, Lintang tahu hal tersebut, dia hanya perlu pancingan untuk mengeluarkan kelebihannya, misalkan saja lewat olimpiade sains. Lintang sendiri kesalahannya di masa lalu membuatnya menarik diri, terlebih pada Teguh. Belum lagi tuntutan dari ayahnya agar dia selalu berprestasi terlebih dalam bidang fisika, membuatnya terbebani, padahal bukan hal tersebut yang menjadi impiannya. Teguh menjadi tukang onar karena sakit hati dan pengkhianatan yang pernah dia alami, tentang masalah keluarga yang tidak ingin orang lain tahu.

Nindi berasal dari keluarga biasa yang yakin dengan mendapatkan nilai baik dan berprestasi akan memudahkannya di masa depan nanti, sedangkan Bagas yang selalu sinis dan omongannya selalu menyakitkan hati sebenarnya tidak seburuk yang terlihat. Semua karakter di buku ini terasa manusiawi dengan permasalahan yang dihadapi. Saya juga menyukai peran guru yang seharusnya dilakukan seperti Bu Ayu atau dalam realitas banyak seperti Pak Hadi. Bahwa sering kali guru tidak adil pada muridnya, selalu menganggap remeh atau tidak peduli pada murid peringkat bawah, padahal seharusnya merekalah yang harus diperhatikan, bukannya diabaikan, dianggap sampah dan tidak pantas masuk sekolah. Atau ketika datang ke sekolah dengan muka babak belur, selalu dianggap habis berkelahi atau tawuran, padahal tidak akan pernah tahu kalau tidak bertanya bahkan menyelidiki langsung, selalu berspekulasi negatif.

"Tugas wali kelas itu untuk selalu ada di sisi anak-anak didiknya tanpa pilih kasih, tanpa satu orang pun disingkirkan, kan?"

"Sekolah itu seperti masyarakat kecil. Selain urusan nilai-nilai berwujud angka, kamu juga bisa belajar bersosialisasi. Punya teman, misalnya."


Saya juga menyukai hubungan para tokohnya, Wulan dan Lintang yang saling mengerti dan menyayangi tanpa perlu berkata-kata, Lintang yang ingin sekali rujuk dengan Teguh, sampai ayah Wulan dan Lintang yang sepertinya pilih kasih sebenarnya tahu dengan pasti apa yang seharusnya dia lakukan, layaknya seorang orangtua yang kenyang akan pengalaman, kadang pilihannya tidak selalu disukai para anak padahal bertujuan baik dan semata-mata untuk diri mereka. Untuk kisah cintanya, sama seperti buku pertama penulis, bukan kisah cinta yang menjadi sorotan sehingga tidak akan banyak dibahas, memang ada, tapi hanya sebagai bumbu penyedap saja. Misalkan adegan di bawah ini, penulis memiliki cara yang tidak romantis tapi terasa manis.

"Kalau kamu udah nggak ada perasaan apa-apa lagi buat Bagas, itu bagus. Jadi, semuanya selesai. Kalau udah selesai, apa pun bisa dimulai lagi dari awal."
"Maksudmu?"
Teguh berhenti lalu memutar badan penuh menghadapi Wulan. Tanpa bisa diduga, cowok itu tersenyum. "Aku bakal bikin kamu jadi urusanku lagi."


Kelebihan lain yang dimiliki penulis adalah dalam menjadi cerita, menyisipkan informasi tanpa terasa dipaksakan, menularkan apa yang dirasakan para tokohnya kepada pembaca. Bahasa yang digunakan biasa saja, menggunakan bahasa sehari-hari, tapi pesan dan makna dalam tiap kalimat terasa jelas dan membekas. Misalkan saja dalam menyisipkan informasi tentang astronomi, bagian yang asing dan terasa susah lebih mudah dimengerti tanpa bermaksud menggurui, menggunakan bahasa sederhana namun bermakna. Banyak sekali adegan favorit saya di buku ini yang berhubungan dengan astronomi, misalkan saja seperti di bawah ini.

"Bahkan seseorang yang selalu dalam kondisi sebelum Big Bang pun bisa berbuat sesuatu."
"Big Bang? Kamu itu black hole."
"Ya bagus. Bakal kusedot semua cahaya dari bintang-bintang yang kelewat dekat. Hati-hati, bisa aja kamu salah satunya."
"Itu tantangan?"
"Iya. Kamu mau ambil bidang apa? Aku bakal ngambil bidang itu juga lalu jatuhin kamu dari posisi atas."

"Lihat langit malam rasanya nyebelin."
"Kenapa?"
"Di sana isinya masa lalu semua. Lihat aja Proxima Centauri. Itu bintang paling dekat dengan bumi setelah matahari. Tapi jaraknya aja 4,2 tahun cahaya. Artinya, Proxima Centauri yang kita lihat sekarang kan sebenarnya Proxima Centauri 4,2 tahun lalu."
Wulan tergelak. "Sejak kapan kamu jadi mellow? Bilang aja kamu jadi teringat masa lalu."
"Bukan teringat. Aku memang nggak bakal pernah lupa. Kesalahan masa lalu memang nggak seharusnya dilupain, kan? Itu sesuatu yang harus terus diingat sebagai pelajaran biar nggak ngelakuin kesalahan sama dua kali."

"Lan, kamu tahu kenapa kalau di bulan, sekali kita menginjakkan kaki, jejak kaki kita nggak akan pernah hilang selamanya?"
"Kenapa?"
"Karena bulan nggak punya atmosfer, makanya rapuh, nggak ada tameng kalau ada benturan dari luar. Nggak akan ada udara, angin, atau materi yang bisa menghapus jejak kaki itu. Makanya kawah di bulan ada banyak, kan?"
"Terus?"
Lintang tersenyum getir. "Itu sama kayak pertemananku sama Teguh, rapuh dan nggak punya tameng. Cuma satu kesalahan, dan itu membekas selamanya. Sekali keadaan udah berubah rusak, nggak bakal pernah balik kayak semula."

"Kamu tahu tipe teleskop luar angkasa kayak teleskop Hubble yang ukurannya sebesar bus? Itu tipe teleskop yang bisa nangkep gambar benda langit yang nggak bisa dilihat dari teleskop refraktor biasa. Teleskop Hubble pernah mengamati orbit Sirius yang kelihatannya aneh, kayak terhalang sesuatu. Berkelok-kelok gitu gerakannya. Bahkan intensitas cahayanya kadang meredup. Setelah diselidiki lebih jauh, baru ketahuan kalau Sirius itu punya kembaran. Yang namanya bintang kembar kan selalu mengitari satu sama lain. Waktu Sirius B kebetulan lewat di depan Sirius A, intensitas cahaya Sirius A meredup gara-gara ketutup Sirius B, kan?"
"Terus? Maksudmu apa?"
"Maksudku, butuh teleskop sekaliber teleskop Hubble buat bisa lihat bintang yang nggak akan kelihatan dengan teleskop biasa. Kalau Sirius B nggak terlihat, itu cuma karena kualitas teleskopnya yang jelek, bukan karena Sirius B itu nggak ada."
Wulan kembali tersenyum. "Jadi, cuma orang hebat yang bisa nyadar potensiku?"
Lintang mengangguk mantap. "Iya, orang hebat itu ada di depanmu sekarang."


Sedikit kekurangan tentang buku ini adalah ada bagian yang saya harapkan dijelaskan lebih detail lagi oleh penulis tapi sayangnya tidak terjadi, yaitu latar belakang keluarga Teguh. Setidaknya semua permasalahan yang dihadapi para tokohnya terselesaikan dengan cukup memuaskan. Walau lebih menyukai karya debut penulis, buku ini bukan berarti jelek, sangat baik malah untuk kategori teenlit. Tulisan seperti inilah yang membuat saya yang sebenarnya bukan pasar novel teenlit lagi tetap bisa menikmatinya, tulisan yang ringan tapi berpesan banyak. Saya yakin Dya Ragil memiliki potensi besar dalam hal menulis, dia sudah memiliki modal yang lebih dari cukup, saya akan selalu menantikan karya selanjutnya.

Buku ini tidak hanya saya rekomendasikan untuk para remaja, siapa pun bisa menikmati, entah itu orangtua, orang dewasa, para guru, dsb. Banyak pesan yang ingin disampaikan penulis lewat buku ini, salah satu teenlit yang tidak boleh dilewatkan dan wajib dibaca.

4.5 sayap untuk ilmu astronominya.
Profile Image for mollusskka.
250 reviews159 followers
June 4, 2016
"Dulunya alam semesta itu nol, nggak ada apa-apa. Terus ada ledakan besar, kemudian lahir materi-materi pembentuk benda langit, pelan-pelan mengembang sampai jadi alam semesta yang luas banget kayak sekarang. Artinya, bahkan orang bodoh pun punya potensi. Yang awalnya nol besar pun bisa meledak jadi hebat kalau mau usaha."


Wuaahhh, aku puas banget deh baca novel ini. Dari mulai jalan cerita, karakter, dialog, setting dan bahkan plot twist-nya pun sungguh mengejutkan dan keren banget! Apalagi pesan moral yang terkandung di dalamnya. Dan ditambah pengetahuan Dya Ragil mengenai dunia astronomi juga olimpiade sains yang oke punya. Pokoknya keren, deh! Aku yang sudah terdepak dari usia teenager pun masih bisa menikmati buku ini. Jadi nggak ada salahnya juga kalo aku kasih bintang lima. Because to me, this book is soooo amazing!

Kalau dilihat dari sinopsis di cover belakang, tokoh Wulan seolah menjadi pemeran utama dalam novel ini. Tapi menurutku, tokoh yang lain pun dieksplor secara mendalam. Memang sih pada akhirnya konflik Wulanlah yang menjadi penutup cerita ini. Tapi aku harus bilang kalau Wulan, Lintang, Teguh, Nindi dan Bagas menyumbang konflik yang menarik pada kenikmatanku membaca novel ini. Aku pribadi paling tersentuh sama konflik Teguh. Itu menyayat hati banget.

Aku suka banget sama gaya penulisan Dya Ragil yang enak dibaca dan mengalir jernih bak air Sungai Thames. Rasanya nggak ada bosannya membuka halaman demi halaman hingga tiba di bagian akhir dengan perasaan sedih sekaligus bahagia. Meski ini genre teenlit yang biasanya dekat dengan kisah pacaran, di buku ini malah bukan bagian itu yang diekspos. Bukan berarti nggak ada, ya. Tapi memang sisi persahabatan dan penggapaian mimpi yang paling menonjol. Nah, selain enak di baca, novel ini juga punya lelucon-lelucon yang nggak garing. Wulan yang paling sering bikin aku ketawa karena karakternya dia memang penggembira. Dan dia juga tokoh favorit aku di sini.

Sama dengan novel Finding You Among The Stars, buku ini pun menyorot masalah tawuran pada anak-anak sekolah. Selain itu, kondisi yang dialami Lintang di mana dia harus ngekos gara-gara berantem sama ayahnya agak mirip sama Edgar di novel Finding You Among The Stars. Lalu awal perkenalan Bagas dan Wulan juga setipe dengan kisah Salma dan Nathan di Dear Nathan. Dan kayaknya sih sikapnya Nindi mirip-mirip sama Amanda di A untuk Amanda. Aku cuman pernah baca Finding You Among The Stars aja, sedangkan dua yang lainnya aku belom baca. Dan aku ngomong begini juga bukan maksud apa-apa. Cuma ngungkapin perasaan aja hahaha. Dan aku merasa aneh kalo nggak diomongin. Forgive me.

Oh iya, ada hal yang bikin aku agak "capek" baca novel ini, yaitu seringnya para tokoh ini berantem. Bayangin aja, selama hampir setengah halaman buku ini diisi dengan adegan adu mulut kelima tokoh yang memang berbeda kepribadian ini. Kayaknya habis itu masih ada deh. Untungnya berantemnya seru hahaha. Dan uniknya, dalam kondisi berantem, Dya Ragil masih bisa membuat perbedaan yang mencolok di antara para tokohnya. Cuma sesekali aja Nindi dan Wulan jadi agak mirip, begitu juga Teguh dan Bagas. Di luar itu, pengkarakterannya kuat.

Dunia sekolah yang digambarkan dalam novel ini juga luar biasa kental. Benar-benar bikin aku nostalgia. Malah aku ngiri sama dunia sekolah di novel ini yang terlihat begitu menyenangkan dan sempurna. Karena pihak sekolah dan guru-gurunya, termasuk kegiatan-kegiatannya, baik itu di kelas/sekolah maupun di luar sekolah. Berbeda sama masa sekolahku dulu yang agak "garing", hiks.

Untuk terakhir kalinya, izinkan aku bilang lagi betapa aku menikmati novel ini dan ingin membaca novel karya Dya Ragil yang lainnya. Semoga akan ada pengetahuan baru yang bisa menambah wawasanku. ^^
Profile Image for Anindito Alfaritsi.
65 reviews7 followers
June 3, 2016
Aku kenal Dya Ragil sebagai sesama anggota komunitas penulisan yang pernah aku ikuti. Karenanya, melihat buku karyanya terbit, aku ingin tahu sudah sejauh apa perkembangannya.

Berlatar di awal tahun ajaran, Starlight berkisah tentang hubungan seorang siswi SMA bernama Wulan dengan kawan-kawannya dalam kelompok belajarnya yang baru. Orang-orang yang tergabung dalam kelompok belajar (yang dibentuk oleh guru) ini adalah orang-orang yang bagi Wulan agak sulit diajaknya bergaul.

Teman-teman sekelompoknya tersebut mencakup:
-Lintang, saudara kembar Wulan sendiri
-Bagas, seorang murid cerdas tapi arogan, yang pernah menolak perasaan Wulan di masa lalu
-Nindi, seorang siswi pendiam yang kebetulan menjadi teman sebelah Wulan yang baru
-Teguh, seorang siswa bermasalah yang pernah dekat dengan Lintang dan Wulan di masa lalu

Ceritanya secara garis besar berupa drama yang berbasis relationship. Astronomi menjadi topik utama yang diangkat di cerita ini. Ini salah satunya tercermin lewat ajang olimpiade sains yang Wulan dan beberapa kawannya kemudian ikuti.

Sebagian besar drama benar-benar diangkat dari hubungan antar karakter. Ada soal Wulan dan Lintang sama-sama menyukai astronomi karena pengaruh ayah mereka. Lalu soal Wulan yang selama ini merasa dikesampingkan, sementara Lintang-lah yang menjadi perhatian utama si ayah. Bagas yang benar-benar suka membuat masalah dengan ucapan-ucapan yang bisa membuat orang tersinggung. Nindi yang dingin dan ingin terisolir. Lintang yang ketua kelas dan ingin bisa membantu Teguh. Lintang yang tertekan karena Teguh terus-terusan memusuhinya. Sampai kekesalan bersama yang dirasakan Lintang dan Teguh saat sosok seseorang dari masa SMP mereka tiba-tiba hadir.

Masing-masing karakter kayak punya 'sesuatu' di masa lalu mereka masing-masing. Lalu beban masa lalu mereka ini yang menjadi sumber utama dari konflik-konflik yang terjadi. Penjabarannya sedemikian rupa sampai kerasa gimana mereka kayak digerakkan oleh kombinasi asumsi, pikiran-pikiran pendek, serta hormon.

Sejujurnya, ini bukan jenis novel yang biasanya aku baca. Selain tema soal persahabatannya yang benar-benar... sederhana, hampir tak ada yang novel ini tonjolkan selain dramanya. Tak ada bumbu komedi. (Oke. Ada sih beberapa adegan yang bikin aku senyum.) Tak ada bumbu romansa. (Oke. Aku agak bohong dikit soal ini.) Tentu saja, tak ada aksi. (Sori. Ternyata aku salah dalam hal ini.) Jadi kalian yang mengharapkan sesuatu yang lebih memukau sebaiknya mencari novel lain.

Tapi sebagai drama kehidupan sekolah yang mungkin bakal dianggap tak menarik oleh sebagian orang, ini sama sekali enggak jelek kok.

Ini seriusan novel yang ditulis secara baik.

Temanya tak beresonansi denganku. Ada banyak hal yang buatku terasa kurang wajar atau sulit terjadi di dunia nyata. Namun narasinya kayak punya kekuatan yang menahanmu buat bisa terus baca. Terasa bagaimana Dya menuangkan sebagian pribadinya dalam kalimat demi kalimat di novel ini.

Hal lain yang sedikit menjadi kekurangan buatku adalah motif akademis yang cerita ini punya. Masalahnya, jenis 'motif akademis' yang ditampilkan di Starlight adalah jenis motif akademis yang mengutamakan pengejaran nilai dan pelajaran di atas yang lain. Jenis yang memberi kesan bahwa nilai sekolah adalah segala-galanya gitu.

Bukannya aku tak mengerti ada motivasi kuat yang mendorong para karakternya untuk berprestasi. Tapi dengan karakter-karakter seperti Bagas dan Nindi yang begitu antisosial (atau sekalian saja menyebut guru muda yang Teguh dan Lintang permasalahkan di atas), aku berulangkali merasa pola pikir yang buku ini usung itu terbilang 'kolot' sekali. Terutama di zaman sekarang, dengan bagaimana kemampuan untuk bekerjasama adalah hal yang sangat diutamakan.

Ini agak disayangkan. Soalnya, secara umum, karakter-karakternya unik dan simpatik. Lalu dramanya kayak jenis konflik pribadi yang memang terasa terlalu abstrak untuk bisa dijelaskan gitu pada orang lain. Sayang Dya kayak... agak terlalu berlebihan dalam menggali konfliknya gitu.

Hasilnya, novel ini kayak seseorang yang benar-benar membuatmu terkesan karena kepiawaiannya dalam berkomunikasi. Tapi sesudah kamu memikirkan lagi ucapannya beberapa saat kemudian, kamu dilanda dorongan enggak tertahankan buat ngejitak kepala dia.

...

Uh, oke. Sebenarnya enggak seburuk itu juga sih.

Oke. Ini mulai agak melantur.

Maksudku, di sisi lain, aku kayak bisa memaklumi kekurangan ini. Berhubung novel ini terasa menyampaikan sesuatu yang pribadi bagi si pengarang, aku juga jadi kayak ngerasa, "Oh, si pengarang ngebuatnya kayak gini karena dia nyampenya emang baru di sini toh." Jadi aku enggak benar-benar bisa marah.

Contoh yang kentara ada pada hubungan antara Wulan dan Bagas. Dikisahkan kalau pernah ada saat ketika Wulan ditolong Bagas di masa lalu, yang membuat Wulan sempat suka padanya. Tapi Bagas, meski sangat pandai secara akademis, is an asshole yang kebanyakan ucapannya terasa pedas dan sama hitamnya seperti tinja.

Kalau aku memikirkannya dalam konteks nyata, aku bakal merasa kalau cewek dalam situasi Wulan dengan kecewa bakal mikir, "Ah, ternyata ini orang sifatnya kayak gini." dan meski tetap kagum, akan mulai agak menjaga jarak darinya. Atau, sekalian mulai suka pada orang lain. Namun enggak. Dikisahkan bahwa perasaan Wulan pada Bagas enggak benar-benar hilang. Lalu perasaannya pada Bagas juga muncul kembali saat Bagas sendiri mulai bisa melihat sisi baik Wulan.

Jadi, ada kesan kalau Wulan ada di lingkungan di mana emang enggak ada cowok lain. (Saudara kembarnya, Lintang, sedang dilanda masalah pribadi. Sedangkan Teguh, yang pernah dekat dengan dia... yah, dia sangar dan suka bolos.) Lalu aku agak keberatan dengan perkembangan ini karena bagiku, Bagas tetap masih seorang asshole.

Kenapa? Karena bahkan hingga akhir, enggak ada permintaan maaf yang dia keluarin untuk semua kata-kata menyakitkan dia. Masalah antara mereka terkesan kayak beres begitu saja. Ini terutama aneh kalau disangkutkan ke hubungannya dengan Teguh dan Lintang.

Aku ngerti ada beban yang ingin bisa dia kejar. Tapi di kepalaku, itu tetap enggak menjustifikasi betapa buruknya sikap yang ia tampilkan.

Aku jadi penasaran. Kayak gimana sih orangtuanya?

Aku seriusan mempermasalahkan ini karena aku pernah berhadapan dengan dua orang yang pernah hampir saling bunuh karena kata-kata. Lalu kata-kata yang diucapkan Bagas adalah kata-kata yang jenisnya demikian.

Cuma sekali lagi, kekurangan ini diimbangi dengan narasinya yang beneran bagus. Tempo ceritanya cepat, dan bikin kita mudah membaca.

Segala hal terkait astronomi di novel ini banyak dipakai para karakternya dalam perumpamaan-perumpamaan soal kehidupan. It's actually kinda weird. Tapi segala perumpamaan ini memperkaya cerita dan memberinya suatu nuansa khas.

Berhubung karakter-karakternya hidup dan unik, agak sayang juga kita tak dibeberkan lebih banyak tentang diri mereka. Novel ini kayak menggambarkan betapa dunia mereka didefinisikan oleh isu-isu hubungan sosial yang mereka alami.

Aku terutama penasaran tentang Lintang, yang terlepas dari masalah pengendalian emosinya, beberapa kali membuatku merasa kalau dirinya jauh lebih bijak dari teman-teman seusianya.

Akhir kata, Starlight adalah novel remaja yang menurutku termasuk bagus.

Iya. Semua konflik di dalamnya memang seolah kayak... bisa terselesaikan begitu saja. Dan maksudku bukan dalam konteks kayak gimana time heals all wounds. Ini sayangnya adalah jenis novel yang membuatku suka sampai ke pertengahan, tapi membuatku agak ingin menjauh saat menjelang akhir.

Tapi sekali lagi, ini termasuk yang bagus.
Profile Image for R. Wahyu.
Author 8 books14 followers
July 9, 2016
Setelah sekian lama kena zonk karena membaca novel2 yg tak sesuai ekspektasi akhirnya aku berhasil menemukan novel yg aku banget. novel yg tak hanya sekedar hiburan namun kaya makna. Aku suka dengan gaya bahasa kak dya ragil yg tdk terlalu bnyk menggunakan bahasa gaul. Aku menikmati diksi dan majasnya yg jarang kutemui di novel2 teenlit jaman skrng yg isinya hanya romance menye2. Aku sangat menyukai cara Kak Dya dalam mendeskripsikan karakter para tokoh. Gestur para tokoh yg digambarkan dgn jelas membuatku turut larut dalam konflik mereka. Semua tokoh punya peran peting, tidak ada tokoh selewat lalu. Aku juga suka sekali cara Kak Dya dlm menggambarkan romantisme antar tokoh yg implisit. Pertengkaran kecil antara Wulan-Bagas atau Nindi-Lintang terasa sangat manis. Aku bahkan nggak bisa berhenti senyum gara2 satu perilaku bagas di halaman 113. Menurutku ini adalah bukti tegas bahwa romantisme tak perlu dibangun dari puluhan kata romantis ataupun adegan2 vulgar yg ada di novel2 barat. Saat membaca novel ini sambil menonton sinetron di tv membuatku merasa miris. Sinetron skrng ini hnya menyuguhkan cerita tak berkualitas yg tidak jelas. Mestinya mereka angkat saja Starlight jadi sinetron supaya remaja Indonesia dihadapkan pada realita hidup bukan acara memperebutkan pacar yg nggak jelas. Oh iya... aku sempat menemukan beberapa kemiripan novel ini dgn ide cerita dari drama Korea yg pernah aku tonton semasa masih jadi dukun beranak yaitu 'School 2013' . Namun aku lebih menyukai cara Kak Dya ragil dlm mengembangkan konflik ketimbang School 2013. Satu kutipan yg paling kusuka ada di halaman 142:
"Kenapa kamu pernah punya pikiran buat menyukaiku?"
Wulan terdiam lama, sampai akhirnya ia tersenyum. "Karena sisi gelap bulan lebih indah daripada sisi terangnya. Kupikir kamu seperti itu."
Detik ini aku memplokamirkan diri menjadi fans Kak Dya Ragil. Teruslah berkarya untuk menghasilkan karya yg lebih baik lagi Kak!
Profile Image for Utha.
824 reviews399 followers
April 21, 2016
Wulan cuma butuh pengakuan sang ayah dan kerja keras untuk impiannya.
Lintang cuma butuh keberanian, baik dalam mengutarakan keinginan maupun menghadapi masa lalu.
Bagas cuma butuh orang yang memercayainya tanpa ekspektasi tinggi.
Nindi cuma butuh orang yang menerima dirinya yang dingin.
Dan Teguh cuma butuh berdamai dengan dirinya sendiri.

Lima murid dengan karakter berbeda yang sulit disatukan itu malah sekelompok. Diperkeruh dengan adanya olimpiade astronomi, membuat hubungan mereka rumit. Tapi meski begitu, bisa aja kan di antara mereka saling suka? Eh, tapi mereka lebih sering berantem dan adu mulut. Namanya juga remaja, ahey.

Novel remaja yang asyik; bukan cuma sekadar saling suka, tapi juga tentang impian dan nilai-nilai yang harus dimiliki para remaja. Tambah asyik dengan candaan cerdas tokoh-tokohnya yang diselipkan tentang ilmu astronomi. Nice writing!
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books102 followers
October 1, 2018
Starlight bercerita tentang persahabatan, keluarga, dan sedikit merah muda. Membawa tema astronomi yang juga jadi pengikat tokoh-tokohnya.

Ceritanya tentang Wulan, Lintang, Bagas, Nindi, dan Teguh yang dijadikan satu kelompok di kelas. Kelompok mereka ini kalau di grup piala dunia, mirip kayak grup neraka. Soalnya, tiga besar sekolah (atau kelas, aku lupa), satu orang yang katanya badung, dan satu orang 'penggembira' berkumpul. Belum lagi masing-masing dari mereka punya latar belakang yang bisa jadi pemantik ribut.
Wulan dan Lintang ini kembar, bedanya Lintang diceritakan lebih pintar dan masuk tiga besar. Dan entah kenapa, Ayah mereka pun seakan nggak pernah mengakui Wulan kalau ia juga bisa, entah karena Wulan ini perempuan atau bagaimana.
Bagas yang di blurbnya disebut (mantan) gebetan Wulan, yang mulutnya pedas dan terkesan sombong dan arogan.
Nindi , yang pendiam, terkesan nggak butuh teman,nggak kalah ketus dan orientasinya akademik banget. Tapi, kalau lihat latar belakang keluarganya, ya kumaklum dia begitu. Cuma Nindi, kamu tetap butuh teman, kok. Satu aja cukup.
Teguh , mantan pacarnya Wulan plus (mantan)sahabatnya Lintang. Di sini, Teguh digambarkan badung gitu, cuma yang kurang adalah, latar belakang keluarga Teguh nggak diceritakan dengan jelas. Mengingat, keempat yang lain diceritakan dengan agak dalam, tapi ya, ga apa-apa sih. Mungkin Teguh nggak mau kisah keluarganya diumbar (?)

Kusuka kekuatan dari tiap karakter-karakternya. Meskipun mereka sedang adu argumen, terasa sekali siapa yang bicara.
Tentu saja, ribut-ribut dan adu mulut tersebar di buku ini. Dan kusuka keributan-keributan itu. Apalagi setelah Wulan, Lintang, Bagas, dan Nindi ikutan olimpiade astronomi di sekolah mereka. Kusuka bagaimana mereka memainkan teori-teori astronomi buat bahan candaan, rayuan, atau mikir soal hidup mereka. Kayak teropong Hubble, sebelah sisi bulan, atau si black hole. Aku juga suka Bu Ayu sebagai guru.

Baiklah, untuk kalian yang ingin teenlit yang nggak melulu soal merah muda, dapat wawasan soal astronomi, persahabatan, dan keluarga, kukira novel ini cocok untuk kalian. Sekian review-tak-jelas-ini, sukses untuk penulisnya ^^
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
May 15, 2016
'Starlight' bercerita tentang Wulan, seorang gadis SMA yang punya cita-cita untuk mengikuti olimpiade astronomi. Walau semua orang, bahkan sang ayah sendiri, memandang cita-cita Wulan ini dengan sebelah mata, gadis itu tidak mau menyerah. Tapi, langkah Wulan tidak semulus itu dalam menggapai cita-citanya. Dia harus melewati pelatihan dan ujian penyaringan. Masalahnya, dia harus melewati semua itu bersama Nindi, cewek dingin yang hanya peduli pada pelajaran, serta Bagas, cowok yang pernah dia suka, tapi selalu mengolok-oloknya. Belum lagi dia harus satu kelompok belajar dengan Teguh, mantan pacarnya, dan Lintang yang selalu bersitegang dengan Teguh.

Suka, deh, sama novel ini. Tema yang diangkat, tentang persahabatan dan keluarga, serta bumbu astronomi yang dimasukkan membuat ceritanya menarik. Saya suka dengan berbagai selipan astronomi yang kemudian berusaha disambungkan dengan kehidupan sehari-hari. Biasanya kalau tidak hati-hati, hal ini akan menimbulkan kesan memaksa, tapi di novel ini, penggunaannya sudah baik.

"Maksudku, butuh teleskop sekaliber teleskop Hubble buat bisa lihat bintang yang nggak akan kelihatan dengan teleskop biasa. Kalau Sirius B nggak terlihat, itu cuma karena kualitas teleskopnya yang jelek, bukan karena Sirius B itu nggak ada."

Wulan kembali tersenyum, "Jadi, cuma orang hebat yang bisa nyadar potensiku?"

Lintang mengangguk mantap. "Iya, orang hebat itu ada di depanmu sekarang."

Wulan refleks menjitak kepala Lintang. (hal. 82)


Tokoh-tokohnya juga lumayan menarik, walau butuh waktu yang lama untuk saya peduli pada mereka.

Jadi gini, membaca novel ini membuat saya merasa mendengarkan curhatan teman tentang teman-temannya yang berada di luar lingkaran pergaulan saya. Ketika dia bilang bahwa A dan B itu tidak bisa berteman karena ada sesuatu di masa lalu mereka, saya cuma angguk-angguk saja sambil terus mendengarkan pembicaraan teman saya itu. Saat dia bilang kalau si C itu anaknya begini-begitu, ya saya cuma bisa kembali mengangguk tanpa ada keterikatan emosi apa-apa. Wong saya tidak kenal orang-orang itu.

Novel ini sebenarnya lebih fokus pada karakter (character driven) dan penulisnya sudah cukup baik untuk menampilkan tokoh-tokoh yang berbeda. Yang saya rasa kurang adalah, bagaimana penulis menyampaikan fakta kunci para karakter ini, serta perkembangan mereka setelah fakta itu terkuak ke pembaca (dan mungkin karakter lain yang tidak tahu). Tidak ada suatu adegan/peristiwa yang memberikan dampak yang besar bagi pembaca, sehingga ada kesan melempem setelah fakta-fakta ini muncul.

Saya rasa alur mundur justru diperlukan di buku ini. Cara itu bisa memberikan dampak yang lebih besar pada pembaca, daripada cara penyampaian sepintas lalu yang ada di novel ini.

Secara keseluruhan, 'Starlight' adalah novel remaja yang membicarakan tentang rumitnya masa remaja. Banyak suka-duka dan pelajaran hidup yang didapatkan pada fase ini. Bumbu astronominya membuat novel ini lebih sedap, tapi masih sedikit kurang dalam cara penyampaian rahasianya.

"Dulu, aku pernah punya impian. Aku cuma ngerasa kalau sekarang ini belum waktunya buat menyerah." (hal. 63)
Profile Image for Wardah.
926 reviews171 followers
May 12, 2016
Starlight bukan hanya bercerita tentang Wulan yang lelah diragukan sang ayah.

Ada Lintang yang terbelenggu oleh ekspektasi sang ayah. Si ketua kelas yang skeptis pada guru dan sering berbicara ceplas-ceplos. Juga pemuda dengan masa lalu yang tak seindah bayangan.

Ada Bagas, si jenius arogan yang begitu bicara selalu bikin orang lain sakit hati. Namun, dia pun menyimpan cerita dari masa silam.

Ada Teguh, si tipikal murid berandalan. Bolos, merokok, cari gara-gara, dan banyak lagi. Namun, siapa yang tahu bahwa dia punya cerita meyakitkan yang tidak pernah diketahui orang lain?

Juga ada Nindi, si gadis dingin yang kerjanya belajar, belajar, dan belajar. Tentunya dia tidak melakukan itu tanpa alasan, kan?

Kelima karakter dalam Starlight ini sukses banget membuat saya pengin memeluk mereka satu-satu. Semua karakternya terasa nyata, dan dekat, dan berhasil menarik simpati saya. Mereka semua punya alasan kenapa sikap mereka seperti itu. Karakter-karakter remaja kita ini sangat-sangat manusiawi. Kelimanya berhasil dieksplor dengan sangat sukses oleh Dya Ragil.

Ada begitu banyak hal yang saya dapati dari Starlight. Novel ini tidak hanya menyulut impian saya dan membawa saya bernostalgia dengan kehidupan sekolah, tapi juga memelintir hati saya lewat karakter-karakternya yang masih belia. Saking banyaknya saya sampai bingung sendiri bagaimana menjelaskannya.

Yang paling nyata, Stalight ini mengajarkan saya buat tidak menghakimi.

“Saya nggak membelanya. Saya cuma merasa nggak punya hal untuk asal menuduh tanpa ada bukti apa pun, nggak peduli separah apa pun dia memperlakukan saya.” (h. 45)


Novel ini sangat saya rekomendasikan bagi remaja. Bagi mereka yang sedang bermimpi. Bagi mereka yang sedang butuh teman. Bagi mereka yang mencoba memandang hidup dari sisi yang berbeda.

“Orang yang ada di bawah selalu kelihatan kecil buat orang yang ada di atas, kan?”
“Tapi orang yang adad di atas juga selalu kelihatan kecil buat orang yang ada di bawah.” (h. 59)


Review lengkap sila baca di sini.
Profile Image for raafi.
927 reviews449 followers
April 19, 2016
Kalo lo butuh suplemen penyemangat, baca ini. Kalo lo lupa cara memaafkan, baca ini. Kalo lo udah ingin menyerah pada detik-detik terakhir, segera baca ini. Satu lagi, kalo lo pengin belajar astronomi--yah, paling tidak wawasan perbintangan--dengan cara menyenangkan, baca ini. Worth to read!
Profile Image for Rain.
106 reviews18 followers
June 8, 2016
masih amazed banget sama gimana Wulan ngadepin Teguh & Bagas! Wulan, kamu kece abisss
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
July 1, 2016
"Dulunya alam semesta itu nol, nggak ada apa-apa. Terus ada ledakan besar, kemudian lahir materi-materi pembentuk benda langit, pelan-pelan mengembang sampai jadi alam semesta yang luas banget kayak sekarang. Kamu tahu apa artinya itu?"

"Apa?"

"Artinya, bahkan orang bodoh pun punya potensi. Yang awalnya nol besar pun bisa meledak jadi hebat kalau mau usaha."
--- Halaman 10

***

Wulan dan Lintang adalah saudara kembar. Meskipun begitu, Wulan merasa bahwa perlakuan Ayah padanya berbeda seperti saat Ayah--yang seorang dosen fisika dan pemilik bimbingan belajar terkenal di kotanya--memperlakukan Lintang. Lintang adalah seorang anak yang pintar, tidak mustahil baginya bisa menembus olimpiade bahkan memenangkannya. Tapi masalahnya, yang punya passion di bidang astronomi sebenarnya adalah Wulan. Sedihnya, sang ayah maupun orang-orang sekelilingnya menganggap skeptis kemampuan Wulan yang tidak menonjol.

Sementara Lintang, di balik sikapnya yang menunjukkan bahwa dia adalah tipikal seorang pemimpin--Lintang ini ketua kelas, dan sejauh yang bisa ditampilkan sebagai karakternya, dia cukup bisa memimpin kelas yang bisa dibilang..., memiliki keragaman dalam hal kepribadian--Lintang menyimpan masa lalu yang kelam. Kisah di masa lalunya yang kurang menyenangkan hanya diketahui oleh segelintir orang saja. Wulan misalnya, dan guru fisika yang baru saja mengajar di kelas mereka, dan Teguh. Kejadian itulah yang membuat Lintang dan Teguh menjadi sulit untuk akur.

Teguh seorang yang cukup tertutup. Namun, dia terkenal sebagai siswa yang bermasalah karena sering tak acuh terhadap pelajaran. Sikap cueknya ini bukan hanya pada pelajaran saja, melainkan ditujukan pula kepada guru yang mengajar, dan juga orang-orang sekitarnya. Teguh menyimpan permasalahan yang pelik dalam hidupnya yang membuatnya bersikap seperti ini. Dan ternyata, permasalahan itu berhubungan dengan Lintang. Padahal, sebelumnya Teguh dan Lintang adalah dua orang sahabat kental semasa SMP. Bahkan, Teguh adalah mantan pacarnya Wulan.

Di kelas mereka, ada pula sosok menyebalkan sekaligus trouble maker bernama Bagas. Tidak cukup hanya di sini saja, kelakuan Bagas dilengkapi dengan predikatnya sebagai juara kelas dan pemenang beberapa lomba mata pelajaran se-DIY. Bagas adalah sosok yang menyebalkan sekali. Suka meremehkan orang namun..., yeah, meskipun dia mempunyai alasan untuk itu karena kemampuannya memang di atas rata-rata, tapi kemudian tidak menjadi alasan untuk seseorang berlaku sombong, bukan?

Dan ada lagi seorang gadis ambisius dan juga pintar bernama Nindi. Sikap Nindi juga menyebalkan. Meskipun pendiam dan di balik sikap menyebalkannya itu, ia menyimpan sedikit rahasia tentang ambisi dan cita-cita yang ingin diraihnya.

Masalah muncul saat tanpa sengaja kelima orang ini berkumpul dalam kelompok belajar yang sama. Terlebih lagi dengan ambisi Wulan yang ingin membuktikan kepada ayahnya--dan juga Bagas--bahwa dirinya mampu bersaing untuk menempati kursi sebagai perwakilan sekolah pada olimpiade astronomi.


***


Ini adalah sebuah kisah dari bangku SMA, di mana persahabatan serta impian dan ambisi bercampur jadi satu. Ada bumbu romansanya juga khas anak SMA, lalu ada jalinan cerita yang rumit berjalan seiring dengan kehidupan mereka di sekolah. Jika biasanya sekolah hanya numpang sebagai setting di beberapa cerita teenlit, di novel Starlight ini nuansa sekolahnya begitu terasa. Hubungan guru-murid maupun konflik sesama murid disajikan dengan begitu apik.

Saya suka bagaimana penulis mengelola konflik yang dimiliki oleh masing-masing tokohnya. Pas, tidak berlebihan, namun juga berhasil menjadikan konflik itu sebagai plot utamanya. Jika berbicara tentang konflik Lintang-Teguh, sebenarnya sudah disinggung di awal, hanya saja, bocorannya terlalu lama untuk dieksekusi. Ini membuat pembaca bertanya-tanya sekaligus penasaran apa yang terjadi dengan mereka berdua. Sebenarnya bagus juga memancing rasa penasaran pembacanya untuk mengetahui apa yang terjadi pada mereka. Tapi, menjadi sebuah bumerang kalau ternyata rahasia di balik itu semua tidak worth atau tidak sebanding. Namun menurut saya, alasan mereka cukup worth kok.

Yang membuat saya kesal, tentu saja sosok Bagas yang benar-benar menyebalkan dan Wulan yang terlalu..., naif? Memang, untuk mengetahui sisi lain bulan yang gelap, dibutuhkan teleskop super canggih agar bisa membuatnya terlihat. Tapi, "teleskop super canggih" sayang banget disia-siakan hanya untuk mengamati sisi gelapnya bulan saja. Mungkin Wulan memang terlalu..., ah sudahlah. Yang jelas, tokoh Bagas di sini membuat saya pengin ngeplak kepalanya pakai koran saking menyebalkannya.

Selain interaksi Wulan-Bagas yang menurut saya kurang digali, Teguh-Lintang juga mengalami hal serupa. Padahal, sebab-akibat yang menimpa mereka cukup oke lho. Hanya saja saya kurang begitu merasakan terpacu adrenalinnya ketika konflik mereka muncul dan hendak diselesaikan.

Overall, saya menyukai kisah ini. Untuk orang yang mempunyai cita-cita dan sedang memperjuangkannya, buku ini merupakan penyemangat yang manis dan sayang untuk dilewatkan. Apalagi, dengan pemanis berupa pengetahuan seputar astronomi juga menambah pengetahuan baru bagi pembaca.

Sedikit cerita, saya dapat buku ini hasil dari ikutan giveaway yang diadakan di http://ariansyahabo.blogspot.co.id/20.... Senang rasanya bisa merasakan jadi pemenang, hehehe. Dan meskipun review-nya baru tayang, sebenarnya saya sudah tamat membaca buku ini sejak lama sekali.

Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
October 1, 2017
Dya Ragil
Starlight
Gramedia Pustaka Utama
264 halaman
7.6

Dalam kancah permusikan Indonesia, belum ada band yang mencapai status kultus seperti Sheila On 7. Band asal Yogyakarta yang awalnya bernama Sheilagank ini begitu komunal, dengan musik mereka yang bersahaja dan bersahabat. Tentu saja mereka berawal dari persahabatan antara Adam dan Sakti, sebelum akhirnya personel band yang lain akhirnya bergabung, membentuk satu band legendaris yang pernah ada di negara ini. Tak mengherankan ketika salah satu plot dalam buku penerbit mayor kedua Dya--atau yang lebih saya sering panggil Kak Ao, diambil dari username-nya di kemudian.com tempat saya berkenalan dengannya pertama kali--disetir oleh salah satu lagu Sheila On 7. Dalam satu hal, Starlight mengingatkan saya akan lagu-lagu Sheila On 7: sederhana, menghangatkan, dan menyenangkan.

Starlight bukanlah sebuah novel remaja yang "neko-neko". Bukan novel remaja yang dipenuhi dengan karakter menakjubkan yang menderita penyakit tertentu, misalnya. Karakter dalam novel ini hanyalah anak SMA biasa, hanya anak-anak yang bisa jadi teman SMA semua orang. Mereka bisa saja ada di SMA kita masing-masing. Wulan, Lintang, Teguh, Bagas, dan Nindi. Lima orang misfits yang bergabung menjadi satu kelompok belajar. Kelimanya memiliki masalahnya masing-masing. Wulan, tak peduli seberapa keras ia berjuang dan belajar, tak pernah mendapat pengakuan. Lintang hanya ingin melarikan diri dari masa lalu. Teguh hanya ingin memungut kembali apa yang pernah dibuangnya. Bagas hanya ingin belajar bagaimana rasanya disayangi. Sementara Nindi hanya ingin orang-orang menerima sikap dinginnya dengan apa adanya. Ketika kelima orang ini bercampur menjadi satu, kelompok ini mula-mula tidak harmonis. Semuanya ingin menang sendiri. Tetapi ketika mereka mulai mencicipi apa yang teman-teman mereka tawarkan di atas meja, mereka perlahan-lahan memahami apa yang setiap anggota kelompok ini harus alami.

Saya belum pernah membaca Sebelas sebelumnya, tetapi tulisan Kak Ao dalam Starlight jelas-jelas sangat rapi dan nyaman untuk dibaca. Tetapi sejak dari dulu saya membaca karya-karya Kak Ao di kemudian.com, tulisan Kak Ao memang sudah rapi. Kalimat-kalimatnya cenderung lugas, tetapi manis dan menghangatkan. Dan sama seperti Sebelas yang membahas soal sepak bola, Kak Ao menuliskan sesuatu yang memang benar-benar ia kuasai dengan baik: astronomi dan fisika. Jika ada Teka-Teki Terakhir yang membahas soal matematika, ada Touché: Alchemist yang membahas soal kimia, Starlight akan melengkapi trinitas suci novel remaja yang mengangkat tema sains.

Tetapi Starlight tidak hanya membuat kita mendongak ke angkasa sana. Starlight membuat kita juga menengok ke dalam hati kita masing-masing. Dalam novel ini, Wulan yang berusaha mencapai mimpi-mimpinya dengan tetap berusaha keras meskipun ia harus menghadapi banyak rintangan membuat kita bertanya-tanya apakah kita sudah berani bermimpi setinggi Wulan dan sudah berusaha untuk menggapainya. Lintang yang terus melarikan diri dari masa lalu akhirnya sadar bahwa masa lalu adalah bagian dari hidupnya mengajarkan kita untuk berdamai dengan masa lalu. Teguh menyadarkan kita bahwa tidak ada seseorang yang disebut dengan mantan sahabat. Bagas menyadarkan kita bahwa semua orang berhak untuk mendapat rasa sayang. Dan Nindi menyadarkan bahwa hanya orang-orang terbaiklah yang mau menerima kita apa adanya. Kelima hal yang penting untuk dipahami oleh remaja yang masih berusaha mencari jati diri mereka. Dan Starlight, buku kedua Kak Ao--which I'm sure there will be more to come--merangkum semuanya menjadi satu seperti gugusan bintang.

P.S. Are we sure that Teguh and Lintang bukan pasangan jeruk?
Profile Image for Ayu Eddy.
58 reviews11 followers
August 7, 2016
Lima murid dengan masalah berbeda dan karakternya masing yang disatukan dalam satu kelompok. Konflik dan beradu asumsi yg paling sering terjadi, tapi entah kenapa saya malah suka ketika moment mereka berdebat. Jarang-jarang anak SMA debat dan berkelahi dengan cara 'terdidik' dan bahasa yg bagus? Gak akan kita temui gaya bahasa gaul 'gue-elo' khasnya anak SMA apalagi kata2 kasar sepanjang novel ini.

Beberapa istilah baru ilmu astronomi yg saya temukan, risetnya di novel ini pun cukup memuaskan. Mungkin beberapa kali saya membaca novel yg menyinggung ilmu ini tapi tidak semua benar-benar mengupasnya, mayoritas kurang riset.
Teenlit terbaik yg pernah saya baca selama ini!!
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
April 25, 2016
Buat saya ceritanya manis-getir. Tentang masa remaja, impian, persahabatan.

Kelima tokoh utamanya lovable (meski kadang nyebelin xP). Dan menurut saya setiap sekolah butuh sosok seperti Bu Ayu *aku padamu, Bu Ayu! x))*

In case, kamu penasaran, review lengkapnya di sini: http://ariansyahabo.blogspot.co.id/20...
Profile Image for inas.
389 reviews37 followers
July 16, 2016
Novel ini cerdas banget.

Memang, dari awal banyak informasi yang berseliweran soal tokoh-tokohnya. Rahasia mereka juga ketahuan, tapi belum jelas apa. Ini bikin mikir lama. Terus, akhirnya, mulai menyelam lebih dalam dan makin penasaran sama macem-macem printilannya.

Pas Lintang ke ruang guru dan barang-barang di situ ditunjukin, aku langsung ngerasa relate sama kehidupan SMA di Starlight. Orang-orang macam Pak Hadi sama Pak Mahmud yang emang ada. Cara ngomong mereka, kebiasaannya. Anak kelas yang ngerumpi gerombolan. Beli gorengan dari kantin.

Debat antartokohnya juga dahsyat. Semua nggak mau ngalah. Semua terkesan bener, meski emang ada beberapa perspektif yang menurutku salah. Tapi mereka bisa konsisten sama kepercayaan itu. Keren banget.

Pengetahuan tentang astronomi juga dimanfaatkan dengan baik. Perumpamaan yang dipake bagus dan bikin manggut-manggut. Kayak pas ngebahas Pleiades, misalnya, topik ini ada maknanya buat hidup tokoh dan sempat mencuat lagi di bagian belakang. Begitu juga sama teleskop Hubble, sebelah barat daya Aldebaran, dan Sirius B. Langsung nancep di kepala karena penyajiannya berguna, punya peran.

Aku agak gemes gimana gitu sama Wulan. Dia bilang nggak tahu apa-apa di antara temen-temennya yang lain, tapi pas Bagas ngebahas ESA sama misi Rosetta, dia nyambung. Rasanya pengin kudatengin terus kukasih tahu kalo dia jauh lebih ngerti ketimbang aku. Wkwkwk. Dan, waktu ditunjukin rambut Wulan dikepang (setelah dia , apalagi papannya punya roda jadi bisa didorong), aku mengernyitkan dahi. Serius, ini novel apa cermin sih? Minus tiga cowok yang ngelilingi dia, ini udah beyond relate. Belum ada Teenlit yang sedeket ini sama masa SMA-ku. :3

Dengan segala macem masa lalu yang dibawain di sini, pace yang lumayan cepet tapi proporsional, cerita yang dibawain dengan manis (cecintaan bukan konflik utama, tapi pas baca sampe akhir, aku puas sekali), dan setiap halamannya yang neriakin kata keren, aku kasih lima bintang. Semua bintang di alam semesta sih, kalo bisa. (Minimal sinarnya supaya makin banyak yang baca dan beli.) :p
Profile Image for Afifah.
409 reviews17 followers
November 18, 2017
Suka sama jalan cerita dan karakter di dalam buku ini. Jalan pikiran karakternya khas anak remaja tanggung, setidaknya berdasarkan pengalaman pribadi, yang cukup dewasa tapi masih ada sisa2 sifat kekanakannya.

Poin plus buku ini untukku adalah astronomi, karena itu salah satu bidang yang aku sukai. Poin kurang di buku ini mungkin latar belakang kotanya. Karena aku nggk terlalu merasa bahwa buku ini latar belakangnya di Yogyakarta (dan sekitarnya).

Jadi... 4 bintang untuk buku ini :)
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
April 30, 2016
“Starlight” adalah novel yang mampu membuat saya bernostalgia. Jika SMA kini telah mengalami pergeseran makna dan budaya, “Starlight” seolah dapat mewujudkan kembali sebuah suasana dan kultur SMA yang selalu terasa hangat dan bersahaja.


Review selengkapnya dan blogtour: 2 Mei 2016

description
Profile Image for Catz Tristan.
20 reviews2 followers
September 29, 2016
Aku selalu suka cerita yg ditulis Ao sejak berkenalan di kekom.

Starlight berisi tentang cerita yang sarat akan pesan. Baik itu dari sisi saudara (kembar), orangtua, sahabat dan cinta.

Kisahnya kuanggap tidak sederhana,tapi bikin hanyut. Aku bisa menghabiskan novel ini dalam waktu yang cepat. Rekor.

Novel yg asyik menemani begadang sambil kompresin si bocah yg demam ^^

Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
January 29, 2017
Karakter-karakternya itu lho yang bikin buku ini gak gampang dilupain. Aku gak nyesel baca buku ini karena ceritanya lebih mantap dibanding buku penulis yang sebelumnya kubaca berjudul 'Sebelas'.
Profile Image for Mesyi Days.
17 reviews
October 11, 2016
[RESENSI] Sebuah Cerita Tentang Persahabatan dan Usaha menakhlukkan Olimpiade Astronomi



Aku memutuskan membeli novel ini, karena temanya mengangkat pelajaran astronomi. Aku suka apa pun yang bersangkut-paut dengan benda langit, terutama tentang bintang. Jadilah, buku ini sudah ada di tanganku sekarang, sudah ku baca pula. Tak kenal maka tak sayang, oleh karena itu, ayo bagi yang belum membacanya, Aku akan mengajak kalian untuk berfantasi mengenal lebih lanjut mengenai novel ini

Selain tema yang begitu memikat—Astronomi—yang diambil, aku suka sekali pada cover yang di desain elegan dan kuat, berkat warna hitam dan gelapnya malam berbintang. Ada gambar teleskop yang membuat siapa pun penggemar pelajaran Astronomi  pasti menyukainya. Termasuk aku. Covernya Sangat mendukung sekali berdasarkan cerita yang di angkat. Pun dengan judul novel begitu simple dan menarik. Starlight. Star yang berarti bintang dan Light yg artinya cahaya, bila dijadikan satu membentuk arti Cahaya Bintang.

Straligt merupakan golongan novel bergenre teenlit. Gaya bahasa yang dipergunakan tentu saja remaja banget, mengingat target pembacaan novel ini di khususkan pada golongan remaja. Tapi, menurutku novel ini boleh dibaca oleh semua kalangan lho. Mulai dari anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa, tidak masalah selagi mereka selagi bisa memahami isi dan gaya bahasanya.

Tokoh utamanya bernama Wulan. Ia seorang anak SMA dengan kadar kepintaran standar, malah bisa di katakan dulunya ia sangat bodoh. Kenyataannya ia pernah dapat rangking dari urutan paling bawah.

Meskipun begitu, Wulan memiliki tujuan hidup yaitu ia ingin Ayahnya sekali-kali  melihat kearahnya dan bangga atas kemampuannya. Bukan malah ke saudara kembarnya, Lintang, yg memang sudah pintar, buktinya saudarinya pernah mendapat peringkat tiga besar di sekolah. Maka dari itu, Wulan ingin menjadi Big Bang. Dalam dunia astronomi, Big Bang merupakan teori terbentuknya alam semesta dengan di tandai terjadinya sebuah ledakan besar. Alam semesta yang dahulunya hanya satu wujud, berkat ledakan itu, kemudian terpisah-pisah menjadi beberapa material yang menjadi bakal terbentuknya benda-benda langit. Wulan pikir ia pun bisa menjadi seperti itu

“Yang awalnya nol besar pun bisa meledak jadi hebat kalau mau usaha.”—halaman 11

Meski keberadaan Wulan menjadi sorot utamanya. Di balik itu, menurutku novel ini punya lima tokoh utama yang memiliki peran penting, diantaranya; Lintang, Nindi, Teguh, Bagas, dan Wulan sendiri tentunya. Aku menemukan nama tokoh-tokoh tersebut di salah satu kelompok belajar yang dibentuk secara acak di kelas XI IPA 2.

Mereka berlima mempunyai kepribadian yang berbeda-beda. Aku pikir di situlah letak novel ini terlihat, Wow. Yang membuatku terus membuka halaman selanjutnya sangking seru dan asyik. “Tiga besar jadi satu, ditambah troble maker, dan satu penggembira. Kalau ini piala dunia, kita berlima baru saja masuk grup neraka.”—halaman 19

Mereka bukan sekedar sekelompok teman belajar biasa. Terlebih lagi diantara mereka berlima ada yang diantaranya memiliki benang merah sebuah masalah belum terselesikan di masa lalu. Sampai sekarang masalah itu masih tersembunyi. Salah satunya dimana tokoh tersebut adalah Teguh, yang sangat membenci Lintang, kemudian melampiaskan emosinya dengan tindakan membully. Begitu pun Wulan, ia pernah memiliki hubungan dengan Teguh, yang notabene Pembully saudarinya, Lintang. Aku sendiri tidak tahu dan tidak pernah menduga apa pernyebab timbulnya permasalahan tersebut. Sampai di beberapa bagian akhirnya benang merah itu mulai muncul satu persatu. Dan setelah tahu, tak di sangka-sangka, ternyata itu toh penyebabnya. Menurutku Konflik yang mengalir dari awal semakin seru, hingga suatu hari di selenggarakan olimpiade tingkat kabupaten.

"Wulan selalu punya keyakinan saat menghadapi situasi komoleks yang tidak biasa. Asalkan ia bisa menahan diri untuk tidak marah, semua akan baik-baik saja. Kuncinya ada pada pengendalian emosi. Kehidupan akan berjalan senormal biasanya"—Halaman 104

Diantara semua bidang pelajaran murid SMA, bidang astronomi dipilih kelompok belajar tersebut sebagai ajang menunjukkan siapa yang lebih unggul. Tentu saja keempat dari kelimanya mendaftarkan diri mengikuti, demi berpegang teguh pada alasan yang berbeda-beda. Wulan demi mengungguli saudara kembarnya. Lintang mengikuti saran sang Ayah yang terus memaksakan kehendak. Bagas yakin dengan otak geniusnya. Nindi demi kesejahteraan keluarganya. Teguh demi dianggap dan tidak dikhianati lagi oleh sahabatnya.

“Bakal ku sedot cahaya dari bintang-bintang yang kelewat dekat. Hati-hati, bisa jadi kamu salah satunya”—halaman 51

Saat persiapan mengikuti olimpiade astronomi semakin ketat, ternyata hanya dua orang mampu lolos tingkat kabupaten. Persiapan menjadi siapa yang lebih unggul pun semakin bertambah ketat. Namun setelah semuanya berakhir, hanya ada satu orang yang berhasil menempuh ke tingkat nasional. Siapakah diantara mereka yang lebih unggul?

“Aku pengen bawa nama sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Ke tingkat internasional, kalau perlu. Biar orang tahu, kalau anak dari SMA nggak terkenal pun bisa berprestasi. Biar orangtuaku tahu, kalau aku masih punya harapan meski dikucilkan”—halaman 248

Novel Starlight adalah novel remaja yang memiliki banyak pesan moral dalam arti kehidupan. Baik persoalan tentang arti persahabatan, kerja sama yang baik, cara memperjuangkan sebuah impian dan bagaimana usaha untuk mewujudkannya, serta bagaimana cara memaafkan dan di maafkan.

"Dua sahabat yang sedang berselisih, kadang harus dipaksa terus-terusan bertemu. Itu akan kasih kesempatan buat mereka yang satu minta maaf, dan kasih alasan buat yang lainnya untuk memberi maaf"—Halaman 253

Setelah rampung membacanya hingga di detik-detik terakhir, aku sangat puas sekali. Bagian kepuasanku karena aku tidak menemukan satu typo pun bertebaran di buku ini. Bisa di bilang tulisannya Bersih. Salut sama editor yang meramutnya dengan baik. Pesan moral yang ingin disampaikan ke pembaca melalui novel ini juga bisa ku terima . Kak Dya Ragil berhasil membuatku terkesan lewat buku pertamanya yang diterbitin oleh Gramedia. Jujur, awalnya aku masih ragu untuk membelinya, namun tema dan covernya itu lho, yang begitu memikat seoalah aku tidak bisa membiarkannya tetap berada di rak toko buku.

Sebagai bonus Resensi, Ada beberapa Quotes dari novel yang telah aku rangkum, barang kali bisa menjadi pelajaran dan teladan hidup dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya:

"Tugas wali kelas itu untuk selalu ada di sisi anak-anak didiknya tanpa pilih kasih, tanpa satu orang pun di singkirkan, kan?" (hlm 28)

"Bahkan seseorang yang selalu dalam kondisi Big Bang pun bisa berbuat sesuatu" (hlm 51)

"Kesalahan masa lalu memang nggak seharusnya dilupain, kan? Itu sesuatu yang harus diingat sebagai pelajaran biar nggak ngelakuin kesalahan dua kali." (hlm 66)

"Sistem yang bikin orang-orang berduit dan berkuasa nggak tersentuh hukum. Yang bikin orang kecil makin menderita makin hari. Sistem yang mendeskriminasi orang berdasar kasta dan status sosial. Aku pengen mengubah itu." (hlm 183)

"Kamu harus kuat kalau memang benar-benar serius sama impianmu" (hlm 244)

"Kegagalan sekali nggak ngebuktiin apa pun. Kamu masih bisa melaju sejauh mungkin kalau mau bangkit. Masalahnya, apa tekadmu cukup kuat?" (hlm 248)

***



Judul Buku : Starlight
Penulis : Dya Ragil
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, April 2016
Tebal : 264 halaman
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-2753-2
Profile Image for Anggita Sekar Laranti.
104 reviews33 followers
February 14, 2018
Saya sukses kangen SMA sepanjang membaca. Starlight akan mengingatkan kalian pada masa-masa ketika kerja kelompok, ulangan di depan mata, hasil ulangan yang nggak sesuai ekspektasi, belajar bareng teman, dan kegiatan anak SMA lainnya. Heu, rindu banget :"

Novel ini... apa ya? Dramatis sekali. Tema yang diangkat sebenarnya sederhana, tapi Mbak Dya bisa membuatnya menjadi cukup menarik bagi saya untuk menyelesaikan buku ini.

Saya memang berpikir tokoh-tokoh di sini agak mendramatisir. Misalnya Teguh yang dendam kesumat banget sama Lintang seperti cewek abis diselingkuhin. Di sini batin saya menjerit, "YA AMPUN GITU AMAT SAMA TEMANNYA!!!!"

Atau Nindi yang segitu kolotnya ngejar nilai sampai rasanya nggak butuh bersosialisasi. Di sini saya ingin mengumpat, "YAWDA KALAU WAFAT SITU BANGUN DULU BUAT KUBUR DIRI SENDIRI YA???"

Atau Bagas yang pinter luar biasa tapi nyinyirnya mengalahkan admin Lambe. Ingin saya menimpuknya dan berkata, "YA LORD, ITU TOLONG MULUT DIA DIADZAB SUMPEL PAKAI TAHU BULAT!!!!!!"

Bahkan Wulan yang selalu merasa dirinya bodoh, ternyata berhasil ikut seleksi astronomi. YHA. OKE. GAKPAPA, KAK. DIRIKU BAIK-BAIK SAJA.

Meski ingin mengumpat, tapi saya tetap baca sampai akhir sih. Hehehe.

Bagian yang saya sayangkan itu adalah pengungkapan masalah di masa lalu antara Lintang, Teguh, dan Pak Hadi. Saya pikir akan diceritakan sebagai flashback detail di bab khusus atau bagian tersendiri karena dari awal diumpetin sebegitunya. Ternyata cuma diceritakan secara tidak langsung oleh Lintang. Jadi saya kurang nangkep emosi Teguh dan Lintang saat kejadian itu sih...

Untungnya seperti biasa, narasi Mbak Dya Ragil enak sekali dibaca. Saya jadi betah baca lama-lama <3

Good job, Mbak Dyaaa~
Profile Image for nana ☆.
85 reviews1 follower
July 11, 2022
3.6/5 ⭐

I was struggling when i tried to pick a rate, then, here we are. I stumbled across this book when i was scrolling through ipusnas, and boom! Actually this is *kinda* a hidden gem. Mmmm... Idk if that sounds right, tho. Nvm let's move on.

The characters has their own personality, their own way to face the world, their own thoughts. Everytime they started arguing and showering me with their own words, they are literally pulling me into the mess. I have my own pros and cons on their opinions. It feels like i'm fighting them as well?????? Not to mention this book made my head ache even tho the author didn't really go into a detail when describing something, but still got me.

I like how they slowly fixing themselves and accepting everything and choose to move on or live with the flow with it.

*Spoiler*

What i don't like is one. Bagas.

IDK WHY WULAN STILL HAS FEELINGS FOR HIM??? LIKE, PARDON ME MADAME???? Let me make it clear;

1. He called you B-E-K-A-S-A-N, bekasan orang! Halusan dari murahan!
2. He called you USELESS! TF I WAS SO MAD.
3. He called you dumb dan dia ngeraguin lo seakan-akan lo ga bisa apa-apa.

AND HE DIDN'T EVEN SAY SORRY??? HE DIDN'T GIVE A PROPER APOLOGY?????? why the fuck are still acting shy shy cat sama orang begini. Mendingan juga lo sama Teguh anjir. Gua ga pernah ngerti kadang sama perfiksian cinta bersemi anak SMA ini, maksudnya yang bikin meradang emosi.

SEKIAN, GOODBYE AUDIENCE.
Profile Image for P.P. Rahayu.
Author 1 book36 followers
Read
December 1, 2016
Resensi juga dapat dibaca di http://prayrahayusbook.blogspot.co.id...

Star Light
"Udah, lupain. Dua prinsip yang benar-benar beda nggak bakal pernah ada itik temunya biar didebatin sampai botak." Lintang, hlm. 59.

Karya Dya Ragil
3.5 dari 5 bintang

Mungkin, sudah lama sekali aku tidak membaca novel teenlit. Dalam artian, akhir-akhir ini aku lebih banyak membaca novel metropop maupun fantasi. Well, kalau boleh jujur, teenlit merupakan jenis novel yang mengenalkanku dengan dunia membaca. Aku masih ingat, saat SMP aku benar-benar suka membaca novel dan semua itu bermula dari novel teenlit. Teenlit sendiri merupakan novel yang ditujukan untuk usia remaja. Tidak heran bila cerita yang disajikan oleh Dya Ragil dalam Star Light tidak jauh-jauh dari cerita remaja SMA. Yang perlu digarisbawahi, dalam novel teenlit sendiri tidak melulu tentang percintaan. Tapi juga ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan para tokoh.

Terlahir kembar bukan berarti bisa mendapatkan perlakuan yang sama. Itulah yang dirasakan oleh Wulan. Sejak kecil, Wulan merasa bahwa ayahnya lebih menaruh perhatian pada saudara kembarnya, Lintang. Sebenarnya, Wulan tidak benci kepada Lintang, hanya saja terkadang terselip rasa iri dalam diri Wulan saat ayahnya lebih banyak membahas masa depan Lintang. Berbagai macam hal seolah-olah digariskan oleh ayah untuk Lintang. Sedangkan Wulan, jarang sekali mendapat perlakuan yang sama. Terkadang, Wulan merasa bahwa ayahnya cenderung pilih kasih.

Bagi Wulan, astronomi telah menjadi salah satu subjek yang ia sukai. Ia bisa betah mengamati keadaan langit selama berjam-jam. Memandangi rasi bintang Sirius maupun Antares menggunakan teleskop. Maka dari itu, saat tahu kalau seleksi olimpiade sains dibuka untuk semua murid, Wulan pun teringat akan impian kecilnya untuk menjadi astronom. Tak heran bila Wulan berusaha sekuat tenaga untuk dapat lolos dalam seleksi olimpiade sains bidang astronomi.Akan tetapi, Wulan tahu kalau impiannya tersebut tidak akan mudah untuk dicapai. Usaha yang lebih keras harus dilakukan Wulan untuk mendapatkan tempat dalam olimpiade sains.

Sayangnya, konsentrasi Wulan terganggu karena ia mendapat kelompok belajar yang luar biasa. Keempat anggota kelompok Wulan memiliki kepribadian yang berbeda. Ada Bagas, cowok genius tapi bermulut setajam pisau, Nindi yang selalu dingin dan masa bodoh dengan orang lain, Teguh yang dikenal sebagai biang kerok di sekolah, dan juga Lintang, saudara kembar Wulan sendiri. Harapan Wulan ingin berkonsentrasi lebih lanjut pada olimpiade sains malah terganggu dengan keraguan ayahnya terhadap kemampuan Wulan, sikap Bagas yang sangat menyebalkan, Nindi yang sulit untuk diajak kompromi, Teguh yang semakin bikin naik darah, dan juga Lintang yang terkadang tidak dapat menahan emosi. Alhasil, Wulan benar-benar harus berusaha ekstra untuk dapat melalui kehidupan SMA-nya yang terlihat biasa-biasa saja di awal.
"Alasan selalu sederhana.Yang jadi pembeda kan gimana kita bisa bikin hal sederhana itu jadi sesuatu yang nyata dan berarti besar." Lintang, hlm. 64.


Bintang-bintang Bertaburan dengan Cantik
Pada dasarnya, aku tertarik membaca Star Light berawal dari sampulnya. Baiklah, aku harus mengakui kalau aku lemah dengan sampul cantik. Menurutku, sampul dari Star Light benar-benar menggambarkan isi dari ceritanya. Pas sekali apabila novel ini benar-benar ditujukan untuk kalangan remaja. Apalagi, konsep dari sampulnya sendiri pun sesuai. Mulai dari gambar rumah beserta dua orang yang sedang mengamati bintang. Aku tertarik dengan hanya melihat sampul dari novel ini.

Tidak Hanya Tentang Romansa Remaja
Salah satu ciri khas dari teenlit biasanya ceritanya tidak akan jauh-jauh dari kegalauan masa remaja. Akan tetapi, hal tersebut tidak terlalu kutemukan di Star Light. Dalam novel ini, Dya Ragil mencoba untuk menggambarkan bagaimana upaya Wulan dalam meraih impiannya. Ia berupaya untuk berfokus pada satu hal meskipun ia sadar, banyak hal yang merintangi keinginannya untuk berfokus pada hal yang ia impikan. Permasalahan dalam kelompok belajarnya terkadang membuat Wulan menjadi stres. Belum lagi, Wulan masih belum percaya diri apabila dibandingkan dengan Lintang. Ia tahu kalau ayah masih meragukan kemampuannya dalam olimpiade sains.

Secara keseluruhan, Star Light cukup menggambarkan apa saja yang ditemui oleh seorang anak SMA. Menurutku, apa yang dialami Wulan memang merupakan hal-hal yang mungkin terjadi. Maksudku, aku dulu waktu SMA juga berupaya untuk mendapatkan posisi dalam olimpiade sains. Kegalauan Wulan dalam menghadapi dunia akademis dan sosialnya dapat kumengerti. Aku senang Dya Ragil mampu membawakan hal ini dengan baik. Well, terkadang aku sedikit kecewa dengan novel-novel teenlit yang aku temui. Kebanyakan, novel tersebut sekadar membahas kegalauan romansa remaja. Padahal, hal-hal mengenai impian, harapan, serta keluarga seharusnya dapat diselipkan dalam novel seperti Star Light.

Kemudian, kalau untuk penokohannya sendiri, aku merasa ada dualisme tokoh dalam Star Light. Meskipun pada bagian blurb seolah-olah tokoh utama dalam novel ini adalah Wulan, menurutku Lintang juga mendapat porsi yang cukup besar. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat porsi kemunculan tokoh lainnya menjadi tertutupi. Menurutku, porsi dari masing-masing tokoh sudah pas. Dya Ragil berhasil mengeksekusi novel ini dengan cemerlang.

Pada dasarnya, seperti yang telah kuucapkan di atas, novel ini bukan sekadar tentang romans. Tapi juga tentang bagaimana cara kita menghadapi ekspektasi seseorang pada diri kita, bagaimana cara kita memaafkan atas segala kesalahan yang pernah kita perbuat, dan juga tentang harapan-harapan yang kita raih. Novel ini begitu kaya akan pelajaran hidup bagi remaja. Jadi, worth to read, kok. Intinya, aku sangat menyarankan buat teman-teman untuk membaca novel ini. Bagi yang remaja, lumayan sebagai refleksi. Sedangkan untuk yang sudah tidak remaja, lumayan lah untuk nostalgia.
"Semua yang hilang, bisa kembali kalau kamu nggak menyerah. Kalau berusaha keras,impian sebesar apa pun masih mungkin diraih." Ayah, hlm. 152.

3.5 bintang untuk hubungan rumit yang tercipta di kelompok enam.
Profile Image for pidaalandrian.
364 reviews5 followers
October 13, 2018
RATING 4.9/5

Awal muncul buku ini nggak berharap banyak karena teenlit (dan berhubung aku pun orangnya agak susah utk suka sama cerita yg berlabel teenlit.) Tapi di luar dugaan malah sebaliknya, justru aku sukaa banget sama plot cerita di buku ini.
Dan untuk aku yang agak kurang suka dengan bacaan teenlit, malah jadi suka. Teenlit yg benar-benarberbeda dr yg biasanya.
Paparan ilmu astronominya juga baguss nambah wawasan pembaca juga. Kalimat2 bijaknya tentang bulan dan bintang serta kawan2 nya juga penuh inspirasi dan ini benar2 cerita membangun. Positif.

Tentang persahabatan, impian, dan sukses yang dibarengi dengan kerja keras.
Profile Image for Juanda Juanda.
11 reviews2 followers
October 15, 2018
Sebenarnya menurut gw novel ini dari segi cerita agak sulit untuk di tebak. Ada beberapa scene yang sebenarnya bikin gw kaget dan memang benar benar ga ter prediksi oleh gw.

Cuman dari segi kacamata gw sebagai pembaca awam inti masalah di Novel ini terlalu ringan (Mungkin novel ini memang cocok untuk remaja tanggung - Secara gw udah lewat masa remaja tanggung ya ha ha ha).

Tapi satu scene yang menjadi favorite gw adalah saat Wulan bilang ke Bagus
“Karena sisi gelap bulan lebih indah daripada sisi terangnya. Kupikir kamu seperti itu.”

Anyway if you want to do fun reading, Novel ini sangat cocok dan ringan sekali untuk di baca.
10 reviews
November 12, 2020
Ugh. Ingat banget dulu nyari novel tentang astronomi anak SMA kalau bisa yang ada olimnya mati-matian. Akhirnya dapat juga!!! Gila sih. Persahabatannya dapet, perjuangannya dapet banget. Baca di Ipusnas liat ada yang ngulas katanya banyak udang di balik batunya ni buku. Kirain apaan doang, eh tapi beneran twistnya bagus banget. Bukan menye-menye tapi benar-benar natural, dan kayaknya semua tokoh kebagian jatah plot twist. Buku keluaran baru jadi bisa relate, apalagi kesukaanku tentang olim astro SMA. Jujur ini bener-bener jenis buku yang kucari dari dulu. >5 bintang! W mau berani bilang buku ini buku paling top yang gw baca tahun ini, pribadi. Wwkwkwk keren dah pokoknya.
Profile Image for nur'aini  tri wahyuni.
895 reviews30 followers
June 12, 2018
tadinya saya pikir buku ini overrated. tapi ternyata untuk ukuran dan pov orang seusia saya, teenlit ini bagus. lebih dari cukup. bahasanya enak, nulisnya juga rapih, ada typo sih tapi termaafkan.

anakanak remaja, bacalah buku yg seperti ini. masuk logika, bukan yg penuh keajaiban bagi sang tokoh utama tapi tetap bisa bikin semangat belajar juga. ;) bacanya cepet, bisa dalam sekali duduk. penulisnya mampu membuat saya penasaran terus kepengen tau ceritanya. kisahnya juga ga melulu tentang Wulan, tapi juga tentang orangorang disekitarnya.
32 reviews
August 28, 2020
Apa yang membuat teenlit ini beda adalah dialognya yang sangat berbobot, dan manajemen karakternya yang kece luarbiasa, kecuali karakter Bagas dan Nindi yang kayaknya kurang diexplore pada awal cerita. Juga, banyak sekali frasa yang diulang ulang, seperti "kedua sudut bibir" membuat beberapa closing bab terasa hambar. Plotnya juga rumit sekali untuk teenlit karena masa lalunya ditambah-tambah sepanjanggg cerita, malahan dijadikan poin konflik dan subkonflik beruntun bagi Lintang. Untungnya masih bisa dimengerti lantaran jelasnya deskripsi yang dipaparkan penulis. 3,5 🌟🔥
Profile Image for Cindy Jessica.
Author 2 books5 followers
November 26, 2021
Akhirnya setelah tertimbun sekian lama, buku ini selesai dibaca juga. Ceritanya keren, tapi nggak tau kenapa, di awal aku bacanya agak tersendat. Namun, setelah Wulan ngamuk, aku mulai merasakan nyawa dari buku ini dan nggak sabar buat balik halaman per halamannya. Dialog antartokohnya kelihatan cerdas, waktu SMA kayaknya aku nggak mungkin bicara sebijak mereka 😂

Lintang dan Wulan porsinya pas, suka sama mereka. Bagas ngeselinnya maksimal, tapi paling nggak suka sama Nindi 😅 Menurutku Teguh lumayan keren, hanya saja latar belakangnya kurang digali.
Displaying 1 - 30 of 48 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.